Sekotak Cokelat

sekotak cokelat

Kamu, sekotak cokelat.

Terbungkus rapi dengan berbagai kejutan menanti. Begitu banyak kemungkinan menunggu ditemukan. Hitam? Putih? Susu? Marble? Plain atau dengan isi? Berhias warna-warni atau polos apa adanya? Ketidaktahuan ini sedikit menakutkan, tapi sekaligus juga menggelitik rasa penasaran.

Apapun yang akan kudapati, aku toh suka cokelat. Dan aku rasa itu cukup.

*pinjem gambar dari sini


Yoga Rookie Me

Selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatu. Kemarin saya baru mencoba Yoga. Memanfaatkan free trial class dari Kalyana Yoga, yang lokasi studionya di Tendean, tidak seberapa jauh dari kantor. Saya bergabung dengan kelas Yoga Props. Di situ kita belajar melakukan gerakan-gerakan yoga dengan dibantu properti balok kecil, guling yoga, straps, kursi, dan selimut.

Image

*pinjem gambar dari http://aqubalance3.com

Sempet meragukan kemampuan sendiri, mampu gak ya nekuk-nekuk badan kayak di gambar-gambar yoga yang sering saya lihat. Tapi ternyata, dengan bantuan instruktur, bisa juga kok ini badan dipaksa mengoptimalkan gerakan. Malah setelahnya, otot dan sendi badan jadi terasa lebih rileks dan nyaman. Beberapa gerakan yang di gambar ini kemarin sudah berhasil saya praktekkan tanpa cedera ataupun kesleo hohohoho…

Jadi tergoda buat daftar kelas reguler nih.. daftar gak ya?


Suatu Ketika Seharian Demam Korea

Demam ko-Korea-an yang melanda hampir seluruh penjuru negeri (atau bahkan dunia) membuat saya jengah. Apaan sih pada segitunya? Jadilah selama ini saya enggan untuk turut serta nonton berbagai drama atau apapun bentuknya dari negara Ginseng itu. Saya bahkan nggak ngerti di mana gantengnya artis-artis cowo sana yang dielu-elukan oleh sebagian teman-teman perempuan saya. Menurut saya wajah mereka sama semua. Susah bedain satu dengan lainnya. Begitu juga ketika saya ditawari pinjaman eksternal hard disk teman pengoleksi segala bentuk drama Korea. Berbekal iseng dan penasaran apa yang menyebabkan temen-temen saya itu sampai demam sedemikian rupa, sayapun memilih salah satu folder dengan judul yang sering mereka bicarakan.

Judulnya Lie to Me. Sama seperti judul serial hollywood yang pernah saya ikuti. Tapi Lie To Me yang serial drama Korea ini bukan cerita kriminal, melainkan drama percintaan ala cinderella seperti pada umumnya. Biasalah.. cewe (cantik tentunya) dari keluarga biasa yang clumsy dan ceria, bertemu cowo strict ganteng kaya raya dan konflik-konflik yang timbul atas berbagai perbedaan antara keduanya. Quite sinetron-y.

Herannya, saya cukup betah mantengin dari pagi hingga pagi keesokan hari kemudian, dengan disela kegiatan-kegiatan dasar seperti mandi, sholat dan tidur (ketiduran ding tepatnya). Makan dan minum saya lakukan sambil menonton. Mungkin karena adanya kesamaan pekerjaan dengan tokoh utama wanita, Gong Ah-jung (diperankan oleh Yoon Eun-hye), yang juga PNS Kementerian, sehingga jenis-jenis pekerjaan yang dilakukannya bikin saya ber-”oooh PNS Kementerian di Korea juga kayak gitu toh kerjaannya”. Meski di sisi lain saya juga heran kok bisa-bisanya dia ngantor pake kaos, celana pendek, bahkan sepatu sandal casual ketika berhadapan dengan Menteri. Udah gitu gampang banget dia minta pindah ke Jeju Island setelah dikembalikan bertugas. Kalau di sini mah pasti udah dipelototin orang Kepegawaian dibilang riwil kagak tau diri.

Trus tokoh utama cowo, Hyun Ki-jun (diperankan oleh Kang Ji-hwan), meski posisinya Presiden suatu perusahaan besar yang mempengaruhi perekonomian Korea, gampang aja gitu kabur ke sana kemari buat ngikutin cewenya. Itu bukan apa-apa sih sebenernya, ya namanya juga bos besar, mungkin bebas buat dia mo ngapain juga. Tapi saya sungguh kagum betapa cowo yang digambarkan se-manly itu bisa mengenakan bros bunga warna-warni bersama dengan setelan suit yang merupakan kostum kerja hariannya. Seakan tak cukup dengan bros bunga centil, pas ke Jeju Island juga dia pake tas ransel cantik loh.. Cantik beneran, saya aja mau tas itu.

lie to me

Di sisi lain, saya terkagum dengan betapa smooth serial ini digunakan untuk promosi wisata dan budaya Korea. Mulai dari sejarah, food street, kebiasaan sosial masyarakat, dan tentunya keindahan spot-spot wisata diselipkan dalam cerita sehingga penonton dapat mengenal dan turut belajar dengan suka cita. Andai saja Kementerian Pariwisata di Indonesia juga dapat melakukan hal serupa. Dibandingkan baliho atau video yang menayangkan pejabat entahlah yang bikin liat aja ogah, promosi pariwisata melalui film dan serial seperti ini jauh lebih menyentuh hati dan menumbuhkan keinginan untuk mengunjungi dan mengalami.

Ada yang punya rekomendasi serial Korea lain yang menarik untuk diikuti?


Tentang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Ketika pertama kali melihat trailer film ini, saya sudah pesimis (baca: nyinyir) dan sama sekali tidak berminat untuk menonton. Gambar-gambar dalam trailer yang disajikan banyak mengingatkan saya pada film the Great Gatsby, Titanic dan Life of Pi. Salah seorang kawan menangkis “kamu sudah nonton filmnya belum?”. Ya belum, dan memang nggak minat. Sampai pada suatu sore saya memasuki lobby bioskop, bermaksud menonton the Secret Life of Walter Mitty, namun ternyata saya masih harus menunggu dua jam lagi untuk film itu. Yang berarti juga saya akan pulang lebih malam karenanya. Di antara deretan di jadwal putar, film lain yang saya minati sudah saya tonton. Tinggal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang sepertinya masih masuk akal buat ditonton baik dari jenis film maupun jam tayangnya. Mayan lah daripada lu manyun..

Sayapun memasuki studio dengan ekspektasi rendah, efek dari trailer film yang menyinyirkan saya itu. Beberapa review yang saya baca telah mengingatkan tentang nuansa sephia dan nuansa biru yang utk beberapa orang dirasa mengganggu, so i kinda have prepared my eyes to it. Meski demikian tetap saja ada satu adegan yang membuat saya harus menutup mata dengan tangan karena silau saking mendadaknya perubahan tone cahaya.

Satu hal yang saya sesalkan ketika saya keluar dari studio: betapa saya merasa gagal menjadi penonton yang baik dan beradab karena cekikikan bahkan tergelak tertawa pada adegan-adegan yang seharusnya mengharukan ataupun menyedihkan. Untuk ini saya banyak dipengaruhi pemilihan Pevita Pearce sebagai pemeran Hayati yang secantik hot apapun kok rasanya kemampuan aktingnya masih njeglek dibanding Herjunot apalagi Reza Rahardian (boleh gak ngusulin dia masuk nominasi Best Supporting Actor di penghargaan film apapun berikutnya? He’s doing a great job here, seperti di film-filmnya yang lain). Selain saya, ada nggak sih yang lebih fokus ke ujung plester luka buatan di kening Hayati yang terkelupas, daripada dialog sedih yang dia ucapkan? Sebenernya ada satu lagi yang janggal terkait plester luka ini tapi nanti diteriakin spoiller sama yang belum pada nonton. Meski dari judulnya pun film ini sudah mengumbar spoiller sendiri.

Selain itu saya juga sempat twitkan keheranan saya tentang suhu dan kenyamanan udara:

Setahu saya, dan seperti yang disajikan dalam film tersebut, baik Batipuh maupun Padangpanjang tempat Hayati berasal dan Zainuddin sempat tinggal, sama-sama daerah yang bersuhu sejuk dingin. Sedangkan Surabaya, siapapun tahu betapa panas-nya kota di deretan pantai utara jawa itu. Namun terdapat adegan dimana keduanya bercakap dalam sebuah ruangan yang menyalakan perapian, lengkap dengan bunyi kretek-kretek khas kayu terbakar. Baru tau ada rumah di Surabaya yang memfungsikan perapian saja sudah cukup membuat saya terheran (kalo cuma buat pajangan sih beda cerita), apalagi melihat latar belakang dua tokoh yang seharusnya justru kegerahan di Surabaya sedemikian rupa. Makassar-pun tak kalah panas dari Surabaya bukan?

tkvdw

Overall, terlepas dari semua itu, film ini sama sekali tidak bisa dibilang jelek. Gambar-gambar artistik dan musik latar dari Nidji sangat memanjakan mata dan telinga. Mungkin akan lebih sempurna kalau pemeran wanitanya diganti. Acha Septriasa atau Raihanuun mungkin?


Everything Has Changed

Lagi suka lagu ini. Sederhana, manis, dan bikin senyum-senyum.


Senjata Rahasia Menghadapi Hujan Jakarta

Senjata Rahasia Menghadapi Hujan Jakarta

Sepatu Murah Tangguh Kesayangan

Desember.

Hujan mulai sering mengguyur ibukota lagi. Kadang ringan, tak jarang begitu deras sehingga menimbulkan genangan dengan berbagai variasi ketinggian. Untunglah pada jalur yang sering saya lewati cukup aman tak sampai kebanjiran. Tapi tetap saja, saya perlu senjata. Selain payung tentunya. Sepasang sepatu plastik seharga duabelasribu rupiah inilah pahlawan bagi sepatu-sepatu cantik saya lainnya yang relatif lebih rapuh meskipun harganya jauh lebih mahal. Sepatu plastik ini ringan dan tak protes meski saya ajak lari menembus genangan. Setelahnya, cukup saya sikat dengan deterjen, maka diapun bersih kembali, dan kaki saya aman dari kuman penyebab gatal-gatal.

Sekarang senjata rahasia saya tak lagi menjadi rahasia.


Mencoba 4DX Experience

Image

model tempat duduk bioskop 4DX
(pinjem gambar dari sini)

Sejak pertama kali diluncurkan, saya sudah penasaran ingin menjajal pengalaman baru menonton film di studio 4DX-nya Blitzmegaplex. Tapi mengingat satu-satunya lokasi Blitz yang tersedia 4DX di Grand Indonesia itu termasuk luar area jajahan saya, maka perlu waktu dan effort khusus untuk saya bisa menuruti angan-angan yang satu ini. Selain itu harga tiket pertunjukannya juga di atas harga tiket bioskop pada umumnya. Satu kali nonton 4DX bisa buat empat kali nonton di bioskop langganan biasanya. Saya termasuk penonton bioskop hore yang berpikir sembilan kali sebelum mengeluarkan biaya extra untuk nonton film (yang bisa beberapa kali saya lakukan dalam sebulan). Jadi kalau memang saya mau membayar lebih ya harus mendapat nilai lebih atas harga yang saya bayarkan. Salah satunya film yang diputar harus benar-benar saya anggap akan seru ditonton dalam efek 4DX.

Kali ini film yang saya tonton Snowpiercer. Ceritanya pada suatu masa ketika bumi membeku akibat alat pendingin yang semula dianggap solusi pemanasan global. Umat manusia dan segala penunjang hidup yang tersisa bertahan hidup dalam sebuah kereta sophisticated yang terus berjalan mengelilingi dunia. Kereta itu melaju membelah salju dengan rangkaian gerbong panjang yang dibedakan berdasarkan fungsi dan golongan para penumpangnya. Penumpang VIP yang berani bayar mahal tinggal di gerbong depan dengan fasilitas gaya hidup maksimal. Sedangkan para penumpang gratisan ya harus rela pasrah hidup kumuh seadanya di gerbong paling belakang. Kesenjangan yang semakin timpang antar kelas sosial inipun semakin menjadi dan memicu pemberontakan dari kaum tertindas. Misinya adalah mengambil alih “The Sacred Engine”, membunuh Wilford sang konglomerat penjaga the engine sekaligus pencipta kereta, dengan demikian dapat mengambil alih kendali dan memperbaiki nasib para kaum gerbong belakang. Berhasilkah mereka? Tonton saja. It’s a good movie with unusual twist.

Good? Iya, good. Sayangnya cuma segitu yang bisa saya komentarkan meskipun beberapa teman memuji kehebatan cerita film ini. Mungkin karena saya nontonnya tidak sekhusyuk biasa gara-gara efek 4DX yang sudah rela saya bayar mahal untuk mengalaminya. Bukan cuma gerakan dan manuver kereta yang saya rasakan getaran dan goncangannya (which i had already anticipated and expected), tapi juga setiap ada baku kelahi dan ada yang terpukul atau terbunuh pun kursi ikut bergoyang. Efek angin dingin memang nyambung dengan film yang bernuansa salju. Sempat terasa pula hangat udara ketika ada adegan yang menampilkan api. That’s cool. Tapi kilat cahaya di sudut depan kanan kiri buat saya kok juga malah berasa mengganggu.

Saya memang tipe penonton perfeksionis yang riwil. Buat saya nonton itu harus khusyuk kayak beribadah sehingga perlu meminimalisir gangguan-gangguan yang dapat mendistraksi kita dari melebur ke dalam cerita. Mudah sekali terganggu kalau ada yang ngobrol cekakak-cekikik, menyalakan cahaya gadget, atau goyang-goyang kaki sehingga kursi saya di barisan yang sama juga ikut goyang-goyang. Kali ini di 4DX saya justru membayar lebih untuk merasakan efek tersebut. Well.. mungkin saya harus lebih bijak untuk memilih film yang saya tonton dengan efek ini. Pada film-film indah macam Cloud Atlas atau Life of Pi mungkin akan membuat saya terkesima. Tapi pada Snowpiercer kemarin, it’s just too much.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.