Paspor Pertama Saya. Yaaayy!!

Setelah sekian puluh tahun jadi Warga Negara Indonesia, baru hari ini saya punya passport. Rupanya saya terlalu mencintai negeri ini sehingga enggan untuk meninggalkannya meski sekadar menyeberang ke tetangga, atau mengejar cinta saya ke Italia. Namun cita-cita saya untuk keliling dunia tentu tak akan dapat terwujud jika saya tidak juga mengambil langkah pertama. Untuk itu saya pun memulai. Ya dengan mengurus surat pengantar saya menclok antar negara ini.

Sebelumnya saya sempat mencari gambaran seperti apa sih pengurusan paspor itu. Berbekal pengalaman Rere yang dibagi di blognya, sayapun menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan:

  1. Copy KTP (dalam lembar A4)
  2. Copy Kartu Keluarga
  3. Copy Ijazah terbaru/Akta kelahiran
  4. Surat keterangan dari tempat bekerja

Semuanya dalam satu bendel, dan tak lupa saya bawa serta dokumen aslinya.

Konon Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan dikenal selalu ramai dan antriannya panjang, maka berangkatlah saya setelah sholat subuh ke lokasi. Sengaja saya naik taxi agar lebih cepat. Belum juga jam 6 pagi saya tiba, antrian sudah mencapai dasar tangga. Padahal loket pelayanan ada di lantai 2. Dan antrian itu bahkan belum antrian menuju loket pelayanan, melainkan antrian untuk mengambil nomor antrian di mesin otomatis yang baru akan dinyalakan pada pukul 7 pagi. Jadi ya silakan sapa antrian sekitar dulu, ngobrol-ngobrol, twitteran, main game, atau apalah yang bisa membantu anda menghabiskan waktu dengan sabar. Menjelang pukul 7 petugas Imigrasi berdatangan, dan antrianpun mulai bergerak.

suasana dalam penantian

suasana dalam penantian

Hari pertama untuk penyerahan berkas itu saya mendapat nomor antrian 72. Selain mendapatkan nomor antrian (dengan dibantu petugas yang menertibkan), saya juga diberikan map dan formulir pengajuan paspor yang harus diisi dengan huruf cetak dan tinta hitam. Jangan khawatir, yang ini gratis kok. Tidak dipungut sepeserpun. Setelah itu, saya tinggal mencari spot yang nyaman untuk duduk di lantai (karena kursi tunggu yang buanyak itu juga sudah penuh manusia semua), membuka bekal (penting inih! biar nggak makin bete semasa menunggu), dan lagi-lagi berusaha menikmati waktu sembari menunggu nomor saya dipanggil.

Ketika tiba giliran nomor antrian saya dipanggil, saya tinggal menuju loket yang disebutkan, kemudian menyerahkan map berisi bendel berkas itu. Saya juga diminta menunjukkan dokumen asli untuk dicocokkan dengan copy yang ada dalam berkas. Setelah itu, saya diberi slip tanda pembayaran untuk membayar biaya sebesar Rp.255.000,- keesokan harinya. Kenapa harus besok? Karena nomor antrian pembayaran untuk hari itu sudah habis memenuhi kuota harian. Sayapun meninggalkan kantor imigrasi untuk kembali ke kantor saya sendiri. Mayan masih ada setengah hari.

antrian untuk mengambil nomor antri

antrian untuk mengambil nomor antri

Besoknya, lagi-lagi setelah subuh saya berangkat menaxi. Sebelumnya memastikan diri untuk tidak mengenakan baju / jilbab warna putih, agar terlihat ketika pemotretan. Nggak lucu dong kalau foto paspor jadi seperti kepala melayang hanya karena warna baju / jilbab saingan dengan putihnya background foto hiiiyy… Sesampai di Kantor Imigrasi pukul setengah enam pagi, lagi-lagi antrian sudah mengular hingga tangga. Mayan lah.. setidaknya bukan di dasarnya seperti kemarin. Setelah barisan dirapikan malah saya masih dapat posisi di lantai 2. Meski demikian, nomor antrian untuk pembayaran yang saya dapatkan justru lebih besar dari sebelumnya. Kali ini saya dapat nomor 177. Baiklah..  malah sempat saya tinggal sarapan dulu ke sevel yang tak jauh dari situ.

Ketika nomor dipanggil, saya menuju loket pembayaran, dan menyerahkan biaya seperti yang telah ditentukan, kemudian mendapatkan tanda terima pembayaran dan nomor antrian saya kembali untuk digunakan mengantri foto. Jarak antara pembayaran dan antrian pemotretan ini tak lama, jadi sebaiknya anda langsung menuju ruang antri di depan ruang foto saja.

Untuk pemotretan dipanggil sekaligus beberapa orang, karena terdapat beberapa kubikel yang melayani. Setelah difoto dan diambil rekam sidik jari, kita tinggal menunggu untuk wawancara dan tanda tangan paspor. Nggak perlu gugup untuk proses wawancara ini. Nggak akan ditanya “Bagaimana Indonesia perlu bersikap sebagai negara non blok atas ancaman nuklir korea utara” atau “Mungkinkah gosip Eyang Subur hanya alat agar Arya Wiguna terkenal, masuk tipi dan jadi meme internet”. Nggak juga ditanya “Siapa gerangan yang akan jadi presiden Indonesia di Pemilu 2014”. Paling cuma ditanya alasan pembuatan paspor, hendak digunakan untuk pergi ke negara mana, dan pertanyaan-pertanyaan seputar isian formulir dokumen kita sebelumnya. Setelah itu, silakan pulang dengan tralalalalala… dan baru kembali tiga hari kerja setelahnya untuk pengambilan paspor.

Akan tetapi, rupanya saya tidak sedang di Jakarta pada hari paspor saya jadi. Baru seminggu setelah pemotretan itu saya bisa menyempatkan untuk datang lagi ke Kantor Imigrasi. Kali ini tak perlu mengantri sejak subuh buta seperti sebelumnya. Saya tinggal meletakkan tanda pembayaran di loket pengambilan paspor, kemudian menunggu nama saya dipanggil. Ketika sudah dipanggilpun tinggal tanda tangan sebagai bukti penerimaan, lalu kita diminta menyerahkan copy paspor ke loket itu lagi. Tenang, bisa foto copy di koperasi yang ada di pojok lantai yang sama. Voila! Paspor barupun jadi milik saya.

pasporkuh

pasporkuh

PS. Informasi lebih lengkap tentang pengurusan paspor silakan tengok di web resmi ditjen imigrasi yaaa


20 responses to “Paspor Pertama Saya. Yaaayy!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: