Drama Mudik Lebaran

Hari terakhir ngantor sebelum libur lebaran, ketika teman-teman sudah mulai menuju airport ataupun stasiun kereta api, saya masih santai. Saya toh baru akan pulang mudik besok pagi (26/07). Tinggal atur waktu agar setelah sholat subuh tidak tidur lagi dan segera menuju bandara. Jadi malam ini saya masih bisa packing dengan santai, memastikan pakaian-pakaian kotor yang menumpuk sepeninggal teteh tukang cuci kosan ikut masuk koper biar bisa dikenakan di rumah saat liburan. Jadi sepulang dari kantor, saya masih sempat tidur sejenak sebelum mulai memikirkan mau makan apa untuk buka puasa.

Terbangun sekitar jam lima sore, saya mulai mengecek tiket penerbangan besok. Saking lamanya itu tiket tersimpan sejak saya beli tidak saya cek-cek lagi. Hanya sekilas ingatan kalau saya pulang hari Sabtu pagi, tanggal 26 Juli.

Betapa kaget ketika saya mendapati bagian tiket yang distabilo kuning menunjukkan keberangkatan hari ini, 25 Juli, jam 19.40. Malam ini. Dan saya tinggal punya waktu kurang dari dua setengah jam untuk terbang. Belum dipotong span waktu check in bandara karena saya belum sempat web maupun city check in sebelumnya, berarti saya harus berangkat….. SEKARANG JUGA!!

“Ok, tenang Ulfah. Jadi apa yang paling wajib dibawa?” Tanya saya pada diri sendiri sambil berusaha tetap waras. Dengan waktu sesempit itu, saya cuma sempat berganti pakaian yg telah ada di gantungan, dan menggendong kembali ransel yang saya bawa ke kantor hari itu. Yang penting tiket, dompet, handphone telah terbawa. Soal di rumah nanti lebaran pakai baju apa, sudahlah seadanya di lemari rumah saja.

Saya berangkat setengah berlari sambil terus berdoa semoga ga sampai ketinggalan pesawat. Semoga masih bisa check in. Semoga lalu lintas ke arah bandara lancar. Semoga.. Semoga.. Semoga…
Sampai pinggir jalan, sudah banyak berjejer calon penumpang taxi. Sedangkan taxi yang melintas selalu telah terisi. Change of plan. Ojek! Setidaknya sampai titik yang lebih memudahkan saya untuk mendapatkan taxi.

Setelah dengan terpaksa menyetujui harga kurang ajar yg diajukan tukang ojek, saya diantar ke area depan Ratu Plaza, tempat saya mendapatkan taxi sebagai angkutan berikutnya. Meski demikian, bukan berarti saya sudah bisa bernafas lega. Sopir taxi yang mengemudi sudah cukup tua sehingga berapa kalipun saya bilang “tolong lebih cepat ya pak, saya buru-buru”, tetap saja dia mengemudi dalam kecepatan yang bikin saya geregetan. Belum lagi beberapa kali salah ambil jalur yang lebih macet, atau terjebak kemacetan tidak perlu yg dikarenakan para pengguna jalan melambat untuk menonton kecelakaan yg terjadi di lajur arah sebaliknya.

Selama itu pula saya masih terus berdoa. “Ya Allah, tolong.. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir..”.

Pukul 18.10 taxi baru memasuki gerbang tol cengkareng. Saya mulai menyimpan gadget ke dalam tas, agar tak lagi mengkhawatirkan waktu masih nutut untuk check in atau tidak. Yang penting saya secepatnya berlari masuk, melewati antrian pintu pemeriksaan, serta antrian check in tentunya.

Ketika sampai di depan counter check in, saya masih deg-degan menyerahkan tiket dan id card. “Please masih bisa masuk please…” ucap saya dalam hati. “Mbak Ulfah sudah tidak bisa memilih tempat duduk ya mbak ya” ujar mas penjaga counter. “Iya mas, nggak papa” jawab saya. Dalam hati, duduk di manapun ga masalah mas, yang penting saya bisa kebawa ini pesawat sampai Semarang. Daripada saya nangis-nangis ga bisa mudik lebaran, atau keluar duit lebih banyak buat beli tiket lagi. Itu juga kalo masih ada.

2014725182325

Dan sekarang, ketika panggilan boarding dikumandangkan, saya bisa tersenyum lebar.

Saya pulang.

Selamat libur lebaran, teman-temaaaan…


12 responses to “Drama Mudik Lebaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: