Reuni yang Tertunda

Beberapa minggu yang lalu tersiar kabar melalui Bulletin Board Friendster ( ya, gw masi setia dengan Friendster dan tidak tertarik untuk migrasi ke Facebook) tentang akan diadakannya reuni alumni kampus gw. Pada pemberitaan awal itu, angkatan gw tidak termasuk mereka yang diundang ber-reuni ria, dan jujur, gw merasa agak sakit hati karenanya hehehe… Abisnya angkatan terakhir yang disebut itu yang tepat di atas angkatan gw. Baru pada dua revisi berikutnya, reuni tersebut diberlakukan sampe angkatan di bawah gw.

Tapi rupanya, hal itupun tidak membuat gw serta-merta mendaftarkan diri pada penyelenggara. Jarak menjadi alasan pertama. Jakarta-Malang tidaklah dekat, dan untuk itu perlu tenaga, alokasi dana, dan tentunya yang jadi alasan kedua: Waktu. Terlalu maksa, kalo reuni tersebut diadakan di hari weekend biasa. Pikir-pikir lah..kalo gw harus jumat sore atau sabtu pagi berangkat, untuk acara hari Minggu yang Senin paginya uda harus stand by lagi di kantor. Lagipula, alasan ketiga yang juga jadi faktor terpenting yaitu: Teman-teman, masi belum banyak yang tau tentang acara ini.

Kondisi ideal sebuah reuni menurut gw tuh.. WAJIB ada temen-temen yang memang pada masa itu selalu ada di sekitar kehidupan gw. Mungkin terdengar egois, tapi apalah artinya reuni, kalo yang hadir kita gak terlalu kenal atau mala ga terlalu suka. Pengennya gw, di reuni itu kita bisa seperti memutar waktu. Ada sahabat-sahabat, rekan seper-rumpian, temen-temen organisasi yang jadi partner debat ato sekedar nyanyi-nyanyi bareng diiringi petikan gitar, mantan pacar, mantan gebetan, dan tentunya sang public enemy number one. Well.. mungkin singkatnya, gw pengen reuni ituh cuma seangkatan. Biar lebi intim, lebi berasa naek kereta waktunya.

Tentang timing, akan lebih mudah kalo dilaksanakan pada long weekend. Hal ini untuk memudahkan teman-teman yang sudah terpencar ke berbagai penjuru, agar lebih leluasa mengatur perjalanan dan menikmati momen tanpa harus merasa terburu-buru kembali ke “dunia nyata”. Minimal kalo ada libur tiga hari deh. Biar bisa berangkat pada hari pertama, beracara pada hari kedua, dan balik pada hari ketiganya.

Kalo soal lokasi siy.. memang ga ada yang lebih mengena dibanding kota tempat almamater berada. Gak harus di kampus, tapi bisa juga di lokasi-lokasi wisata yang ada di sekitar kota itu. Kalo perlu lokasi yang memang pernah punya cerita, macem tempat dulu Orientasi, Kemah Bakti, ato sekedar lokasi yang dulu biasa digunakan nongkrong bareng. Sepertinya akan lebih berkesan.

Jadi kangen temen-temen masa menggila dulu…

Oh ya.. tentang reuni itu.. kabar terakhir si ditunda sampe waktu yang belum ditentukan. Semoga saja ketika bisa bener-bener terlaksana nantinya, gw dan teman-teman yang menyenangkan itu bisa ikut serta ber-reuni ria.


35 responses to “Reuni yang Tertunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: