Monthly Archives: Desember 2007

Renungan Hari Ibu

Well.. Gw tau, sekarang belum hari Ibu, tapi melewati sebuah institusi pemerintah yang menyelenggarakan upacara bendera peringatan hari ibu pagi ini, bikin gw mikir. Penting ya, hari ibu dirayain pake upacara bendera? Apalagi dengan embel-embel seluruh petugas upacara mulai inspektur, pemimpin, pengibar, dan pembaca macem-macem itu seluruhnya dipilih yang berjenis kelamin perempuan. Kalo dibilang itu salah satu bentuk penghormatan terhadap perempuan, apa iya, mereka yang katanya dihormati itu jadi merasa terhormat dengan cara demikian??

Kalo menurut gw siy.. secara gw perempuan, punya ibu yang juga perempuan, dan (semoga) kelak bakal jadi ibu juga, upacara macem gitu gak penting tuh buat bikin gw merasa dihormati ato dihargai. Gw (maupun, gw yakin, ibu gw dan para ibu laennya) justru akan lebi seneng kalo hari ibu itu dijadikan hari yang spesial dengan cara memberikan hari itu sebagai kesempatan kita untuk memanjakan para ibu dengan berada di sekitarnya dan menyenangkannya dengan apapun yang disukainya.

Misal aja, ibu kita suka shopping, ya uda, hayuk ke mall ato ke mana bersama ibu kita dan memberikannya voucher belanja gratis. Ato kalo beliau suka membaca, maka kita bisa memberikan buku yang sudah lama diinginkannya. Kalo beliau suka duduk di ruang tengah sambil ngobrol bersama seluruh anggota keluarganya, ya mari kita luangkan waktu buat ngumpul bareng. Malah akan lebi menyenangkan kalo event hari ibu menjadi ajang mudik nasional, jadi momen berkumpulnya keluarga seperti halnya lebaran, natal atopun thanksgiving.

Pasti para ibu akan lebih bahagia bercengkerama bersama keluarganya daripada disuruh berangkat ke kantor buat sekian puluh menit pegel berdiri mengikuti upacara, atopun jadi petugas upacara.

Iklan

Pestanya Bubar!!

Iyah, Jiffest uda selese kemaren. Membuat gw mau gak mau kembali menunggu setahun lagi buat Jiffest 2008.

Dan sesuai request Fiqa, yang ga sempet ikut nonton, kali ini gw mo bikin laporan tentang film-film yang uda gw tonton di Jiffest. Here’s the list:

 Atonement

Film ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Briony Tallis yang bersaksi bahwa Robbie Turner telah melakukan pemerkosaan terhadap sepupunya. Tindakannya ini mengakibatkan Robbie ditahan, sekaligus juga memisahkan antara Robbie dengan Cecilia, kakak Brionny. Ketika perang meletus, Robbie dikirim untuk berperang, sementara Brionny dan Cecilia menjadi perawat. Bertahun kemudian, baru Brionny mempunyai keberanian untuk menceritakan peristiwa yang sebenarnya dengan menulis sebuah buku yang dipersembahkan bagi dua orang yang yang saling mencintai, namun harus terpisahkan atas perbuatannya di masa lalu.

Inti yang gw dapet, ga perna terlambat untuk mengatakan kebenaran.

 

Love & Honor (Bushi No Ichibun)

Shinnojo Mimura, seorang pencicip makanan kerajaan, mendadak terkena racun ketika sedang menjalankan tugas yang menjadikannya buta. Dengan demikian, dia tidak lagi dapat bekerja untuk kerajaan. Kayo, istrinya, berusaha untuk mendapatkan bantuan dari seorang pejabat kerajaan karena tidak satupun dari keluarga Shinnojo yang bersedia mengulurkan tangan untuk nafkah mereka. Namun hal ini ternyata menjadi sebuah pertentangan tersendiri bagi keduanya, yang mengharuskan mereka mengambil langkah berdasar cinta dan kehormatan.

Sungguh sebuah drama yang mengharukan. Jepang banget!!

Vitus

Mengisahkan tentang seorang anak bernama Vitus yang memiliki IQ di atas rata-rata, yang membuatnya begitu piawai memainkan piano, dan berakselerasi dalam pendidikan. Dia tau, ibunya berharap banyak kepadanya, tapi dia hanya ingin menjalani kehidupan selayaknya anak seusianya.

Film yang B A G U S ! ! ! Recommended banget!! Adek kecil yang pinter banget itu bisa bikin kita gemes dengan polah tingkahnya, sekaligus merasakan repotnya menjadi orang yang luar biasa.

Elizabeth: The Golden Age

Film sejarah gitu. Kolosal khas film-film perang. Menceritakan tentang Ratu Elizabeth I dalam memperjuangkan negeri dan rakyat yang dicintainya. Dengan intrik politis, perebutan kekuasaan, dan tentunya tentang kehidupan Sang Ratu, sebagai pemimpin kerajaan, ibu bagi rakyatnya, dan seorang wanita.

Cuma punya satu kalimat gw buat film ini: What a woman!!

Please Vote For Me

Film dokumenter tentang pembelajaran demokrasi di sebuah Sekolah Dasar di China. Kelas tiga sedang hendak memilih ketua kelas dari tiga kandidat, Cheng Cheng, Luo Lei dan Xiao Fei (kalo gak salah si…). Dengan perbedaan latar belakang keluarga dan cara pendidikan orang tua masing-masing, mereka melakukan unjuk bakat, debat calon ketua, pidato dan pada akhirnya pemilihan suara.

Menarik sekaligus menggelitik.. Melihat betapa berbeda metode yang mereka gunakan (sesuai arahan orang tua mereka). Mulai cara berpidato, kampanye, menyikapi sebuah persaingan, sampai bagaimana menerima kekalahan dengan besar hati, dengan cara khas anak kelas tiga eSDe tentunya.

S-Express Philippines & Indonesia

Kumpulan film pendek dari Filipina dan Indonesia (pastinya!!). Meskipun penayangannya dibikin beriringan, tapi kualitasnya bener-bener beda deh. Di luar nasionalisme gw sebagai orang Indonesia, tapi film-film pendek karya anak negeri emang JAUH lebi bagus dibanding bikinan negeri tetangga yang satu itu. Pas pemutaran film pendek dari Filipina, yang ada gw bingung, bosen, bahkan tidur. Kualitas gambar n suaranya jadul banget (kecuali satu yang tentang pensil ngegaris sampe abis yang gw tinggal tidur itu). Serasa ngeliat kualitas film jaman Roy Marten masi muda dulu.

Kalo yang film Indonesia, gw angkat jempol deh. Bukan cuma kenikmatan mantenginnya, tapi juga mengenai ide cerita yang diusung. Yang paling gw suka “Harap Tenang Ada Ujian!“. Unik banget!! Tentang seorang adek kecil yang jadi berimajinasi Jepang kembali menjajah Indonesia, yang kebetulan bersamaan dengan peristiwa gempa di Jogja. Salut!! Brilian!! “Trophy Buffalo” juga bagus, mengenalkan kita pada budaya di Sumatera Barat. “Kalah atau Menang” sempet bikin kita bertanya-tanya dan menebak-nebak mereka sebenernya ngapain, tapi seru. Kreatif!! Kalo yang “Still Life“, ngasi kita pelajaran dalam berkomunikasi. Lumayan lah.. daripada yang bikinan Filipina.

6:30

Cerita tentang 24 jam terakhir Alit, sebelum dia meninggalkan San Fransisco setelah lima tahun belum pernah pulang ke Jakarta. Biasa. Datar. Cuma menang di setting yang musti jauh-jauh pake paspor, sama para pemerannya ajah. Gw bahkan ga heran pas di tengah film banyak penonton yang ninggalin studio, dan ga sampe hati buat tepuk tangan di akhir film. Tau gitu gw nonton Anak-anak Borobudur ajah.

The Photograph

Karena tidak mampu untuk membayar biaya sewa kamar yang ditinggalinya, Sita menawarkan diri bekerja tanpa dibayar kepada Johan, sang pemilik rumah yang kebetulan berprofesi sebagai fotografer keliling. Hubungan kedua orang  yang unik ini menjalin cerita yang membuka masa lalu Johan, sekaligus mengubah hidup Sita.

Bagus!! Perpaduan antara budaya Cina dan Jawa, kepercayaan tentang kehidupan setelah mati dan sisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Shanty mendapatkan nominasi FFI 2007 dalam film ini.

Kala

Berkisah tentang Janus, seorang wartawan penderita narcolepsy yang ingin menguak sebuah kasus pembunuhan. Tanpa diduganya, penyelidikannya itu berujung pada sebuah rahasia yang tak boleh dibagi, atau nyawanya sendiri yang menjadi taruhan.

Thriller yang keren, apalagi untuk kategori film Indonesia. Kalo The Photograph gw bilang bagus, maka film ini B A G U S ! ! ! Angkat jempol dah buat Joko Anwar!! Sekaligus bikin gw terheran-heran karena menemukan nama-nama India yang biasa bertebaran di Sinetron dalam credit tile ini film. Lagi tobat kali ya mereka??

The Conductors

Kali ini film dokumenter karya anak negeri yang mengisahkan tentang tiga orang konduktor. Seorang pemimpin orkestra kenamaan, Seorang konduktor paduan suara yang melibatkan seangkatan mahasiswa, dan seorang konduktor suporter sepak bola. Yang terakhir ini yang bikin gw merinding dan bahkan nangis terharu setiap kali melihat scene sekitar 45000 suporter Arema di Stadion Kanjuruhan bergerak dan bernyanyi bersama dalam satu jiwa. K E R E N ! ! ! Lebih menyentuh lagi pas di akhir film terjadi harmonisasi ketiga konduktor dalam lagu Indonesia Raya!!! Hebat deh!! Buat yang penasaran, kata sang sutradara pas sesi tanya jawab seusai film, tar tanggal 23 Januari diputer kok di Blitz. Tonton ajah. Highly recommended, terutama buat para penggemar sepakbola yang menikmati aura stadion, menikmati musik dan punya human interest.

Fiuhh… panjang juga ya?? Padhal baru segini film yang bisa gw tonton. Gimana kalo gw punya waktu dan dana yang tak terbatas buat nonton setiap film yang gw pengen yak??

*Oya.. sori, ga semua bisa gw sertain screenshootnya. Sori juga buat para pemilik yang gambarnya gw colong dari sini, sini, sini, sini, sini, dan sini


Wondering

Seorang teman lama menelfon tadi malam. Curhat baru putus sama pacarnya. Mereka putus karena si cewe uda kebelet pengen nikah, sementara temen gw belum siap.

Yang bikin gw heran adalah cerita temen gw itu kalo, katanya, di antara pertengkaran-pertengkaran mereka itu  sempet keluar nama gw. Rupanya temen gw itu membanding-bandingkan (mantan) cewenya itu dengan gw karena gw termasuk masi santai dan gak terburu-buru dalam urusan nikah (FYI: cewenya itu seumuran ama gw). Parahnya, dia membandingkan dengan klaim bahwa gw adalah mantan pacarnya.

 Huahahahahhaha…..

Kapaaaaaannn juga gw pacaran ama dia?? Setau gw kita emang deket, akrab,  tapi bukan akrabnya orang pacaran. Lebi kayak hubungan kakak-adek gitu aja. Lagian masi dalam masa gw deket ama dia itu, gw juga punya cowo yang berstatus sebagai pacar gw.

 Nah loh?! Gimana mungkin gw punya dua cowo dalam masa yang bersamaan?? Orang laen mungkin bisa, but that’s definitely NOT my type.

Dan ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelum ini masi ada lagi orang yang ngaku ngerasa perna pacaran ama gw (bahkan sepertinya sampe sekarangpun dia masi nganggep “hubungan” itu ada), padahal gw juga ga perna inget kapan hal itu terjadi. Dan gw yakin sejauh ini gw bukan pengidap multiple personality disorder ga perna kesurupan atopun kena penyakit kejiwaan laen yang bikin gw ga sadar akan apa yang telah gw lakuin.

 Trus, apa itu cuma halusinasi dia aja??
Ato emang gw yang salah bersikap sehingga dia salah paham??
Ato gimana??

 Ato gini aja deh, emang kapan si hubungan itu disebut pacaran, ato putus, ato apa?? Selama ini gw beranggapan semua itu harus ada “deklarasi”nya. Jadi cuma yang gw ngerasa perna bikin komitmen spesifik aja yang gw anggep perna pacaran ama gw. Yang laen ya berarti.. bukan.

Nah.. apa pemikiran yang selama ini gw pake itu masi berlaku ato gak, dianut semua orang ato emang cuma gw aja yang beranggapan begitu??


It’s Party Time!!

Bulan Desember tlah tiba. Jiffest di depan mata. Waktunya kita berpesta.

Jakarta International Film Festival alias Jiffest emang uda gw tunggu-tunggu bahkan sejak event yang sama tahun lalu berakhir. Seperti dimanjakan rasanya ketika selama dua minggu kita disodorkan begitu banyak pilihan film dari berbagai negara dengan berbagai genre dan tema. Mo yang bayar, ato tanpa modal, tinggal pilih. Asal rela antri dengan tertib, dan tanpa gengsi kleleran di lobby bioskop yang biasanya gak menyediakan ruang tunggu dengan jumlah banyak (kecuali Blitz tentunya). Tapi justru itu yang bikin seru, yang bikin nuansa festival lebi terasa.

Yup, terhitung mulai hari ini, 7 Desember, Jiffest dimulai. Dan akan berlangsung sampe tanggal 16 Desember ntar. Selama itu akan ada lebih dari 200 film yang berasal dari lebih dari 30 negara (seperti kebanyakan kata “dari” yak??) yang akan memanjakan para pecinta film. Pemutarannya sendiri dilaksanakan di lima lokasi, yaitu Djakarta XXI, Kineforum TIM, Goethe Institut, Erasmus Huis dan Blitz Megaplex yang di Grand Indonesia (Soalnya ada satu lagi Blitz Megaplex yang baru buka di…mana yak?? Gw lupa). Gw sendiri cuma ambil film yang diputer di Djakarta XXI dan Blitz Megaplex, dengan alasan kemudahan transportasi (sama-sama bisa dijangkau pake Transjakarta BlokM-Kota). TIM kejauhan, kalo Erasmus Huis n Goethe Institut gw belum tau tempatnya (dan males kalo harus pake taxi kesana berdasar pertimbangan ekonomis hehehe…)

Tapi tahun ini gw gak bisa lagi membabi-buta kayak tahun lalu. Ga sanggup deh rasanya kalo abis dari kantor (bahkan sebelum jam kantor berakhir) uda harus lari-lari ngejar film ke studio. Belum tentu juga kerjaan uda bisa ditinggal. Buat cari amannya, gw cuma ambil pertunjukan yang pas weekend ajah. Ngabisin dua Sabtu Minggu nongkrong di bioskop.

Dengan pembatasan-pembatasan yang gw bikin sendiri, konsekuensinya ada beberapa film yang sebenernya gw pengen tonton tapi ga bisa karena jadwal atopun lokasi pemutarannya ga masuk kriteria gw. Ya udalah.. mo gimana lagi?? Paling tar ujung-ujungnya nunggu aja itu film tayang di bioskop, ato kalo masi gak ada juga coz emang gak semua film kelas festival diputer di bioskop komersial, toh masi bisa hunting versi dvd-nya di Ratu Plaza hehehe… Nikmatnya hidup di Indonesia :D.

Buat kalian yang punya jadwal nonton film Jiffest pas weekend di Djakarta XXI atopun Blitz Megaplex, siapa tau tar bisa ketemu di sana. Mari berpesta!!!

*gambar gw pinjem dari sini


Antara Perempuan dan Kopi

 Sebuah potongan percakapan dengan seorang teman (dengan beberapa bagian yang gw edit):


😉 hehe (12/5/2007 12:43:48 PM): jd critanya kmrn tu latihan mo ngisi acara?
😉 hehe (12/5/2007 12:44:09 PM): eh, di st*****ks tu selain kopi2an yg ok apa?
emyou (12/5/2007 12:44:31 PM): gak, kalo kemaren penanaman pohon
emyou (12/5/2007 12:44:47 PM): katanya mba indah si green tea latte-nya enak
emyou (12/5/2007 12:44:57 PM): tapi kalo aku si lebi mili kopi
😉 hehe (12/5/2007 12:47:06 PM): hot chocolate?
😉 hehe (12/5/2007 12:48:20 PM): tp kl typical coffee girl tu sama ga ya?
emyou (12/5/2007 1:00:51 PM): maksudnya??
😉 hehe (12/5/2007 1:03:47 PM): yah…yg kehidupannya ga bisa dipisahkan dari kopi
emyou (12/5/2007 1:04:13 PM): emang gimana typical coffee girl menurut kamu??
😉 hehe (12/5/2007 1:06:35 PM): ga tau jg sih, mang ada hubungannya ya?
emyou (12/5/2007 1:06:45 PM): entah
emyou (12/5/2007 1:06:52 PM): menikmati hidup mungkin??
😉 hehe (12/5/2007 1:11:04 PM): tough girl isn’t it?
😉 hehe (12/5/2007 1:11:04 PM): berdasarkan beberapa analisa kayaknya lebi ke situ
emyou (12/5/2007 1:11:29 PM): waaa…aku termasuk dong?? senangnyaaa…
😉 hehe (12/5/2007 1:12:14 PM): itulah…km termasuk dlm yg dianalisa

Emang ada stereotype tertentu ya tentang para perempuan penggemar kopi?? Gw suka kopi ya karena kopi itu sendiri menyenangkan. Masalah selera aja. Nothing more..


Hitman

Lagi-lagi bahas film.

Adhe’ gw sampe komentar kalo blog gw isinya lebi banyak resensi filmnya. Tapi masak sih?? Perasaan gw juga kadang bahas topik laen kok. Kalopun sekarang gw lagi-lagi pengen ngebahas tentang film ya… harap maklum. Emang itu yang lagi ada di pikiran.

Gw nonton ini film sampe dua kali. Yang pertama emang gw niat berangkat nonton sendiri, yang kedua dalam rangka nemenin sepupu gw yang cuma mau nonton itu film, meski gw lagi pengen nonton Stardust. Gapapa lah dua kali. Toh gw juga sama sekali ga keberatan nonton cowo ganteng, botak, sexy, pembunuh berdarah dingin profesional pula (loh??!!).

Film ini diangkat dari game seperti halnya Tomb Raider. Dengan tokoh utama Agent 47 sebagai pembunuh bayaran yang dijebak oleh organisasinya sendiri, gw jadi ngerasa ada sedikit efek 007-nya. Entah dari mana. Mungkin karena setting lokasi-lokasi eksotis Rusia-nya. Di awal film, gw serasa nonton Dark Angel-nya Jessica Alba. Malah gw curiga cerita mereka berkaitan. Mungkin mereka dididik oleh organisasi yang sama, coz mulai suasana pendidikan n barcode yang dipasang setipe banget.

Ada yang bilang Timothy Olyphant terlalu ganteng buat meranin Agent 47. Tapi gw gak keberatan kok liat orang ganteng. Bener deh!! Suerr!! 😀

Bagus kok. Tonton ajah…

*gambar gw pinjem dari sini