Lagi

Dan lagu inipun kembali menjadi lagu kebangsaan.

 

*sigh*


Addictive Distraction

Saya tau, seharusnya pada masa ini, fokus saya tertuju penuh pada tugas akhir. Deadline semakin dekat. Dan saya tidak mau bayar sekolah sendiri. Karena sekolah S2 ini sungguh mahal sekali.

Namun apa daya, saya hanya manusia biasa. Terkadang lena dan lupa oleh goda dunia. Sejak pertama mengenalnya, saya seperti tersihir dalam pesona yang tak terelakkan. Begitu kuat dan memikat. Membuat saya menginginkannya lagi, dan lagi dan lagi. Setiap hari.

Maaf mas-mas di luar sana, barangkali ada yang terlanjur merasa bersalah telah membuat saya merana. Yang saya maksud 9gag.

Dengan segala kerendahan hati, saya mohon.

Kembalikan jiwa saya..


Happy 28 me..

Usia rentan untuk bergabung dengan Club 27 akhirnya berlalu. I SURVIVE!! Tahun-tahun mendatang pasti akan lebih banyak petualangan seru yang menyenangkan. Doakan saya yaaaa….. :)


Catatan Harian Si Boy: Bukan Remake!

Setiap temen yang saya ceritain dan sekaligus tarik-tarik buat nonton Catatan Harian Si Boy, hampir selalu bereaksi serupa: “Remake ya?”, “Yang jadi Boy Siapa?”, “Bukannya itu film lama?”. Jawab saya, bukaaaaaaan.. itu bukan remake. Yang jadi Boy ya tetep Onky Alexander, mana mungkin digantiin? Selain mas Boy, di situ juga ada Ina dan Emon, dengan pemeran yang sama seperti di rangkaian film Catatan Si Boy yang konon ngehits banget di jaman saya belum ngeh cowo ganteng itu kayak apa.

Sepertinya memang telah ada formula baku untuk persyaratan pemeran utama rangkaian sang legenda ini: pria terganteng di masanya! Jadilah sekarang, Ario Bayu, cowo terganteng se-Indonesia Raya versi saya, yang didapuk untuk memerankan Satrio sang tokoh utama. Etapi tokoh-tokoh lain juga ga kalah mencuri perhatian loh.. you’re so gonna love Andi yang diperankan Abimana (dulunya dikenal sebagai Robertino), dan Heri, versi regenerasi-nya Emon. Style tomboy cantik-nya Poppy Sovia seru buat dicontek. Dan saya suka banget warna lipstick-nya Carissa Putri. Tapi pasti ga pede deh makenya.

Dialog-dialognya smart and catchy. Penuh SSI (Speak-Speak Iblis), kalo kata seorang temen. Kalopun ada yang saya rasa mengganggu itu dua hal: (1) Carissa Putri tiba-tiba nangis, dan (2) hujan yang tiba-tiba turun. Kalo saya jadi editor yang bakal menayangkannya di tv entah berapa bulan lagi, bakal saya potong deh itu adegan dengan alasan durasi. Yang pertama tentunya, yang kedua sih susah motongnya demi kontinuitas dengan adegan berikutnya.

Penasaran? Mending tonton aja deh di bioskop. Saya sudah dua kali nontonnya. Dan masih ga akan nolak kalo ada temen ngajakin lagi hehehe….

*pinjem gambar dari sini


let go

picture's taken from http://thequeenkailin.onsugar.com/Let-go-7064220

it’s been years and this feeling remains

letting you go is never easy

but you know, i always want you to be happy

even if it means without me..


kopdar lagi!

Seperti sudah berabad lamanya sejak terakhir kali posting tentang kopdar. Wiken kemaren, saya ikut nyempil di acaranya Daniel yang lagi dateng ke Bandung buat ketemu beberapa teman blogger. Setelah sekian waktu, akhirnya saya mengalami lagi sesi perkenalan yang bukan sekedar saling menyebutkan nama, namun juga diikuti dengan saling bertanya “blog-nya apa?”. Maka dengan malu-malu saya menunjukkan blog yang sudah penuh sarang laba-laba saking lamanya tak terjamah ini.

Pose full team di depan Museum KAA

Saya berkenalan dengan Isma, Nurma, Felicia, dan Arman. Saya juga bertemu lagi dengan Danalingga yang seingat saya terakhir ketemu tahun 2008 di kopdar Monas perpisahannya om Fertob. Dari meeting point di McDonalds BIP, kami menuju Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Setelah berkeliling, nonton festival film pendek yang ada di sana, dan tentunya foto-foto, tepat jam makan siang, kami pun keluar. Rupanya sedang ada Festival Minangkabau tepat di samping Museum. Itu berarti: makanan enaaaaak! Saya sempat mencicip Sate Danguang-danguang, Es Tebak (semacam es campur), Talam Tapai dan Kopi Kawa. Continue reading


Cerita Backsound

Sebuah sore di ciwalk. Saya melewati sebuah toko buku dan teringat kalau harus membeli pembatas untuk merapikan tumpukan buku yang berceceran di kamar. Saya masuki toko itu, perlahan menyusuri deretan rak demi menemukan benda yang saya cari. Saya melihatnya, menengok sekilas, lalu meletakkannya lagi. Kemudian secepat mungkin meninggalkan toko itu. Jika anda mengira saya batal membeli benda yang saya incar karena harganya mahal, bukan itu yang terjadi. Harga pembatas buku itu cukup masuk akal. Saya keluar secepat mungkin dari toko itu karena tidak tahan dengan backsound yang diputar. Entah lagu berjudul apa dari band semacam Kangen band.

Seperti beberapa waktu sebelumnya, ketika saya sedang menikmati kebersamaan dengan seorang teman pria di salah satu cafe di citos. Well… say it, kencan. Tiba-tiba perasaan saya tak enak. Saya pun mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sumbernya. Ketemu. Tersangkanya adalah sebuah tv flat yang tertambat pada channel MTV Indonesia. Jangan salah paham dulu, saya suka MTV. Yang jadi masalah adalah, saat itu MTV Indonesia sedang menayangkan video klip ST12. Saya pun pamit kepada teman pria yang langsung ngakak menyadarinya. Jadilah saya mengungsi ke toilet sampai kira-kira video klip tersebut berakhir.

Cuma masalah selera, saya rasa. Dan kebetulan selera saya tak akur dengan aliran musik yang dimainkan Kangen Band, ST12, dan band-band sejenis. Maka demi kedamaian dunia dan seisinya, saya biasanya memilih menyingkir. Kemudian terpikir, urusan backsound ini rupanya menjadi penting bagi sebuah bisnis terkait psikologi konsumen. Bagaimana membuat konsumen merasa nyaman, atau malah mengusirnya jauh-jauh.

Buktinya pada suatu saat dan toko yang lain, saya bisa betah berputar-putar dan enggan keluar hanya karena backsound yang diputar adalah lagu-lagu boysband favorit saya. Lupa apakah saya sempat membeli sesuatu di toko itu atau tidak, tapi saya betah di sana.

Bahkan, saya bisa senyum-senyum dan tertawa dalam sebuah sesi penyiksaan (baca: facial) di salah satu klinik kecantikan hanya karena mereka memutarkan lagu yang saya rasa “tepat”. Di tengah rasa sakit karena setiap pori di wajah saya dipencet dengan alat entah apa untuk mengeluarkan sebum dan komedo (percayalah, beauty is painful itu nyata), mas Enrique Iglessias dengan manis melantunkan

“I could be your hero baby..

I could kiss away the pain…”

How I wish he could really kiss away the pain of the torture i was in :p


Epilog

Laki-laki itu meringis menahan perih yang menjalar dari berbagai luka di sekujur tubuhnya. Merah darah merembesi kemeja yang koyak di beberapa bagian. Perlahan dia merangkak berusaha menjauh. Namun tembok kokoh menghadang di hadapan. Buntu. Tersudut.

Dipalingkannya wajah penuh lebam itu ke sosok yang dengan tenang berjalan mendekat. Keringat dingin mengucur deras. Dia tak menduga perempuan yang selama ini dikenalnya begitu rapuh dan penuh cinta, dapat menguarkan aura malaikat pencabut nyawa. Pasti masih ada rasa tersisa. Sekeping asa yang dapat menyambung hidupnya.

Hening.

Laki-laki itu memberanikan diri menatap wajah dingin di hadapannya. Berusaha mencari secercah kasih yang dulu selalu terpancar dari sana. Tiada. Hanya seraut wajah ayu penuh dendam.

Tak banyak yang kemudian tertangkap indera. Selintas perempuan itu mengangkat tangan. Angin dingin menghembus kuduk. Ini pasti buruk. Tak ada harapan lagi.

“CRUCIO!!” Lantang suara perempuan itu membelah malam.

Hal terakhir yang laki-laki itu dengar, adalah gemeretak tulangnya sendiri.


Pada Suatu Lebaran..

Alhamdulillaaaaahhh….

Setelah lima kali salah password, akhirnya berhasil juga saya masuk ke dashboard blog ini. Itulah ahlesyan eh..  jawaban saya atas mati surinya blog ini selama entah berapa waktu.

AAAAANYWAAAY….

Gak terasa bentar lagi udah mau Lebaran aja. Mudik, pulang, ketemu keluarga, banyak makanan, banyak tamu, bepergian.. menyenangkan!

Lebaran mengingatkan gw pada suatu kejadian bertahun lalu di antara hiruk pikuk tamu yang datang bersilaturrahmi ke rumah. Berhubung si mbak asisten domestik pulang mudik juga ke kampungnya, jadilah diriku si anak wedok siji ayu dewe yang diberdayakan termasuk dalam tugas “hurmat tamu” yang adalah menyajikan minuman dan snack seadanya. Senyum sumringah menghiasi wajah si tamu ketika gw muncul dengan baki minuman. Dengan ramah si tamu berucap terima kasih. Dilanjutkan dengan pertanyaan..

“Sampun dangu ndherek ten mriki, mbak?” (artinya, sudah lama ikut di sini, mbak?)

Seketika muka gw langsung asem. Sedangkan ibu tak kuasa menahan tawa mendengarnya, kemudian meluruskan “Ini kan anak mbarepku, dik.. Memang biasanya nggak di rumah, sekolah di Malang,  jadi pantes aja kalau kamu jarang lihat”.

Gw cuma senyum kecut sebelum kembali masuk ke dalam. Siyalan! Salah gw juga sih, lagi pake kostum rumah seadanya. Lah namanya juga di rumah sendiri, mosok mau dandan full kayak pemain sinetron? Lagipula apa memang separah itu kesenjangan tampang gw dengan ibu (yang memang cantik jelita), sampe gw dikira pembantu?


Luck is All Around

Dewi Fortuna sedang suka jalan-jalan rupanya. Ngider bagi-bagi hoki ke seluruh penjuru bumi. Yang paling gampang terlihat sih di dalam lingkaran pertemanan saya sendiri. Mulai dari tiket gratis nonton film, sampai beragam hadiah jalan-jalan. Dilla ke Bali, Chika dan Billy ke Universal Studio Singapore, Dimas ke Amerika, dan yang paling bikin iri si Umenumen berangkat nonton Piala Dunia ke Afrika Selatan. Semuanya G-R-A-T-I-S !!

Saya? Hohoho… Kebetulan saya adalah orang yang paling nggak telaten ikut kuis-kuis yang menawarkan berbagai macam hadiah menggiurkan itu. Hanya sesekali saya turut mencoba peruntungan. Luckily, rupanya saya juga kecipratan hoki yang sedang menerangi  teman-teman saya itu. Beberapa waktu lalu saya iseng ikutan kuis yang diadakan Didut. Rupanya keberuntungan tersenyum dengan cantiknya dan sampailah sebuah tas belanja cantik  ke tangan saya.

tas belanja cantik

Sejak menerima tas ini saya jadi lebih sering menolak tas plastik seperti yang biasa digunakan di berbagai tempat perbelanjaan. Kalau setiap kali belanja kita diberikan plastik, sedangkan dalam suatu rentang waktu entah berapa kali kita berbelanja, kebayang kan betapa banyak limbah plastik yang tercipta?

bisa buat belanja, bisa juga buat begaya

Padahal plastik itu kan termasuk bahan yang tidak mudah diuraikan. Plastik yang kita buang hari ini, baru akan bisa terurai seribu tahun lagi. Bisa jadi belum sampai plastik itu terurai sempurna, bumi tercinta ini mungkin udah keburu menyerah, rusak, kiamat deh… hehehe… Setidaknya dengan menggunakan tas belanja yang reusable begini, kita dapat mengurangi sedikit beban bumi.

Tas kain yang bermotif batik ini bentuknya sangat simpel dan cantik. Tak heran selain saya gunakan sebagai pengganti tas plastik saat belanja, tas ini juga jadi sangat berguna ketika travelling. Saya biasa bepergian menggunakan backpack besar yang dapat menampung seluruh barang bawaan. Masalahnya, nggak mungkin dong sepanjang perjalanan itu ransel segedhe bagong saya bawa-bawa ke sana kemari. Jadilah tas ciamik ini yang menjadi andalan saya untuk dipakai berjalan-jalan dengan ringan, nyaman dan tetap trendy. Tinggal selipkan versi terlipatnya ke dalam backpack, pas mau jalan-jalan, dibuka deh.. Praktis banget kan… Tas ini juga bisa jadi tempat oleh-oleh di perjalanan pulang, kalau backpack sudah terlalu penuh.

sandal hasil menang kuis BAVAReA!

Naaahh… berawal dari situ, beberapa waktu lalu ketika si adek lapor sandalnya ketinggalan (tepatnya ditinggal bapak) di masjid, saya iseng browsing FJBex, mesin pencari layaknya mbah Gugel yang mengkhususkan diri pada jual beli online. Pas ngintip BAVAReA!, majalah katalog online yang hadir dengan tema berbeda setiap bulannya, di edisi Sport kok ya pas ada kuis yang berhadiah sandal gunung. Saya komporin aja si adek buat ikutan kuis itu. Voila… sandal barupun jadi miliknya. Majalah yang bebas didownload secara gratis ini memang menyediakan beberapa kuis dalam setiap edisi, sesuai dengan kategori yang sedang ditampilkan. Coba lagi ah edisi-edisi berikutnya, siapa tau saya bisa menang kuis juga hehehehehe…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.