Monthly Archives: November 2012

Penemuan Hari Ini: Menghilangkan Bau Apek Pada Tumbler Dan Stoples

Setelah sempat beberapa waktu tertinggal di rumah, tumbler tempat minum saya akhirnya saya bawa lagi ke kosan. Pagi ini saya ingin menggunakannya lagi untuk membawa bekal air putih ke kantor. Ketika saya coba minum, terasa ada bau apek akibat penyimpanan dalam waktu lama. Mungkin sewaktu mulai disimpan tumblernya masih dalam kondisi lembab. Padahal saya membawanya dalam kondisi bersih dari almari, dan sebelumnya juga sempat saya cuci ulang menggunakan sabun cuci piring seperti biasa. Tapi kok masih apek ya? Dan sebagai sarana minum air putih, bau apek ini sangat mengganggu cita rasa.

Kebetulan saya baru saja mempraktekkan tips dari mas Wawan untuk menghilangkan dahak karena batuk yang sedang mendera. Kenapa tidak saya coba trik yang sama untuk tumbler ini? Toh tak ada salahnya. Worst case scenario, air minum saya akan berasa asin beberapa saat. Saya isi sepertiga tumbler dengan air hangat matang, lalu menuang kira-kira satu sendok makan garam. Tutup rapat, lalu kocok layaknya bartender menyiapkan minuman untuk James Bond, “shaken not stirred”. Buang air garam, trus bilas dengan air biasa yang matang juga. Setelahnya saya coba lagi menuang air untuk saya minum. Dan bau apeknya ilang sodara-sodaraaaa…

Tips serupa juga dapat digunakan pada stoples, namun entah kalau perabot makan lain yang tak dapat ditutup. Coba saja, lalu beritahu saya yaaa…


Tentang Wreck It Ralph

“I am bad and that’s good. I will never be good and that’s not bad. There is no one I would rather be than me” -Wreck It Ralph

Pernah gak jengkel cenderung benci sama tokoh antagonis di sebuah cerita, simply karena mereka “the bad guy” di cerita itu? Macam ibu-ibu yang mencubit gemas seorang pemain sinetron sambil bilang “kamu kok jahat banget sih sama si anu (tokoh protagonis dalam sinetron itu)”, tanpa menyadari bahwa sinetron yang ditontonnya itu sekadar cerita. Buatan. Bohongan. Yang jahat ataupun baik dalam cerita itu belum tentu jahat atau baik di dunia beneran. Wreck It Ralph menceritakan tentang the Bad Guys ini. Bukan bad guys dalam kisah sinetron, melainkan bad guys dalam video games.

Jadi ceritanya, ketika sebuah sebuah wahana video game tutup, tokoh-tokoh yang ada di dalam permainan video game dapat istirahat “bekerja” dan menjalani kehidupan mereka sendiri. Mereka juga bisa saling mengunjungi permainan video game lain melalui sebuah stasiun pusat. Tentu saja pagi hari, ketika wahana video game itu buka, setiap tokoh itu sudah harus kembali ke habitat masing-masing untuk kembali “bekerja” sesuai perannya. Ralph adalah seorang tokoh antagonis dalam sebuah permainan video games yang berjudul Wreck It Ralph. Setelah sekian waktu menjalani rutinitas yang sama, Ralph mulai bosan. Apalagi memandang Felix, si tokoh protagonis, begitu bahagia tinggal di penthouse apartemen dengan para warga yang memuja. Sedangkan dia sendiri, jangankan dipuja warga apartemen, ketika permainan mereka berulangtahunpun mereka merayakannya tanpa mengundang Ralph. Hal ini membuat Ralph sedih dan kesepian. Dia juga ingin merasakan penghargaan, dan mendapatkan medali seperti yang diperoleh Felix setiap kali usai melakukan tugas. Mampukah Ralph mendapatkan medali penghargaan yang diidam-idamkannya? Apakah dengan demikian warga apartemen akan dapat menerima dan berbaik-baik kepadanya? Ah you really should watch this movie yourself.

Yang saya suka dari film ini, tokoh-tokoh antagonis tidak disajikan secara hitam putih. Bad guy-pun punya hati, punya keinginan untuk hidup mulia, di balik tampilan mereka yang sangar itu. Saya yang bukan penggemar video game juga terhibur dengan berkumpulnya tokoh-tokoh dari video games yang pernah saya kenal macam Mario Bross, Sonic, Pac-Man, Street Fighter dan masih banyak lagi, pada berkumpul sliwar-sliwer jadi cameo. Belum lagi setting Sugar Rush yang bernuansa pink coklat manis sekali sampai bikin gigi saya ngilu hanya dengan melihatnya. Baru sepulang dari nonton, saya memborong tiga bungkus permen jelly demi memuaskan ngidam setelah sekian tahun nggak makan permen-permen begituan.

*pinjem gambar dari sini dan sini


Interlude

“If she’s amazing, she won’t be easy. If she’s easy, she won’t be amazing. If she’s worth it, you wont give up. If you give up, you’re not worthy. … Truth is, everybody is going to hurt you; you just gotta find the ones worth suffering for.”
– Bob Marley

I got the quote from a friend’s facebook newsfeed.

It got me thinking, and then look around. Remembering people i’d given up, and gave up on me. Yet i’m still standing here, as unworthy as them. Searching for somebody worth fighting for, and not giving up.

*pinjem gambar dari sini


Tentang Skyfall

Seperti sudah lama sekali sejak saya memanfaatkan blog ini sebagai sarana mengomentari film-film yang habis saya tonton. Padahal kalau melihat arsip postingan lama, dulu hampir setiap film yang saya anggap menarik atau malah saking tidak menariknya, saya bagi cerita di sini. Dan film Skyfall.. rasanya terlalu sayang untuk lewat begitu saja. Ketika nonton untuk kedua kali, partner nonton saya bertanya apakah saya akan mem-blog-kan film ini. I said no. Malas. Lagipula euforia-nya sudah lewat. Namun ketika saya terseret nonton lagi untuk ketiga kali, berarti memang ada sesuatu dalam film ini yang begitu menarik hati. Dari sekian banyak film yang dirilis, tidak semuanya saya tonton di bioskop. Dari yang saya tonton di bioskop, hanya film-film tertentu saja yang sanggup saya tonton hingga dua kali. Jika saya sampai menonton sebuah film tiga kali…. tak diragukan lagi: saya jatuh cinta.

Ya, saya jatuh cinta pada film ini. Saya jatuh cinta pada sosok Bond yang manusiawi dan bikin pengen manjat. Bukan superhero flamboyan yang tetap tampan macho klimis tak tercela setelah gluntungan di antara ledakan dan berbagai adegan laga. Bond ala Daniel Craig ini lebih nyata. Dia bisa capek, tremor, berdarah, meleset, dan menua. I’ve never been one of Agent 007 huge fans anyway.. but THIS Bond… sampai terbawa mimpi. #halah

Kepiawaian Sam Mendes meracik film yang begitu indah hingga jika di-freeze di mana saja dapat menjadi gambar yang cantik nan artistik begitu memanjakan mata. Javier Bardem berhasil memerankan Raoul Silva, tokoh antagonis yang kegilaannya berani disandingkan dengan Joker di The Dark Knight.  Sayapun dapat dengan legowo menerima Mallory, tokoh pendatang baru yang dipersiapkan sebagai pengganti M. Meski itu berarti juga merelakan tampuk kepemimpinan badan intelijen inggris ke tangan Voldemort? Oh tidak.. apa yang akan diperbuatnya dengan dunia muggle yang lemah tak berdaya ini? #salahceritawuoy!

Above all.. rasanya tak perlu lagi saya ceritakan betapa saya merekomendasikan film ini. Jika saya sanggup menontonnya tiga kali, tentu film ini jauh lebih layak tonton ketimbang film vampir berkilau dan perempuan labil yang kemaplok itu bukan?

*pinjem gambar semena-mena dari sini dan sini