H-1

“Besok kita libur nggak sih mbak?” tanya ibu ruangan sebelah di rest room kantor pagi tadi.
“Belum ada pengumuman tuh, bu.. Saya mah tetep berangkat seperti biasa saja” jawab saya.
“Iya ya.. anak saya itu, nyuruh saya nggak masuk. Takut kerusuhan katanya. Dia malah sudah siap-siap ambil cuti buat besok dan lusa. Ya kuatir kerusuhan itu” ujarnya.
“Saya masih percaya orang Indonesia baik-baik kok bu. Insya Allah aman” saya tersenyum berusaha meyakinkan.
“Tapi kan masih ada satu di atas yang belum legowo itu. Ngeri saya”
“Ya cuma satu itu yang belum legowo, bu. Orang Indonesia-nya saya percaya lebih suka damai. Duluan ya bu..” saya pamit meninggalkan rest room.

Sebetulnya kalau soal khawatir, siapa sih yang nggak? Tapi saya ingin optimis, bahwa semua akan baik-baik saja. Saya masih percaya sisi baik manusia, yang pada dasarnya lebih cinta damai daripada ribut-rusuh yang malah menyusahkan semua.
Jadi kalaupun besok libur ya, lebih baik stay di rumah. Mager. Itung-itung kesempatan istirahat. Kalau tidak, ya tetap berangkat kerja seperti biasa.

10450598_318406111668861_844793183474083448_n

*gambar dipinjem dari newsfeed fesbuknya mba Dewi dan simbok Venus


Maleficent: Berusaha Memahami Sisi Lain Cerita Dongeng

“Filmnya Angelina Jolie yang Maleficient bagus gak sih?”, tanya seorang teman.

“It’s Maleficent. And it’s a MUST WATCH!” jawab saya.

Bukan hanya satu-dua teman, sayapun pada awalnya sempat siwer membaca judul dan mengiranya “maleficient”. Mungkin karena lebih akrab di kuping dengan memisahkannya jadi “mal efficient”, tapi Maleficent adalah nama perempuan yang di dongeng-dongeng Disney sebelumnya sering dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. Beberapa bahkan menyebutnya “Nenek Sihir Jahat”. Tokoh antagonis yang evilest evil lah pokoknya.

Sebenernya saya nonton film ini sudah beberapa minggu lalu. Saat ini juga sudah turun dari layar bioskop. Tapi untuk ditonton di dvd (ataupun donlotan) pun film ini masih sangat bisa untuk dinikmati.

Dikisahkan, Maleficent, seorang peri perempuan kecil penjaga hutan Moors, menjalin persahabatan dengan Stefan, anak manusia yang tersesat di hutan. Seiring waktu, persahabatan keduanya menumbuhkan perasaan yang berbeda di hati Maleficent. Hingga suatu hari Stefan pergi,  Maleficent tetap menanti sambil melakukan tugasnya menjaga Moors.

Suatu ketika raja yang berkuasa bermaksud menginvasi Moors, dan dikalahkan oleh Maleficent dan pasukannya. Merasa dipermalukan, raja pun mengumumkan barangsiapa yang dapat membunuh Maleficent berhak untuk menikahi putrinya, dan menjadi pewaris tahta kerajaan. Stefan tergiur dengan tawaran itu. Kembalilah dia ke hutan Moors, dan dengan mudah meraih kembali kepercayaan Maleficent yang tak sadar, bahwa Stefan hanya memperalatnya untuk meraih kedudukan di kerajaan. Dari situ baru kisah Putri Aurora seperti yang biasa kita dengar dimulai.

maleficent-wings

Jika kita biasa mendengar kisah Putri Aurora dari sudut pandang kerajaan, kali ini kita disuguhi cerita dari sisi “Nenek Sihir” yang dikenal sebagai musuh utama. Dengan cara ini, kita jadi mendapatkan gambaran yang lebih luas dan lengkap. Betapa dunia tidak se-hitam putih cerita yang biasa dijejalkan cerita sinetron atau dongeng pada umumnya. Bahwa ada yang namanya hukum sebab akibat, dan siapapun bisa berubah. Mengajak kita melihat sosok secara utuh melalui tindakannya, bukan sekadar citra yang dilekatkan padanya.

Jadi, Pemilu 9 Juli nanti milih siapa?

 

Eh?

 

 

*pinjem gambar dari sini

 


Ruby Sparks: Ketika Imajinasi Menjadi Nyata

Pernahkah kalian memiliki bayangan mengenai sosok idaman? Calvin (Jonathan Dano), seorang penulis muda, memiliki gambaran perempuan sempurna dalam tokoh buku terbarunya. Hingga suatu hari dia mendapati sosok tersebut mewujud nyata di hadapannya. Segala yang ditulis Calvin mengenai Ruby (Zoe Kazan) serta merta terjadi. Bukan hanya wujud fisik, pekerjaan, sifat, dan selera humor Ruby, bahkan bahasa yang digunakan pun dapat Calvin tentukan sesuka hatinya. Yang harus dia lakukan tinggal menuliskan dalam draft bukunya. Lalu apa dengan demikian Calvin memperoleh kisah cinta ideal yang diharapkan?

Belum tentu ;)

Skenario film ini ditulis sendiri oleh Zoe Kazan, sang pemeran utama wanita. Film ini saya tonton dalam penerbangan kembali dari Medan dan membawa saya tercenung. Semakin kagum akan Sang Sutradara Agung Penguasa Semesta. Dan betapa manusia sungguh tak luput dari alpa dan tak ada puasnya.


Tentang Soundtrack Penyelamat Tugas Akhir

Seharian ini sambil bekerja, saya mendengarkan kembali dua album awal Josh Groban. Judulnya “Josh Groban” (2001) dan “Closer” (2003). Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa saya mengerjakan skripsi. Dua album inilah yang ketika itu menjadi teman setia saya dalam proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Thanx to Tina, temen sekos pada masa itu yang memperkenalkan Josh Groban ke dunia saya.

Selain suara dan lagu-lagunya yang memanjakan telinga, saya sangat terbantu dengan penggunaan berbagai bahasa dalam dua album itu. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk turut sing along ketika mendengar lagu yang bisa ikut saya nyanyikan. Apalagi kalau saya memahami arti lirik lagu itu, yang ada justru saya akan larut dalam kisah yang dibawakan. Sejauh ini bahasa asing yang saya pahami baru bahasa inggris. Padahal di album-album itu juga terdapat lagu-lagu yang berbahasa italia dan spanyol. Jadilah pada lagu-lagu ini hanya telinga yang saya fungsikan, sedangkan segmen otak divisi bahasa dan kata-kata terhubung pada skripsi. Kebayang kalo saya bisa ikut sing along semua, bisa-bisa skripsi saya nggak kelar-kelar.

Demikian pula ketika mengerjakan thesis. Ketika itu demam K-Pop sedang melanda, sehingga sangat mudah menemukan lagu-lagu yang catchy di telinga meski saya tak juga mengetahui maknanya. Memang sengaja tidak mencari tahu juga, biar lagu-lagu itu hanya selintas lewat sebagai musik pengiring saja. Tapi nggak spesifik juga ketika itu lagu siapa saja.

Selain tugas akhir, tentu masih banyak lagi musik-musik yang menjadi soundtrack berbagai kisah lain. Tapi lain kali saja saya cerita. Kalau kamu gimana? Lagu apa yang menjadi soundtrack kisahmu yang mana?

 

*postingan ini dibuat setelah mendapati ucapan Happy Anniversary dari WordPress atas tujuh tahun saya ngeblog di sini. Dan masih akan berlanjut lagi. :)


Suddenly

It feels like something’s missing.
Maybe it’s you.
Maybe it’s me, myself.

Or simply just hormonal thingie..


Nostalgia Doa

Ada sebuah tradisi yang berlaku di sekolah swasta islam tempat saya menuntut ilmu. Di kelas, sambil menunggu guru datang, biasanya para murid bersama-sama mendendangkan syi’ir ini. Waktu itu saya asal ikut “menyanyi” begitu saja. Sekadar bagian dari ritual. Baru tadi ketika salah seorang senior membahasnya di newsfeed facebook, saya menyadari bahwa syi’ir ini merupakan do’a sebelum belajar yang sangat indah sekali.

D o a  S e b e l u m  B e l a j a r 

 

سَأَلْتُكَ رَبِّ صِحَّةَ القَلْبِ وَالجَسَدْ * وَعَـافِيَةَ الأَبْدَانِ وَ الأَهْلِ وَ الوَلَدْ

وَطُوْلَ الحَياَةِ فِي كَمَالِ اسْـتِقَامَةٍ * وَحِفْظًا مِنَ الإِعْجَابِ وَ الكِبْرِ وَحَسَدْ

وَ رِزْقاً حَلاَلاً وَاسِعاً غَـيْرَ نَاقِصٍ * يَكُوْنُ لَناَ عَوْناَ عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ

وَعِـلْمًا مُبَارَكاً بِهِ أَفْهَمُ الكُتُبْ * وَ رُؤْياً سَدِيْدًا يَنْفَعُ الأَهْلَ وَ الوَلَدْ

وَ أَمْناً مِنَ البَلاَءِ وَ الهَوْلِ وَ الفِتَنْ * ِلأَوَطَانِنَا وَ عِصْمَةً مِنْ ذَوِي الحَسَدْ

وَحُسْنَ أَدَاءِ لِحُقُوْقِ جَمِيْعِهَا * عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَ تَرْضَاهُ يَا صَمَدْ

وَ أَكْثِرْ لَنَا تَوَابِعَ الحَقِّ وَ الهُدَى * مِنَ الأَقْرِباَءِ وَ البَعِيْدِيْنَ وَ الأَبْعَدْ

بِفَضْلِكَ يَا رَحْمَنُ ياَ مُحْسِنَ الوَرَى * بِجَاهِ النَّبِي المُصْطَفَى خَيْرِ مَنْ سَجَدْ

عَلَيْهِ صَـلاَةُ اللهِ ثُمَّ سـَلاَمُهُ * وَ الآلِ وَ الأَصْحَابِ وَ مَنْ لِلْعُلَى قَصَدْ

 

Sa-altuka Rabbi shihhatal qalbi wal jasad * wa ‘afiyatal abdani wal ahli wal walad

wa thulal hayati fi kamalis-tiqamati * wa hifzhan minal i’jabi wal-kibri wal-hasad

wa rizqan halalan wasi’an ghaira naqishin * yakunu lanaa ‘aunan ‘ala manhajir-rasyad

wa ’ilman mubarakan bihi afhamul kutub * wa ru’yan sadidan yanfa’ul ahla wal walad

wa amnan minal bala-i wal-hauli wal-fitan *  Li-awthanina wa ‘ishmatan min dzawil hasad

wa husna ada-i li-huquuqi jamii’iha *  ‘ala ma tuhibbuhu wa tardhahu Ya Shamad

wa aktsir lana tawwabi’al-haqqi wal huda * minal aqriba-i wal-ba’idina wal-ab’ad

bifadhlika Ya Rahmanu Ya Muhsinal Wara * bijahin nabiyyil mushthafa khairi man sajad

‘alaihi shalatullaah tsumma salamuhu * wal ali wal ash-haabi wa man lil’ula qashad

 

Kepada-Mu wahai Tuhanku aku memohon: kesehatan lahir dan batin, serta kesentosaan diri, anak dan keluarga..

dan panjang umur dalam keistiqamahan yang sempurna serta terjaga dari sifat ujub, sombong dan dengki..

dan rizqi yang halal, lapang tanpa kurang, yang menjadi penolong kami dalam (menempuh) jalan petunjuk-Mu..

dan ilmu yang berkah yang dengannya akan kupahami kitab-kitab, serta pengetahuan yang berguna bagi anak dan keluarga..

dan kesentosaan negeri kami dari bala’, marabahaya dan fitnah dari para pendengki

dan kemampuan menunaikan hak dengan sebaik-baiknya, di atas (jalan) yang Kau sukai dan Kau ridhai

Perbanyaklah (kemauan dan kemampuan) bagi kami untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk yang berasal dari kerabat, baik yang dekat maupun jauh.

(Aku bertawasul) dengan keutamaan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi kebaikan pada makhluk-Nya, serta dengan (kemuliaan) nabi pilihan yaitu sebaik-baik orang yang bersujud (pada-Mu).

Semoga kasih sayang dan kesejahteraan dari Allah senantiasa tercurah bagi beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga orang-orang yang mengharapkan keutamaan.

 

Entahlah apakah tradisi ini masih dilangsungkan. Semoga demikian. Dan saya turut mengaminkan.


Disiplin Lalu Lintas di Sabang yang Menakjubkan

Masih bercerita tentang liburan lalu di Pulau Weh, tempat kota Sabang berada, satu hal saya temukan cukup menakjubkan. Not in a good way, tapi secara harfiah benar-benar membuat saya takjub. Hal itu terkait disiplin lalu lintas di sana.

Selama di Sabang, saya dan teman-teman memang sengaja menyewa kendaraan untuk alat transportasi. Karena baru memesan pada waktu yang sudah mepet dan sedang peak season, jadilah kami hanya mendapatkan mobil saja tanpa sopir. Untunglah ada yang bisa nyetir (dadah-dadah ke Alyak) jadi kami manfaatkan kesempatan ini buat bertualang beneran lengkap dengan sesi nyasar dan berputar-putar setiap kali beperjalanan baik berangkat maupun pulang ke penginapan (mengangguk takzim kepada eRJe yang kemampuan spatial recognition-nya baru dipercaya pada hari terakhir kita di sana).

Pengalaman road trip di sana membuat kami terbengong-bengong dan ketawa miris melihat tingkah laku berlalu lintasnya. Baaaaanyak banget pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Lampu kendaraan juga tidak menyala, bahkan ketika malam dengan kondisi minim penerangan jalan. Lebih ajaibnya, mungkin karena traffic yang tidak padat, pengendara motor di sana bisa sewaktu-waktu berbelok atau putar arah begitu saja tanpa peringatan apapun sebelumnya. Bahkan kami yang sudah terbiasa melihat kelakuan bajaj di ibukotapun takjub melihatnya.

Lebih hebat lagi melihat bagaimana mereka bisa parkir di badan jalan. Trus ditinggal begitu saja. Kadang dengan kunci masih menempel. Iya sih, pulau Weh tak seberapa padat, pasti repot dan ketahuan kalau ada yang berniat jahat mau mencuri. Tapi hambok ya minggir dikit. Beri kesempatan pengguna jalan lain untuk lewat dengan nyaman di jalan yang cuma satu atau dua lajur. Tidak hanya motor, hal ini juga berlaku buat parkir mobil. Salah satunya, saking amazed-nya berhasil difoto oleh Wenny.

Image

parkir ajaib

See? Pengemudi mobil hitam ini dengan tanpa dosa membiarkan separuh bodi mobilnya melintang di jalan. Ajaib lah pokoknya..

Jika “beruntung” perjalanan kalian juga akan semakin berkesan dengan adanya “anak nongkrong” yang nyegat di tengah jalan.

Image

“preman” penguasa perempatan jalan

Mau merasakan sendiri sensasi ketakjuban yang kami alami? Yuk main ke Sabang!

 

*photos courtesy of Alyak and Wenny


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.