Monthly Archives: September 2013

One Direction: This Is Us. A Nostalgia Of My Teenage Excitement.

Sebelumnya, saya mau membuat pengakuan. Saya udah nonton film ini. Di Bioskop. Dua kali. Dan saya sangat menikmati. Bwahahahahahahaha…..

Seriously. Saya pertama kali mengenal nama One Direction justru dari cemooh di 9gag pada awal kemunculan mereka, yang sekarang saya pahami sebagai kecemburuan cowo-cowo melihat cewe-cewe begitu terkesima dan tergila-gila pada lima cowo Inggris jebolan acara X Factor itu. And I totally understand the craziness because that’s what happened to me about Backstreet Boys and ‘NSync when i was a teenager. Level pemujaan yang sama dengan barisan penggemar Metallica yang memenuhi GBK Senayan beberapa waktu lalu. Beda objek, genre, dan generasi aja.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan Harry, Niall, Louis, Liam dan Zayn selama konser World Tour One Direction. Diselipi dengan kisah latar belakang masing-masing dan sudut pandang orang-orang di jejaring mereka. Kita diajak turut dalam perjalanan mereka dari negara ke negara, kenakalan yang memancing tawa, dan tentunya lagu-lagu catchy dalam konser yang disajikan dalam format 3D sehingga terasa lebih “nyata”.  Sepanjang film mereka sukses mengajak saya ikut ketawa, nangis (excited, bukan sedih haru), dan tentunya ikut nyanyi dan joget goyang-goyang sambil megangin kacamata dobel yang sebetulnya agak merepotkan… tapi tetep aja goyang.

Jadilah saya keluar studio dengan bahagia dan makin sayang dengan adek-adek ganteng lucu nakal itu meski saya masih belum berhasil membedakan mana Louis dan mana Liam. Harry, Zayn dan Niall sudah berhasil saya identifikasi. Tinggal dua lagi untuk bisa mengaku Directionist sejati. Tapi mungkin karena memang saya gak segitunya juga.. Masih tetep jauh lebih ngefans ke BSB dan ‘NSync. Sekadar menikmati nostalgia sensasi jatuh cinta pada boysband seperti ketika remaja.

Gimana ga jatuh cinta, coba?

Gimana ga jatuh cinta, coba?

Iklan

Perubahan

koper hijau gandengan baru

koper hijau gandengan baru

Empat tahun lalu, untuk beperjalanan hingga seminggu saya masih memilih menggunakan ransel. Sekarang, bepergian lebih dari tiga hari saja, mending menyeret benda kotak beroda yang berjuluk koper ini. Padahal dulu gengsi. Terlalu mapan. Kurang bad ass. Tapi seiring waktu berlalu, pundak yang bebas tanpa pegal-pegal terasa lebih berharga ketimbang penampakan yang (menurut saya sendiri) keren dan sangar. Kalau bisa ringan, kenapa harus dibikin berat?

Ayo berangkat!