Tentang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Ketika pertama kali melihat trailer film ini, saya sudah pesimis (baca: nyinyir) dan sama sekali tidak berminat untuk menonton. Gambar-gambar dalam trailer yang disajikan banyak mengingatkan saya pada film the Great Gatsby, Titanic dan Life of Pi. Salah seorang kawan menangkis “kamu sudah nonton filmnya belum?”. Ya belum, dan memang nggak minat. Sampai pada suatu sore saya memasuki lobby bioskop, bermaksud menonton the Secret Life of Walter Mitty, namun ternyata saya masih harus menunggu dua jam lagi untuk film itu. Yang berarti juga saya akan pulang lebih malam karenanya. Di antara deretan di jadwal putar, film lain yang saya minati sudah saya tonton. Tinggal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang sepertinya masih masuk akal buat ditonton baik dari jenis film maupun jam tayangnya. Mayan lah daripada lu manyun..

Sayapun memasuki studio dengan ekspektasi rendah, efek dari trailer film yang menyinyirkan saya itu. Beberapa review yang saya baca telah mengingatkan tentang nuansa sephia dan nuansa biru yang utk beberapa orang dirasa mengganggu, so i kinda have prepared my eyes to it. Meski demikian tetap saja ada satu adegan yang membuat saya harus menutup mata dengan tangan karena silau saking mendadaknya perubahan tone cahaya.

Satu hal yang saya sesalkan ketika saya keluar dari studio: betapa saya merasa gagal menjadi penonton yang baik dan beradab karena cekikikan bahkan tergelak tertawa pada adegan-adegan yang seharusnya mengharukan ataupun menyedihkan. Untuk ini saya banyak dipengaruhi pemilihan Pevita Pearce sebagai pemeran Hayati yang secantik hot apapun kok rasanya kemampuan aktingnya masih njeglek dibanding Herjunot apalagi Reza Rahardian (boleh gak ngusulin dia masuk nominasi Best Supporting Actor di penghargaan film apapun berikutnya? He’s doing a great job here, seperti di film-filmnya yang lain). Selain saya, ada nggak sih yang lebih fokus ke ujung plester luka buatan di kening Hayati yang terkelupas, daripada dialog sedih yang dia ucapkan? Sebenernya ada satu lagi yang janggal terkait plester luka ini tapi nanti diteriakin spoiller sama yang belum pada nonton. Meski dari judulnya pun film ini sudah mengumbar spoiller sendiri.

Selain itu saya juga sempat twitkan keheranan saya tentang suhu dan kenyamanan udara:

Setahu saya, dan seperti yang disajikan dalam film tersebut, baik Batipuh maupun Padangpanjang tempat Hayati berasal dan Zainuddin sempat tinggal, sama-sama daerah yang bersuhu sejuk dingin. Sedangkan Surabaya, siapapun tahu betapa panas-nya kota di deretan pantai utara jawa itu. Namun terdapat adegan dimana keduanya bercakap dalam sebuah ruangan yang menyalakan perapian, lengkap dengan bunyi kretek-kretek khas kayu terbakar. Baru tau ada rumah di Surabaya yang memfungsikan perapian saja sudah cukup membuat saya terheran (kalo cuma buat pajangan sih beda cerita), apalagi melihat latar belakang dua tokoh yang seharusnya justru kegerahan di Surabaya sedemikian rupa. Makassar-pun tak kalah panas dari Surabaya bukan?

tkvdw

Overall, terlepas dari semua itu, film ini sama sekali tidak bisa dibilang jelek. Gambar-gambar artistik dan musik latar dari Nidji sangat memanjakan mata dan telinga. Mungkin akan lebih sempurna kalau pemeran wanitanya diganti. Acha Septriasa atau Raihanuun mungkin?


26 responses to “Tentang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

  • Rere @atemalem

    Malah penasaran pingin nonton jadinya.

  • Adiitoo

    Aku setuju sama Acha dan Raihanunn. Gak elok rasanya bila peran Hayati diberikan kepada Pevita Pearce

  • Vicky Laurentina

    Sebetulnya, kalo Ulfah menulisnya seperti ini, malah lebih terkesan bahwa Ulfah lebih terganggu akan kehadiran Pevita ketimbang terganggu akan ketidakakuratan film itu sendiri..

    Bikinan keluarga Punjabi memang sulit dipercayai keakuratannya. Eh, film ini bikinan keluarga Punjabi kan?

    • emyou

      soalnya saya merasa tidak punya kapasitas buat ngomong akurasi film, Vick. Saya miskin pengetahuan tentang budaya Minang. Tapi memang budaya matrilineal-nya jadi tenggelam banget di film ini. Justru berasa sangat patrilineal karena daya dan wibawa perempuan minang yang tersohor itu sama sekali tak nampak di sini. Belum lagi, kalau di Minang bukannya laki-laki yang “dibeli”? Prosesi yang dinampakkan kok malah mengesankan sebaliknya?

  • http://daenggassing.com

    Sudah baca bukunya belum Pha?
    adegan membakar perapian itu ada di buku atau ndak ya?
    takutnya skenario yg ditulis beda sama yg di buku dan jatuhnya malah blunder

    • emyou

      sayang sekali saya belum baca bukunya. makanya saya ga berani banyak komentar terkait budaya atau penerjemahan dari buku ke layar lebar. termasuk ketika Hayati menonton pacuan kuda ke Padangpanjang dengan mengenakan gaun cantik tanpa lengan. Dengan latar belakang keluarga yang segitu islam adat konservatif, kok ibunya membiarkan saja anaknya ke public space seramai itu pakai gaun tanpa lengan. Kalo dia anak ibu saya pasti udah diciwel disuruh ganti baju.

      • cK

        Hiyaaaa itu juga yang aku perhatikan. Hayati kan biasa pakai baju tertutup kok tiba-tiba pakai baju kayak gitu. Anyway Ati yatim piatu sih, jadi gak ada ibu yang ingetin (kalau ibu temennya itu kayaknya udah biasa, ngelihat anaknya juga biasa gitu)

      • emyou

        Kan waktu dia ke Padangpanjang itu didampingi seorang ibu, Chik.. Kalo bukan ibunya ya berarti (asumsi saya) istri Ninik Mamaknya. Tetep aja seorang yang punya kuasa untuk mengingatkan “no, young lady, you’re not wearing that!”

      • cK

        Oh iyaaa beneeeer. Mamaku juga kalau aku pake baju kayak gitu pasti nyuruh ganti, walaupun bukan Islam konservatif sih.πŸ˜†

  • ninazski

    dialognya sudah persis bukunya…tp endingnya mengecewakan…cerita asliny lebih depressing

  • Latree

    aku ya belum baca bukunya… endingnya dibikin ga terlalu sedih ya, Zainuidin bangkit dan semangat gitu.

    eh fa, itu mungkin rumahnya Zainudin itu di Batu, Malang…

    • emyou

      Nope. Di Rumah Sakit dia jelas-jelas menyebut “kita pulang ke rumah Surabaya”. Dan di rumah itu, dia juga bilang akan pergi ke Malang untuk suatu urusan. Pada masa itu, Batu masih belum terpisah (secara administratif) dari Malang.

  • RIka MElati

    Acha septriasa jelek juga. Raihanum mgkn lebih cocok, atau yg jadi pemeran utama di flm Sang Penari.

    Overall, saya juga kaget, karena awalnya underestimate, nonton krn kepaksa diajak teman. Ternyata film nya lumayan, terutama secara dialog yang sangat menghibur dan khas angkatan Balai Pustaka

  • tupicz (@tupicz)

    Terlepas dari aktingnya, Pevita sebagai Hayati kurang sreg menurutku. Cantik sih.. cuma kurang “indonesia” wajahnya.

  • cK

    Ulpaaah, kita kok senasib yaaaa. Aku juga nonton ini gara-gara jam tayang the Secret Life of Walter Mitty gak cocok. =))

    Awal nonton gak expect banyak karena udah denger komentar negatif sana sini. Tapi pas abis nonton, surprisingly ternyata gak jelek. Memang ada beberapa adegan yang kurang hidup, misalnya pas mereka lagi tatap muka sambil mengucapkan kalimat nan puitis, aku langsung pengen bobok.

    Dan somehow aku setuju kalau akting Pev kurang ngegigit.

  • okky23

    Akupun terganggu dengan akting Pev walau hanya melihat trailer, iya mungkin sebangsa Acha, Raihanun atau Prisia yg pas karena mukanya Indonesia banget. Kalo Pev bapaknya bule, emaknya yg Indonesia.
    Kalo di Surabaya sampek menyalakan perapian, itu berarti pas musim hujan kek sekarang. Pagi mendung, rada siang panas nylekit tapi cuma bentar, mendung lagi, kemudian ujan dan malamnya cerah tapi udara dingin. Tapi mungkin juga kejadian, kan itu peristiwa tahun 1930, dimana ozon belum separah sekarang.
    Tadinya aku semangat ketika film ini belum tayang bioskop, tapi begitu premiere liat gaunnya Pev, lalu baca twitnya Dee, apalagi denger ceritanya Sam waktu itu hahahaha keinginanku menonton jadi ciut.πŸ˜€

    • emyou

      udah pasang perapian, cowo-cowonya pake baju tiga lapis pula: kemeja, vest, plus jas. bisa empat malah kalo mengingat kebiasaan laki-laki indonesia pake kaos sport merk swan. #halah

  • slamsr

    nonton ahhhhh…
    pengen denger suara kemretek khas kayu kebakar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: