Monthly Archives: September 2014

Larut Bahagia di Konser Radja Sephia

Saya sudah menggemari lagu-lagu Sheila On 7 sejak cah-cah Jogja itu mengeluarkan album pertama mereka. Lagu “Dan” langsung mencuri perhatian kuping dan jiwa remaja saya disusul dengan lagu-lagu lain di album yang sama. Sealbum apal ngelotok semua seuwo-uwonya.

Begitu pula di album-album berikutnya. Kayaknya cuma lagu-lagu di album Berlayar saja yang saya kurang “kenal”. Kalau album “Anugerah Terindah Dari Sheila On 7”, terus terang saya tidak mau membeli karena ga rela lagu-lagu legendaris Sheila On 7 di-abuse sedemikian rupa oleh versi cover-nya. Justru saking cintanya saya sama lagu-lagu mereka.

Meski demikian, saya baru pertama kali menonton konser mereka ketika kuliah di Malang. Saya masih ingat, waktu itu mereka konser di Stadion Gajayana dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. It was the last concert I attended with Dod, my bestfriend, before graduated and left Malang. Makanya ketika denger kabar kalau Sheila On 7 mau bikin konser di Jakarta, saya sudah menetapkan hati. SAYA. HARUS. NONTON. Udah kangen banget buat larut dalam penampilan live mereka yang terakhir saya lihat di Soundrenaline 2012 di BSD bareng Okky, Erje, Zeta dan Mizan.

Baru beberapa hari sebelum hari konser saya tahu kalau di konser itu bukan hanya Sheila On 7 yang bakal perform. Di konser yang bertajuk Radja Sephia itu juga bakal ada penampilan /rif! Even better. Saya juga suka /rif dan sangat menikmati performance mereka ketika tampil di Dome UMM, lagi-lagi ketika saya masih kuliah di Malang. Berasa paket combo beli satu gratis satu hohohohoho….

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

And it was awesome! Sama sekali ga rugi nontonnya karena saya bisa sungguh larut dalam suasana nyaris sepanjang konser. Bukan cuma ikut sing along sambil berdiri joget jejingkrakan, saya bahkan sampai berlinang air mata saking terlarutnya. Mohon maaf buat mas-mas bangku depan yang beberapa kali kesenggol dengkul dan tangan saya saking hebohnya menikmati konser. Kalau bangku belakang mah paling sepet aja liat saya berdiri lunjak-lunjak mulu. Lah daripada liat yang mesra peluk-peluk ga mau lepas kayak pasangan depan saya di awal konser, kan mending jingkrak-jingkrak enjoying the music hahahaha… Apalagi pas banget saya nontonnya bareng Eka (yang sama serunya menikmati suasana) dan Adrian (yang sempet ketiduran dan kemudian memilih keluar makan bwahahaha..).

Setting panggung yang dibikin kotak melingkar memungkinkan performer buat menyapa semua penonton di sisi panggung manapun mereka berada itu konsep yang keren banget dan pasti bakal banyak dicontek konser musik berikutnya. Waktu pelaksanaan konser yg tepat jadwal, bahkan sebelum jam delapan personel /rif sudah naik panggung, juga sangat-sangat patut diapresiasi. Sayangnya pas menyanyikan lagu Indonesia Raya sempet ada trouble dan salah lirik yang terpampang di video pengiring (harusnya “Bangunlah BADANnya”, bukan “Bangunlah raganya”), tapi over all… Saya puas dengan keseluruhan konser ini. Meski Istora tidak sepenuh perkiraan saya sebelumnya (mungkin karena kurang promosi), secara pribadi, saya sangat menikmati pengalaman konser kali ini.

Me and Eka before the concert *photo courtesy of Eka

Me and Eka before the concert
*photo courtesy of Eka

Terima kasih pada penyelenggara dan kru yang memungkinkan pelaksanaan dan lancarnya konser ini, dan tentunya para performer, /rif dan Sheila On 7. You rock, guys!! \o/

Iklan

Silent Words

Ada yang pernah bilang, setiap kata itu memiliki energi yang akan sampai pada siapa ditujukannya. Lalu apa kabar yang pada berantem ikut berasa di-nomensen? Apa berarti energi yang dikirimkan nyasar salah tujuan? Atau malah begitu berlimpah ruah hingga luber muncrat nyiprati yang tak dituju sekalipun?

Tapi somehow, saya percaya. Kata itu akan tetap mengantar energi yang sama pada yang ditujunya. Apalagi bagi mereka yang berbicara dengan bahasa yang sama.

Ah.. Mau bilang “hey.. I miss you” saja susahnya..


Tut Wuri Handayani: Sekelumit Analisa Seadanya tentang Manusia Indonesia

“Mohon perhatian, kepada para hadirin dimohon untuk dapat mengisi tempat duduk yang ada di barisan depan terlebih dahulu karena acara akan segera dimulai”, demikian biasa disampaikan para pembawa acara pertemuan yang melibatkan banyak orang dengan setting tempat duduk berbaris. Jangankan dalam sebuah seminar, pada ruang rapat yang berbentuk U-shape dengan dua baris meja saja, tempat duduk di barisan belakang pasti lebih cepat terisi dibandingkan dengan barisan depan.

Ada yang menyebutnya “kebiasaan orang Indonesia” untuk lebih memilih bergerombol di belakang. Ingat saat masih sekolah? Tempat favorit kebanyakan siswa adalah di baris belakang. Terbukti dengan tingkat kepadatan pada saat hari pertama penentuan tempat duduk. Baris terdepan biasanya kalau tidak diisi oleh siswa teladan yang antusias atau penderita rabun jauh (seperti saya), ya mereka yang cukup apes tidak kebagian bangku belakang. Baris belakang jadi most wanted position baik di dalam kelas, di bis saat darmawisata, maupun ketika upacara.

Kenapa bisa demikian? Bukankah jika kita di baris depan maka akan semakin mudah untuk konsentrasi dan menyerap materi pelajaran/seminar? Akan lebih jelas juga apabila ada yang ingin kita informasi yang ingin kita ketahui lebih jauh dengan berdiskusi langsung pada narasumber. Tapi tetap saja, jarang saya dapati orang berebut baris terdepan pada forum-forum keilmuan.

Baru beberapa waktu lalu saya kepikiran ketika tanpa sengaja saya melihat lagi gambar dasi siswa Sekolah Dasar. Iya, dasi kecil warna merah dengan logo “TUT WURI HANDAYANI”. 

ragam dasi "tut wuri handayani"

ragam dasi “tut wuri handayani”

AHA!! INILAH PENYEBABNYA!

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional pendiri Taman Siswa, mengajarkan pada kita semboyan pendidikan yang sangat terkenal. Semboyan dalam bahasa Jawa itu berbunyi:

“Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

Artinya kurang lebih “yang berada di depan memberi contoh, yang di tengah memberi semangat, yang di belakang memberi dorongan”.

Masalahnya, yang sering ditampilkan di mana-mana, termasuk di dasi murid-murid sekolah itu cuma sepenggal saja. Hanya bagian “tut wuri handayani”-nya. Jadi di alam bawah sadar mereka juga lebih banyak terpatri untuk mendorong atau mendukung dari belakang, daripada urgensi untuk melaksanakan peran yang di depan. Tengah mah tim hore seperti fungsinya memberi semangat.

Jadi bagaimana caranya memancing agar baris depan tampak lebih menarik sekaligus belajar leadership? Jangan cuma “tut wuri handayani”-nya saja, akrabkan para siswa dengan dua kalimat lainnya. Tentu bukan hanya sebatas tulisan di dasi sekolah. Lebih penting lagi bagaimana penerapan dalam kehidupan sehari-hari bahwa depan itu keren, antusias, pemberani, penerobos segala halang rintang. Bagaimana kita mau maju kalau ke depan saja enggan?

 

 

*pinjem gambar dari sini


Lucy: Limitless KW Versi Cewe

Sudah pernah lihat trailler film Lucy wira-wiri di bioskop sebelum ini kan ya? Trailler ini termasuk berhasil menyentil rasa ingin tahu saya untuk menonton filmnya ketika tayang. Bayangan saya, bakal sekeren film Limitless-nya Bradley Cooper tapi dengan tokoh utama perempuan. Girl Power Yaaaay!!

Jadilah saya menontonnya tadi malam dan….

APA PULA INI FILM?

Dalam beberapa (banyak) adegan akal sehat saya berjengit memprotes. Gak usah deh dihubungkan ama keimanan. Kejauhan. Common sense aja gak nerima jalan ceritanya. Satu-satunya yang bikin saya tetap duduk hingga film selesai hanyalah kewajiban moral sebagai penonton film yang baik untuk menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai. Untung saja mba ScarJo sama-sekali gak bikin sepet mata. But over all.. I don’t recommend it AT ALL.