Arsip Kategori: pengalaman

Labirin Blok M

Waktu itu hari Sabtu, dan saya baru sadar kalau agenda yang saya rencanakan ternyata masih minggu depan. Sayapun mulai mencari-cari acara agar wiken ga nganggur di kost begitu saja seperti orang tak berguna. Mulailah saya memantau grup yang berisi teman-teman sesama perantau di ibukota. Kebetulan sedang ada tawaran untuk nonton The Raid 2 yang saya penasaran tapi ga berani buat menontonnya sendirian.

Akhirnya A, B (saya) dan C  sepakat buat nonton bareng. Jam 12.30, di Blok M Plaza. Si A yang tiba duluan membelikan tiket untuk bertiga. Tak lama si B datang. Akan tetapi si C tak muncul hingga pengumuman film di teater 1 telah dimulai. A dan B kemudian masuk ke studio terlebih dahulu dengan menitipkan tiket si C kepada mbak penjaga pintu. Pembicaraan berikutnya masih berlangsung di grup, antara A dan C. Karena B tentu saja tak mau menyentuh gadget lagi begitu film dimulai.  (pembicaraan diedit seperlunya)

A: C! Udah sampe mana? di A12. Studio 1.

C: Lagi di lift.

A: Langsung masuk aja.. Tadi dititipin mbaknya yang jaga. Mbaknya cakep.

C: Bioskop berapa, A?

A: 1. Saaatuuuu

C: Yang jaga mana? Ga ada.

A: Ya udah masuk aja

C: Blok M kan, A?

A: Iya.. Blok M plaza.

C: Kok filmnya beda ya hahaha

A: Studio 1, C. wah jangan-jangan di Blok M Square.. The Raid 2 Berandal

C: A, lo ga ada

A: Blok M Plaza

C: Salah studio kali. Ini udah A12

A: Lho? Filmnya apa?

C: The raid kan? Coba lo berdiri

A: A itu di atas

C: Iya tau. Lo berdiri coba

A: Ogah ah

C: Hahaha sial.. Ini sama-sama the raid

A: A12 studio 1 Blok M Plaza

C: Jirutttt Blok M Plaza ama Mall beda ga?

A: Ya beda atuuuuh

C: Sial.. ini tempat duduknya siapa? Kosong tak tempatin. Sama-sama The Raid wakakakakaka … Tadi mbaknya bilang ada 2 orang cowok cewek nitipin tiket juga. Mbuh tiketnya siapa yang ta pake ini. Tempatnya banyak yang kosong.

Jadilah ternyata, si C itu salah gedung. Dia nonton di Blok M Square. Padahal A dan B nonton di Blok M Plaza. Kedua bioskop memutar The Raid di Studio 1 pada jam yang hampir bersamaan. Si C bisa masuk studio karena seperti halnya A dan B yang menitipkan tiket pada mbak penjaga pintu studio Blok M Plaza, dua orang cowo-cewe juga menitipkan tiket untuk temannya di Blok M Square. Entah siapa yang mungkin jadi tertahan di depan pintu studio karena jatah tiketnya digunakan si C.. Maafkan teman saya ya…

Area Blok M yang ramai crowded dan banyak pusat perbelanjaan memang kadang bisa membingungkan seperti labirin bagi orang yang belum terbiasa. Momen salah gedung seperti tadi bukan hanya sekali dua kali saya alami, tapi ya tak urung maklum juga.. Untuk lebih mempermudah, begini deh posisinya di gugelmep:

BLOK M

Selain Blok M Plaza dan Blok M Square seperti tampak dalam peta di atas, masih ada Pasaraya Grande di kanan Blok M Square (samping pintu keluar Terminal Blok M), Blok M Mall di atasnya (posisi di bawah tanah sejajar terminal Blok M), dan Melawai Plaza di bawahnya (samping belakang Pasaraya Grande). Bingung, bingung deh..


Tentang Iklan Nyebelin Yang Mengganggu Kenikmatan Saya Menonton Bioskop

Baru saja saya akhirnya sempat buat nonton Dallas Buyers Club di Plaza Senayan XXI. Film bagus yang memang layak dua pemerannya, Matthew McConaughey dan Jared Leto, untuk memenangkan penghargaan Academy Awards. Tapi ada satu hal yang mengganggu kenyamanan saya menonton.

Sebelum film diputar, seperti biasa ada trailer film-film yang akan segera masuk bioskop. Tak jarang juga ada iklan yang ditayangkan. Seringkali iklan event-event terkait perfilman, pendidikan, atau properti. Namun tadi, terdapat dua iklan salah satu bakal calon presiden yang sumpah malesin banget dan membuat saya berencana untuk tidak nonton bioskop dulu hingga berakhir pemilu.

Saya nonton bioskop itu di antaranya untuk melarikan diri dari dunia nyata, dan memasuki dunia yang diciptakan oleh para creator film. Karenanya saya benci sekali gangguan sekecil apapun ketika saya sedang nonton bioskop. Apapun. Ada cahaya gadget menyala aja pengen saya timpuk pake sepatu, apalagi yang sampe nerima telfon ngobrol di tengah pertunjukan. Eh lha kok malah disodori iklan kampanye bakal calon presiden yang kalo nongol di tv saja saya langsung ganti channel. Buat apa saya bayar tiket bioskop mahal-mahal kalo malah dijejali hal yang biasa saya hindari? Mending juga nonton donlotan, ga pake bayar.


Pictures of Time

Siang itu bersama seorang sahabat, saya melihat kembali foto-foto lama. Melihat metamorfosa dari waktu ke waktu, dia bertanya “Tahun berapa ini? Kok sepertinya beda banget. Apa yang terjadi antara waktu itu dan sekarang?”.

Saya tercenung. Memang tampak kontras antara perempuan yang tertangkap dalam gambar-gambar itu, dan yang sedang duduk menyesap kopi hitam di sampingnya. Banyak hal terjadi di antara masa-masa itu yang menempa.

Jadi apa saja?

Mungkin seperti kata Summer dalam (500) Days of Summer..

“..what always happens. Life.”


Diproteksi: “Sayang”

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:


Ngakak Pagi Hari Ini

“Aaaaaaa… ini kenapa BB-ku gak mau di-charge? Mosok rusak? Apa kabelnya yang kenapa ya?” gerutu seorang kawan, sebut saja Raden Roro Mangkugalon (bukan nama sebenarnya).

“Colokannya kali?” jawab saya ngasal, kemudian menghampiri mencoba membantu.

Saya lihat dia berusaha mencopot-pasang kabel usb charger BB pada port di cpu komputer. Baru saya ngeh masalahnya.

“Lah itu komputernya aja belum nyala, gimana mau ngecharge?”

Lulusan S2 Universitas terkemuka di Indonesia ternyata memang tidak menjamin kecerdasan di segala bidang hahahahahaha….


Yoga Rookie Me

Selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatu. Kemarin saya baru mencoba Yoga. Memanfaatkan free trial class dari Kalyana Yoga, yang lokasi studionya di Tendean, tidak seberapa jauh dari kantor. Saya bergabung dengan kelas Yoga Props. Di situ kita belajar melakukan gerakan-gerakan yoga dengan dibantu properti balok kecil, guling yoga, straps, kursi, dan selimut.

Image

*pinjem gambar dari http://aqubalance3.com

Sempet meragukan kemampuan sendiri, mampu gak ya nekuk-nekuk badan kayak di gambar-gambar yoga yang sering saya lihat. Tapi ternyata, dengan bantuan instruktur, bisa juga kok ini badan dipaksa mengoptimalkan gerakan. Malah setelahnya, otot dan sendi badan jadi terasa lebih rileks dan nyaman. Beberapa gerakan yang di gambar ini kemarin sudah berhasil saya praktekkan tanpa cedera ataupun kesleo hohohoho…

Jadi tergoda buat daftar kelas reguler nih.. daftar gak ya?


Mencoba 4DX Experience

Image

model tempat duduk bioskop 4DX
(pinjem gambar dari sini)

Sejak pertama kali diluncurkan, saya sudah penasaran ingin menjajal pengalaman baru menonton film di studio 4DX-nya Blitzmegaplex. Tapi mengingat satu-satunya lokasi Blitz yang tersedia 4DX di Grand Indonesia itu termasuk luar area jajahan saya, maka perlu waktu dan effort khusus untuk saya bisa menuruti angan-angan yang satu ini. Selain itu harga tiket pertunjukannya juga di atas harga tiket bioskop pada umumnya. Satu kali nonton 4DX bisa buat empat kali nonton di bioskop langganan biasanya. Saya termasuk penonton bioskop hore yang berpikir sembilan kali sebelum mengeluarkan biaya extra untuk nonton film (yang bisa beberapa kali saya lakukan dalam sebulan). Jadi kalau memang saya mau membayar lebih ya harus mendapat nilai lebih atas harga yang saya bayarkan. Salah satunya film yang diputar harus benar-benar saya anggap akan seru ditonton dalam efek 4DX.

Kali ini film yang saya tonton Snowpiercer. Ceritanya pada suatu masa ketika bumi membeku akibat alat pendingin yang semula dianggap solusi pemanasan global. Umat manusia dan segala penunjang hidup yang tersisa bertahan hidup dalam sebuah kereta sophisticated yang terus berjalan mengelilingi dunia. Kereta itu melaju membelah salju dengan rangkaian gerbong panjang yang dibedakan berdasarkan fungsi dan golongan para penumpangnya. Penumpang VIP yang berani bayar mahal tinggal di gerbong depan dengan fasilitas gaya hidup maksimal. Sedangkan para penumpang gratisan ya harus rela pasrah hidup kumuh seadanya di gerbong paling belakang. Kesenjangan yang semakin timpang antar kelas sosial inipun semakin menjadi dan memicu pemberontakan dari kaum tertindas. Misinya adalah mengambil alih “The Sacred Engine”, membunuh Wilford sang konglomerat penjaga the engine sekaligus pencipta kereta, dengan demikian dapat mengambil alih kendali dan memperbaiki nasib para kaum gerbong belakang. Berhasilkah mereka? Tonton saja. It’s a good movie with unusual twist.

Good? Iya, good. Sayangnya cuma segitu yang bisa saya komentarkan meskipun beberapa teman memuji kehebatan cerita film ini. Mungkin karena saya nontonnya tidak sekhusyuk biasa gara-gara efek 4DX yang sudah rela saya bayar mahal untuk mengalaminya. Bukan cuma gerakan dan manuver kereta yang saya rasakan getaran dan goncangannya (which i had already anticipated and expected), tapi juga setiap ada baku kelahi dan ada yang terpukul atau terbunuh pun kursi ikut bergoyang. Efek angin dingin memang nyambung dengan film yang bernuansa salju. Sempat terasa pula hangat udara ketika ada adegan yang menampilkan api. That’s cool. Tapi kilat cahaya di sudut depan kanan kiri buat saya kok juga malah berasa mengganggu.

Saya memang tipe penonton perfeksionis yang riwil. Buat saya nonton itu harus khusyuk kayak beribadah sehingga perlu meminimalisir gangguan-gangguan yang dapat mendistraksi kita dari melebur ke dalam cerita. Mudah sekali terganggu kalau ada yang ngobrol cekakak-cekikik, menyalakan cahaya gadget, atau goyang-goyang kaki sehingga kursi saya di barisan yang sama juga ikut goyang-goyang. Kali ini di 4DX saya justru membayar lebih untuk merasakan efek tersebut. Well.. mungkin saya harus lebih bijak untuk memilih film yang saya tonton dengan efek ini. Pada film-film indah macam Cloud Atlas atau Life of Pi mungkin akan membuat saya terkesima. Tapi pada Snowpiercer kemarin, it’s just too much.


Tiket Kereta Yang Hilang

Anda pernah kehilangan tiket? Saya juga. Namanya juga manusia, tempatnya khilaf dan lupa. Jika itu tiket pesawat, asal kode booking masih kita pegang, mudah saja mendapatkan penggantinya. Tinggal minta print ulang ke agen maskapai yang ada di bandara, maka kita dapat melenggang masuk check in dengan nyaman. Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan tiket kereta.

Ceritanya saya sudah memesan tiket balik mudik untuk libur idul adha lalu sejak H-90. Waktu itu bahkan masih Ramadan. Namanya juga anak kost perantauan, setiap kesempatan untuk pulang harus dimanfaatkan dan dipersiapkan sebaik-baiknya. Karena untuk mudik Idul Fitri saya juga menggunakan jasa kereta api, maka ketika menukar tiket mudik Idul Fitri, sekalian saja saya (minta tolong teman untuk) menukar tiket balik mudik Idul Adha. Pikir saya, lebih aman menyimpan tiket daripada struk pembayaran dari ATM karena lebih rentan nyempil dan kuatir malah kebuang.

facepalm derpinaDemi antisipasi dan kehati-hatian itu saya kemudian menyimpan tiket seaman mungkin. Begitu aman sehingga dua minggu sebelum libur Idul Adha, saya jadi kebingungan sendiri di mana menyimpannya. Setiap sudut yang biasa saya gunakan sebagai tempat penyimpanan sudah diubek-ubek tapi tidak juga sang tiket menampakkan diri. Matek! Trus gimana ini ya?

Sayapun mencoba menelfon hotline PT. KAI. Setelah beberapa kali (bahkan hari. Gilak ini line sibuk banget yak? Susah amat nghubunginnya) percobaan, akhirnya bisa juga saya berbicara dengan CS. Saya disarankan untuk membuat surat laporan kehilangan dari Kepolisian terlebih dahulu sebelum mengurus ke Customer Service di Stasiun, dan lebih cepat lebih baik, karena pengurusan tiket hilang di stasiun harus dilakukan paling lambat satu hari sebelum hari keberangkatan.

Meskipun repot, sebagai pelanggan yang baik (gak mau rugi, dan tiket balik setelah libur panjang sudah susah didapatkan),  saya urus juga Surat Keterangan Kehilangan ke Polres Jakarta Selatan. Kemudian surat tersebut saya bawa beserta print bukti pembayaran tiket yang ada di e-mail ke Customer Service di Stasiun Gambir. Ketika melihat rute perjalanan saya, mbak CS Stasiun Gambir baru memberitahu saya sesuatu yang tidak diberitahukan oleh mbak CS di telefon: Pengurusan tiket hilang hanya bisa dilakukan di stasiun keberangkatan! Hayyah.. Tiwas udah jauh-jauh panasan siang-siang ke Gambir, ternyata masih harus nunggu nanti ketika saya sudah sampai Semarang (karena tiket yang hilang jurusan Semarang Tawang- Gambir). Harus pintar-pintar bagi waktu nih buat ngurus tiket di antara rangkaian acara keluarga buat agenda libur Idul Adha.

Surat Keterangan dari CS KAI

Surat Keterangan dari CS KAI

Sesampai Semarang, saya membawa Surat Keterangan Kehilangan dari Polres Jaksel dan bukti pembayaran itu lagi ke Customer Service di Stasiun Tawang. Setelah konfirmasi identitas dengan menunjukkan KTP, sayapun diberi surat pengantar yang dijepret bersama dengan berkas-berkas yang saya bawa tadi untuk pengganti tiket. Jadi segebok dokumen itulah yang jadi freepass saya untuk masuk peron, juga yang dibolongin oleh petugas di pengecek tiket di kereta. Ribet ya? Tapi apapun lah.. yang penting saya bisa kembali ke Jakarta. Bekerja untuk nusa dan bangsa tralalalalalala…..


One Direction: This Is Us. A Nostalgia Of My Teenage Excitement.

Sebelumnya, saya mau membuat pengakuan. Saya udah nonton film ini. Di Bioskop. Dua kali. Dan saya sangat menikmati. Bwahahahahahahaha…..

Seriously. Saya pertama kali mengenal nama One Direction justru dari cemooh di 9gag pada awal kemunculan mereka, yang sekarang saya pahami sebagai kecemburuan cowo-cowo melihat cewe-cewe begitu terkesima dan tergila-gila pada lima cowo Inggris jebolan acara X Factor itu. And I totally understand the craziness because that’s what happened to me about Backstreet Boys and ‘NSync when i was a teenager. Level pemujaan yang sama dengan barisan penggemar Metallica yang memenuhi GBK Senayan beberapa waktu lalu. Beda objek, genre, dan generasi aja.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan Harry, Niall, Louis, Liam dan Zayn selama konser World Tour One Direction. Diselipi dengan kisah latar belakang masing-masing dan sudut pandang orang-orang di jejaring mereka. Kita diajak turut dalam perjalanan mereka dari negara ke negara, kenakalan yang memancing tawa, dan tentunya lagu-lagu catchy dalam konser yang disajikan dalam format 3D sehingga terasa lebih “nyata”.  Sepanjang film mereka sukses mengajak saya ikut ketawa, nangis (excited, bukan sedih haru), dan tentunya ikut nyanyi dan joget goyang-goyang sambil megangin kacamata dobel yang sebetulnya agak merepotkan… tapi tetep aja goyang.

Jadilah saya keluar studio dengan bahagia dan makin sayang dengan adek-adek ganteng lucu nakal itu meski saya masih belum berhasil membedakan mana Louis dan mana Liam. Harry, Zayn dan Niall sudah berhasil saya identifikasi. Tinggal dua lagi untuk bisa mengaku Directionist sejati. Tapi mungkin karena memang saya gak segitunya juga.. Masih tetep jauh lebih ngefans ke BSB dan ‘NSync. Sekadar menikmati nostalgia sensasi jatuh cinta pada boysband seperti ketika remaja.

Gimana ga jatuh cinta, coba?

Gimana ga jatuh cinta, coba?


Perubahan

koper hijau gandengan baru

koper hijau gandengan baru

Empat tahun lalu, untuk beperjalanan hingga seminggu saya masih memilih menggunakan ransel. Sekarang, bepergian lebih dari tiga hari saja, mending menyeret benda kotak beroda yang berjuluk koper ini. Padahal dulu gengsi. Terlalu mapan. Kurang bad ass. Tapi seiring waktu berlalu, pundak yang bebas tanpa pegal-pegal terasa lebih berharga ketimbang penampakan yang (menurut saya sendiri) keren dan sangar. Kalau bisa ringan, kenapa harus dibikin berat?

Ayo berangkat!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.