The Preggo Me: Trimester Pertama

Ketika pertama kali menemukan dua strip dalam alat tes kehamilan, saya masih belum yakin. Karenanya saya merasa perlu mengkonfirmasi kepada dokter kandungan “beneran”. Blank tentang dunia per-dokter obgyn-an di Jakarta (atau di manapun juga sih sebenarnya), saya mengikuti saja jejak beberapa teman yang sudah terlebih dahulu hamil dan melahirkan di RSB Asih, di kawasan Melawai, yang berjarak tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Ketika mendaftar ke bagian registrasi dan ditanya mau konsul ke dokter siapa, saya juga tak pegang referensi tertentu. “Siapa aja deh, mbak, yang lagi praktek” ujar saya ke mbak petugasnya.

Saya memang sengaja tidak mau jadi ibu hamil yang bagai anggota fandom mengejar dokter tertentu. Customer adalah raja, bukan? Jadi saya bebas dong milih ke dokter siapa aja. Saya coba saja dulu. Kalau ternyata nggak cocok, ya tinggal ganti. Gampang. Jadilah selama masa kehamilan ini, saya cek ke tiga dokter. Dua dokter di RSB Asih, dr. Nurwansyah yang praktek di hari kerja, dan dr. Ari Waluyo yang praktek di hari weekend, agar waktunya lebih leluasa kalau suami ingin mendampingi. Satu lagi dr. Dewanto di RS Permata Hati, Kudus, tempat saya berencana melakukan proses persalinan nanti. Alhamdulillah sejauh ini saya puas dengan layanan ketiganya yang sabar, ramah, menenangkan dan senantiasa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

bukan perut saya. pinjem gambar doang dari sini.

bukan perut saya. pinjem gambar doang dari sini.

Trimester awal saya jalani dengan lancar dan tidak merepotkan. Mual wajar berlangsung sepanjang hari sempat mengurangi nafsu makan sehingga berat badan saya malah sempat turun. Tapi untungnya bukan tipe morning sickness yang sampai mengganggu aktivitas. Demikian pula ketika banyak yang bertanya “ngidam apa?”, saya cuma tersenyum sambil menggeleng. Lah memang nggak ada keinginan menggebu untuk makan atau melakukan sesuatu yang sampai di luar nalar (setidaknya itu yang saya pahami sebagai definisi “ngidam”, iya kah?). Wajar pengen ini itu, tapi ketika gak memungkinkan atau ga keturutan ya biasa aja.

Kalau beberapa ibu hamil memilih untuk tidak bepergian di trimester pertama, saya malah tiga kali beperjalanan dinas yang menggunakan pesawat terbang. Salah satunya dengan lokasi meeting room ada di lantai tiga tanpa lift. Naik turun tangga tiga lantai juga hajar saja. Dasar saya memang aslinya pecicilan dan sok gengsian ga mau dibilang lemah :)) . Tapi tentunya ga pake lari. Kebetulan memang orang kantor belum banyak yang tahu kalau saya hamil karena belum banyak perubahan fisik yang kasat mata. Sayapun yakin-yakin aja kalau gapapa. Waktu lapor dokter juga dibilang gapapa mau bepergian naik pesawat di usia kehamilan berapa saja. So no more worries.

Untungnya ketika bertemu Eka, saya direkomendasikan untuk install apps Pregnancy di android. Di situ tersedia berbagai informasi day to day fase apa yang dilalui, do’s and dont’s, tips and tricks, macem-macem lah. Jadi sedikit banyak saya bisa belajar dan memantau apa saja yang terjadi selama proses kehamilan. Maklum lah namanya juga newbie.. Masih sering bingung ama perubahan yang terjadi di badan sendiri.


12 responses to “The Preggo Me: Trimester Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: