Silent Words

Ada yang pernah bilang, setiap kata itu memiliki energi yang akan sampai pada siapa ditujukannya. Lalu apa kabar yang pada berantem ikut berasa di-nomensen? Apa berarti energi yang dikirimkan nyasar salah tujuan? Atau malah begitu berlimpah ruah hingga luber muncrat nyiprati yang tak dituju sekalipun?

Tapi somehow, saya percaya. Kata itu akan tetap mengantar energi yang sama pada yang ditujunya. Apalagi bagi mereka yang berbicara dengan bahasa yang sama.

Ah.. Mau bilang “hey.. I miss you” saja susahnya..


Tut Wuri Handayani: Sekelumit Analisa Seadanya tentang Manusia Indonesia

“Mohon perhatian, kepada para hadirin dimohon untuk dapat mengisi tempat duduk yang ada di barisan depan terlebih dahulu karena acara akan segera dimulai”, demikian biasa disampaikan para pembawa acara pertemuan yang melibatkan banyak orang dengan setting tempat duduk berbaris. Jangankan dalam sebuah seminar, pada ruang rapat yang berbentuk U-shape dengan dua baris meja saja, tempat duduk di barisan belakang pasti lebih cepat terisi dibandingkan dengan barisan depan.

Ada yang menyebutnya “kebiasaan orang Indonesia” untuk lebih memilih bergerombol di belakang. Ingat saat masih sekolah? Tempat favorit kebanyakan siswa adalah di baris belakang. Terbukti dengan tingkat kepadatan pada saat hari pertama penentuan tempat duduk. Baris terdepan biasanya kalau tidak diisi oleh siswa teladan yang antusias atau penderita rabun jauh (seperti saya), ya mereka yang cukup apes tidak kebagian bangku belakang. Baris belakang jadi most wanted position baik di dalam kelas, di bis saat darmawisata, maupun ketika upacara.

Kenapa bisa demikian? Bukankah jika kita di baris depan maka akan semakin mudah untuk konsentrasi dan menyerap materi pelajaran/seminar? Akan lebih jelas juga apabila ada yang ingin kita informasi yang ingin kita ketahui lebih jauh dengan berdiskusi langsung pada narasumber. Tapi tetap saja, jarang saya dapati orang berebut baris terdepan pada forum-forum keilmuan.

Baru beberapa waktu lalu saya kepikiran ketika tanpa sengaja saya melihat lagi gambar dasi siswa Sekolah Dasar. Iya, dasi kecil warna merah dengan logo “TUT WURI HANDAYANI”. 

ragam dasi "tut wuri handayani"

ragam dasi “tut wuri handayani”

AHA!! INILAH PENYEBABNYA!

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional pendiri Taman Siswa, mengajarkan pada kita semboyan pendidikan yang sangat terkenal. Semboyan dalam bahasa Jawa itu berbunyi:

“Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”

Artinya kurang lebih “yang berada di depan memberi contoh, yang di tengah memberi semangat, yang di belakang memberi dorongan”.

Masalahnya, yang sering ditampilkan di mana-mana, termasuk di dasi murid-murid sekolah itu cuma sepenggal saja. Hanya bagian “tut wuri handayani”-nya. Jadi di alam bawah sadar mereka juga lebih banyak terpatri untuk mendorong atau mendukung dari belakang, daripada urgensi untuk melaksanakan peran yang di depan. Tengah mah tim hore seperti fungsinya memberi semangat.

Jadi bagaimana caranya memancing agar baris depan tampak lebih menarik sekaligus belajar leadership? Jangan cuma “tut wuri handayani”-nya saja, akrabkan para siswa dengan dua kalimat lainnya. Tentu bukan hanya sebatas tulisan di dasi sekolah. Lebih penting lagi bagaimana penerapan dalam kehidupan sehari-hari bahwa depan itu keren, antusias, pemberani, penerobos segala halang rintang. Bagaimana kita mau maju kalau ke depan saja enggan?

 

 

*pinjem gambar dari sini


Lucy: Limitless KW Versi Cewe

Sudah pernah lihat trailler film Lucy wira-wiri di bioskop sebelum ini kan ya? Trailler ini termasuk berhasil menyentil rasa ingin tahu saya untuk menonton filmnya ketika tayang. Bayangan saya, bakal sekeren film Limitless-nya Bradley Cooper tapi dengan tokoh utama perempuan. Girl Power Yaaaay!!

Jadilah saya menontonnya tadi malam dan….

APA PULA INI FILM?

Dalam beberapa (banyak) adegan akal sehat saya berjengit memprotes. Gak usah deh dihubungkan ama keimanan. Kejauhan. Common sense aja gak nerima jalan ceritanya. Satu-satunya yang bikin saya tetap duduk hingga film selesai hanyalah kewajiban moral sebagai penonton film yang baik untuk menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai. Untung saja mba ScarJo sama-sekali gak bikin sepet mata. But over all.. I don’t recommend it AT ALL.


Baru Tahu: Coat Hook di Kursi Pesawat

Baru sekitar minggu lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari Batam, saya menyadari ada fitur Coat Hook di kursi penumpang pesawat Garuda. Coat Hook alias gantungan mantel ini dimaksudkan untuk membuat penumpang duduk lebih nyaman tanpa disesaki mantel. Nice idea.

20140819103416688

Tapi tentu saja belum pernah saya menggunakan fitur ini. Sebagai pejalan asli negara tropis yang bermandi cahaya matahari, definisi nyaman itu ya hangat. Jadi ketika memasuki kabin pesawat yang tertutup dengan semburan ac, bukannya melepas mantel, yang saya lakukan pertama kali justru adalah mengenakan jaket. Biar nggak masuk angin! Hahahahaha…


Unsaid

Do you realize the things i do instead of saying “i miss you”?


Drama Mudik Lebaran

Hari terakhir ngantor sebelum libur lebaran, ketika teman-teman sudah mulai menuju airport ataupun stasiun kereta api, saya masih santai. Saya toh baru akan pulang mudik besok pagi (26/07). Tinggal atur waktu agar setelah sholat subuh tidak tidur lagi dan segera menuju bandara. Jadi malam ini saya masih bisa packing dengan santai, memastikan pakaian-pakaian kotor yang menumpuk sepeninggal teteh tukang cuci kosan ikut masuk koper biar bisa dikenakan di rumah saat liburan. Jadi sepulang dari kantor, saya masih sempat tidur sejenak sebelum mulai memikirkan mau makan apa untuk buka puasa.

Terbangun sekitar jam lima sore, saya mulai mengecek tiket penerbangan besok. Saking lamanya itu tiket tersimpan sejak saya beli tidak saya cek-cek lagi. Hanya sekilas ingatan kalau saya pulang hari Sabtu pagi, tanggal 26 Juli.

Betapa kaget ketika saya mendapati bagian tiket yang distabilo kuning menunjukkan keberangkatan hari ini, 25 Juli, jam 19.40. Malam ini. Dan saya tinggal punya waktu kurang dari dua setengah jam untuk terbang. Belum dipotong span waktu check in bandara karena saya belum sempat web maupun city check in sebelumnya, berarti saya harus berangkat….. SEKARANG JUGA!!

“Ok, tenang Ulfah. Jadi apa yang paling wajib dibawa?” Tanya saya pada diri sendiri sambil berusaha tetap waras. Dengan waktu sesempit itu, saya cuma sempat berganti pakaian yg telah ada di gantungan, dan menggendong kembali ransel yang saya bawa ke kantor hari itu. Yang penting tiket, dompet, handphone telah terbawa. Soal di rumah nanti lebaran pakai baju apa, sudahlah seadanya di lemari rumah saja.

Saya berangkat setengah berlari sambil terus berdoa semoga ga sampai ketinggalan pesawat. Semoga masih bisa check in. Semoga lalu lintas ke arah bandara lancar. Semoga.. Semoga.. Semoga…
Sampai pinggir jalan, sudah banyak berjejer calon penumpang taxi. Sedangkan taxi yang melintas selalu telah terisi. Change of plan. Ojek! Setidaknya sampai titik yang lebih memudahkan saya untuk mendapatkan taxi.

Setelah dengan terpaksa menyetujui harga kurang ajar yg diajukan tukang ojek, saya diantar ke area depan Ratu Plaza, tempat saya mendapatkan taxi sebagai angkutan berikutnya. Meski demikian, bukan berarti saya sudah bisa bernafas lega. Sopir taxi yang mengemudi sudah cukup tua sehingga berapa kalipun saya bilang “tolong lebih cepat ya pak, saya buru-buru”, tetap saja dia mengemudi dalam kecepatan yang bikin saya geregetan. Belum lagi beberapa kali salah ambil jalur yang lebih macet, atau terjebak kemacetan tidak perlu yg dikarenakan para pengguna jalan melambat untuk menonton kecelakaan yg terjadi di lajur arah sebaliknya.

Selama itu pula saya masih terus berdoa. “Ya Allah, tolong.. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir..”.

Pukul 18.10 taxi baru memasuki gerbang tol cengkareng. Saya mulai menyimpan gadget ke dalam tas, agar tak lagi mengkhawatirkan waktu masih nutut untuk check in atau tidak. Yang penting saya secepatnya berlari masuk, melewati antrian pintu pemeriksaan, serta antrian check in tentunya.

Ketika sampai di depan counter check in, saya masih deg-degan menyerahkan tiket dan id card. “Please masih bisa masuk please…” ucap saya dalam hati. “Mbak Ulfah sudah tidak bisa memilih tempat duduk ya mbak ya” ujar mas penjaga counter. “Iya mas, nggak papa” jawab saya. Dalam hati, duduk di manapun ga masalah mas, yang penting saya bisa kebawa ini pesawat sampai Semarang. Daripada saya nangis-nangis ga bisa mudik lebaran, atau keluar duit lebih banyak buat beli tiket lagi. Itu juga kalo masih ada.

2014725182325

Dan sekarang, ketika panggilan boarding dikumandangkan, saya bisa tersenyum lebar.

Saya pulang.

Selamat libur lebaran, teman-temaaaan…


H-1

“Besok kita libur nggak sih mbak?” tanya ibu ruangan sebelah di rest room kantor pagi tadi.
“Belum ada pengumuman tuh, bu.. Saya mah tetep berangkat seperti biasa saja” jawab saya.
“Iya ya.. anak saya itu, nyuruh saya nggak masuk. Takut kerusuhan katanya. Dia malah sudah siap-siap ambil cuti buat besok dan lusa. Ya kuatir kerusuhan itu” ujarnya.
“Saya masih percaya orang Indonesia baik-baik kok bu. Insya Allah aman” saya tersenyum berusaha meyakinkan.
“Tapi kan masih ada satu di atas yang belum legowo itu. Ngeri saya”
“Ya cuma satu itu yang belum legowo, bu. Orang Indonesia-nya saya percaya lebih suka damai. Duluan ya bu..” saya pamit meninggalkan rest room.

Sebetulnya kalau soal khawatir, siapa sih yang nggak? Tapi saya ingin optimis, bahwa semua akan baik-baik saja. Saya masih percaya sisi baik manusia, yang pada dasarnya lebih cinta damai daripada ribut-rusuh yang malah menyusahkan semua.
Jadi kalaupun besok libur ya, lebih baik stay di rumah. Mager. Itung-itung kesempatan istirahat. Kalau tidak, ya tetap berangkat kerja seperti biasa.

10450598_318406111668861_844793183474083448_n

*gambar dipinjem dari newsfeed fesbuknya mba Dewi dan simbok Venus


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.