Tag Archives: garin nugroho

Mengenal Tjokroaminoto

hos tjokroIya, mengenal. Sebelum nonton film terbaru Garin Nugroho yang masih tayang di bioskop ini, saya hanya mengetahui Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai pahlawan nasional yang namanya sering disingkat HOS Tjokroaminoto dan digunakan sebagai nama jalan. Jaman sekolahpun cerita mengenai beliau dan organisasinya hanya nyantol di kepala sebatas bahan persiapan ujian. Baru di film Guru Bangsa Tjokroaminoto, saya mendapat cerita yang lebih panjang mengenai profil dan sepak terjang sosok yang dijuluki “Yang Utama” dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah saya cerna, yaitu melalui film.

Jika semula banyak yang khawatir kebingungan dengan cast Reza Rahadian di film ini, tenang saja.. Dia melakukan tugasnya dengan cemerlang (seperti biasa) dan saya sama sekali tidak melihat Habibie di sosok HOS Tjokroaminoto yang ditampilkannya. Demikian pula Tanta Ginting, yang sehari sebelumnya saya lihat sebagai agen properti cenderung melambai di Filosofi Kopi, di sini juga cukup meyakinkan sebagai Semaoen yang idealis sosialis meledak-ledak bahkan radikal. Well.. agak mirip dengan Sjahrir yang dibawakannya dalam Soekarno sih.. Tapi beda kok. They’re professionals.

hos tjokro juga

Selain kedua aktor di atas, film ini juga bertabur banyak bintang. Agak overwhelming malah melihat Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Sudjiwo Tedjo, Ibnu Jamil, hingga Maia Estianti, Deva Mahenra dan Chelsea Islan dalam satu film. Putri Ayudya (yang dari beberapa angle mirip banget ama mbak Medina @memethmeong) sang pendatang barupun tampil mengesankan sebagai ibu Soeharsikin, istri HOS Tjokroaminoto. Selain para star cast, saya juga suka sekali tokoh Mbok Toen dan Tukang Penjual Dingklik (kursi) yang selalu luwes memancing tawa.

hos tjokro lagi

Seperti khasnya karya Garin, film ini ditampilkan indah dan artistik. Pada beberapa scene bahkan cenderung teatrikal lengkap dengan sang aktor memandang lurus ke arah kamera seperti ingin menyampaikan dialog kaya makna langsung pada penonton. Hanya saja, durasi yang begitu panjang (161 menit), membuat beberapa orang yang gak niat nonton film sejarah (apalagi kalau nontonnya sebagai alternatif karena kehabisan tiket Fast and Furious 7) keluar dari studio di tengah film. Itupun saya percaya tim editor sudah berusaha sedemikian rupa mengkompress durasi karena beberapa scene berasa terpenggal tanpa kita diberi tau latar cerita itu tokoh siapa dan bagaimananya. Seperti sosok balerina berwajah cina yang ujug-ujug nongol di tengah pertempuran tanpa kulonuwun. Baru di bagian akhir film balerina itu nongol lagi bersama teman-temannya menari di gedung gubernur baru. Bahkan kehadiran sosok Stella yang diperankan Chelsea Islan-pun tak jarang membingungkan saya. Cantik sih.. but it looks like she’s everywhere. Semacam stalker atau grupisnya pak Tjokro saja.

Dan berhubung saya baru minggu lalu dari Museum Ullen Sentalu setelah beberapa waktu sebelumnya ke museum Danar Hadi, saya jadi memperhatikan motif batik yang dikenakan para pemain. Sempat terlihat beberapa buruh mengenakan batik motif parang dan kawung sebelum Mbok Tambeng mengatakan bahwa batik yang termasuk motif larangan (hanya boleh dikenakan keluarga kerajaan) itu mulai boleh digunakan oleh rakyat jelata (kalau tidak salah, kebijakan ini dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang super keren, moderat, dan saya jadi ngefans itu). Well, mungkin saking banyaknya motif batik yang beredar di pasaran sekarang, jadi detil sejarah penggunaan motif batik, yang saya yakin nggak semua orang jawa memahami pun, terlewatkan.

hos lagi

Meski demikian, saya sangat terpukau dengan detil properti berupa kereta trem yang masih berfungsi, berjalan di relnya yang tentu tak akan kita temui lagi di kota yang sesungguhnya di masa sekarang. Lagu-lagu yang menjadi pengiring juga pas di kuping. Saya suka sekali lagu yang dinyanyikan Maia Estianti sebagai ibunda Soeharsikin. Tokoh yang diperankannya pasti sangat luar biasa di masa itu, seorang perempuan jawa berlogat medhok surabaya, istri bupati, yang piawai memainkan piano menyanyikan lagu berbahasa inggris. Ibu Mangoensoemo, you rock!!

Durasi panjang yang sempat saya khawatirkan membuat ibu hamil ini mengantuk dan ketiduran, ternyata masih aman. Saya tetap terjaga dan antusias mengikuti cerita meski sambil menahan pipis. Jadi saya sangat merekomendasikan film ini untuk segera ditonton mumpung belum turun dari layar.

*gambar-gambar dipinjam dari sini


Opera Jawa

Setelah sekian lama penasaran dengan film ini, akhirnya semalem nonton juga. Sempet ketinggalan waktu diputer di Jiffest, gara-gara jam tayangnya pas gw masi di kantor. Untung film ini tus diputar lagi serentak di 4 kota: Jakarta, Bandung, Semarang dan Jogja.

Sebelum berangkat si sempet kepikiran dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan sebuah film serius yang mungkin akan memaksa dahi sedikit berkerut untuk memahaminya. Secara, ini film masuk nominasi berbagai festival internasional seperti Toronto Film Festival, London Film Festival dan Venice Film Festival, selain tentunya Festival Film Indonesia. Ternyata sama sekali tidak saudara-saudara!! Film mengalir dengan indah dan gw sangat menikmatinya. Garin emang T-O-P deh dalam hal meramu komposisi yang indah.

Ini film lebi kayak teater yang difilmkan. Dialog antar pemain dilantunkan dalam tembang-tembang jawa, yang herannya bukan cuma dalam dialek Solo-Jogja-an, tapi sampe dialek Tegal pun ada. Uda gitu kostum pemain-pemainnya bisa mewakili kebhinnekaan budaya Indonesia. Bukan cuma pakaian adat Jawa, tapi dari Sulawesi, Bali, sampai Papua. Bener-bener kombinasi pemandangan yang membuat kita sadar betapa kayanya budaya negeri kita. Settingnya juga bagus banget. Bikin bangga jadi orang Indonesia dengan keindahan alamnya.

Film ini bercerita tentang Kisah cinta segitiga antara Siti (Artika Sari Devi), Setyo (Martinus Miroto) dan Ludiro (Eko Supriyanto) dalam kehidupan masyarakat masa itu, yang sarat dengan berbagai problematika ekonomi, sosial bahkan politik.

Hal lain yang membuat film ini sangat berkesan buat gw adalah betapa film ini mampu merubah sudut pandang gw tentang tokoh-tokoh dalam kisah Ramayana seperti yang tersimbolisasi dalam film ini. Sinta yang direpresentasikan oleh Siti, bagaimanapun adalah perempuan biasa yang ingin disayang, dipuja dan dimanja. Namun kesetiaannya, jangan pernah diragukan. Karena sebagaimanapun dia tersanjung oleh apa yang dilakukan Rahwana untuknya, dia tetap setia pada Rama, suaminya. Sedangkan Rama, yang disimbolkan oleh tokoh Setyo, adalah lelaki konvensional yang egosentris, pemarah dan cemburuan. Jangan sampe deh punya suami kayak gitu hiyyy… Justru Rahwana, dalam sosok Ludiro, dibalik sosok garangnya adalah pria yang romantis, pencinta, anak mama, dan bukan pemaksa. Nah kalo gitu kenapa Sinta gak jadi ama Rahwana aja, kok mala ama Rama?? Ternyata saudara-saudara.. Mereka beda agama. Kalo keluarga Rama kan Hindu, sementara Rahwana itu Katolik. Loh kok bisa?? Ya tonton aja filmnya.

Terlepas dari interpretasi ngawur gw tentang alur cerita film ini, ini film emang layak tonton. Akting para pemerannya mantap. Emang si.. lipsync-nya Artika keliatan banget. Tapi mungkin emang itu yang terbaik daripada maksa Artika nyanyi beneran kalo hasilnya mala ngaco itu film hehehe…

*pinjem gambar dari sini dan sini