Category Archives: pengalaman

Tentang Zayn dan 1D

Pagi ini saya mendapat pertanyaan yang sama kesekian kali sejak kabar berhembus kemarin.

“Bener ya, Zayn Malik keluar dari One Direction?”.

Tidak heran juga sih, kenapa beberapa teman di sekitar nanya ke saya. Mereka tahu persis sejak nonton One Direction : This Is Us di bioskop (not to mention dua hari berturut-turut), saya menjadi salah satu penggandrung boysband asal Inggris jebolan The Voice yang mendunia itu. Ketika mendapat kabar bahwa mereka mau konser di Jakarta juga tanpa ragu sedikitpun saya bersama dua orang sahabat sesama Directioners langsung ikutan booking tiket early bird, setahun sebelumnya!

They're coming!

They’re coming! (pinjem gambar dari sini)

Yang tidak saya perhitungkan, banyak hal yang bisa terjadi dalam satu tahun. Oktober 2014 saya menikah, dan tanpa menunggu lama saya diberi kesempatan untuk hamil. Jadilah pada hari pelaksanaan konser, 25 Maret 2015, saya malah tidak jadi nonton karena kondisi badan yang tidak memungkinkan dan pasti bakal kecapekan banget kalau maksa berangkat. Still, no regret. Memang ada saatnya kita harus memasang prioritas, dan untuk saat ini, menjaga kehamilan menjadi salah satu prioritas utama saya.

Jadilah ketika malam konser yang saya idam-idamkan sejak setahun sebelumnya, saya justru tidur lebih awal. Bahkan sebelum waktunya the boys tampil di atas panggung Gelora Bung Karno. Di Jakarta mereka cuma tampil berempat, tanpa Zayn yang pamit balik duluan tidak meneruskan konser dunia karena alasan apapun itulah yang membuatnya kemudian meninggalkan boysband kesayangan remaja putri sedunia.

*pinjem gambar Zayn dari situ

pinjem gambar Zayn dari situ

Tapi atas perginya Zayn dari 1D, saya lebih suka memberikan jawaban versi saya.

“Iya, padahal saya sudah bilang ke Zayn, gapapa dia tampil aja di Jakarta meski saya nggak nonton. Saya ikhlas kok. Tapi Zayn-nya nggak mau. Katanya kalo saya nggak nonton mending dia gak usah ke Jakarta aja. Kalo perlu keluar dari One Direction sekalian. Buat apa dia di One Direction kalo saya nggak dateng ke konsernya? Gitu katanya”

*kemudian dilempar sendal dari seluruh penjuru ruangan*


My Coffee Affair

The furthest distance between me and coffee is pregnancy.

A cup of heaven

A cup of heaven of earth

Saya mulai gemar minum kopi sejak SMP. Dengan segala keterbatasan situasi saya yang saat itu tinggal di asrama, minum kopi menjadi salah satu oase segar yang saya rayakan. Kebiasaan itu berlanjut ketika saya SMU, dan makin menjadi ketika saya kuliah. Di antaranya karena masa itu saya sudah ngekos sehingga lebih bebas memasak air untuk ngopi, tanpa harus turun ke dapur umum asrama untuk minta air panas dulu. Itupun kalau ada, karena mbak-mbak petugas dapur masak air dalam panci besar sehingga kalau kita tidak datang di saat yang tepat maka suhu optimum untuk kenikmatan secangkir kopipun terlewatkan begitu saja.

Kopi Sibu-sibu dan sepiring sukun goreng di Ambon

Kopi Sibu-sibu dan sepiring sukun goreng di Ambon

Jaman kuliah di Malang, asupan kopi harian saya masih pada level dua hingga empat cangkir perhari. Itupun masih kopi sachet seadanya. Baru ketika saya kerja di Jakarta, lalu kuliah di Bandung, dosis itu meningkat hingga enam cangkir perhari. Dan itu kopi hitam tanpa gula. I guess I kinda addicted to coffee. Kalau sehari apalagi beberapa hari nggak dapat asupan kafein, kepala saya bisa pusing. Pusing teramat sangat yang bisa sembuh secara ajaib hanya dengan secangkir kopi. Saya mulai mengumpulkan beberapa jenis kopi nusantara dari daerah-daerah yang saya kunjungi. Beberapa teman tak jarang mengirimi kopi sebagai hadiah atau oleh-oleh. Saya bahkan pernah mendapat kiriman kaos dengan tulisan “Coffee Addict”, dan “Ngopi sik ndak edan” hahahaha…. Itu saking kenalnya para sahabat terhadap kebiasaan ngopi saya.

secangkir kopi aceh langsung di TKP-nya

secangkir kopi aceh asli di TKP-nya

Tapi semua itu harus terhenti ketika dokter menyatakan saya hamil dan menyebutkan kopi sebagai salah satu hal yang harus saya hindari selama masa kehamilan. Rasanya pengen nawar. Pengen teriak dramatis “TIIIIDAAAAAAAKK!!”. Tapi saya sadar sepenuhnya dalam hidup kita memang harus menentukan prioritas. Saat ini, janin dalam kandungan saya lebih memerlukan segala kalsium yang bisa diserap, dibanding kegemaran saya terhadap kopi. Ternyata, cinta saya terhadap bayi ini melebihi cinta saya kepada kopi.

Yang ini secangkir Bajawa Papua tapi minumnya di Klinik Kopi, Jogja

Yang ini secangkir Bajawa Papua tapi minumnya di Klinik Kopi, Jogja

Bukan berarti saya tidak cinta lagi. Saya tetap menikmati aromanya, hingga mengendus-endus tiap ada rekan seruangan di kantor yang bikin kopi. Atau mengkonsumsi susu hamil rasa moka (thanx to Okky atas informasi berharga ini), dan lebih memilih es krim rasa kekopian. Tapi untuk menikmati secangkir kopi sesungguhnya, sepertinya saya perlu alasan yang lebih kuat.

Di sisi lain, hal ini membuat saya bangga. Ternyata secinta-cintanya saya pada kopi, saya masih bisa menahan diri. Untuk kesekian kalinya, terbukti rasio dan akal sehat saya masih bekerja dan tidak mudah tunduk pada emosi dan keinginan hati yang masih suka seenaknya sendiri.


Tentang Ngapati

Menurut perhitungan dokter, wiken lalu adalah waktu terdekat dengan usia empat bulan kehamilan saya. Meskipun menurut cerita ibu dulu ketika saya dan adik-adik dalam kandungan tidak satupun yang dibikinkan acara empat bulanan, tapi kali ini ibu ingin menyelenggarakan syukuran kecil-kecilan yang dalam bahasa jawa biasa disebut “Ngapati” (asal kata “papat” artinya empat). Menurut pembelajaran di Islam, pada usia kandungan empat bulan, malaikat mulai meniupkan ruh pada janin yang ada di kandungan, termasuk segala catatan-catatan yang ditakdirkan untuknya. Ketika diakulturasikan dengan budaya jawa yang hobi selametan untuk menandai setiap tonggak dalam kehidupan, acara Ngapati dijadikan momen bersyukur, penuh harapan serta doa agar janin yang ada dalam kandungan mendapatkan takdir yang baik dalam kehidupannya kelak.

Acara Ngapati kemarin dihadiri oleh kaum laki-laki di kampung. Kami bahkan tak mengundang keluarga besar, hanya mengirim nasi berkat sebagai tanda syukur. Acara diisi dengan pembacaan tahlil bersama, dilanjutkan pembacaan surat Al-Fatihah tiga kali, surat Al-Insyirah tiga kali, dan surat Al-Qadr tiga kali sebelum ditutup dengan doa bersama.

Karena acara dilaksanakan malam hari ba’da maghrib, baru keesokan harinya ketika bertemu saudara dan tetangga, saya mendapatkan feedback. Kebanyakan berkomentar “rujaknya sedep, nok. anakmu pasti nanti perempuan”. Hahahahaha… ada-ada saja, menghubungkan rasa hidangan dengan jenis kelamin anak nantinya. Sebelumnya ketika membantu menyiapkan hidangan, mbak Tun yang dipasrahi ibu untuk menyiapkan nasi berkat memang sempat bilang “nanti rujaknya tak bikin nggak terlalu pedes ya, nok. Biar anakmu nggak galak”. Lha.. mosok ada hubungannya? Saya bertanya-tanya. Mbak Tun lalu menceritakan beberapa “bukti pengamatan” anak-anak yang rujaknya pedas ketika Ngapati, tumbuh menjadi anak yang galak. Benar atau tidaknya, wallahu a’lam bish-showab.

Hidangan dalam nasi berkat yang disajikan juga sangat beragam. Sayang sekali saking sibuknya mempersiapkan acara, saya malah tidak sempat mengambil gambar. Sebagai deskripsi, dalam nampan kecil berbentuk bulat itu disajikan nasi, urap gudangan (matengan semua, karena ibu hamil ga boleh makan yang mentah-mentah), sambal goreng tahu, ikan asin goreng, perkedel, serundeng, bistik daging, acar dan kerupuk udang. Selain nasi dan lauk-pauk, ada juga beraneka jajanan seperti ketan dengan enten-enten, jenang, uler-uleran (kue manis kukusan dari tepung dg warna mencolok dan bentuk bergelombang), rujak, dan roti. Beberapa kru masaknya mbak Tun bahkan menyebut lazimnya ada janur juga sebagai alas hidangan, tapi karena ragam masakan saja sudah cukup merepotkan, jadi tidak diikutsertakan. Jangan tanya makna filosofis satu-persatu hidangan yang ada. Saya cuma dikasih tau kalau hidangan dari ketan itu something sticky, dan jenang itu something sweet. Selebihnya, saya cuma tau kalo rasa hidangan bikinan mbak Tun itu enak. Nyam!


Tentang Kehilangan

I never knew losing somebody for good could be this hurt.

Hari ini genap tujuh hari mas sepupu saya, M. Zaky Fanani, meninggalkan keluarga besar kami tercinta. Meskipun bagi beberapa orang, tingkatan sepupu mungkin bisa dibilang tidak terlalu dekat, namun di keluarga saya, terutama keluarga besar dari garis bapak, kami sudah seperti satu kesatuan. Sehingga ketika mas Fani (demikian saya bisa memanggilnya), putra dari bude saya berpulang, seluruh keluarga besar turut merasa kehilangan yang begitu dalam.

Mas Fani (center) di antara para sepupu

Mas Fani (center) di antara para sepupu

Kamis, 15 Januari 2015 lalu, saya dan suami tidur lebih awal. Mengingat usia kehamilan saya yang masih memerlukan banyak istirahat, beberapa waktu terakhir ini memang demikian pola yang kami terapkan. Saya juga mengeset handphone dalam kondisi silent agar tidak mengganggu kualitas tidur.

Jumat, 16 Januari 2015 pagi buta saya terbangun. Ketika melihat handphone, waktu menunjukkan pukul 01.30, 3 missed call, sebuah sms, dan ratusan pesan whatsapp (yang ini sudah biasa, karena keikutsertaan saya di beberapa grup aktif). Panggilan yang terlewatkan tercatat dari Iluk, adik saya, serta dua orang sepupu, Nay dan Alina. Ada apa nih? Batin saya. Jawaban baru saya dapatkan ketika saya membuka sms dari Iluk yang berbunyi “Innalillahi, mas Fani meninggal”. Segera saya telfon tapi tidak diangkat. Baru beberapa saat kemudian Iluk menelfon balik, mengonfirmasi kabar yang telah disampaikan sebelumnya. Saya bangunkan suami dan memberitahu kabar itu. “Aku pulang ya?” tanya saya meminta ijin. Dia mengiyakan, tapi tidak bisa ikut pulang pagi itu juga karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Segera saya berusaha mencari tiket pesawat jurusan Semarang. Waktu sepagi itu, teman-teman yang biasa saya hubungi untuk memesan tiket sudah pada tidur. Untungnya Iluk pernah menginstalkan aplikasi pemesanan tiket di gadget saya. Untuk pertama kalinya saya coba aplikasi itu. Flight tercepat yang bisa saya dapatkan jadwal jam 7 pagi. Saya perkirakan masih cukup waktu untuk mengejar waktu pemakaman jam 11 siang. Selesai membooking, saya minta suami untuk mengantar ke atm membayar pesanan tiket, kemudian mendapatkan kode booking melalui e-mail.

Seusai sholat subuh, segera saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah pesawat yang saya tumpangi cukup tepat waktu, dan antrian taxi di Bandara Ahmad Yani tidak crowded sehingga saya bisa tiba di rumah duka sekitar pukul 09.30. Hampir semua anggota keluarga besar sudah tiba di sana. termasuk tante yang dari Solo, juga sepupu-sepupu yang dari Cirebon dan Surabaya. Tinggal sepupu yang berdinas di Gorontalo Utara dan masih menjalani sekolah militer saja yang belum dapat bergabung.

Kepergian yang begitu cepat dan mendadak mengagetkan kami semua. Apalagi almarhum mas Fani dikenal sebagai sosok yang ceria, murah hati, suka menolong, dan tak segan membantu sesamanya. Masih sangat lekat di ingatan saya ketika almarhum “konser” di pesta pernikahan saya menyanyikan lagu Cantik-nya Kahitna, dengan para sepupu lain, (termasuk pengantin yang di atas pelaminan) berkerumun di depan panggung seperti fans-nya. Everybody was there, happily.

In Memoriam M. Zaky Fanani (1986-2015)

In Memoriam M. Zaky Fanani (1986-2015)

Setelah acara pernikahan saya, keluarga besar kami sempat berkumpul di rumah budhe pada libur Natal untuk acara haul-nya Mbah Kakung. Dan hari itu, tujuh hari lalu, kami berkumpul lagi di rumah yang sama, untuk melepas kepergian saudara kami tercinta.

Selamat Jalan, Mas.. Kami percaya kau lebih berbahagia di sisi-Nya. Terima kasih telah mengijinkan kami menjadi bagian dari orang-orang yang kau sayangi, dan menyayangimu.  Selalu.


Larut Bahagia di Konser Radja Sephia

Saya sudah menggemari lagu-lagu Sheila On 7 sejak cah-cah Jogja itu mengeluarkan album pertama mereka. Lagu “Dan” langsung mencuri perhatian kuping dan jiwa remaja saya disusul dengan lagu-lagu lain di album yang sama. Sealbum apal ngelotok semua seuwo-uwonya.

Begitu pula di album-album berikutnya. Kayaknya cuma lagu-lagu di album Berlayar saja yang saya kurang “kenal”. Kalau album “Anugerah Terindah Dari Sheila On 7″, terus terang saya tidak mau membeli karena ga rela lagu-lagu legendaris Sheila On 7 di-abuse sedemikian rupa oleh versi cover-nya. Justru saking cintanya saya sama lagu-lagu mereka.

Meski demikian, saya baru pertama kali menonton konser mereka ketika kuliah di Malang. Saya masih ingat, waktu itu mereka konser di Stadion Gajayana dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. It was the last concert I attended with Dod, my bestfriend, before graduated and left Malang. Makanya ketika denger kabar kalau Sheila On 7 mau bikin konser di Jakarta, saya sudah menetapkan hati. SAYA. HARUS. NONTON. Udah kangen banget buat larut dalam penampilan live mereka yang terakhir saya lihat di Soundrenaline 2012 di BSD bareng Okky, Erje, Zeta dan Mizan.

Baru beberapa hari sebelum hari konser saya tahu kalau di konser itu bukan hanya Sheila On 7 yang bakal perform. Di konser yang bertajuk Radja Sephia itu juga bakal ada penampilan /rif! Even better. Saya juga suka /rif dan sangat menikmati performance mereka ketika tampil di Dome UMM, lagi-lagi ketika saya masih kuliah di Malang. Berasa paket combo beli satu gratis satu hohohohoho….

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

And it was awesome! Sama sekali ga rugi nontonnya karena saya bisa sungguh larut dalam suasana nyaris sepanjang konser. Bukan cuma ikut sing along sambil berdiri joget jejingkrakan, saya bahkan sampai berlinang air mata saking terlarutnya. Mohon maaf buat mas-mas bangku depan yang beberapa kali kesenggol dengkul dan tangan saya saking hebohnya menikmati konser. Kalau bangku belakang mah paling sepet aja liat saya berdiri lunjak-lunjak mulu. Lah daripada liat yang mesra peluk-peluk ga mau lepas kayak pasangan depan saya di awal konser, kan mending jingkrak-jingkrak enjoying the music hahahaha… Apalagi pas banget saya nontonnya bareng Eka (yang sama serunya menikmati suasana) dan Adrian (yang sempet ketiduran dan kemudian memilih keluar makan bwahahaha..).

Setting panggung yang dibikin kotak melingkar memungkinkan performer buat menyapa semua penonton di sisi panggung manapun mereka berada itu konsep yang keren banget dan pasti bakal banyak dicontek konser musik berikutnya. Waktu pelaksanaan konser yg tepat jadwal, bahkan sebelum jam delapan personel /rif sudah naik panggung, juga sangat-sangat patut diapresiasi. Sayangnya pas menyanyikan lagu Indonesia Raya sempet ada trouble dan salah lirik yang terpampang di video pengiring (harusnya “Bangunlah BADANnya”, bukan “Bangunlah raganya”), tapi over all… Saya puas dengan keseluruhan konser ini. Meski Istora tidak sepenuh perkiraan saya sebelumnya (mungkin karena kurang promosi), secara pribadi, saya sangat menikmati pengalaman konser kali ini.

Me and Eka before the concert *photo courtesy of Eka

Me and Eka before the concert
*photo courtesy of Eka

Terima kasih pada penyelenggara dan kru yang memungkinkan pelaksanaan dan lancarnya konser ini, dan tentunya para performer, /rif dan Sheila On 7. You rock, guys!! \o/


Tentang Soundtrack Penyelamat Tugas Akhir

Seharian ini sambil bekerja, saya mendengarkan kembali dua album awal Josh Groban. Judulnya “Josh Groban” (2001) dan “Closer” (2003). Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa saya mengerjakan skripsi. Dua album inilah yang ketika itu menjadi teman setia saya dalam proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Thanx to Tina, temen sekos pada masa itu yang memperkenalkan Josh Groban ke dunia saya.

Selain suara dan lagu-lagunya yang memanjakan telinga, saya sangat terbantu dengan penggunaan berbagai bahasa dalam dua album itu. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk turut sing along ketika mendengar lagu yang bisa ikut saya nyanyikan. Apalagi kalau saya memahami arti lirik lagu itu, yang ada justru saya akan larut dalam kisah yang dibawakan. Sejauh ini bahasa asing yang saya pahami baru bahasa inggris. Padahal di album-album itu juga terdapat lagu-lagu yang berbahasa italia dan spanyol. Jadilah pada lagu-lagu ini hanya telinga yang saya fungsikan, sedangkan segmen otak divisi bahasa dan kata-kata terhubung pada skripsi. Kebayang kalo saya bisa ikut sing along semua, bisa-bisa skripsi saya nggak kelar-kelar.

Demikian pula ketika mengerjakan thesis. Ketika itu demam K-Pop sedang melanda, sehingga sangat mudah menemukan lagu-lagu yang catchy di telinga meski saya tak juga mengetahui maknanya. Memang sengaja tidak mencari tahu juga, biar lagu-lagu itu hanya selintas lewat sebagai musik pengiring saja. Tapi nggak spesifik juga ketika itu lagu siapa saja.

Selain tugas akhir, tentu masih banyak lagi musik-musik yang menjadi soundtrack berbagai kisah lain. Tapi lain kali saja saya cerita. Kalau kamu gimana? Lagu apa yang menjadi soundtrack kisahmu yang mana?

 

*postingan ini dibuat setelah mendapati ucapan Happy Anniversary dari WordPress atas tujuh tahun saya ngeblog di sini. Dan masih akan berlanjut lagi. :)


Nostalgia Doa

Ada sebuah tradisi yang berlaku di sekolah swasta islam tempat saya menuntut ilmu. Di kelas, sambil menunggu guru datang, biasanya para murid bersama-sama mendendangkan syi’ir ini. Waktu itu saya asal ikut “menyanyi” begitu saja. Sekadar bagian dari ritual. Baru tadi ketika salah seorang senior membahasnya di newsfeed facebook, saya menyadari bahwa syi’ir ini merupakan do’a sebelum belajar yang sangat indah sekali.

D o a  S e b e l u m  B e l a j a r 

 

سَأَلْتُكَ رَبِّ صِحَّةَ القَلْبِ وَالجَسَدْ * وَعَـافِيَةَ الأَبْدَانِ وَ الأَهْلِ وَ الوَلَدْ

وَطُوْلَ الحَياَةِ فِي كَمَالِ اسْـتِقَامَةٍ * وَحِفْظًا مِنَ الإِعْجَابِ وَ الكِبْرِ وَحَسَدْ

وَ رِزْقاً حَلاَلاً وَاسِعاً غَـيْرَ نَاقِصٍ * يَكُوْنُ لَناَ عَوْناَ عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ

وَعِـلْمًا مُبَارَكاً بِهِ أَفْهَمُ الكُتُبْ * وَ رُؤْياً سَدِيْدًا يَنْفَعُ الأَهْلَ وَ الوَلَدْ

وَ أَمْناً مِنَ البَلاَءِ وَ الهَوْلِ وَ الفِتَنْ * ِلأَوَطَانِنَا وَ عِصْمَةً مِنْ ذَوِي الحَسَدْ

وَحُسْنَ أَدَاءِ لِحُقُوْقِ جَمِيْعِهَا * عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَ تَرْضَاهُ يَا صَمَدْ

وَ أَكْثِرْ لَنَا تَوَابِعَ الحَقِّ وَ الهُدَى * مِنَ الأَقْرِباَءِ وَ البَعِيْدِيْنَ وَ الأَبْعَدْ

بِفَضْلِكَ يَا رَحْمَنُ ياَ مُحْسِنَ الوَرَى * بِجَاهِ النَّبِي المُصْطَفَى خَيْرِ مَنْ سَجَدْ

عَلَيْهِ صَـلاَةُ اللهِ ثُمَّ سـَلاَمُهُ * وَ الآلِ وَ الأَصْحَابِ وَ مَنْ لِلْعُلَى قَصَدْ

 

Sa-altuka Rabbi shihhatal qalbi wal jasad * wa ‘afiyatal abdani wal ahli wal walad

wa thulal hayati fi kamalis-tiqamati * wa hifzhan minal i’jabi wal-kibri wal-hasad

wa rizqan halalan wasi’an ghaira naqishin * yakunu lanaa ‘aunan ‘ala manhajir-rasyad

wa ’ilman mubarakan bihi afhamul kutub * wa ru’yan sadidan yanfa’ul ahla wal walad

wa amnan minal bala-i wal-hauli wal-fitan *  Li-awthanina wa ‘ishmatan min dzawil hasad

wa husna ada-i li-huquuqi jamii’iha *  ‘ala ma tuhibbuhu wa tardhahu Ya Shamad

wa aktsir lana tawwabi’al-haqqi wal huda * minal aqriba-i wal-ba’idina wal-ab’ad

bifadhlika Ya Rahmanu Ya Muhsinal Wara * bijahin nabiyyil mushthafa khairi man sajad

‘alaihi shalatullaah tsumma salamuhu * wal ali wal ash-haabi wa man lil’ula qashad

 

Kepada-Mu wahai Tuhanku aku memohon: kesehatan lahir dan batin, serta kesentosaan diri, anak dan keluarga..

dan panjang umur dalam keistiqamahan yang sempurna serta terjaga dari sifat ujub, sombong dan dengki..

dan rizqi yang halal, lapang tanpa kurang, yang menjadi penolong kami dalam (menempuh) jalan petunjuk-Mu..

dan ilmu yang berkah yang dengannya akan kupahami kitab-kitab, serta pengetahuan yang berguna bagi anak dan keluarga..

dan kesentosaan negeri kami dari bala’, marabahaya dan fitnah dari para pendengki

dan kemampuan menunaikan hak dengan sebaik-baiknya, di atas (jalan) yang Kau sukai dan Kau ridhai

Perbanyaklah (kemauan dan kemampuan) bagi kami untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk yang berasal dari kerabat, baik yang dekat maupun jauh.

(Aku bertawasul) dengan keutamaan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi kebaikan pada makhluk-Nya, serta dengan (kemuliaan) nabi pilihan yaitu sebaik-baik orang yang bersujud (pada-Mu).

Semoga kasih sayang dan kesejahteraan dari Allah senantiasa tercurah bagi beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga orang-orang yang mengharapkan keutamaan.

 

Entahlah apakah tradisi ini masih dilangsungkan. Semoga demikian. Dan saya turut mengaminkan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.