Monthly Archives: November 2008

Postingan Pesta Blogger Yang Sangat Telat, Mohon Maap..

Setelah terendap beberapa hari, akhirnya terposting juga. Pergulatan antara malas dan sungkan karena timing yang telah lama terlewat, namun rupanya dimenangkan oleh selintas pikiran: sayang sekali bila momen semenyenangkan ini terlewatkan begitu saja, tanpa diabadikan dalam blog. Well, here it is..

Pesta itupun usai sudah. Meninggalkan sebuah ruang hampa di dada ketika kembali pulang ke kost. Sepi. Sendiri. Ternyata gw dengan mudahnya merasa terbiasa akan kehadiran teman-teman di sekitar. Riuh tawa, saling cerca, dan tentunya berbagai sesi foto yang tak akan terlewat begitu saja.

Dimulai dari Jumat malam, kopdar bersama teman-teman Loenpia di Plaza Semanggi, yang dilanjutkan dengan beramai-ramai nglurug Muktamar BHI. Meskipun sudah memasuki tahun ketiga gw tinggal di Jakarta, baru kali ini gw berkesempatan bergabung di pelataran Plaza Indonesia yang dipenuhi para muktamirin. Belum rela rasanya pulang pada jam cinderella kalo tidak mengingat masih ada pekerjaan menanti keesokan paginya.

kopdar-with-loenpia1 akhirnya-mabrur-juga2 muktamar-bhi1 my-first-mukatamar-bhi1

Sabtu, setelah urusan pekerjaan kelar, bergegas gw ke Gedung BPPT. Waktu itu menjelang jam tiga sore. Lobby sudah sepi, sempet deg-degan takut temen-temen uda banyak yang bubar. Ternyata lantai tiga, tempat auditorium berada masih ramai. Fiuuuhh… Mulai deh beraksi. Ketemuan ama temen-temen, ngobrol-ngobril, cekakak-cekikik, foto-foto, yang belum juga terpuaskan hingga event berakhir.

on-stage

Ramenyaaaaaaa….!!!

Acara belum selesai di situ rupanya. Seusai PB, para blogger rupanya masih ingin melanjutkan sesi kumpul-kumpul di Wetiga. Rame banget. Ada dari Jogja, Semarang, Palembang, Bandung, Jakarta, dan tentunya masih banyak lagi, yang somehow justru berasa lebih akrab. Uda kayak keluarga sendiri. Mungkin karena mereka yang menongolkan diri disana memang banyak yang sudah saling mengenal akrab sebelumnya, baik online maupun offline. Tidak seperti ketika masih di BPPT dimana lebih dari seribu blogger tumplek blek sehingga agak susah menemukan wajah-wajah familiar.

sushi-tei-time

Seharian ngumpul di hari sebelumnya, rupanya masih belum cukup. Setelah melalui pengumuman sederhana di Plurk, Minggu siang, koloni berpindah ke Food Court PIM2 yang berlanjut ke Sushi Tei dan baru berakhir di J.Co (kenapa tempat makan semua yak??), ketika teman-teman dari Jogja sudah harus mengantisipasi kemacetan perjalanan menuju stasiun.

What a wonderful weekend…  Terlepas dari berbagai ribut-ribut mereka yang kurang terpuaskan, secara keseluruhan, gw sangat menikmati rangkaian acara Pesta Blogger tahun ini (yang juga merupakan Pesta Blogger pertama yang gw hadiri, karena tahun lalu gw belum cukup percaya diri untuk bertemu dengan para senior).

Terima kasih banyak dan salut buat para panitia. You rock!! Tak sabar rasanya menanti Pesta Blogger 2009.

*foto dicomot semena-mena dari Didut, Gita, Pitra, dan Momon


Bertanya-tanya

which-way

Jika memang keduanya hal yang terpisah..
Ketika pertimbangan logika sudah terpenuhi, rasio tak mengelak, masihkah sensasi kembang api, kupu-kupu, dan warna-warni pelangi diperlukan??
Haruskah hadir keduanya, atau akal sehat saja sudah cukup??

*terinspirasi percakapan dari bandara, suatu sore dengan jeng piz*


Sekelumit Rectoverso

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini..

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala ku terbaring sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: “Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang..
Itu saja ku inginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi…

Telah lama, ku menanti
Satu malam sunyi untuk ku akhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala ku terbaring sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimipi bersamaku…”

Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

-Curhat buat Sahabat by Dewi Lestari-

Lagu ini sedang sering-seringnya gw dengarkan. Lagu berjudul yang sama dengan cerita pembuka di novel Rectoverso. Perih mengiris. Seperti menampar. Lagu tobat, kalo kata Pizka. Liriknya itu lo… begitu mengena. Apalagi Dewi Lestari menyanyikannya dengan begitu indah mendayu. Seperti sengaja membuatkan soundtrack kisah pribadi hiks..

Favorit gw yang lainnya adalah lagu “Peluk”, yang pernah dinyanyikan juga oleh Shanty. Kali ini sang pencipta lagu membawakannya secara berduet dengan Aqi vokalis band Alexa. Nuansa yang hadir menjadi lebih.. berasa. Sayangnya lagu ini tak juga gw temukan di playlist tempat gw biasa mengemaskan suara sumbang *summon para pemilik tempat karaoke, rikues lagu ini dong*.

Gw memang bukan ahlinya di bidang musik, sekedar penikmat. Dan kalau ada satu kata yang akan gw pilih untuk mendeskripsikan album Rectoverso, maka itu adalah: Cantik.