Category Archives: music

Larut Bahagia di Konser Radja Sephia

Saya sudah menggemari lagu-lagu Sheila On 7 sejak cah-cah Jogja itu mengeluarkan album pertama mereka. Lagu “Dan” langsung mencuri perhatian kuping dan jiwa remaja saya disusul dengan lagu-lagu lain di album yang sama. Sealbum apal ngelotok semua seuwo-uwonya.

Begitu pula di album-album berikutnya. Kayaknya cuma lagu-lagu di album Berlayar saja yang saya kurang “kenal”. Kalau album “Anugerah Terindah Dari Sheila On 7″, terus terang saya tidak mau membeli karena ga rela lagu-lagu legendaris Sheila On 7 di-abuse sedemikian rupa oleh versi cover-nya. Justru saking cintanya saya sama lagu-lagu mereka.

Meski demikian, saya baru pertama kali menonton konser mereka ketika kuliah di Malang. Saya masih ingat, waktu itu mereka konser di Stadion Gajayana dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. It was the last concert I attended with Dod, my bestfriend, before graduated and left Malang. Makanya ketika denger kabar kalau Sheila On 7 mau bikin konser di Jakarta, saya sudah menetapkan hati. SAYA. HARUS. NONTON. Udah kangen banget buat larut dalam penampilan live mereka yang terakhir saya lihat di Soundrenaline 2012 di BSD bareng Okky, Erje, Zeta dan Mizan.

Baru beberapa hari sebelum hari konser saya tahu kalau di konser itu bukan hanya Sheila On 7 yang bakal perform. Di konser yang bertajuk Radja Sephia itu juga bakal ada penampilan /rif! Even better. Saya juga suka /rif dan sangat menikmati performance mereka ketika tampil di Dome UMM, lagi-lagi ketika saya masih kuliah di Malang. Berasa paket combo beli satu gratis satu hohohohoho….

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

And it was awesome! Sama sekali ga rugi nontonnya karena saya bisa sungguh larut dalam suasana nyaris sepanjang konser. Bukan cuma ikut sing along sambil berdiri joget jejingkrakan, saya bahkan sampai berlinang air mata saking terlarutnya. Mohon maaf buat mas-mas bangku depan yang beberapa kali kesenggol dengkul dan tangan saya saking hebohnya menikmati konser. Kalau bangku belakang mah paling sepet aja liat saya berdiri lunjak-lunjak mulu. Lah daripada liat yang mesra peluk-peluk ga mau lepas kayak pasangan depan saya di awal konser, kan mending jingkrak-jingkrak enjoying the music hahahaha… Apalagi pas banget saya nontonnya bareng Eka (yang sama serunya menikmati suasana) dan Adrian (yang sempet ketiduran dan kemudian memilih keluar makan bwahahaha..).

Setting panggung yang dibikin kotak melingkar memungkinkan performer buat menyapa semua penonton di sisi panggung manapun mereka berada itu konsep yang keren banget dan pasti bakal banyak dicontek konser musik berikutnya. Waktu pelaksanaan konser yg tepat jadwal, bahkan sebelum jam delapan personel /rif sudah naik panggung, juga sangat-sangat patut diapresiasi. Sayangnya pas menyanyikan lagu Indonesia Raya sempet ada trouble dan salah lirik yang terpampang di video pengiring (harusnya “Bangunlah BADANnya”, bukan “Bangunlah raganya”), tapi over all… Saya puas dengan keseluruhan konser ini. Meski Istora tidak sepenuh perkiraan saya sebelumnya (mungkin karena kurang promosi), secara pribadi, saya sangat menikmati pengalaman konser kali ini.

Me and Eka before the concert *photo courtesy of Eka

Me and Eka before the concert
*photo courtesy of Eka

Terima kasih pada penyelenggara dan kru yang memungkinkan pelaksanaan dan lancarnya konser ini, dan tentunya para performer, /rif dan Sheila On 7. You rock, guys!! \o/


Tentang Soundtrack Penyelamat Tugas Akhir

Seharian ini sambil bekerja, saya mendengarkan kembali dua album awal Josh Groban. Judulnya “Josh Groban” (2001) dan “Closer” (2003). Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa saya mengerjakan skripsi. Dua album inilah yang ketika itu menjadi teman setia saya dalam proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Thanx to Tina, temen sekos pada masa itu yang memperkenalkan Josh Groban ke dunia saya.

Selain suara dan lagu-lagunya yang memanjakan telinga, saya sangat terbantu dengan penggunaan berbagai bahasa dalam dua album itu. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk turut sing along ketika mendengar lagu yang bisa ikut saya nyanyikan. Apalagi kalau saya memahami arti lirik lagu itu, yang ada justru saya akan larut dalam kisah yang dibawakan. Sejauh ini bahasa asing yang saya pahami baru bahasa inggris. Padahal di album-album itu juga terdapat lagu-lagu yang berbahasa italia dan spanyol. Jadilah pada lagu-lagu ini hanya telinga yang saya fungsikan, sedangkan segmen otak divisi bahasa dan kata-kata terhubung pada skripsi. Kebayang kalo saya bisa ikut sing along semua, bisa-bisa skripsi saya nggak kelar-kelar.

Demikian pula ketika mengerjakan thesis. Ketika itu demam K-Pop sedang melanda, sehingga sangat mudah menemukan lagu-lagu yang catchy di telinga meski saya tak juga mengetahui maknanya. Memang sengaja tidak mencari tahu juga, biar lagu-lagu itu hanya selintas lewat sebagai musik pengiring saja. Tapi nggak spesifik juga ketika itu lagu siapa saja.

Selain tugas akhir, tentu masih banyak lagi musik-musik yang menjadi soundtrack berbagai kisah lain. Tapi lain kali saja saya cerita. Kalau kamu gimana? Lagu apa yang menjadi soundtrack kisahmu yang mana?

 

*postingan ini dibuat setelah mendapati ucapan Happy Anniversary dari WordPress atas tujuh tahun saya ngeblog di sini. Dan masih akan berlanjut lagi. :)


Sad – Maroon 5

“Man, it’s been a long day
Stuck thinking ’bout it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding on by a thin thin thread..”

Kemarin untuk pertama kalinya saya mencoba menyanyikan lagu ini saat karaokean dengan neng Buds. Kemudian saya terhenyak. Gilak lagu ini galaunya pas banget. Sini sini, mas Adam Levine peluk sini..


Everything Has Changed

Lagi suka lagu ini. Sederhana, manis, dan bikin senyum-senyum.


One Direction: This Is Us. A Nostalgia Of My Teenage Excitement.

Sebelumnya, saya mau membuat pengakuan. Saya udah nonton film ini. Di Bioskop. Dua kali. Dan saya sangat menikmati. Bwahahahahahahaha…..

Seriously. Saya pertama kali mengenal nama One Direction justru dari cemooh di 9gag pada awal kemunculan mereka, yang sekarang saya pahami sebagai kecemburuan cowo-cowo melihat cewe-cewe begitu terkesima dan tergila-gila pada lima cowo Inggris jebolan acara X Factor itu. And I totally understand the craziness because that’s what happened to me about Backstreet Boys and ‘NSync when i was a teenager. Level pemujaan yang sama dengan barisan penggemar Metallica yang memenuhi GBK Senayan beberapa waktu lalu. Beda objek, genre, dan generasi aja.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan Harry, Niall, Louis, Liam dan Zayn selama konser World Tour One Direction. Diselipi dengan kisah latar belakang masing-masing dan sudut pandang orang-orang di jejaring mereka. Kita diajak turut dalam perjalanan mereka dari negara ke negara, kenakalan yang memancing tawa, dan tentunya lagu-lagu catchy dalam konser yang disajikan dalam format 3D sehingga terasa lebih “nyata”. ¬†Sepanjang film mereka sukses mengajak saya ikut ketawa, nangis (excited, bukan sedih haru), dan tentunya ikut nyanyi dan joget goyang-goyang sambil megangin kacamata dobel yang sebetulnya agak merepotkan… tapi tetep aja goyang.

Jadilah saya keluar studio dengan bahagia dan makin sayang dengan adek-adek ganteng lucu nakal itu meski saya masih belum berhasil membedakan mana Louis dan mana Liam. Harry, Zayn dan Niall sudah berhasil saya identifikasi. Tinggal dua lagi untuk bisa mengaku Directionist sejati. Tapi mungkin karena memang saya gak segitunya juga.. Masih tetep jauh lebih ngefans ke BSB dan ‘NSync. Sekadar menikmati nostalgia sensasi jatuh cinta pada boysband seperti ketika remaja.

Gimana ga jatuh cinta, coba?

Gimana ga jatuh cinta, coba?


Kla Project The Glamorous Electronic Journey: Legendary!

H-1 sebelum konser Kla Project, salah satu band terkeren yang pernah (dan masih) ada di Indonesia, saya sempat terlibat chat singkat di Twitter dengan Retno, Rani, dan Uke, yang berujung dengan Retno nitip beli tiket konser tersebut di Indomaret dekat kos saya. Baru tau juga saya kalau tiket konser bisa dibeli di Indomaret. Saya tinggal menanyakan ke petugas kasir, kemudian petugas kasir akan mengecek availability-nya, pilih kelas, bayar, dan sayapun mendapatkan struk berisi kode tiket untuk ditukar di lokasi konser (atau lokasi yang ditentukan). Impulsively, sekalian saya beli juga. Selama ini saya memang menyukai lagu-lagu Kla Project dan semakin penasaran sejak diiming-imingi si adek dan teman-teman yang menonton konser mereka di Semarang, Juni tahun lalu. Jadi biar kali ini gantian saya yang nonton Konser 25 tahun Kla Project berkarya di bilantika musik Indonesia, sementara teman-teman saya itu tidak MWAHAHAHAHAHA!!

Rupanya konser kali ini tidak seperti konser-konser yang biasa saya datangi (meski sangat jarang juga saya rela bayar demi nonton konser). Penyelenggara nampaknya sangat percaya bahwa pengunjung konser ini adalah orang-orang yang beradab dan behave, sehingga pemeriksaan untuk pengamanan tidak seketat konser-konser lainnya. Tinggal cek barcode di tiket, dan kitapun dapat leluasa melenggang dengan panduan petugas yang menunjukkan arah tempat duduk sesuai kelas tiket kita. Tidak ada pemeriksaan tas, penitipan gadget/kamera, apalagi menuang minuman dalam plastik-plastik yang merepotkan. Bahkan para pengunjung leluasa saja menenteng plastik kresek berisi persediaan kudapan dan minuman ke dalam lokasi. Padahal saya sudah merencanakan penyelundupan minuman kotak yang saya sembunyikan dalam kemasan pembalut wanita, yang ternyata sia-sia saja karena tidak ada pemeriksaan sama sekali. Gak usah diumpetin juga tetep bisa dibawa masuk. Hih!

Konser Kla Project

Konser Kla Project

And the concert was AWESOME! Beberapa lagu yang dimainkan memang jarang saya dengar, tapi kebanyakan berhasil membuat saya sing along, bahkan ikut goyang di lagu “Gerimis” yang jadi lagu penutup. Cuma lagu “Someday” yang saya gak keturutan. Dan jangan bilang siapa-siapa kalo saya sempet menyeka air mata ketika lagu “Semoga” dilantunkan. Duh lagu itu ya memang… Beberapa kali hafalan lagu saya gak sesuai dengan Katon, mungkin karena faktor umur dan saking banyaknya lagu dengan rangkaian lirik puitis dan vocab yang sering tak biasa, jadi om Katon ada lupa dikit-dikit liriknya. But hey.. itu toh lagunya dia sendiri. Suka-suka dia lah mo gimana nyanyiinnya hahahaha…

Tapi dari sekian banyak lagu, justru lagu ini yang terus terngiang di pikiran saya hingga sekarang pun. Entah kenapa.

*kemudian pandangan menerawang*


P!ATD is Back!

Di antara guyuran artis dan band luar negeri yang datang ke Indonesia, hanya satu band yang saya tonton konsernya secara langsung: Panic! At The Disco. It was at Istora Senayan, tahun 2008 lalu. Saya memang sudah ngincer buat nonton konser mereka sejak pertama kali jatuh cinta dengan lagu-lagu di album “A Fever You Can’t Sweat Out”, yang diikuti dengan “Pretty. Odd.”. Suka aja merasa tertantang untuk “menaklukkan” kata-kata belibet di lagu-lagu album pertama dengan tema yang agak-agak nakal aneh tak biasa. Album keduanya lebih ringan, easy listening, tapi tetep enak di kuping. Setelah itu saya agak lost of track mereka ngapain aja. Baru beberapa hari lalu saya dengar P!ATD mengeluarkan single baru yang berjudul This Is Gospel dan sejak saya menonton videonya di youtube entah sudah berapa kali saya replay. Sepertinya album baru mereka akan menjanjikan.

“IF YOU LOVE ME LET ME GOOOOOOOOO”

*ikut tereak bareng Brendon Urie*

*dikeplak mas Brendon karena suara sember saya merusak lagu*

*keplak sayang*

aih..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya.