Monthly Archives: September 2012

Bikin Gondok Orang Impulsif itu Mudah

Saya (S) : Aaaaak! Pengen karawokeeeee…..
Teman (T) : Iya nih, gw juga. Yuk karaoke yuk..
S : (berbinar-binar) Yuk!
T : Kapan?
S : Nanti aja abis pulang kantor. Inul Vizta mau?
T : Hah? Hari ini?
S : Ya iya lah.. Katanya lu pengen juga?
T : Iya sih.. Tapi jangan hari ini.
S : Trus kapan dong?
T : Ya kapan gitu, tapi bukan hari ini.
S : Emang lu pengennya kapan?
T : Sekarang. Tapi jangan hari ini..
S : Aaaaaaaarrrrggghh!!


Tentang Pe-We

Bukaaaan… Pe-We di sini bukan Posisi Wuenak yang bikin kita mager dan males berpindah, akan tetapi Pendamping Wisuda. Yang kalo sepemahaman saya, sosok lawan jenis yang dihadirkan dan disuruh dandan bagus buat hadir pas acara wisuda kita.

Bermula dari cc-an twit dari teh yeny seperti yang saya capture di bawah ini.

Then, it got me thinking. Emang penting ya, Pendamping Wisuda? Buat apa? Ngapain?

Kebetulan saya memang baru menyelesaikan pendidikan jenjang S2 di ITB, dan bulan depan hendak mengikuti wisuda. Di antara keribetan yang saya persiapkan untuk acara wisuda, mulai dari persyaratan akademik, bakal pakai kostum apa, dandan gimana, sampai cari-cari penginapan buat keluarga yang akan datang ke Bandung, tidak terlintas dalam daftar saya tentang pendamping wisuda seperti yang diributkan orang-orang itu.

Bukankah cukup keluarga sebagai pendamping wisuda saya? Mereka yang selama ini paling support perjuangan saya, karenanya saya ingin mereka ada di hari saya diresmikan melewati tahapan yang cukup bikin saya jungkir balik dua tahun belakangan ini. Apa perlunya ada orang lain yang ikutan hadir di sini? Mo ngapain? Toh undangan buat masuk tempat wisuda juga cuma buat dua orang, dan tentunya saya persembahkan untuk kedua orang tua saya. Trus selama saya duduk manis kipasan ipit-ipit mengikuti upacara di ruang wisuda, itu orang mau disuruh ngapain? Setelah upacara pun saya mungkin akan foto-foto melepas rindu dengan teman-teman karena setelah ini entah kapan bisa ketemu lagi. Habis itu, ngumpul lagi ama keluarga. Njuk peran dan fungsinya Pe-We itu buat apa? Pajangan? Tukang poto? Malah kesian kan, jadi awkward merasa tak berguna?

Ya, saya memang sedang tak berpacar, sehingga ya memang nggak akan pake PeWe-PeWean, meskipun ada beberapa yang menawarkan diri. Tapi ketika wisuda S1 di Unibraw juga saya punya pacar, dan gak saya fungsikan sebagai PeWe tuh.. (hai kamu.. *dadah-dadah*). Seingat saya waktu itu si pacar bertugas mengantar jemput saya ke salon pagi buta, dan cuma sekali foto bareng pas di kampus di tengah keasyikan kita ngumpul sama teman masing-masing. Abis itu baru deh kita kencan setelah keluarga pulang dari Malang. But he wasn’t a part of the ceremony, even though he was a lovely part of my days back then. And I really thank him.

Wisuda kali ini.. saya pun tidak ingin menyiksa seorang anak manusia dengan menempatkannya dalam posisi awkward sementara saya tralala trilili ke sana kemari enjoying my graduation with my friends, whom i’ve struggled college with, and my family, my number one supporters. Jadi, ada yang punya rekomendasi tukang make-up yang bisa nata jilbab buat wisudaan yang ga jauh dari ITB? 😀


Little Manhattan

Baru kemarin saya berkesempatan menonton film yang diproduksi tahun 2005 ini. Ketika mengenali pemeran tokoh utamanya, lah itu kan si Peeta di Hunger Games? Di film ini masih cilik banget gitu dianya.

Film ini bercerita tentang si kecil Gabe (Josh Hutcherson), yang jatuh cinta pada teman karate yang semula juga teman TK-nya, Rosemary (Charlie Ray), di tengah proses perceraian kedua orang tuanya. Film ini berhasil membuat saya tersenyum, tertawa, menangis terharu, dan mostly tersipu-sipu mengingat betapa culunnya saya juga ketika seusia mereka. Jadi malu juga, karena pasti ketika itu orang tua ataupun orang di sekitar juga geli melihat ulah saya. Masih eSDe gituuuu ahihihihihi…..

*masukin Little Manhattan dalam daftar film favorit*


My First Manado Adventure #Day2 : Makan Makanan

Bertandang ke suatu daerah tak akan lengkap kalau tak menyempatkan diri mencicip hidangan khasnya. Atas saran neng @buds yang sudah terlebih dahulu berkunjung ke Manado, saya disarankan untuk makan di Angel Fish resto. Maka ketika diajak ibu-ibu cantik dari Pemprov untuk makan siang ke sana, saya begitu bersemangat. Penasaran, kayak apa sih? Rupanya ibu-ibu itu juga penasaran karena cerita bosnya neng @buds tentang resto yang berlokasi di boulevard kota Manado itu. Oh iya, jangan bayangkan boulevard di sini layaknya di kota-kota lain berupa jalan besar dengan taman di tengah dan pohon-pohon palem di sisi kanan kiri jalan. Di kota ini, boulevard itu sebutan untuk jalan Pierre Tendean, tempat mall-mall besar pinggir pantai pusat keramaian berada (cmiiw).

Oci (ikan) bakar di Angel Fish Resto

Saya sempat heran kenapa cuma ditanya ber-berapa dan mau minum apa, tanpa disodori menu makanan yang dapat dipilih. Ternyata mereka hanya menyajikan menu andalannya yaitu Oci (Ikan) Bakar, lengkap dengan sambal tomat hijau dan cah kangkung. Siang-siang, sudah lapar, sungguh nikmat sekali makan oci bakar dengan sambal yang asam pedas, cah kangkung enak, dan es jeruk murni yang segar. Tak perlu waktu lama untuk saya menghabiskan semuanya hohohoho…..

Malamnya, karena terlalu sayang melewatkan kesempatan berada di kota ini dengan makan dari room service, sayapun mulai berjalan beberapa blok mengitari hotel. Ketemulah dengan resto Raja Oci di Jalan Sudirman yang rupanya tak jauh dari tempat saya menginap.

perkedel nike

Siang tadi resto ini sebetulnya jadi pilihan pertama, akan tetapi karena begitu ramainya sehingga kami susah mendapat parkir, kamipun bablas mencari resto berikutnya. Masuklah saya, dan mulai mencermati menu. Hidangan utamanya tak jauh berbeda dengan di Angel Fish resto tadi, Oci bakar, tapi pilihan hidangan di sini jauh lebih beragam karena mereka juga menyediakan hidangan sea food lainnya. Mereka malah menyediakan paket hemat seharga dua puluh ribu rupiah. Belum termasuk minuman. Di sini juga saya mencicip Perkedel Nike. Ada mungkin sekitar sebatalyon pasukan ikan kecil sejenis teri nasi yang digoreng dalam sepotong makanan gurih ini. Sekilas mengingatkan saya pada makanan serupa di kampung halaman yang biasa disebut “blenyik”. Tapi ukuran perkedel nike ini jauh lebih besar dengan warna coklat kehitaman, sedangkan blenyik berukuran lebih kecil dengan warna kuning keemasan.

Sayang sekali niat saya untuk sarapan bubur tinutuan terkalahkan oleh rasa kantuk dan pelukan selimut yang begitu possesif. Untunglah sebelum berangkat ke bandara masih sempat mencicip Nasi Kuning khas Manado dengan abon cakalang dan daging sapi. Enak dengan rasa yang lebih ringan dari nasi kuning yang biasa saya temui di daerah lain. Menyesal tidak sempat membungkus untuk oleh-oleh karena justru bungkusnyalah yang membuat nasi kuning Manado unik. Jika nasi kuning di daerah lain tidak dibungkus dengan kemasan spesifik, nasi kuning Manado ini dibungkus dengan daun woka, sejenis janur kelapa dengan permukaan lebar. Mana gak sempat foto lagi.. Semoga kapan-kapan berkesempatan berkunjung lagi biar lebih melengkapi agenda cicip-cicip kuliner Manado.


My First Manado Adventure #Day2 : Nyarter Angkot

Bangun kesiangan untuk subuhan menyadarkan saya akan perbedaan waktu antara Manado dengan Jakarta. Saatnya bekerja!

Hari sudah sore ketika saya selesai menjalankan tugas negara. Kalau berangkatnya tadi naxi, kali ini saya ingin berpetualang dengan cara orang Manado. Naik angkot! Sebenarnya saya lebih suka berjalan, tapi pengetahuan saya yang sangat minim tentang kota Manado tanpa peta, diperparah dengan buta arah mata angin, sepertinya saya harus menggunakan cara lain.

Setelah bertanya mengenai rute angkot yang harus saya tempuh, saya pun mulai mengidentifikasi plang jurusan yang tertempel di atas oto (sebutan orang Manado untuk mobil) berwarna biru muda. Saya juga bertanya pada sopir angkot di mana saya harus berhenti untuk ganti angkot jurusan lain ke arah tujuan saya. Ketika turun untuk ganti angkot, sayapun mulai bingung karena arah yang ditunjuk si sopir angkot pertama dengan papan plang ijo petunjuk arah berlawanan. Lebih percaya pada tulisan ketimbang orang, sayapun menyeberang untuk naik angkot yang menuju arah sesuai papan plang ijo. Oh iya, angkot di Manado ini kursinya menghadap depan seperti mobil pribadi. Kebanyakan angkot juga memutar musik dengan volume maksimal sesuai selera sopirnya. Kalau malam, angkot-angkot ini nampak makin semarak dengan lampu kedap-kedip warna-warni. Centil deh.. Cuma angkot Padang yang sejauh ini saya temui mengalahkan centilnya angkot sini.

angkot manado*

Sampai mana tadi? Oh iya ganti angkot. Saya diberitahu untuk naik angkot menuju pusat kota, jurusan Teling. Tapi jalannya kok makin naik dan makin sepi ya? Satu persatu penumpang turun, hingga tinggal saya sendiri. Di satu titik, sopir angkotpun bertanya saya hendak turun di mana. Saya bilang hendak ke pusat kota, tujuan saya ke Jl.Dr.Soetomo, tempat penginapan saya berada. Baru ketahuanlah kalau saya nyasar hahahahaha…. Harusnya tadi saya mengikuti arah yang ditunjukkan sopir angkot pertama, dan bukan menyeberang mengikuti papan plang ijo penunjuk arah. Mungkin tampang saya sudah begitu memelas dan tak tahu arahnya (bahkan posisi hotel di daerah apa dan dekat apapun saya tidak tahu, selain alamat yang tercantum) sopir angkot kedua inipun menawarkan untuk mengantar saya sampai tujuan. Saya setuju. Plang jurusan dicopotnya. Jadilah saya mencarter angkot itu sendirian hahahaha… Biasanya nyarter angkot buat berombongan. Berasa naxi tapi pake gkot.

Sopir angkot kedua ini juga rupanya tidak tahu pasti posisi hotel saya, ataupun alamat itu di mana. Satu-dua kali dia berhenti untuk bertanya pada temannya sebelum mengarah pasti. Karena sudah dicarter, maka ditawarkannya juga untuk mengantar ke beberapa lokasi yang saya tanyakan. Tapi saya sendiri sudah begitu capeknya sehingga pengen cepet sampai di penginapan saja. Setelah beberapa belokan jalan yang saya kenali pernah saya lewati ketika makan siang dengan ibu-ibu dari Pemprov tadi, sampailah juga saya di penginapan. Terima kasih pak sopir angkot yang baik hatiiiii…

*gambar dipinjam semena-mena dari sini


My First Manado Adventure #Day1 : Tiba

Masih ada waktu dua jam untuk dibunuh di bandara Sam Ratulangi, Manado, sebelum burung besi raksasa menerbangkan saya kembali ke Jakarta.

Perjalanan ini adalah petualangan pertama saya di ibukota propinsi Sulawesi Utara. Sempat cemas juga mengingat sudah lama sejak saya terakhir bepergian dalam rangka tugas negara, ke kota yang belum pernah saya sambangi, ga punya teman apalagi saudara untuk dihubungi di sana, sendirian pula. Tiket sih sudah diurus, tapi penginapan dan bagaimana di sananya nanti masih harus saya urus sendiri. Baiklah.. Challenge accepted!

With a little help from a dearly friend, saya booking penginapan sejak dari Jakarta. Saya akan tiba di Manado dengan pesawat terakhir, terlalu malam dan riskan untuk saya go show cari hotel sesampai di sana. Sebelumnya saya sempat diberitahu teman bahwa penerbangan ke Manado biasanya pake transit dulu di Makassar, namun untunglah penerbangan saya direct flight sehingga lebih menghemat waktu, dan tidak lebih malam lagi saya tiba di sana. Apalagi dengan selisih waktu yang satu jam lebih awal dari Jakarta.

Sesuai informasi dari hotel, saya diarahkan untuk naik taxi resmi bandara: Kokapura. Tinggal menyebutkan tujuan, duduk manis (sambil masih deg-degan dan berdoa semoga gak disasarkan), sampailah saya di Griya Sintesa Hotel, tempat saya menginap. A simple, clean, nice, affordable and friendly one.

Sayapun ambruk ke kasur. Tidur.

PS. Ongkos taxi Kokapura dari bandara ke hotel ditentukan Rp.85k. Jauh lebih mahal dari ketika saya naik Blue Bird menuju bandara yang udah pake mampir-mampir pun masih “cuma” Rp.50k.