Author Archives: emyou

Tentang Ngapati

Menurut perhitungan dokter, wiken lalu adalah waktu terdekat dengan usia empat bulan kehamilan saya. Meskipun menurut cerita ibu dulu ketika saya dan adik-adik dalam kandungan tidak satupun yang dibikinkan acara empat bulanan, tapi kali ini ibu ingin menyelenggarakan syukuran kecil-kecilan yang dalam bahasa jawa biasa disebut “Ngapati” (asal kata “papat” artinya empat). Menurut pembelajaran di Islam, pada usia kandungan empat bulan, malaikat mulai meniupkan ruh pada janin yang ada di kandungan, termasuk segala catatan-catatan yang ditakdirkan untuknya. Ketika diakulturasikan dengan budaya jawa yang hobi selametan untuk menandai setiap tonggak dalam kehidupan, acara Ngapati dijadikan momen bersyukur, penuh harapan serta doa agar janin yang ada dalam kandungan mendapatkan takdir yang baik dalam kehidupannya kelak.

Acara Ngapati kemarin dihadiri oleh kaum laki-laki di kampung. Kami bahkan tak mengundang keluarga besar, hanya mengirim nasi berkat sebagai tanda syukur. Acara diisi dengan pembacaan tahlil bersama, dilanjutkan pembacaan surat Al-Fatihah tiga kali, surat Al-Insyirah tiga kali, dan surat Al-Qadr tiga kali sebelum ditutup dengan doa bersama.

Karena acara dilaksanakan malam hari ba’da maghrib, baru keesokan harinya ketika bertemu saudara dan tetangga, saya mendapatkan feedback. Kebanyakan berkomentar “rujaknya sedep, nok. anakmu pasti nanti perempuan”. Hahahahaha… ada-ada saja, menghubungkan rasa hidangan dengan jenis kelamin anak nantinya. Sebelumnya ketika membantu menyiapkan hidangan, mbak Tun yang dipasrahi ibu untuk menyiapkan nasi berkat memang sempat bilang “nanti rujaknya tak bikin nggak terlalu pedes ya, nok. Biar anakmu nggak galak”. Lha.. mosok ada hubungannya? Saya bertanya-tanya. Mbak Tun lalu menceritakan beberapa “bukti pengamatan” anak-anak yang rujaknya pedas ketika Ngapati, tumbuh menjadi anak yang galak. Benar atau tidaknya, wallahu a’lam bish-showab.

Hidangan dalam nasi berkat yang disajikan juga sangat beragam. Sayang sekali saking sibuknya mempersiapkan acara, saya malah tidak sempat mengambil gambar. Sebagai deskripsi, dalam nampan kecil berbentuk bulat itu disajikan nasi, urap gudangan (matengan semua, karena ibu hamil ga boleh makan yang mentah-mentah), sambal goreng tahu, ikan asin goreng, perkedel, serundeng, bistik daging, acar dan kerupuk udang. Selain nasi dan lauk-pauk, ada juga beraneka jajanan seperti ketan dengan enten-enten, jenang, uler-uleran (kue manis kukusan dari tepung dg warna mencolok dan bentuk bergelombang), rujak, dan roti. Beberapa kru masaknya mbak Tun bahkan menyebut lazimnya ada janur juga sebagai alas hidangan, tapi karena ragam masakan saja sudah cukup merepotkan, jadi tidak diikutsertakan. Jangan tanya makna filosofis satu-persatu hidangan yang ada. Saya cuma dikasih tau kalau hidangan dari ketan itu something sticky, dan jenang itu something sweet. Selebihnya, saya cuma tau kalo rasa hidangan bikinan mbak Tun itu enak. Nyam!


Tentang Kapan Kawin?

Judul film ini memang terkesan nyebelin. Well.. pertanyaan itu sempat menjadi salah satu teror yang pernah saya dapatkan dan membuat saya tak segan memasukkan beberapa orang dalam kolom “Lebih-Baik-Nggak-Temenan-Daripada-Bikin-Senewen”. Oh yes, it’s THAT annoying! Untunglah fase itu telah berlalu. kapan-kawin

Di film ini, Dinda, seorang manajer hotel ternama di Jakarta mengalami hal serupa. Orang tuanya di Jogja meneror psikologis sedemikian rupa, meminta Dinda untuk membawa pasangan pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Demi tidak mengecewakan kedua orangtuanya, Dindapun menyewa seorang aktor jalanan, Satrio, untuk dapat berperan sebagai kekasih di hadapan keluarganya.

Namun rupanya bukan hanya Dinda yang punya rencana, orangtuanya (dan bahkan Satriopun) juga. Situasi ini makin complicated dengan kehadiran Nadia, kakak Dinda, yang menjadi putri kebanggaan kedua orangtua karena “prestasi”-nya menikah dan punya anak pada usia “seharusnya”, dengan suami yang “sempurna”. Tentu saja lagi-lagi menurut ukuran kedua orangtua Dinda.

Cerita yang diangkat mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi saya sangat terkesan dengan keluwesan para aktor-aktris bermain-main dengan karakternya. Kayaknya cuma peran Nadia dan Jerry, suaminya, saja yang masih beraroma sinetron. Tapi tokoh-tokoh lain sungguh wajar dipandang mata. Apalagi dengan penggunaan bahasa jawa yang baik dan benar, mulai dari cara pengucapan, penggunaan tingkat bahasa (krama-madya-ngoko), bahkan misuhnya pun pas hahahaha…. Selain itu saya juga sangat suka memperhatikan outfitnya Adinia Wirasti. Siapa sih penata kostumnya? Top banget dah seleranya! Bisa jadi cantik etnik sophisticated gitu. 142346239824159_630x349 Yang jelas film ini entertaining banget. Lucu, tapi makna yang disampaikan juga dalem dan mengena. I highly recommend this movie for us all to watch. Buat yang masih sering dapet rongrongan pertanyaan ini kayaknya justru ini kesempatan bagus buat ngajak para peneror itu ikut nonton serta. Biar bisa sama-sama belajar.

“Kalau kamu mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia”.

*pinjem gambar dari sini dan situ


Tentang Kehilangan

I never knew losing somebody for good could be this hurt.

Hari ini genap tujuh hari mas sepupu saya, M. Zaky Fanani, meninggalkan keluarga besar kami tercinta. Meskipun bagi beberapa orang, tingkatan sepupu mungkin bisa dibilang tidak terlalu dekat, namun di keluarga saya, terutama keluarga besar dari garis bapak, kami sudah seperti satu kesatuan. Sehingga ketika mas Fani (demikian saya bisa memanggilnya), putra dari bude saya berpulang, seluruh keluarga besar turut merasa kehilangan yang begitu dalam.

Mas Fani (center) di antara para sepupu

Mas Fani (center) di antara para sepupu

Kamis, 15 Januari 2015 lalu, saya dan suami tidur lebih awal. Mengingat usia kehamilan saya yang masih memerlukan banyak istirahat, beberapa waktu terakhir ini memang demikian pola yang kami terapkan. Saya juga mengeset handphone dalam kondisi silent agar tidak mengganggu kualitas tidur.

Jumat, 16 Januari 2015 pagi buta saya terbangun. Ketika melihat handphone, waktu menunjukkan pukul 01.30, 3 missed call, sebuah sms, dan ratusan pesan whatsapp (yang ini sudah biasa, karena keikutsertaan saya di beberapa grup aktif). Panggilan yang terlewatkan tercatat dari Iluk, adik saya, serta dua orang sepupu, Nay dan Alina. Ada apa nih? Batin saya. Jawaban baru saya dapatkan ketika saya membuka sms dari Iluk yang berbunyi “Innalillahi, mas Fani meninggal”. Segera saya telfon tapi tidak diangkat. Baru beberapa saat kemudian Iluk menelfon balik, mengonfirmasi kabar yang telah disampaikan sebelumnya. Saya bangunkan suami dan memberitahu kabar itu. “Aku pulang ya?” tanya saya meminta ijin. Dia mengiyakan, tapi tidak bisa ikut pulang pagi itu juga karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Segera saya berusaha mencari tiket pesawat jurusan Semarang. Waktu sepagi itu, teman-teman yang biasa saya hubungi untuk memesan tiket sudah pada tidur. Untungnya Iluk pernah menginstalkan aplikasi pemesanan tiket di gadget saya. Untuk pertama kalinya saya coba aplikasi itu. Flight tercepat yang bisa saya dapatkan jadwal jam 7 pagi. Saya perkirakan masih cukup waktu untuk mengejar waktu pemakaman jam 11 siang. Selesai membooking, saya minta suami untuk mengantar ke atm membayar pesanan tiket, kemudian mendapatkan kode booking melalui e-mail.

Seusai sholat subuh, segera saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah pesawat yang saya tumpangi cukup tepat waktu, dan antrian taxi di Bandara Ahmad Yani tidak crowded sehingga saya bisa tiba di rumah duka sekitar pukul 09.30. Hampir semua anggota keluarga besar sudah tiba di sana. termasuk tante yang dari Solo, juga sepupu-sepupu yang dari Cirebon dan Surabaya. Tinggal sepupu yang berdinas di Gorontalo Utara dan masih menjalani sekolah militer saja yang belum dapat bergabung.

Kepergian yang begitu cepat dan mendadak mengagetkan kami semua. Apalagi almarhum mas Fani dikenal sebagai sosok yang ceria, murah hati, suka menolong, dan tak segan membantu sesamanya. Masih sangat lekat di ingatan saya ketika almarhum “konser” di pesta pernikahan saya menyanyikan lagu Cantik-nya Kahitna, dengan para sepupu lain, (termasuk pengantin yang di atas pelaminan) berkerumun di depan panggung seperti fans-nya. Everybody was there, happily.

In Memoriam M. Zaky Fanani (1986-2015)

In Memoriam M. Zaky Fanani (1986-2015)

Setelah acara pernikahan saya, keluarga besar kami sempat berkumpul di rumah budhe pada libur Natal untuk acara haul-nya Mbah Kakung. Dan hari itu, tujuh hari lalu, kami berkumpul lagi di rumah yang sama, untuk melepas kepergian saudara kami tercinta.

Selamat Jalan, Mas.. Kami percaya kau lebih berbahagia di sisi-Nya. Terima kasih telah mengijinkan kami menjadi bagian dari orang-orang yang kau sayangi, dan menyayangimu.  Selalu.


Gusti Allah tidak “ndeso” (kampungan)

emyou:

My first re-blog, since i couldn’t agree more.. :)

Originally posted on Addinie's:

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah tidak “ndeso” (kampungan)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun :

“Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.

“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.”

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:

Kalau…

View original 551 more words


Me and Mbak Leighton Meester

Baru sekali-kalinya nih saya bikin kumpulan foto make up transformation gegara ada kuis di lapak sebelah. Cukup tricky juga mikir mo memiripkan diri dengan artis siapa mengingat kostum dan lokasi sedang tidak memungkinkan buat ngaku-ngaku Angelina Jolie di Maleficent. Jadilah saya gugling saja artis siapa yang kebetulan ada fotonya sedang berkacamata, berambut cokelat (seperti warna jilbab yang sedang saya kenakan), dan mengenakan outfit simple sehingga saya tak perlu belanja ekstra.

Kebetulan nemu foto mbak cantik Leighton Meester yang lagi pake kacamata dan jaket hitam ini. Kalo cuma jaket hitam kan memang saya tinggal di kantor buat persiapan kalau ac ruangan sedang bersemangat.

Setelah beberapa kali jepret (tentunya dengan nyuekin lalu lalang orang kantor yang memandang saya dengan dahi berkernyit), akhirnya… VOILAAAAAA!!

Mirip kaaaaaan?

Mirip kaaaaaan?


Interstellar: A Must Watch Movie of the Year

Tahun 2014 belum juga habis dan saya sudah berani mentahbiskan Interstellar sebagai salah satu film terbaik yang dirilis tahun ini. And yes, YOU – MUST – WATCH – IT. Akan lebih sempurna lagi kalau ditonton dalam versi 4dx atau IMAX.

Iya sih, saya pernah mual ketika nonton 4dx. Tapi ketika mendengar ada yang menyebut bahwa Interstellar merupakan gabungan dari Inception dan Gravity, saya pun bersikukuh untuk menonton ini film setidaknya di IMAX, syukur-syukur 4dx. Pengalaman saya nonton Gravity di studio biasa bikin nyesel karena kebayang efek itu film pasti bisa lebih dahsyat kalau saya tonton di 4dx.

Benar saja, adegan-adegan di luar angkasa sungguh sangat luar biasa efeknya. Apalagi ketika adegan melayang terapung-apung pada zero gravity. Bisa berasa seakan kita ada di sana juga. Oh terima kasih, teknologi!

Sayangnya saya salah perhitungan tentang kapasitas kandung kemih sendiri, sehingga goncangan-goncangan tersebut sempat memperparah sensasi kebelet pipis di tengah film. Alhasil, saya harus dengan amat sangat terpaksa berlari (literally) ke toilet beberapa menit di tengah film juga ketika kembali ke studio lagi, saking gak rela kehilangan jalan cerita. Makanya kalau mau nonton film ini saya sarankan jangan terlalu banyak minum sebelum dan selama nonton, juga ngetap dulu ke toilet sebelum film mulai deh daripada kebelet di tengah film.

(pinjem gambar dari sini)

(pinjem gambar dari sini)

Meski demikian, durasi yang tiga jam itu sama sekali tidak akan membosankan. Sepanjang film selalu saja ada kejutan, emosi dan ketegangan yang disuguhkan Nolan bersaudara ke hadapan yang tak jarang membuat saya berlinang air mata atau bengong dengan mulut menganga saking terpesonanya. Ketika film selesaipun, saya masih duduk terpana. Berusaha mencerna segala yang baru saja saya serap, and it was MIND BLOWING!

Great job, Mr. Nolan!


“Diet”

06.30 “aku nggak mau sarapan nasi ah.. aku mau diet. kalo makan nasi tuh nanti pasti craving, laper mulu”
06.35 *cicip dua sendok nasi dari piring suami*
06.40 “aku sarapan muesli ama yoghurt aja deh biar sehat”
09.00 *turun ke kantin beli beli secangkir kopi hitam, sebutir onde-onde dan donat salut gula*
09.30 *ikut ke ruang sebelah makan sepiring spaghetti dari yang lagi ulang tahun*

Diet? Apa itu diet?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.