Monthly Archives: Juni 2014

Maleficent: Berusaha Memahami Sisi Lain Cerita Dongeng

“Filmnya Angelina Jolie yang Maleficient bagus gak sih?”, tanya seorang teman.

“It’s Maleficent. And it’s a MUST WATCH!” jawab saya.

Bukan hanya satu-dua teman, sayapun pada awalnya sempat siwer membaca judul dan mengiranya “maleficient”. Mungkin karena lebih akrab di kuping dengan memisahkannya jadi “mal efficient”, tapi Maleficent adalah nama perempuan yang di dongeng-dongeng Disney sebelumnya sering dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. Beberapa bahkan menyebutnya “Nenek Sihir Jahat”. Tokoh antagonis yang evilest evil lah pokoknya.

Sebenernya saya nonton film ini sudah beberapa minggu lalu. Saat ini juga sudah turun dari layar bioskop. Tapi untuk ditonton di dvd (ataupun donlotan) pun film ini masih sangat bisa untuk dinikmati.

Dikisahkan, Maleficent, seorang peri perempuan kecil penjaga hutan Moors, menjalin persahabatan dengan Stefan, anak manusia yang tersesat di hutan. Seiring waktu, persahabatan keduanya menumbuhkan perasaan yang berbeda di hati Maleficent. Hingga suatu hari Stefan pergi,  Maleficent tetap menanti sambil melakukan tugasnya menjaga Moors.

Suatu ketika raja yang berkuasa bermaksud menginvasi Moors, dan dikalahkan oleh Maleficent dan pasukannya. Merasa dipermalukan, raja pun mengumumkan barangsiapa yang dapat membunuh Maleficent berhak untuk menikahi putrinya, dan menjadi pewaris tahta kerajaan. Stefan tergiur dengan tawaran itu. Kembalilah dia ke hutan Moors, dan dengan mudah meraih kembali kepercayaan Maleficent yang tak sadar, bahwa Stefan hanya memperalatnya untuk meraih kedudukan di kerajaan. Dari situ baru kisah Putri Aurora seperti yang biasa kita dengar dimulai.

maleficent-wings

Jika kita biasa mendengar kisah Putri Aurora dari sudut pandang kerajaan, kali ini kita disuguhi cerita dari sisi “Nenek Sihir” yang dikenal sebagai musuh utama. Dengan cara ini, kita jadi mendapatkan gambaran yang lebih luas dan lengkap. Betapa dunia tidak se-hitam putih cerita yang biasa dijejalkan cerita sinetron atau dongeng pada umumnya. Bahwa ada yang namanya hukum sebab akibat, dan siapapun bisa berubah. Mengajak kita melihat sosok secara utuh melalui tindakannya, bukan sekadar citra yang dilekatkan padanya.

Jadi, Pemilu 9 Juli nanti milih siapa?

 

Eh?

 

 

*pinjem gambar dari sini

 

Iklan

Ruby Sparks: Ketika Imajinasi Menjadi Nyata

Pernahkah kalian memiliki bayangan mengenai sosok idaman? Calvin (Jonathan Dano), seorang penulis muda, memiliki gambaran perempuan sempurna dalam tokoh buku terbarunya. Hingga suatu hari dia mendapati sosok tersebut mewujud nyata di hadapannya. Segala yang ditulis Calvin mengenai Ruby (Zoe Kazan) serta merta terjadi. Bukan hanya wujud fisik, pekerjaan, sifat, dan selera humor Ruby, bahkan bahasa yang digunakan pun dapat Calvin tentukan sesuka hatinya. Yang harus dia lakukan tinggal menuliskan dalam draft bukunya. Lalu apa dengan demikian Calvin memperoleh kisah cinta ideal yang diharapkan?

Belum tentu 😉

Skenario film ini ditulis sendiri oleh Zoe Kazan, sang pemeran utama wanita. Film ini saya tonton dalam penerbangan kembali dari Medan dan membawa saya tercenung. Semakin kagum akan Sang Sutradara Agung Penguasa Semesta. Dan betapa manusia sungguh tak luput dari alpa dan tak ada puasnya.


Tentang Soundtrack Penyelamat Tugas Akhir

Seharian ini sambil bekerja, saya mendengarkan kembali dua album awal Josh Groban. Judulnya “Josh Groban” (2001) dan “Closer” (2003). Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa saya mengerjakan skripsi. Dua album inilah yang ketika itu menjadi teman setia saya dalam proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Thanx to Tina, temen sekos pada masa itu yang memperkenalkan Josh Groban ke dunia saya.

Selain suara dan lagu-lagunya yang memanjakan telinga, saya sangat terbantu dengan penggunaan berbagai bahasa dalam dua album itu. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk turut sing along ketika mendengar lagu yang bisa ikut saya nyanyikan. Apalagi kalau saya memahami arti lirik lagu itu, yang ada justru saya akan larut dalam kisah yang dibawakan. Sejauh ini bahasa asing yang saya pahami baru bahasa inggris. Padahal di album-album itu juga terdapat lagu-lagu yang berbahasa italia dan spanyol. Jadilah pada lagu-lagu ini hanya telinga yang saya fungsikan, sedangkan segmen otak divisi bahasa dan kata-kata terhubung pada skripsi. Kebayang kalo saya bisa ikut sing along semua, bisa-bisa skripsi saya nggak kelar-kelar.

Demikian pula ketika mengerjakan thesis. Ketika itu demam K-Pop sedang melanda, sehingga sangat mudah menemukan lagu-lagu yang catchy di telinga meski saya tak juga mengetahui maknanya. Memang sengaja tidak mencari tahu juga, biar lagu-lagu itu hanya selintas lewat sebagai musik pengiring saja. Tapi nggak spesifik juga ketika itu lagu siapa saja.

Selain tugas akhir, tentu masih banyak lagi musik-musik yang menjadi soundtrack berbagai kisah lain. Tapi lain kali saja saya cerita. Kalau kamu gimana? Lagu apa yang menjadi soundtrack kisahmu yang mana?

 

*postingan ini dibuat setelah mendapati ucapan Happy Anniversary dari WordPress atas tujuh tahun saya ngeblog di sini. Dan masih akan berlanjut lagi. 🙂