Suddenly

It feels like something’s missing.
Maybe it’s you.
Maybe it’s me, myself.

Or simply just hormonal thingie..


Nostalgia Doa

Ada sebuah tradisi yang berlaku di sekolah swasta islam tempat saya menuntut ilmu. Di kelas, sambil menunggu guru datang, biasanya para murid bersama-sama mendendangkan syi’ir ini. Waktu itu saya asal ikut “menyanyi” begitu saja. Sekadar bagian dari ritual. Baru tadi ketika salah seorang senior membahasnya di newsfeed facebook, saya menyadari bahwa syi’ir ini merupakan do’a sebelum belajar yang sangat indah sekali.

D o a  S e b e l u m  B e l a j a r 

 

سَأَلْتُكَ رَبِّ صِحَّةَ القَلْبِ وَالجَسَدْ * وَعَـافِيَةَ الأَبْدَانِ وَ الأَهْلِ وَ الوَلَدْ

وَطُوْلَ الحَياَةِ فِي كَمَالِ اسْـتِقَامَةٍ * وَحِفْظًا مِنَ الإِعْجَابِ وَ الكِبْرِ وَحَسَدْ

وَ رِزْقاً حَلاَلاً وَاسِعاً غَـيْرَ نَاقِصٍ * يَكُوْنُ لَناَ عَوْناَ عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ

وَعِـلْمًا مُبَارَكاً بِهِ أَفْهَمُ الكُتُبْ * وَ رُؤْياً سَدِيْدًا يَنْفَعُ الأَهْلَ وَ الوَلَدْ

وَ أَمْناً مِنَ البَلاَءِ وَ الهَوْلِ وَ الفِتَنْ * ِلأَوَطَانِنَا وَ عِصْمَةً مِنْ ذَوِي الحَسَدْ

وَحُسْنَ أَدَاءِ لِحُقُوْقِ جَمِيْعِهَا * عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَ تَرْضَاهُ يَا صَمَدْ

وَ أَكْثِرْ لَنَا تَوَابِعَ الحَقِّ وَ الهُدَى * مِنَ الأَقْرِباَءِ وَ البَعِيْدِيْنَ وَ الأَبْعَدْ

بِفَضْلِكَ يَا رَحْمَنُ ياَ مُحْسِنَ الوَرَى * بِجَاهِ النَّبِي المُصْطَفَى خَيْرِ مَنْ سَجَدْ

عَلَيْهِ صَـلاَةُ اللهِ ثُمَّ سـَلاَمُهُ * وَ الآلِ وَ الأَصْحَابِ وَ مَنْ لِلْعُلَى قَصَدْ

 

Sa-altuka Rabbi shihhatal qalbi wal jasad * wa ‘afiyatal abdani wal ahli wal walad

wa thulal hayati fi kamalis-tiqamati * wa hifzhan minal i’jabi wal-kibri wal-hasad

wa rizqan halalan wasi’an ghaira naqishin * yakunu lanaa ‘aunan ‘ala manhajir-rasyad

wa ’ilman mubarakan bihi afhamul kutub * wa ru’yan sadidan yanfa’ul ahla wal walad

wa amnan minal bala-i wal-hauli wal-fitan *  Li-awthanina wa ‘ishmatan min dzawil hasad

wa husna ada-i li-huquuqi jamii’iha *  ‘ala ma tuhibbuhu wa tardhahu Ya Shamad

wa aktsir lana tawwabi’al-haqqi wal huda * minal aqriba-i wal-ba’idina wal-ab’ad

bifadhlika Ya Rahmanu Ya Muhsinal Wara * bijahin nabiyyil mushthafa khairi man sajad

‘alaihi shalatullaah tsumma salamuhu * wal ali wal ash-haabi wa man lil’ula qashad

 

Kepada-Mu wahai Tuhanku aku memohon: kesehatan lahir dan batin, serta kesentosaan diri, anak dan keluarga..

dan panjang umur dalam keistiqamahan yang sempurna serta terjaga dari sifat ujub, sombong dan dengki..

dan rizqi yang halal, lapang tanpa kurang, yang menjadi penolong kami dalam (menempuh) jalan petunjuk-Mu..

dan ilmu yang berkah yang dengannya akan kupahami kitab-kitab, serta pengetahuan yang berguna bagi anak dan keluarga..

dan kesentosaan negeri kami dari bala’, marabahaya dan fitnah dari para pendengki

dan kemampuan menunaikan hak dengan sebaik-baiknya, di atas (jalan) yang Kau sukai dan Kau ridhai

Perbanyaklah (kemauan dan kemampuan) bagi kami untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk yang berasal dari kerabat, baik yang dekat maupun jauh.

(Aku bertawasul) dengan keutamaan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi kebaikan pada makhluk-Nya, serta dengan (kemuliaan) nabi pilihan yaitu sebaik-baik orang yang bersujud (pada-Mu).

Semoga kasih sayang dan kesejahteraan dari Allah senantiasa tercurah bagi beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga orang-orang yang mengharapkan keutamaan.

 

Entahlah apakah tradisi ini masih dilangsungkan. Semoga demikian. Dan saya turut mengaminkan.


Disiplin Lalu Lintas di Sabang yang Menakjubkan

Masih bercerita tentang liburan lalu di Pulau Weh, tempat kota Sabang berada, satu hal saya temukan cukup menakjubkan. Not in a good way, tapi secara harfiah benar-benar membuat saya takjub. Hal itu terkait disiplin lalu lintas di sana.

Selama di Sabang, saya dan teman-teman memang sengaja menyewa kendaraan untuk alat transportasi. Karena baru memesan pada waktu yang sudah mepet dan sedang peak season, jadilah kami hanya mendapatkan mobil saja tanpa sopir. Untunglah ada yang bisa nyetir (dadah-dadah ke Alyak) jadi kami manfaatkan kesempatan ini buat bertualang beneran lengkap dengan sesi nyasar dan berputar-putar setiap kali beperjalanan baik berangkat maupun pulang ke penginapan (mengangguk takzim kepada eRJe yang kemampuan spatial recognition-nya baru dipercaya pada hari terakhir kita di sana).

Pengalaman road trip di sana membuat kami terbengong-bengong dan ketawa miris melihat tingkah laku berlalu lintasnya. Baaaaanyak banget pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Lampu kendaraan juga tidak menyala, bahkan ketika malam dengan kondisi minim penerangan jalan. Lebih ajaibnya, mungkin karena traffic yang tidak padat, pengendara motor di sana bisa sewaktu-waktu berbelok atau putar arah begitu saja tanpa peringatan apapun sebelumnya. Bahkan kami yang sudah terbiasa melihat kelakuan bajaj di ibukotapun takjub melihatnya.

Lebih hebat lagi melihat bagaimana mereka bisa parkir di badan jalan. Trus ditinggal begitu saja. Kadang dengan kunci masih menempel. Iya sih, pulau Weh tak seberapa padat, pasti repot dan ketahuan kalau ada yang berniat jahat mau mencuri. Tapi hambok ya minggir dikit. Beri kesempatan pengguna jalan lain untuk lewat dengan nyaman di jalan yang cuma satu atau dua lajur. Tidak hanya motor, hal ini juga berlaku buat parkir mobil. Salah satunya, saking amazed-nya berhasil difoto oleh Wenny.

Image

parkir ajaib

See? Pengemudi mobil hitam ini dengan tanpa dosa membiarkan separuh bodi mobilnya melintang di jalan. Ajaib lah pokoknya..

Jika “beruntung” perjalanan kalian juga akan semakin berkesan dengan adanya “anak nongkrong” yang nyegat di tengah jalan.

Image

“preman” penguasa perempatan jalan

Mau merasakan sendiri sensasi ketakjuban yang kami alami? Yuk main ke Sabang!

 

*photos courtesy of Alyak and Wenny


Sabang: Indahnya Ujung Barat Indonesia

Jika anda bertemu saya beberapa tahun lalu dan bertanya tempat mana di Indonesia yang terindah menurut saya? Niscaya saya akan menjawab: Pulau Sempu! Kemudian tanpa anda mintapun, saya akan bercerita panjang lebar mengenai keindahan laguna bak setting lokasi film The Beach yang akan membayar segala payah yang anda tempuh untuk mencapainya. Tapi jika pertanyaan yang sama anda sampaikan sekarang, maka saya pasti menjawab: Sabang!

Kota yang terletak di ujung barat Indonesia ini sungguh spot yang tak boleh dilewatkan. Anda cuma butuh waktu kurang lebih 45 menit menyeberang dengan kapal ekspres (atau 2 jam jika menggunakan kapal fery lambat) dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Kapal ekspres hanya memuat penumpang, karenanya jika anda ingin membawa serta mobil dari Banda Aceh maka kapal fery lambat yang menjadi pilihan. Sayangnya jika menggunakan kapal lambat sambil membawa kendaraan, go show bukan pilihan. Mobil yang akan diangkut sudah harus didaftarkan dan mengantre sejak malam sebelum hari keberangkatan. Untuk pejalan biasa yang bukan sedang road trip, demi kemudahan dan kenyamanan perjalanan, saya menyarankan anda menggunakan rental mobil yang terpisah untuk di Banda Aceh dan Sabang. Memangnya harus sewa mobil? Gak harus sih.. bisa juga sewa motor. Yang jelas angkutan umum di sana belum sebanyak dan reliable seperti di kota-kota besar, so ngangkot is definitely not an option.

Begitu kapal mendarat di Pelabuhan Balohan, Sabang, anda akan disambut dengan air laut bening yang tak akan anda temui di pelabuhan-pelabuhan pulau Jawa. Itu baru di pelabuhan. Bisa bayangkan bening indahnya pantai yang biasa digunakan sebagai lokasi wisatanya? Memang belum semua yang pantai yang saya kunjungi, tapi sepertinya setiap spot selalu indah dan memanggil saya untuk datang lagi dan lagi.

Here are some sneak peeks..

Image

Pantai Sumur Tiga dilihat dari balkon Freddie’s Bungalow tempat kami menginap

Image

masih Pantai Sumur Tiga dari tangga akses umum

Image

Pantai Iboih (sayangnya foto ini diambil ketika sedang hujan, pada kondisi cerah jauh lebih indah)

Pantai Iboih biasanya digunakan sebagai titik penyeberangan menuju Pulau Rubiah. Dari Iboih kita bisa menyewa perahu seharga dua ratus ribu rupiah untuk menyeberang ke sana. Pulau Rubiah merupakan salah satu spot snorkeling terindah yang pernah saya kunjungi. Anda bisa menyewa satu set peralatan snorkeling yang terdiri dari fin, safety jacket, serta goggle standar seharga empat puluh ribu rupiah. Persewaan tersedia baik di Iboih maupun di Pulau Rubiah.

Tak jauh dari Iboih, masih serangkai perjalanan dari kota menuju titik 0 kilometer yang menjadi landmark Sabang, terdapat pula Pantai Gapang yang jauh lebih tenang meski tak kalah indah. Jika ingin menikmati suasana pantai yang berbeda, bisa juga mengunjungi Pantai Anoi Itam yang seperti namanya, memiliki hamparan pasir berwarna hitam.

Bukan hanya pada lokasi wisata, sepanjang perjalanan di Sabang saya tak henti berdecak kagum dengan keindahan pemandangan yang terhampar. Laut, bukit, sungai, danau, setiap landscape begitu menakjubkan hingga tak jarang rasanya seperti sedang berada di belahan dunia lain.

Image

Pemandangan dari Puncak Bukit Geurutee

Image

Pemandangan ini bahkan saya ambil dari salah satu warung pinggir jalan. Amazing, isn’t it?

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan lewatkan untuk mengunjungi ujung terbarat negeri kepulauan tercinta ini.

Image

Ceria di Titik 0 Kilometer Indonesia

 

 

*foto-foto koleksi pribadi, erje dan nevanov

 

 

 


Terbelah antara The Raid 2 dan Killers

Sempat walk out pada film Rumah Dara dan melewatkan The Raid yang menghebohkan dunia, rasa penasaran sukses membuat saya menonton sekuelnya , The Raid 2: Berandal. Kalau Killers aja saya berani nonton, yang satu ini pasti juga bisa dong.. Meski demikian, tetap saja saya tak punya cukup keberanian untuk menontonnya sendirian. Jadilah saya mengompori dua laki-laki untuk menemani saya nonton film ini. Hasilnya, saya sama sekali tidak menyesal. It was totally awesome! Well.. penilaian dari saya mungkin tak bisa disematkan pada keseluruhan film, mengingat setiap adegan sadis (yang berceceran hampir sepanjang film) saya ikuti dengan menutupi pandangan ke layar menggunakan kedua telapak tangan atau bungkus Pocky. Still.. it was Awesome!

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun (pinjem gambar dari sini)

Gimana nggak kalo wajah-wajah ganteng berjejer memanjakan mata. Arifin Putra, Oka Antara, Iko Uwais.. gimana saya milihnya coba? Belum lagi si mas jepun ganteng yang jadi psikopat di Killers ituh.. nongolnya cuma sebentar sih di sini, tapi tetep aja bikin mata berbinar-binar.

Di beberapa bagian film memang saya merasa seperti deja vu dengan film Killers. Terlebih dengan keterlibatan aktor-aktor yang sama: Oka Antara, Tio Pakusadewo, Epi Kusnandar, dan Jepun Ganteng Yang Sampai Sekarang Saya Belum Apal Namanya. Trus setting tempat Eka kabur ama Yudha di area gedung-gedung itu tempat yang sama kayak adegan finalnya Killers bukan siy? Mungkin cuma perasaan saya saja.

Selain itu, saya sangat excited dengan setting-setting familiar yang digunakan. Meski sutradaranya bilang filmnya bersetting Jakarta di dimensi imajinasinya dia, tetep aja syutingnya di Jakarta kan? Jadilah saya heboh sendiri berusaha mengenali itu kawasan mana. Terminal Blok M, Blok M Square, Kemayoran, SCBD, Melawai, mana lagi ya?

Trus saya juga sempat amazed dengan kehadiran Marsha Timothy di The Raid 2. Perasaan itu berubah menjadi tertohok ketika mengetahui bahwa di situ Marsha Timothy adalah istrinya Prakoso. APPAAAAAH??!! Dunia sungguh tidak adil! Kalo perempuan secantik elegan Marsha Timothy suaminya kayak Prakoso, njuk apa kabar impian saya terhadap Ario Bayu? Makin jauh aja deh huhuhuhuhu…… Untunglah itu cuma di film. Toh di dunia senyatanyanya Marsha Timothy bersanding dengan orang yang setara kegantengannya juga. Masih ada harapan buat saya.

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng (nyomot gambar dari sini)

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Bagus. Banget. Sadis sih.. tapi bagus (dan si Uco ganteng banget). Meski personally, saya masih lebih suka Killers yang bukan cuma memainkan cerita berdarah-darah tapi juga ada unsur psikologisnya. Akting pemainnya pun jauh lebih mantap di Killers. Ya iyalah.. di The Raid kan lebih penting berantem daripada menggali akting. Harusnya saya bikin postingan waktu abis nonton Killers ya? Tar deh kalo abis nonton lagi.. Tapi mana mungkin saya tega nonton lagi? Jadi sudahlah digabung saja begini.

oh iya.. ini si Jepun Ganteng Yang Saya Belum Apal Namanya Ituh.

jepun ganteng

ganteng kan? (pinjem gambar dari sini)


Labirin Blok M

Waktu itu hari Sabtu, dan saya baru sadar kalau agenda yang saya rencanakan ternyata masih minggu depan. Sayapun mulai mencari-cari acara agar wiken ga nganggur di kost begitu saja seperti orang tak berguna. Mulailah saya memantau grup yang berisi teman-teman sesama perantau di ibukota. Kebetulan sedang ada tawaran untuk nonton The Raid 2 yang saya penasaran tapi ga berani buat menontonnya sendirian.

Akhirnya A, B (saya) dan C  sepakat buat nonton bareng. Jam 12.30, di Blok M Plaza. Si A yang tiba duluan membelikan tiket untuk bertiga. Tak lama si B datang. Akan tetapi si C tak muncul hingga pengumuman film di teater 1 telah dimulai. A dan B kemudian masuk ke studio terlebih dahulu dengan menitipkan tiket si C kepada mbak penjaga pintu. Pembicaraan berikutnya masih berlangsung di grup, antara A dan C. Karena B tentu saja tak mau menyentuh gadget lagi begitu film dimulai.  (pembicaraan diedit seperlunya)

A: C! Udah sampe mana? di A12. Studio 1.

C: Lagi di lift.

A: Langsung masuk aja.. Tadi dititipin mbaknya yang jaga. Mbaknya cakep.

C: Bioskop berapa, A?

A: 1. Saaatuuuu

C: Yang jaga mana? Ga ada.

A: Ya udah masuk aja

C: Blok M kan, A?

A: Iya.. Blok M plaza.

C: Kok filmnya beda ya hahaha

A: Studio 1, C. wah jangan-jangan di Blok M Square.. The Raid 2 Berandal

C: A, lo ga ada

A: Blok M Plaza

C: Salah studio kali. Ini udah A12

A: Lho? Filmnya apa?

C: The raid kan? Coba lo berdiri

A: A itu di atas

C: Iya tau. Lo berdiri coba

A: Ogah ah

C: Hahaha sial.. Ini sama-sama the raid

A: A12 studio 1 Blok M Plaza

C: Jirutttt Blok M Plaza ama Mall beda ga?

A: Ya beda atuuuuh

C: Sial.. ini tempat duduknya siapa? Kosong tak tempatin. Sama-sama The Raid wakakakakaka … Tadi mbaknya bilang ada 2 orang cowok cewek nitipin tiket juga. Mbuh tiketnya siapa yang ta pake ini. Tempatnya banyak yang kosong.

Jadilah ternyata, si C itu salah gedung. Dia nonton di Blok M Square. Padahal A dan B nonton di Blok M Plaza. Kedua bioskop memutar The Raid di Studio 1 pada jam yang hampir bersamaan. Si C bisa masuk studio karena seperti halnya A dan B yang menitipkan tiket pada mbak penjaga pintu studio Blok M Plaza, dua orang cowo-cewe juga menitipkan tiket untuk temannya di Blok M Square. Entah siapa yang mungkin jadi tertahan di depan pintu studio karena jatah tiketnya digunakan si C.. Maafkan teman saya ya…

Area Blok M yang ramai crowded dan banyak pusat perbelanjaan memang kadang bisa membingungkan seperti labirin bagi orang yang belum terbiasa. Momen salah gedung seperti tadi bukan hanya sekali dua kali saya alami, tapi ya tak urung maklum juga.. Untuk lebih mempermudah, begini deh posisinya di gugelmep:

BLOK M

Selain Blok M Plaza dan Blok M Square seperti tampak dalam peta di atas, masih ada Pasaraya Grande di kanan Blok M Square (samping pintu keluar Terminal Blok M), Blok M Mall di atasnya (posisi di bawah tanah sejajar terminal Blok M), dan Melawai Plaza di bawahnya (samping belakang Pasaraya Grande). Bingung, bingung deh..


Tentang Iklan Nyebelin Yang Mengganggu Kenikmatan Saya Menonton Bioskop

Baru saja saya akhirnya sempat buat nonton Dallas Buyers Club di Plaza Senayan XXI. Film bagus yang memang layak dua pemerannya, Matthew McConaughey dan Jared Leto, untuk memenangkan penghargaan Academy Awards. Tapi ada satu hal yang mengganggu kenyamanan saya menonton.

Sebelum film diputar, seperti biasa ada trailer film-film yang akan segera masuk bioskop. Tak jarang juga ada iklan yang ditayangkan. Seringkali iklan event-event terkait perfilman, pendidikan, atau properti. Namun tadi, terdapat dua iklan salah satu bakal calon presiden yang sumpah malesin banget dan membuat saya berencana untuk tidak nonton bioskop dulu hingga berakhir pemilu.

Saya nonton bioskop itu di antaranya untuk melarikan diri dari dunia nyata, dan memasuki dunia yang diciptakan oleh para creator film. Karenanya saya benci sekali gangguan sekecil apapun ketika saya sedang nonton bioskop. Apapun. Ada cahaya gadget menyala aja pengen saya timpuk pake sepatu, apalagi yang sampe nerima telfon ngobrol di tengah pertunjukan. Eh lha kok malah disodori iklan kampanye bakal calon presiden yang kalo nongol di tv saja saya langsung ganti channel. Buat apa saya bayar tiket bioskop mahal-mahal kalo malah dijejali hal yang biasa saya hindari? Mending juga nonton donlotan, ga pake bayar.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.