Epilog

Laki-laki itu meringis menahan perih yang menjalar dari berbagai luka di sekujur tubuhnya. Merah darah merembesi kemeja yang koyak di beberapa bagian. Perlahan dia merangkak berusaha menjauh. Namun tembok kokoh menghadang di hadapan. Buntu. Tersudut.

Dipalingkannya wajah penuh lebam itu ke sosok yang dengan tenang berjalan mendekat. Keringat dingin mengucur deras. Dia tak menduga perempuan yang selama ini dikenalnya begitu rapuh dan penuh cinta, dapat menguarkan aura malaikat pencabut nyawa. Pasti masih ada rasa tersisa. Sekeping asa yang dapat menyambung hidupnya.

Hening.

Laki-laki itu memberanikan diri menatap wajah dingin di hadapannya. Berusaha mencari secercah kasih yang dulu selalu terpancar dari sana. Tiada. Hanya seraut wajah ayu penuh dendam.

Tak banyak yang kemudian tertangkap indera. Selintas perempuan itu mengangkat tangan. Angin dingin menghembus kuduk. Ini pasti buruk. Tak ada harapan lagi.

“CRUCIO!!” Lantang suara perempuan itu membelah malam.

Hal terakhir yang laki-laki itu dengar, adalah gemeretak tulangnya sendiri.


24 responses to “Epilog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: