Monthly Archives: April 2013

Tentang Cloud Atlas

Sudah nonton Cloud Atlas? Saat saya menulis postingan inipun sepertinya sudah turun tayang dari bioskop-bioskop di Jakarta. Kalau belum, maka anda termasuk golongan movie goer yang merugi hohohoho…. Saya menontonnya dua kali dan terkesima.

Beberapa teman saya yang telah menonton film inipun terpecah menjadi dua golongan yang  berseberangan. Golongan pertama adalah mereka yang bengong tersihir, dan golongan kedua mengaku bingung pusing nggak ngerti dibuatnya. It’s either you love it, or hate it. Saya, masuk dalam golongan pertama. Makanya saya sampai berangkat nonton kedua kali agar lebih dapat mencermati detilnya.

Basically film ini terdiri atas enam cerita dari masa, tempat dan genre yang berbeda-beda. Dua puluh menit awal saya sempat bingung mencoba mencerna hubungan antar cerita. Namun kemudian saya menyerah pasrah larut dalam sihir cerita. Justru dengan demikian saya bisa menikmati dan masih duduk tertegun beberapa menit setelah film berakhir, saking amazed-nya.

Didukung oleh aktor-aktris top seperti Tom Hanks, Halle Berry, Hugh Grant, Hugo Weaving, dan sederet lainnya, tidak membuat film ini menjadi perang bintang yang menyesakkan. Keberadaan pemeran sekelas mereka memang diperlukan di sini karena setiap aktor/aktris dapat memerankan lebih dari satu karakter. Peran yang dibawakan pun bisa jadi lintas gender, bahkan lintas ras. Lebih jelasnya (dan dapat mengandung spoiller) seperti dalam gambar berikut. Lanjutkan membaca

Iklan

Paspor Pertama Saya. Yaaayy!!

Setelah sekian puluh tahun jadi Warga Negara Indonesia, baru hari ini saya punya passport. Rupanya saya terlalu mencintai negeri ini sehingga enggan untuk meninggalkannya meski sekadar menyeberang ke tetangga, atau mengejar cinta saya ke Italia. Namun cita-cita saya untuk keliling dunia tentu tak akan dapat terwujud jika saya tidak juga mengambil langkah pertama. Untuk itu saya pun memulai. Ya dengan mengurus surat pengantar saya menclok antar negara ini.

Sebelumnya saya sempat mencari gambaran seperti apa sih pengurusan paspor itu. Berbekal pengalaman Rere yang dibagi di blognya, sayapun menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan:

  1. Copy KTP (dalam lembar A4)
  2. Copy Kartu Keluarga
  3. Copy Ijazah terbaru/Akta kelahiran
  4. Surat keterangan dari tempat bekerja

Semuanya dalam satu bendel, dan tak lupa saya bawa serta dokumen aslinya.

Konon Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan dikenal selalu ramai dan antriannya panjang, maka berangkatlah saya setelah sholat subuh ke lokasi. Sengaja saya naik taxi agar lebih cepat. Belum juga jam 6 pagi saya tiba, antrian sudah mencapai dasar tangga. Padahal loket pelayanan ada di lantai 2. Dan antrian itu bahkan belum antrian menuju loket pelayanan, melainkan antrian untuk mengambil nomor antrian di mesin otomatis yang baru akan dinyalakan pada pukul 7 pagi. Jadi ya silakan sapa antrian sekitar dulu, ngobrol-ngobrol, twitteran, main game, atau apalah yang bisa membantu anda menghabiskan waktu dengan sabar. Menjelang pukul 7 petugas Imigrasi berdatangan, dan antrianpun mulai bergerak.

suasana dalam penantian

suasana dalam penantian

Hari pertama untuk penyerahan berkas itu saya mendapat nomor antrian 72. Selain mendapatkan nomor antrian (dengan dibantu petugas yang menertibkan), saya juga diberikan map dan formulir pengajuan paspor yang harus diisi dengan huruf cetak dan tinta hitam. Jangan khawatir, yang ini gratis kok. Tidak dipungut sepeserpun. Setelah itu, saya tinggal mencari spot yang nyaman untuk duduk di lantai (karena kursi tunggu yang buanyak itu juga sudah penuh manusia semua), membuka bekal (penting inih! biar nggak makin bete semasa menunggu), dan lagi-lagi berusaha menikmati waktu sembari menunggu nomor saya dipanggil.

Ketika tiba giliran nomor antrian saya dipanggil, saya tinggal menuju loket yang disebutkan, kemudian menyerahkan map berisi bendel berkas itu. Saya juga diminta menunjukkan dokumen asli untuk dicocokkan dengan copy yang ada dalam berkas. Setelah itu, saya diberi slip tanda pembayaran untuk membayar biaya sebesar Rp.255.000,- keesokan harinya. Kenapa harus besok? Karena nomor antrian pembayaran untuk hari itu sudah habis memenuhi kuota harian. Sayapun meninggalkan kantor imigrasi untuk kembali ke kantor saya sendiri. Mayan masih ada setengah hari.

antrian untuk mengambil nomor antri

antrian untuk mengambil nomor antri

Besoknya, lagi-lagi setelah subuh saya berangkat menaxi. Sebelumnya memastikan diri untuk tidak mengenakan baju / jilbab warna putih, agar terlihat ketika pemotretan. Nggak lucu dong kalau foto paspor jadi seperti kepala melayang hanya karena warna baju / jilbab saingan dengan putihnya background foto hiiiyy… Sesampai di Kantor Imigrasi pukul setengah enam pagi, lagi-lagi antrian sudah mengular hingga tangga. Mayan lah.. setidaknya bukan di dasarnya seperti kemarin. Setelah barisan dirapikan malah saya masih dapat posisi di lantai 2. Meski demikian, nomor antrian untuk pembayaran yang saya dapatkan justru lebih besar dari sebelumnya. Kali ini saya dapat nomor 177. Baiklah..  malah sempat saya tinggal sarapan dulu ke sevel yang tak jauh dari situ.

Ketika nomor dipanggil, saya menuju loket pembayaran, dan menyerahkan biaya seperti yang telah ditentukan, kemudian mendapatkan tanda terima pembayaran dan nomor antrian saya kembali untuk digunakan mengantri foto. Jarak antara pembayaran dan antrian pemotretan ini tak lama, jadi sebaiknya anda langsung menuju ruang antri di depan ruang foto saja.

Untuk pemotretan dipanggil sekaligus beberapa orang, karena terdapat beberapa kubikel yang melayani. Setelah difoto dan diambil rekam sidik jari, kita tinggal menunggu untuk wawancara dan tanda tangan paspor. Nggak perlu gugup untuk proses wawancara ini. Nggak akan ditanya “Bagaimana Indonesia perlu bersikap sebagai negara non blok atas ancaman nuklir korea utara” atau “Mungkinkah gosip Eyang Subur hanya alat agar Arya Wiguna terkenal, masuk tipi dan jadi meme internet”. Nggak juga ditanya “Siapa gerangan yang akan jadi presiden Indonesia di Pemilu 2014”. Paling cuma ditanya alasan pembuatan paspor, hendak digunakan untuk pergi ke negara mana, dan pertanyaan-pertanyaan seputar isian formulir dokumen kita sebelumnya. Setelah itu, silakan pulang dengan tralalalalala… dan baru kembali tiga hari kerja setelahnya untuk pengambilan paspor.

Akan tetapi, rupanya saya tidak sedang di Jakarta pada hari paspor saya jadi. Baru seminggu setelah pemotretan itu saya bisa menyempatkan untuk datang lagi ke Kantor Imigrasi. Kali ini tak perlu mengantri sejak subuh buta seperti sebelumnya. Saya tinggal meletakkan tanda pembayaran di loket pengambilan paspor, kemudian menunggu nama saya dipanggil. Ketika sudah dipanggilpun tinggal tanda tangan sebagai bukti penerimaan, lalu kita diminta menyerahkan copy paspor ke loket itu lagi. Tenang, bisa foto copy di koperasi yang ada di pojok lantai yang sama. Voila! Paspor barupun jadi milik saya.

pasporkuh

pasporkuh

PS. Informasi lebih lengkap tentang pengurusan paspor silakan tengok di web resmi ditjen imigrasi yaaa


Impulsively Bukittinggi

Ketika mendapatkan penugasan ke Padang, saya cuma mengagendakan tiga hal: kopdar sama Desti @takodok, melaksanakan tugas, kemudian balik Jakarta. Akan tetapi tawaran panitia yang kebetulan sahabat-sahabat saya sendiri untuk impulsively mengunjungi kota Bukittinggi sembari memanfaatkan waktu luang sebelum jadwal pesawat kembali ke Jakarta, tentu terlalu sayang untuk dielakkan. Apalagi saya memang belum pernah ke sana.

Jarak kota Padang ke Bukittinggi kurang lebih 91 km, konon biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Namun karena kemarin perjalanan kami diwarnai dengan langkanya pasokan solar yang menyebabkan antrian panjang kendaraan setiap menjelang SPBU, jadilah jarak tersebut harus kami tempuh dalam waktu yang lebih lama. Kami berangkat dari Padang sekitar jam tujuh malam, dan baru sampai di Bukittinggi pada pukul dua belas malam. Perjuangan berat bagi sang driver, waktu tidur ekstra bagi para penumpang.

istana bung hatta

Istana Bung Hatta

Untunglah kami telah memesan tempat penginapan terlebih dahulu, sehingga tidak harus repot mencari hotel dalam kondisi teler setengah nyawa. Atas rekomendasi salah seorang pejabat dinas setempat, kami berkesempatan menginap di Istana Bung Hatta. Ya, gedung Tri Arga, sebutan lain Istana Bung Hatta adalah bangunan istana sungguhan yang merupakan tempat peristirahatan Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia tercinta, setiap kali beliau berada di Bukittinggi. Sampai merinding excited rasanya mendapati rakyat jelata macam saya bisa tidur di istana hahahahaha… Rupanya Istana tersebut memang dapat digunakan sebagai penginapan tamu negara, pejabat negara, atau pegawai negeri yang mendapatkan rekomendasi dari pejabat setempat.

Istana Bung Hatta ini terletak di pusat kota Bukittinggi, tepat di depan taman kota tempat Jam Gadang berada. Jadi paginya, saya dan teman-teman tinggal menyeberang jalan untuk dapat menikmati anggun gagahnya Jam Gadang yang legendaris ituh. Dan tentunya tak lupa foto-foto di sana.

jam gadang

Bukti pernah sampai di Jam Gadang

Berbekal petunjuk dari bapak tukang foto keliling yang memotret kami sebelumnya, kami menuju Ngarai Sianok. Kata si bapak sih jaraknya tak sampai satu kilometer, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagipula pedestrian di sana cukup menyenangkan, dengan pemandangan kota yang bersih asri, dan hawa yang sejuk nyaman. Jauh lah dari yang kami hadapi di Jakarta sehari-hari.. #curhat.

Dalam perjalanan, kami juga melewati Monumen Bung Hatta, sebelum menemukan Taman Panorama Bukittinggi tempat kami dapat menikmati pemandangan Ngarai Sianok, dan Lubang Jepang. Sayang sekali waktu yang sangat sempit tak memungkinkan untuk kami masuk dan menjelajahi Lubang Jepang. Jadi kami hanya berfoto sejenak, kemudian memuaskan perut yang kelaparan dengan seporsi besar nasi kapau di Pasar Atas.

Ngarai Sianok dan kuliner lezat penggoda iman

Ngarai Sianok dan kuliner lezat penggoda iman

Untuk itu kami kembali ke taman Jam Gadang lagi, lalu berjalan memasuki pasar. Menembus lorong-lorong pedagang dengan jualan beraneka ragam mulai baju, jilbab, makanan ringan, hingga pakaian dalam. Baru kemudian kami menemukan bangunan terbuka yang berisi lapak-lapak nasi kapau. Ada puluhan pedagang dengan sajian serupa yang digelar dengan meja berundak, sehingga memudahkan bagi ibu penjual untuk menjangkau setiap hidangan. Mulai dari rendang, ayam, usus, tunjang, dendeng, pokoknya segala hidangan lezat khas minang yang selalu membuat saya bertanya-tanya: apa gerangan resep rahasia orang minang agar selalu sehat sentausa sepanjang masa dengan berbagai sajian penggoda iman yang bikin teriak-teriak polisi kesehatan setiap keluarga?

Perjalanan pulang dari Bukittinggi ke Bandara Minangkabau, kami menyempatkan untuk mampir di warung Sate Padang Mak Syukur di Padang Panjang. Jika sebelumnya kami hanya dapat menikmati sate padang ini melalui gerai-gerai di berbagai mall di Jakarta, kali ini kami mencicipi rasa orisinilnya langsung. Nikmat tiada terkira.

Belum puas sebenarnya berkeliling, karena belum pula sempat saya mencicip gulai itiak lado mudo yang tersohor itu. Belum juga melihat “great wall” dan benteng Fort De Kock, apalagi kecipak-kecipuk main air di Air Terjun Lembah Anai (yang cuma kami lewati sambil menengadah takjub), dan Danau Maninjau. Anggap saja itu alasan untuk saya datang berkunjung lagi ke kota cantik Bukittinggi. Lain kali.


Corat Coret Corat

Saya tidak pernah pandai menggambar. Nilai pelajaran kesenian saya tidak pernah lebih dari 6. Itupun saya yakin lebih sebagai nilai kasihan, atau penghargaan guru terhadap usaha yang telah saya lakukan. Pagi tadi, melihat pemandangan dari balik jendela kamar hotel Mercure Padang, tempat saya menginap, tiba-tiba saya tergerak untuk menggambar. Dan inilah hasilnya..

image

Sepertinya lagi-lagi dapat 6 hahahahaha…..


Hari Ini Pasti Menang: Mengintip Liku Drama Sepakbola

Tadi malam untuk kedua kalinya saya menonton film Hari Ini Pasti Menang. Nonton pertama bareng teman-teman Kopdar Jakarta bersama sang penulis skenario, mbak Swastika Nohara. Setelah itu saya merasa perlu mendengar komentar salah seorang sahabat yang saya percaya lebih memahami persepakbolaan Indonesia, maka saya ajak dia ke bioskop serta.

Lagipula saya ingin menikmati lagi sensasi merinding bangga terhadap persepakbolaan “Indonesia” seperti yang disajikan di opening film ini bersama iringan megah Lagu “Indonesiaku” yang dibawakan Ananda Sukarlan feat Judika. “Indonesia”? Iya, karena sejarah sepakbola yang ditayangkan dalam bentuk kliping berita-berita di sini bukanlah hal yang sebenarnya terjadi pada persepakbolaan Indonesia yang sesungguhnya. Secinta-cintanya saya sama Indonesia, tentulah saya nggak akan percaya kalau ada yang memberitakan bahwa Indonesia masuk Piala Dunia, dan memenangkan final melawan Brazil, dengan striker kita sebagai top skorer Piala Dunia. Setidaknya dalam waktu dekat ini. Ya, saya memang ikut tersenyum lebar bahagia sambil menahan sesak di dada, seperti dihadapkan pada mimpi indah yang saya tau tak nyata.

Hari Ini Pasti Menang

Gabriel Omar Baskoro, tokoh utama dalam film ini, digambarkan sebagai pesepakbola muda yang sedang bersinar, ganteng, seksi, dan arogan macam Christiano Ronaldo. Bahkan Gabriel (yang pertama mendengar namanya mengingatkan saya pada Batistuta) juga memiliki panggilan lapangan GO8, macam CR9. Seiring dengan semakin berkibarnya popularitas, semakin besar pula cobaan dan godaan yang mengitari GO8. Bukan hanya provokasi dari pemain-pemain lawan di lapangan, GO8 juga ditengarai terlibat pengaturan skor pertandingan. Hal ini membuat Andien, seorang wartawati yang juga teman masa kecil GO8, tertarik untuk menginvestigasi lebih lanjut. Keingintahuan Andien ini rupanya menyebabkan ada pihak yang merasa tidak nyaman sehingga meneror Andien untuk menghentikan investigasinya.

Drama yang disajikan di film ini bukan hanya seputar apa yang terjadi di lapangan sepak bola, namun juga apa yang terjadi di baliknya. Hubungan ayah-anak disajikan begitu manis, membawa penonton turut merasakan nasionalisme serta kebanggaan dan harapan pak Edi Baskoro (yang diperankan aktor kawakan Mathias Muchus) terhadap anaknya, sang bintang lapangan. Akting Ray Sahetapy sebagai coach Bram membuat saya merasa melihat Jose Mourinho dalam versi Indonesia. Demikian pula Bepe yang kharismatik bisa diperankan dengan lebih ganteng oleh Ibnu Jamil.

Over all, saya sangat menikmati menonton film ini apalagi jadi bisa ikut ngintip changing room pemain Jak Metro yang pada lepas-lepas kaos. Detil-detil yang disajikan begitu menggelitik. Mulai dari poster narsis sutradara di barisan suporter, portal di bunderan HI, uang bergambar Gus Dur, sampai gosip Syahrini (sumpah! ini usil banget penulisnya hahahaha…). Belum lagi sentilan-sentilan yang disajikan dalam dialog para tokohnya. Kita juga diajak melihat lagi dan berusaha memahami apa yang kiranya terjadi di beberapa kejadian fenomenal di dunia sepakbola seperti tandukan Zidane, gol tangan tuhan Maradona, hingga dicabutnya gelar Juventus akibat tersandung calciopoli.

nobar Hari Ini Pasti Menang bersama Kopdar Jakarta  (photo courtesy of @icit)

Kopdar Jakarta nobar Hari Ini Pasti Menang bersama sang penulis skenario
(photo courtesy of @icit)

It’s a must see! Buruan tonton di bioskop ya.. Jangan telat buat lihat opening kerennya, dan pastikan anda tidak beranjak dari kursi bioskop hingga credit title berakhir. Ada extra scene yang penting!

 


Matur Nuwun Gusti, Saya Orang Indonesia

Wiken kemaren saya bertugas mendampingi para delegasi dari Palestina buat kunjungan lapangan ke Bandung. Selain kunjungan terkait kerjaan kantor, mereka juga diajak jalan-jalan ke Saung Angklung Udjo, Museum Konferensi Asia Afrika, dan Taman Safari Cisarua.

foto saung angklung udjo

Di Saung Angklung Udjo selain berbelanja souvenir tradisional, kami juga menonton pertunjukan kebudayaan khas Jawa Barat. Selain itu kami berkesempatan menonton konser angklung yang bukan hanya memainkan lagu-lagu tradisional, namun juga lagu-lagu pop dunia, mulai dari lagu The Beatles sampai Bohemian Rhapsody! Pertunjukan ini bahkan melibatkan seluruh audiens-nya untuk turut bernyanyi, menari, dan main angklung bersama. Setelah selesai pertunjukan, salah satu delegasi dari Palestina menghampiri saya dan berkata dengan mata berbinar-binar “that was the happiest time in my life”. Dia kemudian bercerita kalau kehidupan mereka di sana begitu akrabnya dengan kesedihan sehingga sangat langka untuk mereka tersenyum dan tertawa. Jadi kesempatan merasakan bahagia seperti dalam pertunjukan itu tadi sangat berkesan untuk mereka.

Sepanjang perjalanan berangkat ke Bandung di hari sebelumnya memang sudah terlihat kalau mereka terheran dan kagum tiap melihat rumput, pohon, sawah, dan segala tanaman hijau-hijauan karena sangat langkanya pemandangan itu di negara mereka. Tapi ketika dalam perjalanan ke Puncak, mendekati Puncak Pass, ada saat bus memasuki area berkabut tebal. Beberapa dari mereka dengan excited-ly berkata “we’re getting in the clouds!”, dan bapak-bapak di depanku bilang “this is one of the most amazing moment in my life”. Semua-mua aja di-the most…in my life-in :))))
foto asia afrika dan puncak
“Sekarang saya tahu, mengapa kalian, orang Indonesia sangat ramah dan penuh senyum. Alam kalian begitu indah” ujar seorang lainnya dalam bahasa inggris yang saya lupa gimana tepatnya.
Senang melihat mereka senang. Di sisi lain, jadi makin bersyukur terlahir di Indonesia. Hal-hal yang selama ini mungkin sesuatu yang biasa dan sehari-hari bagi kita, ternyata merupakan kemewahan buat mereka.
*foto-foto courtesy of Heroe, fotografer kantor

Gatel GI-Joe: Retaliation [Spoiller Alert]

Sudah nonton film GI-Joe Retaliation? Saya baru kemarin dan kemudian gatel pengen cerita. Kalau belum, dan tidak menghendaki spoiller sedikitpun, sebaiknya lewatkan saja postingan ini hingga anda selesai menonton.

Lanjutkan membaca