The Casual Vacancy: Reality Bites

Jadi ceritanya saya baru saja mengkhatamkan buku JK Rowling terbaru. Ketika accidentally terdampar di Gramedia Gandaria City dan menemukan tumpukan buku berwarna dominan merah kuning ter-display, saya mulai merasakan sihirnya. Membaca sinopsis di bagian belakang cover, ternyata tidak terkait dengan dunia sihir magis Harry Potter. Malah lebih bersifat politis. Biasanya saya tidak terlalu tertarik novel-novel politik. Tapi melihat yang satu ini ditulis oleh JK Rowling, tanpa pikir panjang, sayapun langsung memeluk dan membawanya ke kasir.

200px-The_Casual_VacancySejak sampai di kost, buku itu nyaris tak pernah lepas dari waktu senggang saya. Sambil goler-goler sebelum mandi, duduk di metromini, sambil nyoklat hangat di sevel tetangga nunggu ngantuk, hingga waktu-waktu keramat yang memang paling nikmat kalo sambil baca, buku itu selalu saya bawa-bawa…. dan baca tentunya. Dipotong waktu kerja, istirahat, dan bersosialisasi sekadarnya, total sekitar empat hari buku itupun tamat. Akhirnya ada juga buku yang bikin saya segitu attached-nya seperti ketika saya membaca serial Harry Potter. Waktu itu malah lebih parah. Selama dua atau tiga hari saya cuma meletakkan buku ketika sholat dan mandi kilat. Makanpun buku tetap di hadapan. Ternyata JK Rowling memang pendongeng yang memikat, terlepas dari apa yang didongengkannya. Buku yang satu ini malah jelas-jelas mencantumkan ratingnya Dewasa. Meski demikian bukan berarti lantas jadi seperti serial Fifty Shades of Grey. Jauuuuuuh! But seriously, sebaiknya batasan usia pembaca ini diikuti mengingat apa yang disajikan dalam buku ini mungkin akan terlalu suram (dan sepahit kehidupan, #halah) bagi usia pembaca di bawahnya.

The Casual Vacancy ini bercerita tentang kehidupan sebuah kota kecil, Pagford, sepeninggal salah satu anggota dewan kotanya. Selain anggota dewan kota, almarhum Barry Fairbrother juga seorang suami, bapak dari empat orang anak, pelatih tim dayung sekolah setempat, dan merupakan sosok percontohan bahwa seorang yang lahir dan dibesarkan di daerah kumuh pinggiran juga dapat sukses dan menjadi warga kota yang terpandang. Posisi yang ditinggalkannya pun menarik minat berbagai kalangan di Pagford untuk mengisinya. Penyelenggaraan pemilihan anggota dewan tak lepas dari serba-serbi politik lokal yang penuh intrik. Apalagi posisi ini akan sangat menentukan bagi kelangsungan Bellchapel, sebuah klinik rehabilitasi bagi ketergantungan narkotika yang oleh beberapa pihak dianggap tak banyak berguna dan lebih baik ditutup saja. Padahal bagi keluarga pasien, keberadaan klinik tersebut menjadi tumpuan harapan bukan hanya kesembuhan pasien dari ketergantungan, namun juga keutuhan dan kelangsungan keluarga itu sendiri.

theblookclubishere_LargeWide

Begitu banyak tokoh yang ditampilkan dalam cerita ini. Dan selayaknya penduduk sebuah kota kecil, satu sama lainnya saling terhubung. Kisah dan hubungan antar tokoh-tokoh yang terjalin menjadi cerminan masyarakat yang biasa kita temui sehari-hari. Konflik kehidupan keluarga, judgement dari masyarakat yang hanya melihat luarnya saja (ya karena sisi luar itulah yang bisa mereka lihat), standar ganda, dan masih banyak lagi yang membuat kita tertegun miris sekaligus kontemplatif. Memang bukan bacaan manis sebagai pengantar tidur dan mimpi indah, tapi justru mengajak kita untuk lebih peka dengan permasalahan-permasalahan sekitar. Gak usah jauh-jauh level negara atau korporasi multinasional, tengok saja tetangga kita. Adakah dari mereka yang membutuhkan kepedulian kita?

*pinjem gambar dari sini dan sini


10 responses to “The Casual Vacancy: Reality Bites

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: