Terbelah antara The Raid 2 dan Killers

Sempat walk out pada film Rumah Dara dan melewatkan The Raid yang menghebohkan dunia, rasa penasaran sukses membuat saya menonton sekuelnya , The Raid 2: Berandal. Kalau Killers aja saya berani nonton, yang satu ini pasti juga bisa dong.. Meski demikian, tetap saja saya tak punya cukup keberanian untuk menontonnya sendirian. Jadilah saya mengompori dua laki-laki untuk menemani saya nonton film ini. Hasilnya, saya sama sekali tidak menyesal. It was totally awesome! Well.. penilaian dari saya mungkin tak bisa disematkan pada keseluruhan film, mengingat setiap adegan sadis (yang berceceran hampir sepanjang film) saya ikuti dengan menutupi pandangan ke layar menggunakan kedua telapak tangan atau bungkus Pocky. Still.. it was Awesome!

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun (pinjem gambar dari sini)

Gimana nggak kalo wajah-wajah ganteng berjejer memanjakan mata. Arifin Putra, Oka Antara, Iko Uwais.. gimana saya milihnya coba? Belum lagi si mas jepun ganteng yang jadi psikopat di Killers ituh.. nongolnya cuma sebentar sih di sini, tapi tetep aja bikin mata berbinar-binar.

Di beberapa bagian film memang saya merasa seperti deja vu dengan film Killers. Terlebih dengan keterlibatan aktor-aktor yang sama: Oka Antara, Tio Pakusadewo, Epi Kusnandar, dan Jepun Ganteng Yang Sampai Sekarang Saya Belum Apal Namanya. Trus setting tempat Eka kabur ama Yudha di area gedung-gedung itu tempat yang sama kayak adegan finalnya Killers bukan siy? Mungkin cuma perasaan saya saja.

Selain itu, saya sangat excited dengan setting-setting familiar yang digunakan. Meski sutradaranya bilang filmnya bersetting Jakarta di dimensi imajinasinya dia, tetep aja syutingnya di Jakarta kan? Jadilah saya heboh sendiri berusaha mengenali itu kawasan mana. Terminal Blok M, Blok M Square, Kemayoran, SCBD, Melawai, mana lagi ya?

Trus saya juga sempat amazed dengan kehadiran Marsha Timothy di The Raid 2. Perasaan itu berubah menjadi tertohok ketika mengetahui bahwa di situ Marsha Timothy adalah istrinya Prakoso. APPAAAAAH??!! Dunia sungguh tidak adil! Kalo perempuan secantik elegan Marsha Timothy suaminya kayak Prakoso, njuk apa kabar impian saya terhadap Ario Bayu? Makin jauh aja deh huhuhuhuhu…… Untunglah itu cuma di film. Toh di dunia senyatanyanya Marsha Timothy bersanding dengan orang yang setara kegantengannya juga. Masih ada harapan buat saya.

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng (nyomot gambar dari sini)

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Bagus. Banget. Sadis sih.. tapi bagus (dan si Uco ganteng banget). Meski personally, saya masih lebih suka Killers yang bukan cuma memainkan cerita berdarah-darah tapi juga ada unsur psikologisnya. Akting pemainnya pun jauh lebih mantap di Killers. Ya iyalah.. di The Raid kan lebih penting berantem daripada menggali akting. Harusnya saya bikin postingan waktu abis nonton Killers ya? Tar deh kalo abis nonton lagi.. Tapi mana mungkin saya tega nonton lagi? Jadi sudahlah digabung saja begini.

oh iya.. ini si Jepun Ganteng Yang Saya Belum Apal Namanya Ituh.

jepun ganteng

ganteng kan? (pinjem gambar dari sini)


Labirin Blok M

Waktu itu hari Sabtu, dan saya baru sadar kalau agenda yang saya rencanakan ternyata masih minggu depan. Sayapun mulai mencari-cari acara agar wiken ga nganggur di kost begitu saja seperti orang tak berguna. Mulailah saya memantau grup yang berisi teman-teman sesama perantau di ibukota. Kebetulan sedang ada tawaran untuk nonton The Raid 2 yang saya penasaran tapi ga berani buat menontonnya sendirian.

Akhirnya A, B (saya) dan C  sepakat buat nonton bareng. Jam 12.30, di Blok M Plaza. Si A yang tiba duluan membelikan tiket untuk bertiga. Tak lama si B datang. Akan tetapi si C tak muncul hingga pengumuman film di teater 1 telah dimulai. A dan B kemudian masuk ke studio terlebih dahulu dengan menitipkan tiket si C kepada mbak penjaga pintu. Pembicaraan berikutnya masih berlangsung di grup, antara A dan C. Karena B tentu saja tak mau menyentuh gadget lagi begitu film dimulai.  (pembicaraan diedit seperlunya)

A: C! Udah sampe mana? di A12. Studio 1.

C: Lagi di lift.

A: Langsung masuk aja.. Tadi dititipin mbaknya yang jaga. Mbaknya cakep.

C: Bioskop berapa, A?

A: 1. Saaatuuuu

C: Yang jaga mana? Ga ada.

A: Ya udah masuk aja

C: Blok M kan, A?

A: Iya.. Blok M plaza.

C: Kok filmnya beda ya hahaha

A: Studio 1, C. wah jangan-jangan di Blok M Square.. The Raid 2 Berandal

C: A, lo ga ada

A: Blok M Plaza

C: Salah studio kali. Ini udah A12

A: Lho? Filmnya apa?

C: The raid kan? Coba lo berdiri

A: A itu di atas

C: Iya tau. Lo berdiri coba

A: Ogah ah

C: Hahaha sial.. Ini sama-sama the raid

A: A12 studio 1 Blok M Plaza

C: Jirutttt Blok M Plaza ama Mall beda ga?

A: Ya beda atuuuuh

C: Sial.. ini tempat duduknya siapa? Kosong tak tempatin. Sama-sama The Raid wakakakakaka … Tadi mbaknya bilang ada 2 orang cowok cewek nitipin tiket juga. Mbuh tiketnya siapa yang ta pake ini. Tempatnya banyak yang kosong.

Jadilah ternyata, si C itu salah gedung. Dia nonton di Blok M Square. Padahal A dan B nonton di Blok M Plaza. Kedua bioskop memutar The Raid di Studio 1 pada jam yang hampir bersamaan. Si C bisa masuk studio karena seperti halnya A dan B yang menitipkan tiket pada mbak penjaga pintu studio Blok M Plaza, dua orang cowo-cewe juga menitipkan tiket untuk temannya di Blok M Square. Entah siapa yang mungkin jadi tertahan di depan pintu studio karena jatah tiketnya digunakan si C.. Maafkan teman saya ya…

Area Blok M yang ramai crowded dan banyak pusat perbelanjaan memang kadang bisa membingungkan seperti labirin bagi orang yang belum terbiasa. Momen salah gedung seperti tadi bukan hanya sekali dua kali saya alami, tapi ya tak urung maklum juga.. Untuk lebih mempermudah, begini deh posisinya di gugelmep:

BLOK M

Selain Blok M Plaza dan Blok M Square seperti tampak dalam peta di atas, masih ada Pasaraya Grande di kanan Blok M Square (samping pintu keluar Terminal Blok M), Blok M Mall di atasnya (posisi di bawah tanah sejajar terminal Blok M), dan Melawai Plaza di bawahnya (samping belakang Pasaraya Grande). Bingung, bingung deh..


Tentang Iklan Nyebelin Yang Mengganggu Kenikmatan Saya Menonton Bioskop

Baru saja saya akhirnya sempat buat nonton Dallas Buyers Club di Plaza Senayan XXI. Film bagus yang memang layak dua pemerannya, Matthew McConaughey dan Jared Leto, untuk memenangkan penghargaan Academy Awards. Tapi ada satu hal yang mengganggu kenyamanan saya menonton.

Sebelum film diputar, seperti biasa ada trailer film-film yang akan segera masuk bioskop. Tak jarang juga ada iklan yang ditayangkan. Seringkali iklan event-event terkait perfilman, pendidikan, atau properti. Namun tadi, terdapat dua iklan salah satu bakal calon presiden yang sumpah malesin banget dan membuat saya berencana untuk tidak nonton bioskop dulu hingga berakhir pemilu.

Saya nonton bioskop itu di antaranya untuk melarikan diri dari dunia nyata, dan memasuki dunia yang diciptakan oleh para creator film. Karenanya saya benci sekali gangguan sekecil apapun ketika saya sedang nonton bioskop. Apapun. Ada cahaya gadget menyala aja pengen saya timpuk pake sepatu, apalagi yang sampe nerima telfon ngobrol di tengah pertunjukan. Eh lha kok malah disodori iklan kampanye bakal calon presiden yang kalo nongol di tv saja saya langsung ganti channel. Buat apa saya bayar tiket bioskop mahal-mahal kalo malah dijejali hal yang biasa saya hindari? Mending juga nonton donlotan, ga pake bayar.


Pictures of Time

Siang itu bersama seorang sahabat, saya melihat kembali foto-foto lama. Melihat metamorfosa dari waktu ke waktu, dia bertanya “Tahun berapa ini? Kok sepertinya beda banget. Apa yang terjadi antara waktu itu dan sekarang?”.

Saya tercenung. Memang tampak kontras antara perempuan yang tertangkap dalam gambar-gambar itu, dan yang sedang duduk menyesap kopi hitam di sampingnya. Banyak hal terjadi di antara masa-masa itu yang menempa.

Jadi apa saja?

Mungkin seperti kata Summer dalam (500) Days of Summer..

“..what always happens. Life.”


Diproteksi: “Sayang”

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:


Ngakak Pagi Hari Ini

“Aaaaaaa… ini kenapa BB-ku gak mau di-charge? Mosok rusak? Apa kabelnya yang kenapa ya?” gerutu seorang kawan, sebut saja Raden Roro Mangkugalon (bukan nama sebenarnya).

“Colokannya kali?” jawab saya ngasal, kemudian menghampiri mencoba membantu.

Saya lihat dia berusaha mencopot-pasang kabel usb charger BB pada port di cpu komputer. Baru saya ngeh masalahnya.

“Lah itu komputernya aja belum nyala, gimana mau ngecharge?”

Lulusan S2 Universitas terkemuka di Indonesia ternyata memang tidak menjamin kecerdasan di segala bidang hahahahahaha….


Sad – Maroon 5

“Man, it’s been a long day
Stuck thinking ’bout it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding on by a thin thin thread..”

Kemarin untuk pertama kalinya saya mencoba menyanyikan lagu ini saat karaokean dengan neng Buds. Kemudian saya terhenyak. Gilak lagu ini galaunya pas banget. Sini sini, mas Adam Levine peluk sini..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.