Category Archives: film

Pitch Perfect 2: It’s Worth The Wait!

Sequel yang sudah saya tunggu sejak berkali-kali menonton ulang film pertamanya akhirnya tayang juga: Pitch Perfect 2. Dan penantian nyaris tiga tahun itu sama sekali tidak mengecewakan. Pada beberapa adegan dan bagian memang terkesan klise dan “oh please..!” tapi sama sekali tidak mengurangi kepuasan saya menonton film ini. Das Sound Machine, rival berat The Barden Bellas kali ini begitu memukau sehingga membuat saya tidak bisa membenci mereka. Bayangpun Uprising-nya Muse dalam versi acapella! Saya bahkan menjadi sangat emosional di bagian final performance, i literally cried tears of joy.

I definitely would watch this movie (and listen to the soundtrack) all over again just like the first movie.

pitch perfect 2

Oh iya, jangan langsung meninggalkan kursi ketika film berakhir, karena di tengah credit title ada extra scene yang sangat layak ditunggu ūüėČ

*pinjem gambar dari sini


Mengenal Tjokroaminoto

hos tjokroIya, mengenal. Sebelum nonton film terbaru Garin Nugroho yang masih tayang di bioskop ini, saya hanya mengetahui Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai pahlawan nasional yang namanya sering disingkat HOS Tjokroaminoto dan digunakan sebagai nama jalan. Jaman sekolahpun cerita mengenai beliau dan organisasinya hanya nyantol di kepala sebatas bahan persiapan ujian. Baru di film Guru Bangsa Tjokroaminoto,¬†saya mendapat cerita yang lebih panjang mengenai profil dan sepak terjang sosok yang dijuluki “Yang Utama” dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah saya cerna, yaitu melalui film.

Jika semula banyak yang khawatir kebingungan dengan cast Reza Rahadian di film ini, tenang saja.. Dia melakukan tugasnya dengan cemerlang (seperti biasa) dan saya sama sekali tidak melihat Habibie di sosok HOS Tjokroaminoto yang ditampilkannya. Demikian pula Tanta Ginting, yang sehari sebelumnya saya lihat sebagai agen properti cenderung melambai di Filosofi Kopi, di sini juga cukup meyakinkan sebagai Semaoen yang idealis sosialis meledak-ledak bahkan radikal. Well.. agak mirip dengan Sjahrir¬†yang dibawakannya dalam Soekarno sih.. Tapi beda kok. They’re professionals.

hos tjokro juga

Selain kedua aktor di atas, film ini juga bertabur banyak bintang. Agak overwhelming malah melihat Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Sudjiwo Tedjo, Ibnu Jamil, hingga Maia Estianti, Deva Mahenra dan Chelsea Islan dalam satu film. Putri Ayudya (yang dari beberapa angle mirip banget ama mbak Medina @memethmeong) sang pendatang barupun tampil mengesankan sebagai ibu Soeharsikin, istri HOS Tjokroaminoto. Selain para star cast, saya juga suka sekali tokoh Mbok Toen dan Tukang Penjual Dingklik (kursi) yang selalu luwes memancing tawa.

hos tjokro lagi

Seperti khasnya karya Garin, film ini ditampilkan indah dan artistik. Pada beberapa scene bahkan cenderung teatrikal lengkap dengan sang aktor memandang lurus ke arah kamera seperti ingin menyampaikan dialog kaya makna langsung pada penonton. Hanya saja, durasi yang begitu panjang (161 menit), membuat beberapa orang yang gak niat nonton film sejarah (apalagi kalau nontonnya sebagai alternatif karena kehabisan tiket Fast and Furious 7) keluar dari studio di tengah film. Itupun saya percaya tim editor sudah berusaha sedemikian rupa mengkompress durasi karena beberapa scene berasa terpenggal tanpa kita diberi tau latar cerita itu tokoh siapa dan bagaimananya. Seperti sosok balerina berwajah cina yang ujug-ujug nongol di tengah pertempuran tanpa kulonuwun. Baru di bagian akhir film balerina itu nongol lagi bersama teman-temannya menari di gedung gubernur baru. Bahkan kehadiran sosok Stella yang diperankan Chelsea Islan-pun tak jarang membingungkan saya. Cantik sih.. but it looks like she’s everywhere. Semacam stalker atau grupisnya pak Tjokro saja.

Dan berhubung saya baru minggu lalu dari Museum Ullen Sentalu setelah beberapa waktu sebelumnya ke museum Danar Hadi, saya jadi memperhatikan motif batik yang dikenakan para pemain. Sempat terlihat beberapa buruh mengenakan batik motif parang dan kawung sebelum Mbok Tambeng mengatakan bahwa batik yang termasuk motif larangan (hanya boleh dikenakan keluarga kerajaan) itu mulai boleh digunakan oleh rakyat jelata (kalau tidak salah, kebijakan ini dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang super keren, moderat, dan saya jadi ngefans itu). Well, mungkin saking banyaknya motif batik yang beredar di pasaran sekarang, jadi detil sejarah penggunaan motif batik, yang saya yakin nggak semua orang jawa memahami pun, terlewatkan.

hos lagi

Meski demikian, saya sangat terpukau dengan detil properti berupa kereta trem yang masih berfungsi, berjalan di relnya yang tentu tak akan kita temui lagi di kota yang sesungguhnya di masa sekarang. Lagu-lagu yang menjadi pengiring juga pas di kuping. Saya suka sekali lagu yang dinyanyikan Maia Estianti sebagai ibunda Soeharsikin. Tokoh yang diperankannya pasti sangat luar biasa di masa itu, seorang perempuan jawa berlogat medhok surabaya, istri bupati, yang piawai memainkan piano menyanyikan lagu berbahasa inggris. Ibu Mangoensoemo, you rock!!

Durasi panjang yang sempat saya khawatirkan membuat ibu hamil ini mengantuk dan ketiduran, ternyata masih aman. Saya tetap terjaga dan antusias mengikuti cerita meski sambil menahan pipis. Jadi saya sangat merekomendasikan film ini untuk segera ditonton mumpung belum turun dari layar.

*gambar-gambar dipinjam dari sini


Tentang Kapan Kawin?

Judul film ini memang terkesan nyebelin. Well.. pertanyaan itu sempat¬†menjadi salah satu teror yang pernah saya dapatkan dan membuat saya tak segan memasukkan beberapa orang dalam kolom “Lebih-Baik-Nggak-Temenan-Daripada-Bikin-Senewen”. Oh yes, it’s THAT annoying! Untunglah fase itu telah berlalu. kapan-kawin

Di film ini, Dinda, seorang manajer hotel ternama di Jakarta mengalami hal serupa. Orang tuanya di Jogja meneror psikologis sedemikian rupa, meminta Dinda untuk membawa pasangan pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Demi tidak mengecewakan kedua orangtuanya, Dindapun menyewa seorang aktor jalanan, Satrio, untuk dapat berperan sebagai kekasih di hadapan keluarganya.

Namun rupanya bukan hanya Dinda yang punya rencana, orangtuanya (dan bahkan Satriopun) juga. Situasi ini makin complicated dengan kehadiran Nadia, kakak Dinda, yang menjadi putri kebanggaan kedua orangtua karena “prestasi”-nya menikah dan punya anak pada usia “seharusnya”, dengan suami yang “sempurna”. Tentu saja lagi-lagi menurut ukuran kedua orangtua Dinda.

Cerita yang diangkat mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi saya sangat terkesan dengan keluwesan para aktor-aktris bermain-main dengan karakternya. Kayaknya cuma peran Nadia dan Jerry, suaminya, saja yang masih beraroma sinetron. Tapi tokoh-tokoh lain sungguh wajar dipandang mata. Apalagi dengan penggunaan bahasa jawa yang baik dan benar, mulai dari cara pengucapan, penggunaan tingkat bahasa (krama-madya-ngoko), bahkan misuhnya pun pas hahahaha…. Selain itu saya juga sangat suka memperhatikan outfitnya Adinia Wirasti. Siapa sih penata kostumnya? Top banget dah seleranya! Bisa jadi cantik etnik sophisticated gitu. 142346239824159_630x349 Yang jelas film ini entertaining banget. Lucu, tapi makna yang disampaikan juga dalem dan mengena. I highly recommend this movie for us all to watch. Buat yang masih sering dapet rongrongan pertanyaan ini kayaknya justru ini kesempatan bagus buat ngajak para peneror itu ikut nonton serta. Biar bisa sama-sama belajar.

“Kalau kamu mau bikin orang lain bahagia, kamu dulu yang harus bahagia”.

*pinjem gambar dari sini dan situ


Interstellar: A Must Watch Movie of the Year

Tahun 2014 belum juga habis dan saya sudah berani mentahbiskan Interstellar sebagai salah satu film terbaik yang dirilis tahun ini. And yes, YOU – MUST – WATCH – IT. Akan lebih sempurna lagi kalau ditonton dalam versi 4dx atau IMAX.

Iya sih, saya pernah mual ketika nonton 4dx. Tapi ketika mendengar ada yang menyebut bahwa Interstellar merupakan gabungan dari Inception dan Gravity, saya pun bersikukuh untuk menonton ini film setidaknya di IMAX, syukur-syukur 4dx. Pengalaman saya nonton Gravity di studio biasa bikin nyesel karena kebayang efek itu film pasti bisa lebih dahsyat kalau saya tonton di 4dx.

Benar saja, adegan-adegan di luar angkasa sungguh sangat luar biasa efeknya. Apalagi ketika adegan melayang terapung-apung pada zero gravity. Bisa berasa seakan kita ada di sana juga. Oh terima kasih, teknologi!

Sayangnya saya salah perhitungan tentang kapasitas kandung kemih sendiri, sehingga goncangan-goncangan tersebut sempat memperparah sensasi kebelet pipis di tengah film. Alhasil, saya harus dengan amat sangat terpaksa berlari (literally) ke toilet beberapa menit di tengah film juga ketika kembali ke studio lagi, saking gak rela kehilangan jalan cerita. Makanya kalau mau nonton film ini saya sarankan jangan terlalu banyak minum sebelum dan selama nonton, juga ngetap dulu ke toilet sebelum film mulai deh daripada kebelet di tengah film.

(pinjem gambar dari sini)

(pinjem gambar dari sini)

Meski demikian, durasi yang tiga jam itu sama sekali tidak akan membosankan. Sepanjang film selalu saja ada kejutan, emosi dan ketegangan yang disuguhkan Nolan bersaudara ke hadapan yang tak jarang membuat saya berlinang air mata atau bengong dengan mulut menganga saking terpesonanya. Ketika film selesaipun, saya masih duduk terpana. Berusaha mencerna segala yang baru saja saya serap, and it was MIND BLOWING!

Great job, Mr. Nolan!


Tiga Hari Nonton Film Dalam Negeri

“Aku tuh males nonton film Indonesia. Abisnya ga bermutu! Isinya cuma horor esek-esek doang”, ujar seorang teman ketika saya ajak nonton film Indonesia yang sedang tayang. Tentu saja langsung saya tukas “Siapa bilang? Itu kan tergantung yang lu tonton film apaan”. Masih banyak loh film Indonesia bagus yang sama sekali bukan genre horor esek-esek (yang mungkin cuma itu yang dilihatnya)

Tiga hari kemarin saya berkesempatan nonton film-film Indonesia bagus yang bikin makin bangga dengan para pembuat film dalam negeri. Tema yang ditampilkan beragam. Dan yang pasti bisa membawa saya dalam rangkaian cerita yang disajikan.

1. Garuda 19

Bersama rekan-rekan blogger Kopdar Jakarta, saya mendapatkan undangan dari mbak Swastika Nohara, sang penulis naskah, untuk menghadiri premier film yang baru akan tayang serentak 9 Oktober 2014 mendatang.

Kopdar Jakarta sebelum masuk studio buat nonton Garuda 19 (photo courtesy of tikabanget)

Foto dulu bareng Kopdar Jakarta sebelum masuk studio buat nonton Garuda 19 (photo courtesy of tikabanget)

Jika kita sempat turut dalam sorak-sorai bangga terhadap perjuangan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-19, film ini mengajak kita menengok proses di baliknya. Bagaimana perjalanan mereka hingga menjadi tim yang solid dan membawa harum nama bangsa. Bukan cuma¬†perjalanan bocah-bocah luar biasa itu dari berbagai pelosok Indonesia, tapi juga bagaimana coach Indra Sjafrie dan para official menggembleng mereka dengan berbagai keterbatasan yang ada. Hiiiiih… jadi makin gemes sama PSSI. Pengen ta sentil satu-satu pake raket nyamuk itu orang-orang yang cuma rebutan kursi tanpa mikir gimana kaderisasi¬†atlet untuk berprestasi.

Sebelum¬†nonton pun, melalui akun twitter dan blog mbak Tika selama proses syuting, kami sudah mendapat sedikit bocoran bahwa film ini akan membawa kita keliling Indonesia. Dan benar saja, setting film yang terpampang mulai dari Alor, Konawe, Buton, hingga Jogja, begitu indah dan menggelitik untuk menggendong ransel menjelajahinya. Yang jelas ini film bikin saya makin cinta ama Timnas Garuda Muda. Apalagi melihat kegigihan tekad Yabes yang lari 15 kilometer untuk pulang dari lapangan sepakbola, saya jadi berasa cemen sekali kalau jarak tak sampai dua kilometer ke kantor saja naik bajaj. Tapi kan.. Tapi.. Tapiiii… Lari di Alor ga pakai resiko kesenggol bajaj atau paru-paru jebol karena polusi, coba di Jakarta.. (iya ini ahlesyan saya saja).

2. Negeri Tanpa Telinga

Jika film sebelumnya mengangkat cerita dunia olahraga, film yang ini lebih menyoroti dunia politik dalam negeri. Penonton yang sudah biasa mengikuti berita politik beberapa waktu terakhir pasti bisa ikut geli melihat berbagai sindiran dan plesetan kasus dan tokoh-tokoh yang ada di film ini. Lola Amaria dengan cerdas menyentil perilaku politikus yang bikin ketawa miris saking lucunya sampe pengen nyekek.

Tokoh-tokoh dengan berbagai latar belakang di film ini secara “kebetulan” terhubung oleh seorang tukang pijit urut. Sebuah profesi yang mungkin banyak dipandang remeh, tapi justru membuka kesempatan terhadap jaringan informasi classified melalui percakapan-percakapan yang tanpa sengaja didengar selagi¬†bekerja. Pengetahuan yang tak disangkanya, malah jadi mengancam keselamatan diri dan keluarganya.

Kalau saya tidak keliru, film ini sempat turun dari bioskop. Untung saja, ketika browsing film kemarin hari itu, saya melihat judul film ini terpampang lagi di layar. Penontonnya memang tak seramai Annabelle (yang demi apapun tidak akan saya tonton, terima kasih), tapi saya merasa beruntung bisa menikmati film cerdas ini di layar lebar. Semoga Lola Amaria dan para sineas nasional tak jera membuat film yang sarat muatan kritik sosial dan membukakan mata, bukan hanya dongeng hiburan belaka.

Eh kira-kira kalau temen-temen “Partai Amal Syurga” diajak nobar film ini pasti seru kali ya?

3. Tabula Rasa

Film ini mengisahkan Hans, pemuda asal Serui, Papua, yang berangkat ke Jakarta atas tawaran sebuah klub sepakbola. Dengan optimisme tinggi dan semangat menyongsong masa depan gemilang, Hans diantar ibu pengasuh dan adik-adik Panti. Apa daya, kejamnya ibukota menelan segala seri dan semangat Hans, mencampakkannya tanpa harapan hingga berniat mengakhiri hidup, terjun dari jembatan di atas jalur KRL. Untunglah dia ditemukan Mak, pemilik rumah makan padang “Takana Juo” yang jatuh iba dan bermaksud menolongnya. Hans bahkan diajari resep-resep masakan padang andalan Mak hingga menjadi juru masak rumah makan tersebut. Bayangpun, rumah makan Padang dengan koki orang Papua! Sungguh sangat Indonesia.

Saya nonton film ini dengan penuh antisipasi. Berbagai tips di media sosial menyarankan untuk tidak menonton ini dalam kondisi perut kosong. Dan nyata benarlah adanya, nonton dengan perut kenyang saja masih cukup bikin menelan air ludah oleh warna-warni indah sajian masakan minang yang begitu menggiurkan. Jadilah seperti para penonton Tabula Rasa lainnya, dari bioskop saya langsung menuju Sari Ratu, rumah makan padang yang masih satu gedung dengan bioskop tempat saya nonton. Meski sesungguhnya, saya justru lebih ingin meramaikan rumah makan padang rumahan seperti punya Mak. Menu yang saya pilihpun seperti biasa, gulai otak. Lain kali saja cicip gulai kepala ikan dan rendang tacabiak seperti bikinan Mak.

Tuh kan.. jadi laper. Ke Sederhana, Sari Indah atau Pagi Sore kita?


Lucy: Limitless KW Versi Cewe

Sudah pernah lihat trailler film Lucy wira-wiri di bioskop sebelum ini kan ya? Trailler ini termasuk berhasil menyentil rasa ingin tahu saya untuk menonton filmnya ketika tayang. Bayangan saya, bakal sekeren film Limitless-nya Bradley Cooper tapi dengan tokoh utama perempuan. Girl Power Yaaaay!!

Jadilah saya menontonnya tadi malam dan….

APA PULA INI FILM?

Dalam beberapa (banyak) adegan akal sehat saya berjengit memprotes. Gak usah deh dihubungkan ama keimanan. Kejauhan. Common sense aja gak nerima jalan ceritanya. Satu-satunya yang bikin saya tetap duduk hingga film selesai hanyalah kewajiban moral sebagai penonton film yang baik untuk menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai. Untung saja mba ScarJo sama-sekali gak bikin sepet mata. But over all.. I don’t recommend it AT ALL.


Maleficent: Berusaha Memahami Sisi Lain Cerita Dongeng

“Filmnya Angelina Jolie yang Maleficient bagus gak sih?”, tanya seorang teman.

“It’s Maleficent. And it’s a MUST WATCH!” jawab saya.

Bukan hanya satu-dua teman, sayapun pada awalnya sempat siwer membaca judul dan mengiranya “maleficient”. Mungkin karena lebih akrab di kuping dengan memisahkannya jadi “mal efficient”, tapi Maleficent adalah nama perempuan yang di dongeng-dongeng Disney sebelumnya sering dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. Beberapa bahkan menyebutnya “Nenek Sihir Jahat”. Tokoh antagonis yang evilest evil lah pokoknya.

Sebenernya saya nonton film ini sudah beberapa minggu lalu. Saat ini juga sudah turun dari layar bioskop. Tapi untuk ditonton di dvd (ataupun donlotan) pun film ini masih sangat bisa untuk dinikmati.

Dikisahkan, Maleficent, seorang peri perempuan kecil penjaga hutan Moors, menjalin persahabatan dengan Stefan, anak manusia yang tersesat di hutan. Seiring waktu, persahabatan keduanya menumbuhkan perasaan yang berbeda di hati Maleficent. Hingga suatu hari Stefan pergi,  Maleficent tetap menanti sambil melakukan tugasnya menjaga Moors.

Suatu ketika raja yang berkuasa bermaksud menginvasi Moors, dan dikalahkan oleh Maleficent dan pasukannya. Merasa dipermalukan, raja pun mengumumkan barangsiapa yang dapat membunuh Maleficent berhak untuk menikahi putrinya, dan menjadi pewaris tahta kerajaan. Stefan tergiur dengan tawaran itu. Kembalilah dia ke hutan Moors, dan dengan mudah meraih kembali kepercayaan Maleficent yang tak sadar, bahwa Stefan hanya memperalatnya untuk meraih kedudukan di kerajaan. Dari situ baru kisah Putri Aurora seperti yang biasa kita dengar dimulai.

maleficent-wings

Jika kita biasa mendengar kisah¬†Putri Aurora dari sudut pandang kerajaan, kali ini kita disuguhi cerita dari sisi “Nenek Sihir” yang dikenal sebagai musuh utama. Dengan cara ini, kita jadi mendapatkan gambaran yang lebih luas dan lengkap. Betapa dunia tidak se-hitam putih cerita yang biasa dijejalkan cerita sinetron atau dongeng pada umumnya. Bahwa ada yang namanya hukum sebab akibat, dan siapapun bisa berubah. Mengajak kita melihat sosok secara utuh melalui tindakannya, bukan sekadar citra yang dilekatkan padanya.

Jadi, Pemilu 9 Juli nanti milih siapa?

 

Eh?

 

 

*pinjem gambar dari sini