Monthly Archives: Agustus 2008

Reuni yang Tertunda

Beberapa minggu yang lalu tersiar kabar melalui Bulletin Board Friendster ( ya, gw masi setia dengan Friendster dan tidak tertarik untuk migrasi ke Facebook) tentang akan diadakannya reuni alumni kampus gw. Pada pemberitaan awal itu, angkatan gw tidak termasuk mereka yang diundang ber-reuni ria, dan jujur, gw merasa agak sakit hati karenanya hehehe… Abisnya angkatan terakhir yang disebut itu yang tepat di atas angkatan gw. Baru pada dua revisi berikutnya, reuni tersebut diberlakukan sampe angkatan di bawah gw.

Tapi rupanya, hal itupun tidak membuat gw serta-merta mendaftarkan diri pada penyelenggara. Jarak menjadi alasan pertama. Jakarta-Malang tidaklah dekat, dan untuk itu perlu tenaga, alokasi dana, dan tentunya yang jadi alasan kedua: Waktu. Terlalu maksa, kalo reuni tersebut diadakan di hari weekend biasa. Pikir-pikir lah..kalo gw harus jumat sore atau sabtu pagi berangkat, untuk acara hari Minggu yang Senin paginya uda harus stand by lagi di kantor. Lagipula, alasan ketiga yang juga jadi faktor terpenting yaitu: Teman-teman, masi belum banyak yang tau tentang acara ini.

Kondisi ideal sebuah reuni menurut gw tuh.. WAJIB ada temen-temen yang memang pada masa itu selalu ada di sekitar kehidupan gw. Mungkin terdengar egois, tapi apalah artinya reuni, kalo yang hadir kita gak terlalu kenal atau mala ga terlalu suka. Pengennya gw, di reuni itu kita bisa seperti memutar waktu. Ada sahabat-sahabat, rekan seper-rumpian, temen-temen organisasi yang jadi partner debat ato sekedar nyanyi-nyanyi bareng diiringi petikan gitar, mantan pacar, mantan gebetan, dan tentunya sang public enemy number one. Well.. mungkin singkatnya, gw pengen reuni ituh cuma seangkatan. Biar lebi intim, lebi berasa naek kereta waktunya.

Tentang timing, akan lebih mudah kalo dilaksanakan pada long weekend. Hal ini untuk memudahkan teman-teman yang sudah terpencar ke berbagai penjuru, agar lebih leluasa mengatur perjalanan dan menikmati momen tanpa harus merasa terburu-buru kembali ke “dunia nyata”. Minimal kalo ada libur tiga hari deh. Biar bisa berangkat pada hari pertama, beracara pada hari kedua, dan balik pada hari ketiganya.

Kalo soal lokasi siy.. memang ga ada yang lebih mengena dibanding kota tempat almamater berada. Gak harus di kampus, tapi bisa juga di lokasi-lokasi wisata yang ada di sekitar kota itu. Kalo perlu lokasi yang memang pernah punya cerita, macem tempat dulu Orientasi, Kemah Bakti, ato sekedar lokasi yang dulu biasa digunakan nongkrong bareng. Sepertinya akan lebih berkesan.

Jadi kangen temen-temen masa menggila dulu…

Oh ya.. tentang reuni itu.. kabar terakhir si ditunda sampe waktu yang belum ditentukan. Semoga saja ketika bisa bener-bener terlaksana nantinya, gw dan teman-teman yang menyenangkan itu bisa ikut serta ber-reuni ria.

Iklan

Sepotong Waktu

Malam itu, Bandung tak sedingin biasanya. Di tengah keraguan apakah perjalanan antar kota yang telah tertempuh akan menggariskan senyum atau kekecewaan, dia datang. Nyata. Lalu kami berkendara. Dibawanya gw ke sebuah tempat yang masih berada di jantung kota. Sebuah Resort Cafe bernuansa semi outdoor dengan elemen kayu dan batu, dipercantik dengan kolam, lilin-lilin dan lampu-lampu kecil. Tepat sebelum memasuki bangunan utama “Atmosphere“, terdengar suara live music yang melantunkan lagu-lagu easy listening. Dengan dia ada di sisi, rasanya…Sempurna.


Lagi-lagi si Plurk

Pengen posting. Tapi bingung mo posting apa. Gara-gara Plurk yang bikin kecanduan itu. Semua-muanya uda dilaporin kesana, jadi bingung apa lagi yang mo ditulis.

Aaaargh!! Gw bahkan jadi ga bisa bikin kalimat panjang.


Bukan Foto Skandal

Cuma pengen bilang ‘terima kasih’ pada dua sejoli sahabat, Pizka dan Anto yang telah menemani gw melewati malam seperempat abad. Membisikkan lagu ‘Happy Birthday’ agar orang tak menengok ke meja kami dan membuat gw yang pemalu ini jadi malu. It was..sweet and amazing.
So I thank you, my dear friends… I really thank you 🙂

Hari Ini

Selamat Seperempat Abad, Cantik…


Maenan Baru

Maaf, blog-ku tersayang..
Beberapa waktu ini perhatianku agak teralihkan.
Ada maenan baru yang cukup membuat kecanduan.
Kalo gak percaya, coba deh ikutan


Knock..!! Knock..!!

Mbak Kamar Nomor Tujuh* yang TERHORMAT,

Saya yakin Mbak bermaksud baik untuk menghibur para penghuni kos dengan musik yang Mbak pasang. Begitu kan alasan Mbak memperdengarkannya dengan volume yang begitu keras?? Sayangnya maksud baik Mbak itu TIDAK sejalan dengan keinginan saya untuk beristirahat dengan tenang. Apalagi ketika di hari libur saya ingin menikmati menonton dvd film di kamar. Bagaimana saya bisa meresapi dialog-dialog cerdas Celine dan Jesse di Before Sunrise kalo harus mendengar lagu SMS** dalam versi house remix di latar belakang, dengan volume yang mengalahkan suara wajar percakapan Julie Delpy dan Ethan Hawke.

Apalagi seperti waktu itu, ketika mbak memperdengarkan kegaduhan yang sama pada pukul TIGA PAGI. Jam segitu mungkin waktu bersantai bagi Mbak yang baru pulang kerja, tapi bagi kami yang harus masuk kantor beberapa jam kemudian, itu adalah waktu ISTIRAHAT yang sangat esensial.

Jadi tolong, bertoleransilah sedikit… Jika Mbak memang hanya bisa menikmati musik dengan volume sedemikian yah..siapa tau Mbak agak bermasalah dengan pendengaran tolong gunakan Earphone. Di lapak-lapak Blok M juga banyak kok yang murah. Atau perlu saya belikan??

 

* Kita belum sempat berkenalan bukan?? Dimaklumi kok mengingat keterbalikan jam aktifitas kita.
** Don’t you think that it’s so last year?? Kalo mau yang lebih beracun, kenapa bukan lagu ini saja?? kakakakkakaka…..