Category Archives: tips

The Preggo Me: Perlengkapan Kehamilan

Setiap kali browsing mengenai perlengkapan kehamilan saya malah jadi bingung sendiri saking banyaknya pilihan yang tersedia. Sepertinya adaaaa saja upaya produsen untuk menarik para ibu hamil berbelanja dengan embel-embel “pregnancy” atau “maternity” blablabla… Tapi kan masa kehamilan cuma sekian bulan. Do I really need it? Jangan sampai dong kita beli sesuatu yang sebenernya ga perlu-perlu amat apalagi kalo gak long lasting. Malah mubadzir ntar..

Sayapun mencoba bertanya-tanya ke teman-teman yang lebih “senior” dalam urusan perhamilan. Di sisi lain, saya coba meraba sendiri juga, kebutuhan pribadi karena tiap ibu hamil kan beda-beda kondisinya. Meski menyebut beberapa merk di sini, tapi beneran ini bukan ngiklan, cuma mau berbagi pengalaman. Meski ga nolak juga kalo ada yang mau ngasih gratisan hohohoho…

Bebantalan

Di antara yang pertama saya beli adalah bantal sandaran untuk kursi kerja. Bukan sesuatu yang spesifik, cuma bantal kotak kecil biasa yang saya peroleh di box diskonan Ace Hardware. Fungsinya untuk menyamankan posisi punggung di kursi kerja (mengingat sekian jam saya harus duduk di kubikel kantor setiap harinya) dan mengurangi back pain. Adapun untuk kenyamanan tidur, saya sempat tergoda dengan “maternity pillow” berbentuk U yang segede gaban. Tapi kemudian saya memutuskan untuk membeli bantal panjang biasa saja untuk menjalankan fungsinya. Pikir saya, maternity pillow sebesar itu pasti akan nampak aneh dan menuh-menuhin ruang. Nyatanya bantal panjang plus bantal guling yang sudah ada saja sudah cukup menyamankan posisi tidur saya.

bebantalanedit

*comot gambar dari sana-sini sampai lupa link-nya. maap..

Outfit

Untuk pakaian, saya tidak lantas mengganti seluruh isi lemari. Sekadar menyortir ulang antara rak yang “masih bisa dipakai” dan yang “pensiun sementara sampai muat dipakai lagi”. Perut yang perlahan mulai membesar awalnya membuat saya mengganti celana panjang yang ada dengan celana berkaret pinggang tapi modelnya juga masih yang biasa, bukan celana hamil. Menjelang akhir trimester kedua baru saya membekali diri dengan kostum yang lebih berbau “pregnancy”. Itupun saya hanya membeli tiga celana hamil (dengan kantong doraemon) berwarna gelap, dua baju hamil untuk kerja, satu baju kerja yang seukuran lebih besar, dan dua baju hamil untuk main. Adapun baju batik yang jadi kostum kerja tiap hari jumat, saya lebih memilih membeli yang model blazer kancing atas atau tanpa kancing sehingga tetap bisa digunakan setelah melahirkan. Selain itu, saya juga menambah koleksi gamis kaos yang lebih fleksibel dipakai di masa hamil maupun tidak. Cuma memang untuk kemudahan mobilitas jarang saya pakai di Jakarta. Pakainya lebih banyak ketika pulang Demak saja.

pengennya sih bisa stylish kayak mbak Blake Lively gini tapi... *pinjem gambar dari sini

pengennya sih bisa stylish kayak mbak Blake Lively gini tapi…
*pinjem gambar dari sini

Beberapa ibu hamil mengalami kaki bengkak yang mengharuskannya membeli sepatu satu atau dua ukuran lebih besar dari yang biasa dipakai. Alhamdulillah selama masa awal kehamilan saya masih bisa memakai koleksi sepatu yang sudah ada. Adapun memasuki masa tengah-akhirnya, tinggal dua sepatu yang saya gunakan sehari-hari. Mau kerja, main, jalan-jalan, gonta-ganti aja antara dua sepatu itu. Keduanya merk Skechers. Yang satu tipe GoWalk, satunya lagi casual. Memory foam-nya yang super nyaman sangat membantu kaki ibu hamil yang cenderung cepat lelah. Grip bawah yang mencengkeram permukaan juga membuat saya merasa aman karena meminimalisir kemungkinan terpeleset. Mayan lah ngirit ga perlu beli sepatu baru.

Underwear

Tapi rupanya ukuran bra tidak dapat menipu, karena bra-bra lama sudah mulai membuat sesak sehingga saya harus mulai bergeser pada ukuran yang baru. Ketika membeli bra baru-pun, saya lebih memilih membeli jenis nursing bra, itung-itung sekalian investasi buat masa menyusui nanti. Seiring membesarnya perut, kawat penyangga bra akan terasa menyesakkan dan bikin begah. Bra tanpa kawat jadi pilihan yang lebih nyaman. Pengennya sih beli kamisol bra-nya Aerism Uniqlo lagi. Bukan termasuk dalam kategori maternity undies sih. Kebetulan saja saya punya satu yang pas banget menyangga dan melar nyaman kainnya mengikuti tubuh. Tapi ya itu.. Mahal je.. Belum promo diskon lagi.

Tentang celana dalam, saya tetap dapat menggunakan ukuran seperti biasa, tapi modelnya lebih memilih yang mini saja. Yang ini tips dari nyah Priska. Celana dalam model lain seperti midi, boxer, apalagi maxi tidak dapat menampung bagian perut yang mulai menjembling. Tapi model mini mah tetep bakal nyangkut di bagian bawah perut. Dengan demikian, lumayan bisa berhemat. Toh celana dalam ini masih akan dapat terus dipakai setelah kehamilan. Saya coba juga buat beli celana dalam hamil, tapi ternyata tidak lebih nyaman karena kain yang menutup justru memicu gatal di perut yang sedang meregang kulitnya. Lagipula saya juga tidak suka model granny pants begitu.

Maternity Belt

Sejak awal masa kehamilan, salah seorang tante sudah menyarankan saya untuk memakai pregnancy/maternity belt untuk keamanan kandungan. Tante yang lain malah menyarankan “sayut”, semacam kain perban yang digunakan ala stagen konvensional untuk menyangga perut. Sempat saya tanyakan ke dokter tentang perlukah memakai belt ini, tapi dokter bilang sebetulnya tidak perlu. Hanya memang kebiasaan orang-orang kuno untuk lebih berhati-hati menjaga kandungan. Awalnya saya memilih tidak memakai karena gerah dan perut yang tidak terlalu besar membuat berasa “kopong” mengenakannya. Baru ketika memasuki trimester akhir saya mulai merutinkan diri memakai belt ini setiap bepergian lebih dari dua jam. Lebih nyaman dan aman saja rasanya ada yang “membantu membawa” perut yang mulai memberat. Jadi mengurangi back pain yang semakin tak terelakkan.

tipe maternity belt yang mirip dengan yang saya pakai.  *pinjam gambar dari sini

tipe maternity belt yang mirip dengan yang saya pakai.
*pinjam gambar dari sini

Items yang saya sebutkan di atas ada yang saya beli secara online, ada juga yang langsung datang ke toko. Celana hamil yang saya beli di toko lebih nyaman dipakai daripada yang saya beli online. Tentu karena dengan membeli di toko saya bisa mencoba langsung sebelum memutuskan membeli. Adapun baju hamil untuk kerja saya beli secara online saja. Bantal panjang dan bantal kerja lebih menyenangkan beli di toko karena bisa dites peluk-peluk duluan. Kalau celana dalam hamil dan maternity belt saya beli online karena toh all size. Tapi untuk bra menyusui/ nursing bra, saya sarankan membeli langsung di toko terlebih dahulu untuk memastikan ukuran nyaman terbaru. Ukuran di toko online kadang tidak standar, dan saya termasuk orang yang malas diribetkan dengan prosedur pengiriman tukar ukuran.

Apa lagi ya? Seinget saya itu saja. Nanti kalau ada yang yang mau ditambahkan tinggal saya update lagi deh..

Duh mbak Blake Lively ini kapan sih ga nampak gorgeous-nya?

Duh mbak Blake Lively ini kapan sih ga nampak gorgeous-nya?

 


Labirin Blok M

Waktu itu hari Sabtu, dan saya baru sadar kalau agenda yang saya rencanakan ternyata masih minggu depan. Sayapun mulai mencari-cari acara agar wiken ga nganggur di kost begitu saja seperti orang tak berguna. Mulailah saya memantau grup yang berisi teman-teman sesama perantau di ibukota. Kebetulan sedang ada tawaran untuk nonton The Raid 2 yang saya penasaran tapi ga berani buat menontonnya sendirian.

Akhirnya A, B (saya) dan C  sepakat buat nonton bareng. Jam 12.30, di Blok M Plaza. Si A yang tiba duluan membelikan tiket untuk bertiga. Tak lama si B datang. Akan tetapi si C tak muncul hingga pengumuman film di teater 1 telah dimulai. A dan B kemudian masuk ke studio terlebih dahulu dengan menitipkan tiket si C kepada mbak penjaga pintu. Pembicaraan berikutnya masih berlangsung di grup, antara A dan C. Karena B tentu saja tak mau menyentuh gadget lagi begitu film dimulai.  (pembicaraan diedit seperlunya)

A: C! Udah sampe mana? di A12. Studio 1.

C: Lagi di lift.

A: Langsung masuk aja.. Tadi dititipin mbaknya yang jaga. Mbaknya cakep.

C: Bioskop berapa, A?

A: 1. Saaatuuuu

C: Yang jaga mana? Ga ada.

A: Ya udah masuk aja

C: Blok M kan, A?

A: Iya.. Blok M plaza.

C: Kok filmnya beda ya hahaha

A: Studio 1, C. wah jangan-jangan di Blok M Square.. The Raid 2 Berandal

C: A, lo ga ada

A: Blok M Plaza

C: Salah studio kali. Ini udah A12

A: Lho? Filmnya apa?

C: The raid kan? Coba lo berdiri

A: A itu di atas

C: Iya tau. Lo berdiri coba

A: Ogah ah

C: Hahaha sial.. Ini sama-sama the raid

A: A12 studio 1 Blok M Plaza

C: Jirutttt Blok M Plaza ama Mall beda ga?

A: Ya beda atuuuuh

C: Sial.. ini tempat duduknya siapa? Kosong tak tempatin. Sama-sama The Raid wakakakakaka … Tadi mbaknya bilang ada 2 orang cowok cewek nitipin tiket juga. Mbuh tiketnya siapa yang ta pake ini. Tempatnya banyak yang kosong.

Jadilah ternyata, si C itu salah gedung. Dia nonton di Blok M Square. Padahal A dan B nonton di Blok M Plaza. Kedua bioskop memutar The Raid di Studio 1 pada jam yang hampir bersamaan. Si C bisa masuk studio karena seperti halnya A dan B yang menitipkan tiket pada mbak penjaga pintu studio Blok M Plaza, dua orang cowo-cewe juga menitipkan tiket untuk temannya di Blok M Square. Entah siapa yang mungkin jadi tertahan di depan pintu studio karena jatah tiketnya digunakan si C.. Maafkan teman saya ya…

Area Blok M yang ramai crowded dan banyak pusat perbelanjaan memang kadang bisa membingungkan seperti labirin bagi orang yang belum terbiasa. Momen salah gedung seperti tadi bukan hanya sekali dua kali saya alami, tapi ya tak urung maklum juga.. Untuk lebih mempermudah, begini deh posisinya di gugelmep:

BLOK M

Selain Blok M Plaza dan Blok M Square seperti tampak dalam peta di atas, masih ada Pasaraya Grande di kanan Blok M Square (samping pintu keluar Terminal Blok M), Blok M Mall di atasnya (posisi di bawah tanah sejajar terminal Blok M), dan Melawai Plaza di bawahnya (samping belakang Pasaraya Grande). Bingung, bingung deh..


Mengolah Rasa di Aula Simfonia Jakarta

“Mau nonton orkestra nggak?” tanya neng Buds di tengah obrolan pasca sesi curcol berbalut latihan olah vokal. Orkestra beneran? Musik klasik? Kayak di Nodame Cantabile? Tanpa berpikir limabelas kalipun saya berseru “Mauuuuu!!”. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, di Jakarta rupanya ada konser musik klasik yang digelar setiap bulan di Aula Simfonia Jakarta. Dengan bantuan Juliarta yang sudah biasa menonton sebelumnya, kami memesan tiket kelas tengahan yang cukup nyaman tapi dengan harga yang masih terjangkau. Range harga tiket pertunjukan di Aula Simfonia Jakarta sangat beragam. Mulai dari Rp.50.000 (untuk siswa) hingga Rp.1.000.000. Setelah tiket terpesan, kami tinggal datang pada hari H disarankan satu jam sebelum pertunjukan telah tiba di lokasi.

Pukul setengah lima kami sampai di Aula Simfonia. Tinggal menuju loket untuk mengambil tiket dengan menunjukkan bukti transfer pembayaran. Jika sebelum berangkat saya sempat bingung harus pakai baju apa  karena di dresscode disebutkan “long dress atau batik” dan disarankan untuk berdandan resmi seperti hendak menghadiri resepsi, yang saya temukan di aula ruang tunggu sangat beragam. Banyak penonton yang tampil resmi sesuai dresscode (pria: mengenakan suit atau batik, dan wanita ber-longdress atau batik juga), tapi tak sedikit pula yang berdandan lebih casual seperti layaknya pergi ke mall. Meski tentunya yang ini tidak saya sarankan. Aturan berpakaian kan dibuat untuk menghormati acaranya juga.

aula simfonia jakarta

first timer to Aula Simfonia Jakarta

Pukul lima sore, penonton dipersilakan masuk ke concert hall yang sumpah bagus banget! Berasa lagi di eropa padahal saya belum pernah ke sana). Di tengah jalur menuju tempat duduk, kami dibekali booklet acara yang membuat penikmat pemula seperti saya merasa tidak terlalu tersesat dalam pertunjukan. Kemudian pertunjukan dimulai dengan pengantar dari Dr.Stephen Tong dan permainan piano Gloria Teo yang membuat saya terkesima. For whatever’s sake she’s only 18 and so talented as if she blends into the music she played. Setelahnya, saya hanyut. Amazed. Speechless.

Di tengah durasi dua jam, tersedia break 15 menit yang saya gunakan bergegas ke musholla yang berada di basement. Rupanya bukan hanya saya dan neng Buds yang bermaksud serupa. Kamipun sholat maghrib berjama’ah dengan beberapa orang yang saya kenali sebagai pemain orkestra. Keren! 15 menit yang singkat namun cukup untuk kami kembali ke concert hall dan menikmati sesi kedua tanpa terlambat dan kembali tenggelam dalam alunan musik indah hingga saatnya kami berdiri dari tempat duduk untuk memberikan standing ovation pada para musisi di akhir acara.

CAM00537

The girls, after the concert.

Beberapa catatan saya kalau lain kali mau nonton orkestra lagi:

  1. Dress accordingly. Nggak perlu heboh banget, tapi juga jangan terlalu santai lah.. Dandan ala kondangan saya rasa sudah cukup pantas dan tidak mengganggu pemandangan.
  2. Hadir minimal setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Jeda waktu ini dapat dimanfaatkan untuk ke toilet, makan makanan ringan atau minum secukupnya. Karena begitu kita masuk di concert hall, jangan harap untuk keluar masuk ruangan atau ngemil popcorn macam di bioskop. Ini juga terkait jeda 15 menit di tengah acara yang hanya cukup untuk satu aktifitas. Bagi muslim yang menjalankan sholat maghrib, sudah tentu waktu habis untuk sholat saja. Maka keperluan ke toilet harus dilaksanakan sebelum acara.
  3. Duduk tenang. Akustik gedung sudah dirancang untuk memantulkan suara dengan sempurna. Setiap dehem, krusek-krusek, apalagi obrolan akan sangat mengganggu konsentrasi pemain dan penonton lain. Just sit back, relax, and enjoy the music.
  4. Tepuk tangan hanya dilakukan setiap selesai satu lagu. Standing ovation dilakukan di akhir konser. Remember, this is classical music, not rock concert.

Bulan depan nonton lagi yuk..


Penemuan Hari Ini: Menghilangkan Bau Apek Pada Tumbler Dan Stoples

Setelah sempat beberapa waktu tertinggal di rumah, tumbler tempat minum saya akhirnya saya bawa lagi ke kosan. Pagi ini saya ingin menggunakannya lagi untuk membawa bekal air putih ke kantor. Ketika saya coba minum, terasa ada bau apek akibat penyimpanan dalam waktu lama. Mungkin sewaktu mulai disimpan tumblernya masih dalam kondisi lembab. Padahal saya membawanya dalam kondisi bersih dari almari, dan sebelumnya juga sempat saya cuci ulang menggunakan sabun cuci piring seperti biasa. Tapi kok masih apek ya? Dan sebagai sarana minum air putih, bau apek ini sangat mengganggu cita rasa.

Kebetulan saya baru saja mempraktekkan tips dari mas Wawan untuk menghilangkan dahak karena batuk yang sedang mendera. Kenapa tidak saya coba trik yang sama untuk tumbler ini? Toh tak ada salahnya. Worst case scenario, air minum saya akan berasa asin beberapa saat. Saya isi sepertiga tumbler dengan air hangat matang, lalu menuang kira-kira satu sendok makan garam. Tutup rapat, lalu kocok layaknya bartender menyiapkan minuman untuk James Bond, “shaken not stirred”. Buang air garam, trus bilas dengan air biasa yang matang juga. Setelahnya saya coba lagi menuang air untuk saya minum. Dan bau apeknya ilang sodara-sodaraaaa…

Tips serupa juga dapat digunakan pada stoples, namun entah kalau perabot makan lain yang tak dapat ditutup. Coba saja, lalu beritahu saya yaaa…