Monthly Archives: Januari 2014

Suatu Ketika Seharian Demam Korea

Demam ko-Korea-an yang melanda hampir seluruh penjuru negeri (atau bahkan dunia) membuat saya jengah. Apaan sih pada segitunya? Jadilah selama ini saya enggan untuk turut serta nonton berbagai drama atau apapun bentuknya dari negara Ginseng itu. Saya bahkan nggak ngerti di mana gantengnya artis-artis cowo sana yang dielu-elukan oleh sebagian teman-teman perempuan saya. Menurut saya wajah mereka sama semua. Susah bedain satu dengan lainnya. Begitu juga ketika saya ditawari pinjaman eksternal hard disk teman pengoleksi segala bentuk drama Korea. Berbekal iseng dan penasaran apa yang menyebabkan temen-temen saya itu sampai demam sedemikian rupa, sayapun memilih salah satu folder dengan judul yang sering mereka bicarakan.

Judulnya Lie to Me. Sama seperti judul serial hollywood yang pernah saya ikuti. Tapi Lie To Me yang serial drama Korea ini bukan cerita kriminal, melainkan drama percintaan ala cinderella seperti pada umumnya. Biasalah.. cewe (cantik tentunya) dari keluarga biasa yang clumsy dan ceria, bertemu cowo strict ganteng kaya raya dan konflik-konflik yang timbul atas berbagai perbedaan antara keduanya. Quite sinetron-y.

Herannya, saya cukup betah mantengin dari pagi hingga pagi keesokan hari kemudian, dengan disela kegiatan-kegiatan dasar seperti mandi, sholat dan tidur (ketiduran ding tepatnya). Makan dan minum saya lakukan sambil menonton. Mungkin karena adanya kesamaan pekerjaan dengan tokoh utama wanita, Gong Ah-jung (diperankan oleh Yoon Eun-hye), yang juga PNS Kementerian, sehingga jenis-jenis pekerjaan yang dilakukannya bikin saya ber-“oooh PNS Kementerian di Korea juga kayak gitu toh kerjaannya”. Meski di sisi lain saya juga heran kok bisa-bisanya dia ngantor pake kaos, celana pendek, bahkan sepatu sandal casual ketika berhadapan dengan Menteri. Udah gitu gampang banget dia minta pindah ke Jeju Island setelah dikembalikan bertugas. Kalau di sini mah pasti udah dipelototin orang Kepegawaian dibilang riwil kagak tau diri.

Trus tokoh utama cowo, Hyun Ki-jun (diperankan oleh Kang Ji-hwan), meski posisinya Presiden suatu perusahaan besar yang mempengaruhi perekonomian Korea, gampang aja gitu kabur ke sana kemari buat ngikutin cewenya. Itu bukan apa-apa sih sebenernya, ya namanya juga bos besar, mungkin bebas buat dia mo ngapain juga. Tapi saya sungguh kagum betapa cowo yang digambarkan se-manly itu bisa mengenakan bros bunga warna-warni bersama dengan setelan suit yang merupakan kostum kerja hariannya. Seakan tak cukup dengan bros bunga centil, pas ke Jeju Island juga dia pake tas ransel cantik loh.. Cantik beneran, saya aja mau tas itu.

lie to me

Di sisi lain, saya terkagum dengan betapa smooth serial ini digunakan untuk promosi wisata dan budaya Korea. Mulai dari sejarah, food street, kebiasaan sosial masyarakat, dan tentunya keindahan spot-spot wisata diselipkan dalam cerita sehingga penonton dapat mengenal dan turut belajar dengan suka cita. Andai saja Kementerian Pariwisata di Indonesia juga dapat melakukan hal serupa. Dibandingkan baliho atau video yang menayangkan pejabat entahlah yang bikin liat aja ogah, promosi pariwisata melalui film dan serial seperti ini jauh lebih menyentuh hati dan menumbuhkan keinginan untuk mengunjungi dan mengalami.

Ada yang punya rekomendasi serial Korea lain yang menarik untuk diikuti?

Iklan

Tentang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Ketika pertama kali melihat trailer film ini, saya sudah pesimis (baca: nyinyir) dan sama sekali tidak berminat untuk menonton. Gambar-gambar dalam trailer yang disajikan banyak mengingatkan saya pada film the Great Gatsby, Titanic dan Life of Pi. Salah seorang kawan menangkis “kamu sudah nonton filmnya belum?”. Ya belum, dan memang nggak minat. Sampai pada suatu sore saya memasuki lobby bioskop, bermaksud menonton the Secret Life of Walter Mitty, namun ternyata saya masih harus menunggu dua jam lagi untuk film itu. Yang berarti juga saya akan pulang lebih malam karenanya. Di antara deretan di jadwal putar, film lain yang saya minati sudah saya tonton. Tinggal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang sepertinya masih masuk akal buat ditonton baik dari jenis film maupun jam tayangnya. Mayan lah daripada lu manyun..

Sayapun memasuki studio dengan ekspektasi rendah, efek dari trailer film yang menyinyirkan saya itu. Beberapa review yang saya baca telah mengingatkan tentang nuansa sephia dan nuansa biru yang utk beberapa orang dirasa mengganggu, so i kinda have prepared my eyes to it. Meski demikian tetap saja ada satu adegan yang membuat saya harus menutup mata dengan tangan karena silau saking mendadaknya perubahan tone cahaya.

Satu hal yang saya sesalkan ketika saya keluar dari studio: betapa saya merasa gagal menjadi penonton yang baik dan beradab karena cekikikan bahkan tergelak tertawa pada adegan-adegan yang seharusnya mengharukan ataupun menyedihkan. Untuk ini saya banyak dipengaruhi pemilihan Pevita Pearce sebagai pemeran Hayati yang secantik hot apapun kok rasanya kemampuan aktingnya masih njeglek dibanding Herjunot apalagi Reza Rahardian (boleh gak ngusulin dia masuk nominasi Best Supporting Actor di penghargaan film apapun berikutnya? He’s doing a great job here, seperti di film-filmnya yang lain). Selain saya, ada nggak sih yang lebih fokus ke ujung plester luka buatan di kening Hayati yang terkelupas, daripada dialog sedih yang dia ucapkan? Sebenernya ada satu lagi yang janggal terkait plester luka ini tapi nanti diteriakin spoiller sama yang belum pada nonton. Meski dari judulnya pun film ini sudah mengumbar spoiller sendiri.

Selain itu saya juga sempat twitkan keheranan saya tentang suhu dan kenyamanan udara:

Setahu saya, dan seperti yang disajikan dalam film tersebut, baik Batipuh maupun Padangpanjang tempat Hayati berasal dan Zainuddin sempat tinggal, sama-sama daerah yang bersuhu sejuk dingin. Sedangkan Surabaya, siapapun tahu betapa panas-nya kota di deretan pantai utara jawa itu. Namun terdapat adegan dimana keduanya bercakap dalam sebuah ruangan yang menyalakan perapian, lengkap dengan bunyi kretek-kretek khas kayu terbakar. Baru tau ada rumah di Surabaya yang memfungsikan perapian saja sudah cukup membuat saya terheran (kalo cuma buat pajangan sih beda cerita), apalagi melihat latar belakang dua tokoh yang seharusnya justru kegerahan di Surabaya sedemikian rupa. Makassar-pun tak kalah panas dari Surabaya bukan?

tkvdw

Overall, terlepas dari semua itu, film ini sama sekali tidak bisa dibilang jelek. Gambar-gambar artistik dan musik latar dari Nidji sangat memanjakan mata dan telinga. Mungkin akan lebih sempurna kalau pemeran wanitanya diganti. Acha Septriasa atau Raihanuun mungkin?


Everything Has Changed

Lagi suka lagu ini. Sederhana, manis, dan bikin senyum-senyum.