Monthly Archives: Februari 2015

Tentang Ngapati

Menurut perhitungan dokter, wiken lalu adalah waktu terdekat dengan usia empat bulan kehamilan saya. Meskipun menurut cerita ibu dulu ketika saya dan adik-adik dalam kandungan tidak satupun yang dibikinkan acara empat bulanan, tapi kali ini ibu ingin menyelenggarakan syukuran kecil-kecilan yang dalam bahasa jawa biasa disebut “Ngapati” (asal kata “papat” artinya empat). Menurut pembelajaran di Islam, pada usia kandungan empat bulan, malaikat mulai meniupkan ruh pada janin yang ada di kandungan, termasuk segala catatan-catatan yang ditakdirkan untuknya. Ketika diakulturasikan dengan budaya jawa yang hobi selametan untuk menandai setiap tonggak dalam kehidupan, acara Ngapati dijadikan momen bersyukur, penuh harapan serta doa agar janin yang ada dalam kandungan mendapatkan takdir yang baik dalam kehidupannya kelak.

Acara Ngapati kemarin dihadiri oleh kaum laki-laki di kampung. Kami bahkan tak mengundang keluarga besar, hanya mengirim nasi berkat sebagai tanda syukur. Acara diisi dengan pembacaan tahlil bersama, dilanjutkan pembacaan surat Al-Fatihah tiga kali, surat Al-Insyirah tiga kali, dan surat Al-Qadr tiga kali sebelum ditutup dengan doa bersama.

Karena acara dilaksanakan malam hari ba’da maghrib, baru keesokan harinya ketika bertemu saudara dan tetangga, saya mendapatkan feedback. Kebanyakan berkomentar “rujaknya sedep, nok. anakmu pasti nanti perempuan”. Hahahahaha… ada-ada saja, menghubungkan rasa hidangan dengan jenis kelamin anak nantinya. Sebelumnya ketika membantu menyiapkan hidangan, mbak Tun yang dipasrahi ibu untuk menyiapkan nasi berkat memang sempat bilang “nanti rujaknya tak bikin nggak terlalu pedes ya, nok. Biar anakmu nggak galak”. Lha.. mosok ada hubungannya? Saya bertanya-tanya. Mbak Tun lalu menceritakan beberapa “bukti pengamatan” anak-anak yang rujaknya pedas ketika Ngapati, tumbuh menjadi anak yang galak. Benar atau tidaknya, wallahu a’lam bish-showab.

Hidangan dalam nasi berkat yang disajikan juga sangat beragam. Sayang sekali saking sibuknya mempersiapkan acara, saya malah tidak sempat mengambil gambar. Sebagai deskripsi, dalam nampan kecil berbentuk bulat itu disajikan nasi, urap gudangan (matengan semua, karena ibu hamil ga boleh makan yang mentah-mentah), sambal goreng tahu, ikan asin goreng, perkedel, serundeng, bistik daging, acar dan kerupuk udang. Selain nasi dan lauk-pauk, ada juga beraneka jajanan seperti ketan dengan enten-enten, jenang, uler-uleran (kue manis kukusan dari tepung dg warna mencolok dan bentuk bergelombang), rujak, dan roti. Beberapa kru masaknya mbak Tun bahkan menyebut lazimnya ada janur juga sebagai alas hidangan, tapi karena ragam masakan saja sudah cukup merepotkan, jadi tidak diikutsertakan. Jangan tanya makna filosofis satu-persatu hidangan yang ada. Saya cuma dikasih tau kalau hidangan dari ketan itu something sticky, dan jenang itu something sweet. Selebihnya, saya cuma tau kalo rasa hidangan bikinan mbak Tun itu enak. Nyam!

Iklan

Tentang Kapan Kawin?

Judul film ini memang terkesan nyebelin. Well.. pertanyaan itu sempat menjadi salah satu teror yang pernah saya dapatkan dan membuat saya tak segan memasukkan beberapa orang dalam kolom “Lebih-Baik-Nggak-Temenan-Daripada-Bikin-Senewen”. Oh yes, it’s THAT annoying! Untunglah fase itu telah berlalu. kapan-kawin

Di film ini, Dinda, seorang manajer hotel ternama di Jakarta mengalami hal serupa. Orang tuanya di Jogja meneror psikologis sedemikian rupa, meminta Dinda untuk membawa pasangan pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Demi tidak mengecewakan kedua orangtuanya, Dindapun menyewa seorang aktor jalanan, Satrio, untuk dapat berperan sebagai kekasih di hadapan keluarganya.

Namun rupanya bukan hanya Dinda yang punya rencana, orangtuanya (dan bahkan Satriopun) juga. Situasi ini makin complicated dengan kehadiran Nadia, kakak Dinda, yang menjadi putri kebanggaan kedua orangtua karena “prestasi”-nya menikah dan punya anak pada usia “seharusnya”, dengan suami yang “sempurna”. Tentu saja lagi-lagi menurut ukuran kedua orangtua Dinda.

Cerita yang diangkat mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi saya sangat terkesan dengan keluwesan para aktor-aktris bermain-main dengan karakternya. Kayaknya cuma peran Nadia dan Jerry, suaminya, saja yang masih beraroma sinetron. Tapi tokoh-tokoh lain sungguh wajar dipandang mata. Apalagi dengan penggunaan bahasa jawa yang baik dan benar, mulai dari cara pengucapan, penggunaan tingkat bahasa (krama-madya-ngoko), bahkan misuhnya pun pas hahahaha…. Selain itu saya juga sangat suka memperhatikan outfitnya Adinia Wirasti. Siapa sih penata kostumnya? Top banget dah seleranya! Bisa jadi cantik etnik sophisticated gitu. 142346239824159_630x349 Yang jelas film ini entertaining banget. Lucu, tapi makna yang disampaikan juga dalem dan mengena. I highly recommend this movie for us all to watch. Buat yang masih sering dapet rongrongan pertanyaan ini kayaknya justru ini kesempatan bagus buat ngajak para peneror itu ikut nonton serta. Biar bisa sama-sama belajar.

“Kalau kamu mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia”.

*pinjem gambar dari sini dan situ