Monthly Archives: Januari 2010

It’s THE World Cup!!

Rasanya tak percaya ketika hari itu saya menerima undangan untuk dapat berfoto bersama Piala Dunia. Iya, Piala Dunia yang mampu menyihir berjuta pasang mata penduduk bumi ketika perhelatan empat tahunan itu digelar. Politik, konflik, keuangan, berita apapun rasanya menjadi terkesampingkan karena fokus utama tertuju pada olahraga paling populer seantero jagat: Sepak Bola.

Me and THE World Cup

Saya masih ingat, waktu itu event Piala Dunia tahun 1998 yang pertama kali membuat saya jatuh cinta pada sepak bola. Kebetulan saya sedang berlibur bersama para sepupu, dan salah satu kegiatan utama kami adalah menonton siaran langsung perhelatan akbar tersebut. Menjelang final, kamipun mempelajari satu-persatu profil pemain Perancis dan Italia yang akan berhadapan. Tentu saja profil pemain Italia tampak lebih menarik bagi saya. Simply karena mereka ganteng-ganteng :D. Salah satunya memikat perhatian saya, Filippo Inzaghi. Bukan hanya tampan memikat khas pria Italia, mas Pippo ternyata juga bertanggal lahir sama dengan saya. Selisih sepuluh tahun persis! Owh.. Apakah ini pertanda?? *berharap ada serendipity moment*

Sejak itu saya menjadi penggemar Juventus, klub tempat mas Pippo bernaung waktu itu, yang herannya saya tidak lantas menjadi milanisti ketika cinta dalam hidup saya itu berpindah klub ke AC Milan. Saya juga selalu menjagokan Italia, timnas terganteng sedunia *eh?!*. Meski World Cup Juni mendatang, saya tak yakin lagi. Sepertinya saya harus berganti hati.

Terima kasih  kepada panitia untuk pengalaman langka ini. Khususnya Jonte, yang telah sangat helpful menghindarkan saya dan gerombolan Kopdar Jakarta dari antrian berani mati 😀 . Teman-teman tim futsal saya pasti iri HUAHAHHAHHAHAHAHA…….

*tertawa jumawa*


Rumah Dara (Dijamin Tanpa Spoiller)

Pada dasarnya saya adalah penonton film yang menjunjung tinggi ketenangan tidur dan kedamaian dalam hidup saya. Untuk itu, saya biasanya menghindari film-film bertema horor. Thriller sih boleh, tapi slasher macem rangkaian film Saw.. saya lebih memilih untuk melewatkannya. Terakhir saya menonton film horor di bioskop itu beramai-ramai karena ada traktiran ulang tahun dua orang teman. Pocong 2-nya Rudi Soedjarwo. Dan saya sukses selama dua minggu setelahnya tidur dengan lampu menyala.

Tahun 2008, atas promosi seorang teman penggemar film yang saya percayai seleranya, saya menonton kompilasi film pendek yang berjudul Takut. Meski menyebut diri ber-genre horor, tapi karena merupakan rangkaian film-film pendek, tak terlalu masuk hitungan “menakutkan” buat saya. Kecuali satu. Sebuah film karya the Mo Brothers yang berjudul Dara. Bukan horor, sama sekali tak berhantu. Tapi justru sukses membuat saya jejeritan dan keluar studio sambil deg-degan. Bahkan sampai sekarang, melihat Shareefa Daanish berperan konyol dan ceria tetap saja membuat saya waspada dan curiga, lengah sedikit bisa-bisa saya menjadi bagian dari stok dalam freezer-nya. Hiiiiyy…..

Jadilah ketika film tersebut dibuat versi panjangnya yang berjudul Rumah Dara, saya penasaran. Pengen tau seperti apa pengembangan yang dibuat. Tadi malam adalah waktu yang saya pilih untuk menantang diri saya. Bersama Tiwi, seorang teman yang memang penggemar film pemacu adrenalin, saya menuju Plaza Senayan XXI.

Film diawali dengan adegan sesi pemotretan jadul tiga orang anak. Saya masih kalem-kalem saja. Demikian juga ketika disampaikan latar belakang permasalahan keluarga Ladya (Julie Estelle) dan Aji (Ario Bayu Ganteng Sekali Cintaku Mwah Mwah). Baru ketika tokoh Maya (Imelda Therinne) muncul, saya meningkatkan kewaspadaan. Selanjutnya.. Lanjutkan membaca


…. days of ….

“Look, I know you think he was the one, but I don’t. Now, I think you’re just remembering the good stuff. Next time you look back, I, uh, I really think you should look again.”

-diedit seperlunya dari (500) Days of Summer-

Kata-kata Rachel Hansen pada Tom ini seperti menampar saya. Tak pelak sayapun mengiyakan. Selama ini saya tenggelam. Semakin dalam, semakin karam. Tak lain karena yang tertanam di benak hanyalah hal-hal indah yang pernah saya lalui bersamanya. Dan ini sama sekali tidak sehat. Sampai kapan saya akan tenggelam dalam kumparan memabukkan yang sekaligus menggerogoti setiap sisi hati dan rasio?

Being Positive memang bagus, tapi dalam hal ini sepertinya saya harus menuruti Rachel, dan membuka mata lebih lebar. Menelisik ke setiap detil memori, dan menemukan hal-hal yang dapat membuat saya tersadar. Sekarang waktunya berhenti.

It’s not worth it.

*pinjem gambar dari sini*


Perfect Getaway

Ketika cokelat tidak lagi mampu merubah yang pahit menjadi manis.

Ketika belanja menjadi hambar dan tidak menyenangkan.

Ketika tereak-tereak sember di ruang karaoke tak lagi melegakan.

Itu berarti waktunya kembali ke obat penentram hati nomor satu di dunia:

PULANG.

*gambar diculik semena-mena dari sini