Monthly Archives: Januari 2008

Lagi Males

Kok akhir-akhir ini gw jadi males posting yak?? Padhal weekend kemaren gw baru piknik keluarga ke Rancabali*, Bandung yang pemandangannya keren banget. Sempet berendam di pemandian aer panas pula.

Nonton Perempuan Punya Cerita, 1408 dan Otomatis Romantis minggu sebelumnya juga gak menggelitik gw buat nulis sekedar review. Yang jelas Perempuan Punya Cerita bagus, 1408 tu horor yang nyerang secara psikologis (bukan hantu-hantu bermakeup nggilani kayak horor indonesia), dan Otomatis Romantis biasa banget. Cuma bikin gw semakin mengakui kalo Tora Sudiro emang ganteng, dan kostum yang dipake Marsha Timothy disitu bagus-bagus.

Gw juga gak tertarik buat nulis tentang dukacita atas meninggalnya pak Harto. Lha wong gw termasuk yang menyayangkan kenapa beliau meninggal sebelum mendapat keadilan atas apa saja yang dilakukan di masa pemerintahannya.

Lah ini kok posting?? Yah tapi kan postingan gak niat gini.

*Buat yang belum tau Rancabali itu dimana, letaknya ada di Kabupaten Bandung. Dari Soreang, naek ke Ciwidey, masi naek lagi baru sampe Rancabali. Disana terdapat perkebunan teh PTPN entah berapa, pemandian aer panas alami, juga kawah putih yang gw gak sempet datengin karena para budhe lebi tertarik buat belanja.

Iklan

Tentang Kost

Apa kesamaan antara tempat kost ama pasangan?? Mungkin sekilas seperti gak ada kaitannya. Tapi beberapa waktu terakhir gw baru nyadar kalo keduanya punya banyak kesamaan.

Beberapa hari ini gw berangkat dan pulang kantor dengan mengambil rute yang lebi panjang dari biasanya. Sengaja gw mili lewat jalan-jalan perumahan kalo perlu menyisiri setiap lajur gang yang bisa gw lewati sambil menuju tempat gw naek metromini sambil ngeliat apakah ada plang bertuliskan “Terima Kost Putri” di depan rumah-rumah yang gw lewati itu. Kalo ada, dan rumah itu terlihat berpenghuni, maka gw akan mencoba masuk dan bertanya tentang kost yang ditawarkan. Kalo itu rumah terlihat sepi, dan terdapat nomor telefon contact person pada plang tersebut, maka gw simpan nomor itu di hape untuk kemudian gw hubungi dan menanyakan pertanyaan serupa.

Pertanyaan yang gw ajuin standar, sampe setengah apal karena selalu mengulangnya setiap kali gw menemukan rumah yang bisa gw jadiin tersangka macem:

  •  Ada berapa kamar yang disewakan?
  • Berapa kamar yang kosong?
  • Kostnya khusus putri atau campur? (karena kadang gw juga mencoba ke rumah yang cuma bertuliskan “Terima Kost”, jadi gak jelas peruntukannya buat siapa)
  • Berapa harganya? (wajib ini mah!!)
  • Fasilitasnya apa saja? (kadang cukup diliat saja langsung wujud kamarnya sih)
  • Apakah harga tersebut sudah termasuk biaya listrik atau tidak?
  • Apabila membawa peralatan elektronik apakah dikenakan tambahan biaya atau tidak?
  • Apakah harga tersebut sudah termasuk cuci/setrika atau tidak?
  • Kalo kamar mandi ada di luar kamar, maka perlu tanya berapa jumlah kamar mandi untuk berapa kamar? Dan apakah penghuni lain beraktifitas (kerja/kuliah) pada siang atau malam hari? Hal ini penting buat menghindari antrian mandi yang panjang yang dapat mengakibatkan kita harus memilih terlambat sampai di tempat kerja atau memotong jam tidur yang berharga.
  • Bagaimana dengan aturan penerimaan tamu?
  • Apakah ada jam malam?
  • Apakah kita diberi akses terhadap pintu depan (pegang kunci sendiri) atau tidak?

Tiga pertanyaan terakhir biasanya baru keluar kalo kita benar-benar berminat terhadap kamar yang ditawarkan. Kalo emang gak tertarik ya ngapain juga tanya detil gitu. Pertanyaan lain juga bisa ditambahkan tergantung situasi yang ada.

Beberapa rumah kost juga memberikan peraturan-peraturan tertentu, seperti ada salah satu rumah kost yang gw datengin menerapkan biaya jaminan kunci dan furniture yang akan dikembalikan ketika kita keluar dari kost itu dengan meninggalkan furniture serta kunci dalam kondisi utuh seperti semula. Ada juga yang mengharuskan biaya sewa satu bulan dibayar langsung lunas pada hari pertama menempati kost tersebut. Dan tidak semua anak kost terkesan mengenaskan seperti digambarkan lagu “Nasib Anak Kost”nya Padhyangan Project, karena hal itu tentu sulit terbayang pada kost yang fasilitas dan harga sewanya mendekati harga sewa apartemen.

Kaitannya dengan pertanyaan awal gw tadi, gw jadi ngerti kalo nyari kost itu ternyata kurang lebih ya kayak kalo kita nyari pasangan. Liat tampilan luar rumah itu dulu, kita sreg ato tidak, available ato tidak, baru kemudian mencari tau detil-detilnya apakah sesuai dengan kriteria yang kita pasang. Faktor X-pun jadi penentu. Ada satu rumah yang kurang lebihnya sesuai dengan kriteria, tapi ketika kita masuk dan melihat kamar kost yang disewakan, somehow ada perasaan gak enak. Gak nemu aja chemistry-nya. Tapi ada juga kamar yang di beberapa hal gak sesuai kriteria, tapi ada perasaan aman ketika membayangkan kita tinggal di situ. Kok jadi kayak perburuan soulmate gitu aja ya?? Apa mungkin karena sama-sama jadi tempat kita bersimbiosis yak??

Ngomong apa sih gw?? Entah.. gw juga bingung.

Oh ya.. Gw belum jadi pindah kost. Sempet ngasi DP tapi tus gw batalin karena kalo gw itung-itung jatuhnya tetep lebi murah kos gw yang sekarang. Toh aernya uda ngalir lagi.

Jadi inget status yang dipasang Pulung di YMnya pagi ini. Sebuah pepatah, ato pantun, ato apalah berbahasa jawa yang cukup mendeskripsikan:

“sandal teklek nyemplung nang kalen, timbang golek luwung balen”


Cari Kost Putri Butuh Cepat

Gw lagi binun. Rumah kost yang gw tempati uda ga memungkinkan lagi. Dan sudah tiba waktunya buat gw cari tempat bertengger baru.

Sebenernya gw males angkat-angkat pindahan, apalagi gw uda di situ sejak pertama kali menyandang gelar anak kost di ibukota ini. Kamar yang gw tempati pun waktu itu masi baru, gw-lah penghuni pertamanya. Tapi rupanya gw gak bisa lagi bertahan dengan kondisi pengap, minim cahaya matahari yang diperparah dengan sudah tiga hari ini pompa aer mati. Praktis tiga hari ini juga gw harus ngungsi demi tetes air yang sangat berharga itu.

So i’m starting today.

Gw cari kost putri di daerah Jakarta Selatan yang gak jauh dari Blok M ( = gak jauh dari kantor gw). Gak perlu yang berAC ato pake garasi (emang juga mobil siapa yang mo gw parkir), yang penting aman, nyaman, bersih dan harganya terjangkau, sekitar 500ribuan aja deh, kalo bisa kurang, itu lebi gw suka hehehe…

Dan gw butuh cepet. Gw ga bisa ngungsi terus-terusan gini. Bikin gw jadi stress.

Ada yang bisa bantu??


Kecewa Aremania

Melihat pertandingan Arema-Persiwa tadi malam (atas kebaikan hati salah satu televisi swasta yang menyiarkan, tentunya) gw jadi kecewa pada Aremania.

Bukan cuma sekali, tapi DUA kali (should we call them “oknum”?) suporter masuk, dan menyerang wasit. Korban pertama adalah asisten wasit yang sampe tepar tus diusung keluar lapangan, dan membuat pertandingan sempat dihentikan sekitar sepuluh menit. Yang kedua?? Bukan cuma berhenti sepuluh menit, tapi stadion Brawijaya dan Stasiun Kota Kediri turut menjadi korban, bahkan puluhan rumah warga rusak karena amukan mereka.

Oalaaahh…

Lima tahun tinggal di Malang, berteman dengan para Aremania (salah satunya anggota Aremania Korwil Sukun yang berbaik hati nemenin gw pas liburan akhir tahun kemaren itu) membuat gw bersimpati pada kelompok suporter yang katanya paling kompak, sportif dan cinta damai itu. Tapi sekarang??

Well.. mungkin wasit berpihak, dan gw bisa ngerti kalo TIGA gol dianulir itu bikin nyesek.
Tapi gak seharusnya jadi pembenaran untuk tindak anarkis kan??

Meski demikian, menurut gw pribadi, sanksi cekal tiga tahun yang dijatuhkan pada Arema berlebihan dan tidak adil. Mengingat dua tim yang suporternya sempet bikin kerusuhan nyatanya sampe sekarang bisa melenggang dengan tralalala bersama para suporternya. Jangan berat sebelah dong, Komdis…

*gambar minjem dari sini


Have Fun at Dufan

Peringatan: Postingan kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah ajang narsis, sekaligus memperkenalkan wujud asli temen-temen gw pada dunia. Kalo ternyata ada yang kenal wajah-wajah ini, berarti dunia memang sempit. Kalo gak, ya makanya ini gw kenalin 😀

Liburan kemaren, gw dan beberapa temen sesama perantau yang kebetulan gak mudik karena jaraknya terlalu deket dengan libur taun baru yang lalu (yang berarti kadar kangen orang rumah belum menumpuk, sama dengan kalo kita nongol lagi di rumah cuma bakal dapet lirikan sekilas dan sapaan “ngapain pulang lagi??”), memutuskan untuk tidak bermuram durja di kost sendirian dan memilih jalan-jalan ke Dufan.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Ini formasi awal ketika kita baru dateng. Urut dari kiri: Revi, Aji, Erin, Emyou (alias gw tuh kan gw sama sekali gak anonim apalagi mesin), Wita dan Dibyo. Yang moto namanya Bhima, tapi gak penting lah buat dimuat di sini, karena pada dasarnya gw cuma lagi pengen narsis ajah.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Ngantri tiket di tengah teriknya matahari di hari Sabtu. Yang pake jilbab itu Wita, bule yang keliatan rambutnya aja itu Jorg, sementara yang cuma keliatan jidatnya itu Revi. Cewe bertas putih namanya Valent (Baru menyusul bersama Jorg, pacar Jerman-nya). Sementara cowok di belakang Dibyo (yang pake jaket buat gantinya kerudung) itu yang namanya Bhima.

Pada kunjungan ke Dufan kali ini akhirnya gw bisa juga mewujudkan keinginan terpendam gw, yang selama ini selalu gw singkirkan dengan berbagai alasan macem: “gengsi dong”, “malu ah, kayak anak kecil ajah”, dll yaitu…. FOTO BERSAMA BADUT ANCOL huahahahhaaha….

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Kami mengawali petualangan hari itu dengan maen alap-alap. Sekedar pemanasan sebelum permainan-permainan pemacu adrenalin yang menanti di depan mata. Dan ternyata permainan yang disebut juga jet coaster itu gak cuma sekali, tapi TIGA kali putaran. Putaran pertama, oke deh.. masi tereak-tereak. Putaran kedua, well..uda mulai apal dimana perut berasa, dan dimana cuma bisa senyum aja. Putaran ketiga, bosen asli. Mungkin emang permainan macem gitu pasnya satu putaran ajah, biar gregetnya berasa.

Abis maen alap-alap, rombongan terpecah. Wita, Valent dan Jorg maen Bianglala, sementara sisanya milih maen Kora-kora. Berhubung Kora-kora maennya lebi cepet dari Bianglala, maka sambil nunggu, kami maen Bom Bom Car yang entah apa nama Dufannya (Wahana-wahana di Dufan kan sering aneh-aneh tuh namanya)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Apa?? Kayak anak kecil?? Biarin!! Namanya juga pengen kok 😀

Setelah ngumpul sejenak, lagi-lagi rombongan berpisah. Kali ini karena ada yang pengen maen Tornado, sementara yang laen lebi mili ngadem dan ngapalin lagu di Istana Boneka. Tak lama, rombongan Istana Boneka pun bergabung buat nonton yang lagi maen Tornado. Rupanya cuma dua di antara para pria itu yang punya nyali dan kekuatan perut buat naek wahana terbaru Dufan ini. Itupun tanpa mengesampingkan jiwa narsis mereka. Buktinya, biar lagi ngalamin siksa dunia, tetep aja sempet nengok kamera.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Yang laen?? Jadi penggembira dengan nonton mereka, dan foto-foto tentunya.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Misi berikutnya, Arung Jeram!!

Gw, Erin dan Wita bahkan rela antri lagi buat maen untuk kedua kalinya. Hasilnya?? Basahhh!!!!

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Penting: Dalam kondisi pakaian basah macem gitu, sangat tidak bijaksana apabila anda mengikuti apa yang kami lakukan, yaitu memilih memasuki wahana yang berada dalam ruangan berAC seperti Perang Bintang dan Meteor Attack. Masuk Angin!! Makanya kami kemudian menjemur diri di Bianglala (lagi, bagi Wita) Oya, Valent dan Jorg memisahkan diri di sini. Mereka langsung pulang karena Valent sudah tidak tahan dengan pakaian basahnya. Daripada mala jadi sakit.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Selaen badut ancol, gw juga nyempetin foto bareng badut seleb laennya, yaitu Badut Chiki. Ups.. ngiklan yak?? Gapapa deh.. anggep aja ngamal (dari mana??)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Wahana terakhir yang kami naiki adalah Merry Go Round (yang lagi-lagi entah apa nama Dufannya). Tentu saja para pria itu merasa gengsi untuk turut serta, jadinya mereka cuma memandang, sementara kami bersuka ria hehehe…

Free Image Hosting at allyoucanupload.com Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Capek seharian maen, hari pun diakhiri dengan menikmati senja di pantai Ancol. Emang si, ga seindah Kuta ataupun Losari. Tapi setidaknya lumayan lah, bisa ngeliat laut di Jakarta. Sayangnya (atau untungnya??), kamera mahalnya Aji ngambek, pundung, gak mau diajak foto-fotoan disana. Jadi gw akhiri aja postingan narsis gw kali ini dengan ucapan:

“I had a great time. Makasyi teman-teman… 🙂 ”

 

*update 2012: baru menemukan kalau website tempat gw menyimpan foto-foto ini sudah tiada hiks.. tapi gw juga ga pengen menghilangkan cerita ini dari sejarah. jadi ya sudahlah biarkan saja..


I’m Free!!!

Yippeeeeeeee!!!!!!!!

Gw uda bebas dari akismet.
Senangnyaaaa…..!!!!
Tralalalalalalalala…….

Terima kasih semua yang uda membantu proses pembebasan gw 🙂

Matur Nuwun. Suwun. Hatur Nuhun. Arigato. Grazie. Gracias. Syukron. Xie Xie. Danke. Merci. Thank u… muach!!


Efek Akismet

Gara-gara kena sandung akismet, gw kok mala jadi produktif gini yak?? Abisnya bingung, mo ngapain lagi. Ngomen ke blog-blog laen juga lama-lama jadi bete sendiri, coz harus menunggu sang pemilik blog bermurah hati menengok kantong spam, dan membebaskan komen gw. Akhirnya ya gini. Posting, posting dan posting lagi.

Setidaknya abis ini liburan. Gw gak punya agenda kemana-mana. Mo istirahat aja di kost. Mungkin maraton nonton dvd, baca buku, ato sekedar tidur untuk kecantikan. Moga aja selesai liburan akismet sudah melepaskan jeratnya.