Tentang Pe-We

Bukaaaan… Pe-We di sini bukan Posisi Wuenak yang bikin kita mager dan males berpindah, akan tetapi Pendamping Wisuda. Yang kalo sepemahaman saya, sosok lawan jenis yang dihadirkan dan disuruh dandan bagus buat hadir pas acara wisuda kita.

Bermula dari cc-an twit dari teh yeny seperti yang saya capture di bawah ini.

Then, it got me thinking. Emang penting ya, Pendamping Wisuda? Buat apa? Ngapain?

Kebetulan saya memang baru menyelesaikan pendidikan jenjang S2 di ITB, dan bulan depan hendak mengikuti wisuda. Di antara keribetan yang saya persiapkan untuk acara wisuda, mulai dari persyaratan akademik, bakal pakai kostum apa, dandan gimana, sampai cari-cari penginapan buat keluarga yang akan datang ke Bandung, tidak terlintas dalam daftar saya tentang pendamping wisuda seperti yang diributkan orang-orang itu.

Bukankah cukup keluarga sebagai pendamping wisuda saya? Mereka yang selama ini paling support perjuangan saya, karenanya saya ingin mereka ada di hari saya diresmikan melewati tahapan yang cukup bikin saya jungkir balik dua tahun belakangan ini. Apa perlunya ada orang lain yang ikutan hadir di sini? Mo ngapain? Toh undangan buat masuk tempat wisuda juga cuma buat dua orang, dan tentunya saya persembahkan untuk kedua orang tua saya. Trus selama saya duduk manis kipasan ipit-ipit mengikuti upacara di ruang wisuda, itu orang mau disuruh ngapain? Setelah upacara pun saya mungkin akan foto-foto melepas rindu dengan teman-teman karena setelah ini entah kapan bisa ketemu lagi. Habis itu, ngumpul lagi ama keluarga. Njuk peran dan fungsinya Pe-We itu buat apa? Pajangan? Tukang poto? Malah kesian kan, jadi awkward merasa tak berguna?

Ya, saya memang sedang tak berpacar, sehingga ya memang nggak akan pake PeWe-PeWean, meskipun ada beberapa yang menawarkan diri. Tapi ketika wisuda S1 di Unibraw juga saya punya pacar, dan gak saya fungsikan sebagai PeWe tuh.. (hai kamu.. *dadah-dadah*). Seingat saya waktu itu si pacar bertugas mengantar jemput saya ke salon pagi buta, dan cuma sekali foto bareng pas di kampus di tengah keasyikan kita ngumpul sama teman masing-masing. Abis itu baru deh kita kencan setelah keluarga pulang dari Malang. But he wasn’t a part of the ceremony, even though he was a lovely part of my days back then. And I really thank him.

Wisuda kali ini.. saya pun tidak ingin menyiksa seorang anak manusia dengan menempatkannya dalam posisi awkward sementara saya tralala trilili ke sana kemari enjoying my graduation with my friends, whom i’ve struggled college with, and my family, my number one supporters. Jadi, ada yang punya rekomendasi tukang make-up yang bisa nata jilbab buat wisudaan yang ga jauh dari ITB?πŸ˜€


30 responses to “Tentang Pe-We

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: