Impulsively Bukittinggi

Ketika mendapatkan penugasan ke Padang, saya cuma mengagendakan tiga hal: kopdar sama Desti @takodok, melaksanakan tugas, kemudian balik Jakarta. Akan tetapi tawaran panitia yang kebetulan sahabat-sahabat saya sendiri untuk impulsively mengunjungi kota Bukittinggi sembari memanfaatkan waktu luang sebelum jadwal pesawat kembali ke Jakarta, tentu terlalu sayang untuk dielakkan. Apalagi saya memang belum pernah ke sana.

Jarak kota Padang ke Bukittinggi kurang lebih 91 km, konon biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Namun karena kemarin perjalanan kami diwarnai dengan langkanya pasokan solar yang menyebabkan antrian panjang kendaraan setiap menjelang SPBU, jadilah jarak tersebut harus kami tempuh dalam waktu yang lebih lama. Kami berangkat dari Padang sekitar jam tujuh malam, dan baru sampai di Bukittinggi pada pukul dua belas malam. Perjuangan berat bagi sang driver, waktu tidur ekstra bagi para penumpang.

istana bung hatta

Istana Bung Hatta

Untunglah kami telah memesan tempat penginapan terlebih dahulu, sehingga tidak harus repot mencari hotel dalam kondisi teler setengah nyawa. Atas rekomendasi salah seorang pejabat dinas setempat, kami berkesempatan menginap di Istana Bung Hatta. Ya, gedung Tri Arga, sebutan lain Istana Bung Hatta adalah bangunan istana sungguhan yang merupakan tempat peristirahatan Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia tercinta, setiap kali beliau berada di Bukittinggi. Sampai merinding excited rasanya mendapati rakyat jelata macam saya bisa tidur di istana hahahahaha… Rupanya Istana tersebut memang dapat digunakan sebagai penginapan tamu negara, pejabat negara, atau pegawai negeri yang mendapatkan rekomendasi dari pejabat setempat.

Istana Bung Hatta ini terletak di pusat kota Bukittinggi, tepat di depan taman kota tempat Jam Gadang berada. Jadi paginya, saya dan teman-teman tinggal menyeberang jalan untuk dapat menikmati anggun gagahnya Jam Gadang yang legendaris ituh. Dan tentunya tak lupa foto-foto di sana.

jam gadang

Bukti pernah sampai di Jam Gadang

Berbekal petunjuk dari bapak tukang foto keliling yang memotret kami sebelumnya, kami menuju Ngarai Sianok. Kata si bapak sih jaraknya tak sampai satu kilometer, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagipula pedestrian di sana cukup menyenangkan, dengan pemandangan kota yang bersih asri, dan hawa yang sejuk nyaman. Jauh lah dari yang kami hadapi di Jakarta sehari-hari.. #curhat.

Dalam perjalanan, kami juga melewati Monumen Bung Hatta, sebelum menemukan Taman Panorama Bukittinggi tempat kami dapat menikmati pemandangan Ngarai Sianok, dan Lubang Jepang. Sayang sekali waktu yang sangat sempit tak memungkinkan untuk kami masuk dan menjelajahi Lubang Jepang. Jadi kami hanya berfoto sejenak, kemudian memuaskan perut yang kelaparan dengan seporsi besar nasi kapau di Pasar Atas.

Ngarai Sianok dan kuliner lezat penggoda iman

Ngarai Sianok dan kuliner lezat penggoda iman

Untuk itu kami kembali ke taman Jam Gadang lagi, lalu berjalan memasuki pasar. Menembus lorong-lorong pedagang dengan jualan beraneka ragam mulai baju, jilbab, makanan ringan, hingga pakaian dalam. Baru kemudian kami menemukan bangunan terbuka yang berisi lapak-lapak nasi kapau. Ada puluhan pedagang dengan sajian serupa yang digelar dengan meja berundak, sehingga memudahkan bagi ibu penjual untuk menjangkau setiap hidangan. Mulai dari rendang, ayam, usus, tunjang, dendeng, pokoknya segala hidangan lezat khas minang yang selalu membuat saya bertanya-tanya: apa gerangan resep rahasia orang minang agar selalu sehat sentausa sepanjang masa dengan berbagai sajian penggoda iman yang bikin teriak-teriak polisi kesehatan setiap keluarga?

Perjalanan pulang dari Bukittinggi ke Bandara Minangkabau, kami menyempatkan untuk mampir di warung Sate Padang Mak Syukur di Padang Panjang. Jika sebelumnya kami hanya dapat menikmati sate padang ini melalui gerai-gerai di berbagai mall di Jakarta, kali ini kami mencicipi rasa orisinilnya langsung. Nikmat tiada terkira.

Belum puas sebenarnya berkeliling, karena belum pula sempat saya mencicip gulai itiak lado mudo yang tersohor itu. Belum juga melihat “great wall” dan benteng Fort De Kock, apalagi kecipak-kecipuk main air di Air Terjun Lembah Anai (yang cuma kami lewati sambil menengadah takjub), dan Danau Maninjau. Anggap saja itu alasan untuk saya datang berkunjung lagi ke kota cantik Bukittinggi. Lain kali.


18 responses to “Impulsively Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: