Category Archives: kesadaran

Nostalgia Doa

Ada sebuah tradisi yang berlaku di sekolah swasta islam tempat saya menuntut ilmu. Di kelas, sambil menunggu guru datang, biasanya para murid bersama-sama mendendangkan syi’ir ini. Waktu itu saya asal ikut “menyanyi” begitu saja. Sekadar bagian dari ritual. Baru tadi ketika salah seorang senior membahasnya di newsfeed facebook, saya menyadari bahwa syi’ir ini merupakan do’a sebelum belajar yang sangat indah sekali.

D o a  S e b e l u m  B e l a j a r 

 

سَأَلْتُكَ رَبِّ صِحَّةَ القَلْبِ وَالجَسَدْ * وَعَـافِيَةَ الأَبْدَانِ وَ الأَهْلِ وَ الوَلَدْ

وَطُوْلَ الحَياَةِ فِي كَمَالِ اسْـتِقَامَةٍ * وَحِفْظًا مِنَ الإِعْجَابِ وَ الكِبْرِ وَحَسَدْ

وَ رِزْقاً حَلاَلاً وَاسِعاً غَـيْرَ نَاقِصٍ * يَكُوْنُ لَناَ عَوْناَ عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ

وَعِـلْمًا مُبَارَكاً بِهِ أَفْهَمُ الكُتُبْ * وَ رُؤْياً سَدِيْدًا يَنْفَعُ الأَهْلَ وَ الوَلَدْ

وَ أَمْناً مِنَ البَلاَءِ وَ الهَوْلِ وَ الفِتَنْ * ِلأَوَطَانِنَا وَ عِصْمَةً مِنْ ذَوِي الحَسَدْ

وَحُسْنَ أَدَاءِ لِحُقُوْقِ جَمِيْعِهَا * عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَ تَرْضَاهُ يَا صَمَدْ

وَ أَكْثِرْ لَنَا تَوَابِعَ الحَقِّ وَ الهُدَى * مِنَ الأَقْرِباَءِ وَ البَعِيْدِيْنَ وَ الأَبْعَدْ

بِفَضْلِكَ يَا رَحْمَنُ ياَ مُحْسِنَ الوَرَى * بِجَاهِ النَّبِي المُصْطَفَى خَيْرِ مَنْ سَجَدْ

عَلَيْهِ صَـلاَةُ اللهِ ثُمَّ سـَلاَمُهُ * وَ الآلِ وَ الأَصْحَابِ وَ مَنْ لِلْعُلَى قَصَدْ

 

Sa-altuka Rabbi shihhatal qalbi wal jasad * wa ‘afiyatal abdani wal ahli wal walad

wa thulal hayati fi kamalis-tiqamati * wa hifzhan minal i’jabi wal-kibri wal-hasad

wa rizqan halalan wasi’an ghaira naqishin * yakunu lanaa ‘aunan ‘ala manhajir-rasyad

wa ’ilman mubarakan bihi afhamul kutub * wa ru’yan sadidan yanfa’ul ahla wal walad

wa amnan minal bala-i wal-hauli wal-fitan *  Li-awthanina wa ‘ishmatan min dzawil hasad

wa husna ada-i li-huquuqi jamii’iha *  ‘ala ma tuhibbuhu wa tardhahu Ya Shamad

wa aktsir lana tawwabi’al-haqqi wal huda * minal aqriba-i wal-ba’idina wal-ab’ad

bifadhlika Ya Rahmanu Ya Muhsinal Wara * bijahin nabiyyil mushthafa khairi man sajad

‘alaihi shalatullaah tsumma salamuhu * wal ali wal ash-haabi wa man lil’ula qashad

 

Kepada-Mu wahai Tuhanku aku memohon: kesehatan lahir dan batin, serta kesentosaan diri, anak dan keluarga..

dan panjang umur dalam keistiqamahan yang sempurna serta terjaga dari sifat ujub, sombong dan dengki..

dan rizqi yang halal, lapang tanpa kurang, yang menjadi penolong kami dalam (menempuh) jalan petunjuk-Mu..

dan ilmu yang berkah yang dengannya akan kupahami kitab-kitab, serta pengetahuan yang berguna bagi anak dan keluarga..

dan kesentosaan negeri kami dari bala’, marabahaya dan fitnah dari para pendengki

dan kemampuan menunaikan hak dengan sebaik-baiknya, di atas (jalan) yang Kau sukai dan Kau ridhai

Perbanyaklah (kemauan dan kemampuan) bagi kami untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk yang berasal dari kerabat, baik yang dekat maupun jauh.

(Aku bertawasul) dengan keutamaan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi kebaikan pada makhluk-Nya, serta dengan (kemuliaan) nabi pilihan yaitu sebaik-baik orang yang bersujud (pada-Mu).

Semoga kasih sayang dan kesejahteraan dari Allah senantiasa tercurah bagi beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga orang-orang yang mengharapkan keutamaan.

 

Entahlah apakah tradisi ini masih dilangsungkan. Semoga demikian. Dan saya turut mengaminkan.

Iklan

Pictures of Time

Siang itu bersama seorang sahabat, saya melihat kembali foto-foto lama. Melihat metamorfosa dari waktu ke waktu, dia bertanya “Tahun berapa ini? Kok sepertinya beda banget. Apa yang terjadi antara waktu itu dan sekarang?”.

Saya tercenung. Memang tampak kontras antara perempuan yang tertangkap dalam gambar-gambar itu, dan yang sedang duduk menyesap kopi hitam di sampingnya. Banyak hal terjadi di antara masa-masa itu yang menempa.

Jadi apa saja?

Mungkin seperti kata Summer dalam (500) Days of Summer..

“..what always happens. Life.”


Lost In Translation

Siang ini Rolin, radio komunitas favorit saya, memutarkan lagu Please Forgive Me-nya Bryan Adams. Ingatan sayapun melayang pada kejadian sekian tahun lalu ketika saya masih eSeMPe. Mbak asisten yang bekerja di rumah masih muda, cantik, gaya, dan banyak pacarnya. Mungkin usianya hanya sekitar lima tahun di atas saya. Ketika itu saya sedang mulai mendapatkan pelajaran bahasa inggris di sekolah, dan sedikit-sedikit membiasakan telinga dengan lagu-lagu berbahasa inggris. Mbak asisten yang tak terbiasa dengan bahasa inggris, suatu ketika menanyakan pada saya.

mbak asisten : Dek, ai ken stop loving yu ki artinya apa?

saya : “ai” itu “saya”. “ken” itu “bisa”. “stop” itu “berhenti”. “loving” itu “mencintai”. “yu” itu “kamu”. berarti “ai ken stop loving yu” itu “aku bisa berhenti mencintai kamu” gitu, mbak..

Tentu saja jawaban saya berdasarkan asumsi pembicaraan lisan semata. Wajah mbak asisten pun terlihat murung. Ternyata kalimat itu sampai padanya melalui salah satu pacar yang paling disukainya. Beberapa waktu kemudian, mbak asisten curhat kalau dia sudah putus dengan pacarnya itu.

Sekian tahun berlalu, ketika si mbak asisten telah pulang kampung dan digantikan oleh mbak asisten lainnya, saya baru ngeh lirik lagu ini.

“..Please forgive me, I know not what I do
Please forgive me, I can’t stop loving you..”

Lha.. jangan-jangan, yang dimaksud pacarnya mbak asisten waktu itu bukan “can”, tapi “can’t”. Tapi berhubung si mbak asisten mengucapkannya secara lisan dengan logat medok Wonosobo-an kental, dan pengetahuan bahasa inggris saya masih begitu cetek sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan, mereka jadi putus gara-gara salah paham.

Haduh maaf ya, mbak.. Di manapun dirimu sekarang berada. Semoga selalu bahagia sejahtera dan berlimpah cinta.


Interlude

“If she’s amazing, she won’t be easy. If she’s easy, she won’t be amazing. If she’s worth it, you wont give up. If you give up, you’re not worthy. … Truth is, everybody is going to hurt you; you just gotta find the ones worth suffering for.”
– Bob Marley

I got the quote from a friend’s facebook newsfeed.

It got me thinking, and then look around. Remembering people i’d given up, and gave up on me. Yet i’m still standing here, as unworthy as them. Searching for somebody worth fighting for, and not giving up.

*pinjem gambar dari sini


Satu Langkah Tercentang

biar foto pake kamera hape seadanya yang penting akhirnya eMTe juga

Ada saatnya saya melembur nyaris tak tidur tiap malam selasa demi tugas-tugas pak Tasrif. Di lain kesempatan, saya bersama teman-teman kelompok tiga berkeliling Bandung naik turun angkot di tengah hujan deras untuk mewawancara sopir-sopir angkot demi tugas pak Sonny. Pernah juga kami beramai-ramai diajak Prof Widjajono Partowidagdo (alm) untuk hiking dari Dago melintas Tahura Juanda ke Maribaya. Diskusi-diskusi panjang di lounge SP yang tak jarang sampai malam, ataupun belajar kelompok di Potluck sampai ketiduran. Belum lagi jungkir balik stres berkepanjangan demi menyelesaikan tesis. Terlalu banyak rasanya kenangan yang tercipta selama dua tahun terakhir berlabuh di kampus Ganesha untuk dirangkum dalam sebuah postingan. Yang jelas, Jumat kemaren saya wisuda. Puji Tuhan dan seluruh penghuni semesta alam yang telah membantu saya berproses untuk melalui itu semua. You know who you are.. 🙂


…. days of ….

“Look, I know you think he was the one, but I don’t. Now, I think you’re just remembering the good stuff. Next time you look back, I, uh, I really think you should look again.”

-diedit seperlunya dari (500) Days of Summer-

Kata-kata Rachel Hansen pada Tom ini seperti menampar saya. Tak pelak sayapun mengiyakan. Selama ini saya tenggelam. Semakin dalam, semakin karam. Tak lain karena yang tertanam di benak hanyalah hal-hal indah yang pernah saya lalui bersamanya. Dan ini sama sekali tidak sehat. Sampai kapan saya akan tenggelam dalam kumparan memabukkan yang sekaligus menggerogoti setiap sisi hati dan rasio?

Being Positive memang bagus, tapi dalam hal ini sepertinya saya harus menuruti Rachel, dan membuka mata lebih lebar. Menelisik ke setiap detil memori, dan menemukan hal-hal yang dapat membuat saya tersadar. Sekarang waktunya berhenti.

It’s not worth it.

*pinjem gambar dari sini*


Buruk Muka Cermin Dibelah

pritamulyasari

Saya sungguh tak terbayang istilah apa lagi yang tepat untuk menggambarkan situasi ini. Prita Mulyasari, seorang ibu dari dua anak terpaksa harus ditahan karena curhat atas buruknya pelayanan RS.Omni Tangerang. Salah diagnosa yang mengakibatkan salah penanganan membuat sakit yang diderita ibu Prita bukannya membaik melainkan semakin parah. Setelah komplain kepada pihak rumah sakit tidak ditanggapi dengan baik, ibu Prita-pun menulis surat berbagi pengalaman ke sebuah milis.

Tak disangka tindakannya ini berbuntut panjang. RS.Omni Tangerang menuntutnya secara perdata dengan dalih pencemaran nama baik. Tidak berhenti sampai di situ, saat ini, beliau sedang dalam tahanan kejaksaan menanti sidang pidana karena dituntut dengan UU ITE.

Wew… Apa yang sedang terjadi di negeri ini?? Seingat saya, hak-hak konsumen dijamin dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen deh.. tapi kok jadinya malah ruwet kayak begini?? Akankah kita tinggal diam begitu saja?? Tentu tidak!!

Mengikuti jejak ndorokakung, simbok venus, dilla, mba memeth, tikabanget, dan masih banyak teman-teman lain yang bergabung dalam cause “Dukungan bagi ibu Prita Mulyasari, penulis surat keluhan melalui internet yang dipenjara” mari kita bergandengan tangan, bahu-membahu menyuarakan:

  1. Cabut segala ketentuan hukum pidana tentang pencemaran nama baik karena sering disalahgunakan untuk membungkam hak kemerdekaan mengeluarkan pendapat
  2. Keluhan/curhat ibu Prita Mulyasari thd RS Omni tidak bisa dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) UU ITE
  3. Keluhan/curhat Ibu Prita Mulyasari dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
  4. RS Omni hendaknya memberikan HAK JAWAB, bukan melakukan tuntutan perdata dan pidana atas keluhan/curhat yg dimuat di suara pembaca dan di milis2

Hang on, bu Prita… We’re here for you…

*hugs*