Monthly Archives: November 2013

Mencoba 4DX Experience

Image

model tempat duduk bioskop 4DX
(pinjem gambar dari sini)

Sejak pertama kali diluncurkan, saya sudah penasaran ingin menjajal pengalaman baru menonton film di studio 4DX-nya Blitzmegaplex. Tapi mengingat satu-satunya lokasi Blitz yang tersedia 4DX di Grand Indonesia itu termasuk luar area jajahan saya, maka perlu waktu dan effort khusus untuk saya bisa menuruti angan-angan yang satu ini. Selain itu harga tiket pertunjukannya juga di atas harga tiket bioskop pada umumnya. Satu kali nonton 4DX bisa buat empat kali nonton di bioskop langganan biasanya. Saya termasuk penonton bioskop hore yang berpikir sembilan kali sebelum mengeluarkan biaya extra untuk nonton film (yang bisa beberapa kali saya lakukan dalam sebulan). Jadi kalau memang saya mau membayar lebih ya harus mendapat nilai lebih atas harga yang saya bayarkan. Salah satunya film yang diputar harus benar-benar saya anggap akan seru ditonton dalam efek 4DX.

Kali ini film yang saya tonton Snowpiercer. Ceritanya pada suatu masa ketika bumi membeku akibat alat pendingin yang semula dianggap solusi pemanasan global. Umat manusia dan segala penunjang hidup yang tersisa bertahan hidup dalam sebuah kereta sophisticated yang terus berjalan mengelilingi dunia. Kereta itu melaju membelah salju dengan rangkaian gerbong panjang yang dibedakan berdasarkan fungsi dan golongan para penumpangnya. Penumpang VIP yang berani bayar mahal tinggal di gerbong depan dengan fasilitas gaya hidup maksimal. Sedangkan para penumpang gratisan ya harus rela pasrah hidup kumuh seadanya di gerbong paling belakang. Kesenjangan yang semakin timpang antar kelas sosial inipun semakin menjadi dan memicu pemberontakan dari kaum tertindas. Misinya adalah mengambil alih “The Sacred Engine”, membunuh Wilford sang konglomerat penjaga the engine sekaligus pencipta kereta, dengan demikian dapat mengambil alih kendali dan memperbaiki nasib para kaum gerbong belakang. Berhasilkah mereka? Tonton saja. It’s a good movie with unusual twist.

Good? Iya, good. Sayangnya cuma segitu yang bisa saya komentarkan meskipun beberapa teman memuji kehebatan cerita film ini. Mungkin karena saya nontonnya tidak sekhusyuk biasa gara-gara efek 4DX yang sudah rela saya bayar mahal untuk mengalaminya. Bukan cuma gerakan dan manuver kereta yang saya rasakan getaran dan goncangannya (which i had already anticipated and expected), tapi juga setiap ada baku kelahi dan ada yang terpukul atau terbunuh pun kursi ikut bergoyang. Efek angin dingin memang nyambung dengan film yang bernuansa salju. Sempat terasa pula hangat udara ketika ada adegan yang menampilkan api. That’s cool. Tapi kilat cahaya di sudut depan kanan kiri buat saya kok juga malah berasa mengganggu.

Saya memang tipe penonton perfeksionis yang riwil. Buat saya nonton itu harus khusyuk kayak beribadah sehingga perlu meminimalisir gangguan-gangguan yang dapat mendistraksi kita dari melebur ke dalam cerita. Mudah sekali terganggu kalau ada yang ngobrol cekakak-cekikik, menyalakan cahaya gadget, atau goyang-goyang kaki sehingga kursi saya di barisan yang sama juga ikut goyang-goyang. Kali ini di 4DX saya justru membayar lebih untuk merasakan efek tersebut. Well.. mungkin saya harus lebih bijak untuk memilih film yang saya tonton dengan efek ini. Pada film-film indah macam Cloud Atlas atau Life of Pi mungkin akan membuat saya terkesima. Tapi pada Snowpiercer kemarin, it’s just too much.


Dibikin Patah Hati oleh Carrie

Bukaaaan.. bukan Carrie Bradshaw yang di Sex And The City. Ini Carrie White yang filmnya dari tahun 1976 di-remake dengan pemeran utama Chloe Grace Moretz. Saya sendiri belum menonton versi aslinya simply karena tidak tertarik. Tapi versi remake ini membuat saya penasaran karena efek dek Chloe.

Biasanya saya suka film-film yang dibintangi Chloe Grace Moretz. Mau dia dapet peran utama seperti di Let Me In dan Kick Ass-Kick Ass 2, ataupun sekadar peran pembantu seperti di 500 Days of Summer. Lagipula film-filmnya tante Julianne Moore juga jarang mengecewakan saya. Jadi perpaduan keduanya di Carrie (2013) membuat saya bersikukuh untuk menontonnya.

Tapi ternyata sepanjang film saya cuma terdiam menatap layar sambil mbatin “appeeeeuuu ini?”. Masih mengisahkan gadis remaja berkekuatan telekinetik yang menjadi objek bully di sekolah maupun lingkungan rumah, dengan ibu yang religiously weird. Sekuat-tabahnya orang menghadapi bully, ada saatnya meledak berontak juga. Kalau ledakan emosi itu diiringi dengan kekuatan telekinesis luar biasa, jadinya ya… gitu deh. Semoga aja ga sampe dianggap spoiller. Kalau kalian para die hard fans-nya dek Chloe masih tertarik nonton ya silakan.. Saya sih tidak merekomendasikan.