Monthly Archives: Juni 2007

Embel-embel

Dulu, tiap kali ngeliat atlet pake kaos dengan tulisan Indonesia di bagian punggungnya, gw selalu terkagum-kagum. Wondering gimana rasanya ya ngewakili negara. Pasti campuran antara kebanggaan, sekaligus beban tersendiri karena membawa nama besar negara. Seminggu yang lalu, melihat name tag ini, gw jadi teringat kekaguman-kekaguman gw waktu itu. Gw emang bukan atlet. Tapi setidaknya gw perna cicip rasanya bawa embel-embel nama negara, bersama dengan nama gw.

And it feels so…. good. Proudly saying “my name is Maria Ulfah, and I’m from Indonesia”.

Iklan

Next Destination: Bali!!!

Sore ini insyaAllah gw berangkat ke Bali. Bukan buat piknik bersenang-senang kok. Tapi tugas dinas, jadi bagian dari anggota Delegasi RI pada Sidang Coordinating Committee on Services (CCS) – ASEAN ke-51. Dari kantor gw si berangkatnya ber-sepuluh (yang staf cuma tiga orang,dan gw yang termuda. Siap2 jadi babu deh hehehe… ). Ceritanya kita yang mewakili sektor konstruksi Indonesia gituh. Sante aja..Ga usa pake takjub gitu.. Bukan gw kok yang bakal maju berunding dengan perwakilan-perwakilan dari negara ASEAN laen. Kan banyak bos-bos gw yang kompeten di bidangnya. Gw si.. sekedar menimba pengalaman ajah, siapa tau bertahun mendatang gw yang bakal duduk berunding. Amiiiiiiinnn…….

Jangan minta oleh-oleh yak, pengalaman pas IJEPA tahun lalu ga banyak waktu buat belanja soale. Seharian di conference room, tus baru malemnya bisa keluar makan, balik hotel, tidur dah. Paginya mulai rapat lagi. Cuma bisa keluar malem. Padhal malem kan Sukowati tutup, Joger jugak. Tapi tetep bakal gw sempetin nyari oleh-oleh entah apa deh, sebisa gw. Kalopun gak sempet belanja, kan pasir di Bali banyak tuh. Gw bawa segenggam aja, masukin plastik, uda cukup tuh buat orang seangkatan, satu orang satu butir pasir hehehe….

See you when I see you…..

Baaaaliiiii… I’m cooomingg!!!!!!


Toilet di Halte Busway???

Penasaran aja tiap kali berada di ato melewati sebuah halte busway alias transjakarta. Ko ga ada yang terlihat seperti sebuah toilet yak? Padhal halte busway kan fasilitas umum juga. Banyak orang berlalu lalang di situ setiap saat.  Well.. mungkin orang-orang hanya berlalu, datang dan pergi, tapi penjaga halte (biasanya kan ada yang jual tiket n jaga pintu putarnya itu) apa ya, ndak perlu pee ato pup di kala jam kerja? kalo harus nahan selama jam kerja kan namanya gak manusiawi lah..

Emang siy.. ada sebuah kotak kecil berpintu (itu loh..yang tingginya ga nyampe setengah tinggi normal manusia Indonesia) yang selalu ada di area halte busway.  Tapi kok rasanya lebi masuk akal kalo kotak kecil itu tempat generator, daripada sebuah restroom.

Kemungkinan berikutnya adalah numpang di kantor-kantor atau bangunan lain yang memungkinkan terdekat dari lokasi halte. Tapi mosok numpang setiap saat setiap waktu? Jangan salahkan kalo kemudian sang pemilik bangunan memasang charge atas penggunaan fasilitasnya itu.

Ada yang tau??


Menengok Kembali Catatan Akhir Sekolah

Semalem, berhubung mata belum juga bersedia dimeremin, gw milih sala satu vcd buat ditonton (yak, benar. Vcd, bukan dvd. Karena yang gw tonton kali ini original, bukan bajakan kaya biasanya hehehe…). Pilihan jatuh pada film “Catatan Akhir Sekolah” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, orang yang sama yang menggarap film “Jomblo”

Film ini mengisahkan tiga bersahabat Alde (Marcel), Arian (Vino) dan Agni (Ramon) yang biasa disingkat dengan A3. Mereka dikenal sebagai geng dengan reputasi cupu.  Termotivasi untuk tidak menjadi orang yang “basi”, merekapun bermaksud untuk memberikan persembahan kepada sekolah mereka,  berupa sebuah film dokumenter sekolah.

Mungkin uda tiga ato empat kali gw nonton ini film, tapi gw tetep aja suka. Masih aja ketawa, masih aja ikut terharu. Hanung membuat film ini begitu nyata dan membawa kita kembali ke jaman masi SMU dulu. Suasananya, semangatnya, persahabatannya…

Gw kasi empat bintang deh buat film ini.


Balada Kernet Sombong dan Penumpang Gengsian

Senin itu, seperti kebanyakan senin-senin yang telah lewat, gw berlima ama temen-temen ga melewatkan kesempatan untuk bernomat ria. Itu loh..nonton hemat, ketika harga tiket bioskop lebih murah dari hari-hari biasa, apalagi hari libur. Misalnya di sebuah bioskop harga tiket pada hari weekend mencapai lima puluh ribu (rupiah tentunya), di hari senin itu harga tiket ”cuma” dua puluh lima ribu. Beda bioskop dengan kelas yang berbeda tentunya punya rate harga yang bervariasi pula. Tapi harga hari senin biasanya tetep aja lebi murah daripada hari-hari lainnya.

Setelah mencari informasi via internet, jam tayang film yang akan kita tonton yang paling memungkinkan cuma yang di PS alias Plaza Senayan. Memungkinkan di sini dalam artian setelah jam ngantor, tapi tidak akan terlalu malam untuk pulang setelah film usai. Biasanya si pertunjukan yang dimulai jam enam-tujuh malam-an.

Untuk mencapai Plaza Senayan dari kantor, terdapat berbagai pilihan moda transportasi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
1. Kopaja 66
Bus ini lewat tepat di depan kantor dan kita bisa turun di depan Ratu Plaza untuk kemudian berjalan ke arah belakang bangunan Ratu Plaza dan langsung akan menemukan bagian belakang tempat parkir PS. Karena jaraknya yang cukup dekat (jalan pun mampu sebenernya, tapi lumayan berkeringat dan tampilan seperti itu tidak akan nyaman untuk masuk ke Mal), biasanya kita cukup membayar seribu perak (dari ongkos normal dua ribu perak).
2. Kopaja 19
Bus ini lewat di belakang kantor, dan juga melewati depan Ratu Plaza. Seperti halnya rekan seper-kopaja-annya, kita juga cukup membayar seribu perak untuk menempuh jarak tersebut.
3. Bus Transjakarta
Perlu sedikit jalan kaki menembus komplek Al-Azhar yang berada di belakang kantor untuk mencapai halte Masjid Agung. Dengan tiga ribu lima ratus perak kita akan menikmati ademnya ac bus transjakarta, untuk sejenak dan kemudian turun di halte berikutnya yaitu halte Bunderan Senayan yang berlokasi tepat di depan Ratu Plaza dan menempuh jalur seperti halnya kalo kita naek Kopaja. Dengan selisih ongkos dua ribu lima ratus perak, dan ademnya ac bis cuma sebentar, kadang terasa sayang untuk memilih moda transportasi ini untuk jarak sedekat itu.
4. Taxi
Well… ga perlu dibahas lebi lanjut, pilihan yang satu ini memang relatif lebih mahal daripada bus umum (bisa lima hingga lima belas kali lipat, apalagi kalo naek taxi yang uda pake tarif baru), namun kita tidak akan berdesak-desakan dengan orang-orang lain, duduk nyaman, dan tentunya bisa diantar sampai tempat tujuan tanpa perlu terlalu banyak jalan. Pilihan yang tepat kalo lagi males jalan dan kelebihan uang.

Karena uda bisa pulang, gw dan Indah memilih untuk berangkat duluan ke PS. Beli tiket dulu, daripada kehabisan, ato setidaknya biar lebi bisa milih tempat duduk yang nyaman di studio .Kalo dateng aga ngepas dan ga bisa mili tempat duduk kan kita beresiko untuk dapet tempat duduk di barisan pinggir (yang berarti bakal nonton dengan posisi miring terus sepanjang film. Ya kalo bisa balik? Kalo jadinya miring terus gimana coba?), ato mala di deret depan (yang sama parahnya karena kita harus nonton sambil mendongak). Posisi paling nyaman adalah barisan di tengah ke arah belakang, dan paling ga nyaman tentunya uda di deret depan, pinggir pula. Pegel, pegel deh!

Dengan alasan ekonomis, kita memilih untuk naek Kopaja 66. Setelah duduk manis dan menyerahkan ongkos dua ribu perak untuk dua orang sambil menyebutkan tujuan kita Ratu Plaza pada kernet, tidak seperti biasanya kernet itu tetap mengulurkan tangannya pada kita.
”Kurang mbak. Kan dua ribu” kata si kernet
”Cuma ke Ratu Plaza situ aja kok. Kita kan dari PU” kilah gw ama Indah
”Kan jauh dekat dua ribu. Kalo emang deket ya jalan kaki aja” si kernet ngeyel
”Biasanya juga segitu kok” gw ama Indah tetep cuek.
Kernet itupun berlalu. Gw ama Indah lanjut ngobrol. Ketika lalu lintas macet sebelum Bunderan Senayan, tiba-tiba aja itu kernet balik lagi menghampiri kami dan mengembalikan ke tangan kami masing-masing seribu perak.
”Naek mobil depan aja mbak” katanya. Selang beberapa kendaraan di depan memang ada Kopaja 66 yang lain.

Okeh… Gw ama Indah pun beranjak dari Kopaja dengan panasnya. Baru kali itu kita diusir kernet Kopaja. Bersungut-sungut, sombong amat si itu kernet, toh bisnya juga masi kosong, paling baru akan terisi penuh penumpang setelah Ratu Plaza, dan kita lo uda bakal turun. Gak bakal kita sampe mengurangi kesempatannya untuk mendapatkan penumpang laen. Lagian dua ribu perak gituh, dibuang gitu aja?

Masih terbawa gengsi yang terluka (ciee…) karena diusir kernet Kopaja, kita berjalan ke depan bis. Tapi bukan ke arah Kopaja 66 yang ada di depannya itu.
”Blue Bird aja, Pha” kata Indah
Sip. Kebetulan diantara Kopaja 66 yang mengusir kita tadi, dan Kopaja laen di depannya, terdapat sebuah taxi Blue Bird yang kosong. Huh.. lu usir dari kopaja juga gapapa. Masi mampu kita naek taxi. Cuma dua ribu perak aja segitunya. Kita bayar yang mahal juga bisa kok. Dan taxi biru itupun mengantarkan kita sampai ke depan pintu Plaza Senayan dengan adem dan nyamannya, serta tentunya, biaya yang berkali lipat dari yang seharusnya kita keluarkan kalo kita pake Kopaja.

Biarin. Uda terlanjur panas. Kalo uda gini gengsi yang bicara. Masa bodo dengan berbagai perhitungan ekonomis. Kalo mo ngirit si dari tempat kita diturunin itu sampe PS tinggal jalan juga sanggup sebenernya. Tapi jauh lebi memuaskan membayangkan kernet itu misuh-misuh melihat kita masuk ke taxi biru itu, daripada kalo kita manut dia naek bis yang depan, apalagi jalan. Padahal mbuh itu kernet liat gak gimana kita ngelanjutin perjalanan. Yang penting kita puas.

Setelah emosi mereda, gw mikir-mikir lagi… mungkin sebenernya yang salah kita juga. Lha wong yo uda tau kalo tarif kopaja itu jauh dekat Rp.2000,- kok ya tetep dengan semena-mena bayar setengah harga, dengan alasan ”uda biasa segitu”. Yang pelit itu kita. Apa susahnya si tinggal nambah dua ribu perak untuk dua orang. Dua ribu perak aja segitunya. Yang sombong itu kita. Cuma demi gengsi, ga rela ngeluarin tambahan dua ribu rupiah yang emang uda seharusnya kita bayar, tapi dengan jumawa dan entengnya mengeluarkan sejumlah berkalilipatnya untuk taxi.

Astaghfirullahal’adziiim…

Maaf ya.. kernet yang sombong tapi ternyata masi lebi sombongan kita…