Arsip Kategori: music

Sad – Maroon 5

“Man, it’s been a long day
Stuck thinking ’bout it driving on the freeway
Wondering if I really tried everything I could
Not knowing if I should try a little harder

Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding on by a thin thin thread..”

Kemarin untuk pertama kalinya saya mencoba menyanyikan lagu ini saat karaokean dengan neng Buds. Kemudian saya terhenyak. Gilak lagu ini galaunya pas banget. Sini sini, mas Adam Levine peluk sini..


Everything Has Changed

Lagi suka lagu ini. Sederhana, manis, dan bikin senyum-senyum.


One Direction: This Is Us. A Nostalgia Of My Teenage Excitement.

Sebelumnya, saya mau membuat pengakuan. Saya udah nonton film ini. Di Bioskop. Dua kali. Dan saya sangat menikmati. Bwahahahahahahaha…..

Seriously. Saya pertama kali mengenal nama One Direction justru dari cemooh di 9gag pada awal kemunculan mereka, yang sekarang saya pahami sebagai kecemburuan cowo-cowo melihat cewe-cewe begitu terkesima dan tergila-gila pada lima cowo Inggris jebolan acara X Factor itu. And I totally understand the craziness because that’s what happened to me about Backstreet Boys and ‘NSync when i was a teenager. Level pemujaan yang sama dengan barisan penggemar Metallica yang memenuhi GBK Senayan beberapa waktu lalu. Beda objek, genre, dan generasi aja.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan Harry, Niall, Louis, Liam dan Zayn selama konser World Tour One Direction. Diselipi dengan kisah latar belakang masing-masing dan sudut pandang orang-orang di jejaring mereka. Kita diajak turut dalam perjalanan mereka dari negara ke negara, kenakalan yang memancing tawa, dan tentunya lagu-lagu catchy dalam konser yang disajikan dalam format 3D sehingga terasa lebih “nyata”.  Sepanjang film mereka sukses mengajak saya ikut ketawa, nangis (excited, bukan sedih haru), dan tentunya ikut nyanyi dan joget goyang-goyang sambil megangin kacamata dobel yang sebetulnya agak merepotkan… tapi tetep aja goyang.

Jadilah saya keluar studio dengan bahagia dan makin sayang dengan adek-adek ganteng lucu nakal itu meski saya masih belum berhasil membedakan mana Louis dan mana Liam. Harry, Zayn dan Niall sudah berhasil saya identifikasi. Tinggal dua lagi untuk bisa mengaku Directionist sejati. Tapi mungkin karena memang saya gak segitunya juga.. Masih tetep jauh lebih ngefans ke BSB dan ‘NSync. Sekadar menikmati nostalgia sensasi jatuh cinta pada boysband seperti ketika remaja.

Gimana ga jatuh cinta, coba?

Gimana ga jatuh cinta, coba?


Kla Project The Glamorous Electronic Journey: Legendary!

H-1 sebelum konser Kla Project, salah satu band terkeren yang pernah (dan masih) ada di Indonesia, saya sempat terlibat chat singkat di Twitter dengan Retno, Rani, dan Uke, yang berujung dengan Retno nitip beli tiket konser tersebut di Indomaret dekat kos saya. Baru tau juga saya kalau tiket konser bisa dibeli di Indomaret. Saya tinggal menanyakan ke petugas kasir, kemudian petugas kasir akan mengecek availability-nya, pilih kelas, bayar, dan sayapun mendapatkan struk berisi kode tiket untuk ditukar di lokasi konser (atau lokasi yang ditentukan). Impulsively, sekalian saya beli juga. Selama ini saya memang menyukai lagu-lagu Kla Project dan semakin penasaran sejak diiming-imingi si adek dan teman-teman yang menonton konser mereka di Semarang, Juni tahun lalu. Jadi biar kali ini gantian saya yang nonton Konser 25 tahun Kla Project berkarya di bilantika musik Indonesia, sementara teman-teman saya itu tidak MWAHAHAHAHAHA!!

Rupanya konser kali ini tidak seperti konser-konser yang biasa saya datangi (meski sangat jarang juga saya rela bayar demi nonton konser). Penyelenggara nampaknya sangat percaya bahwa pengunjung konser ini adalah orang-orang yang beradab dan behave, sehingga pemeriksaan untuk pengamanan tidak seketat konser-konser lainnya. Tinggal cek barcode di tiket, dan kitapun dapat leluasa melenggang dengan panduan petugas yang menunjukkan arah tempat duduk sesuai kelas tiket kita. Tidak ada pemeriksaan tas, penitipan gadget/kamera, apalagi menuang minuman dalam plastik-plastik yang merepotkan. Bahkan para pengunjung leluasa saja menenteng plastik kresek berisi persediaan kudapan dan minuman ke dalam lokasi. Padahal saya sudah merencanakan penyelundupan minuman kotak yang saya sembunyikan dalam kemasan pembalut wanita, yang ternyata sia-sia saja karena tidak ada pemeriksaan sama sekali. Gak usah diumpetin juga tetep bisa dibawa masuk. Hih!

Konser Kla Project

Konser Kla Project

And the concert was AWESOME! Beberapa lagu yang dimainkan memang jarang saya dengar, tapi kebanyakan berhasil membuat saya sing along, bahkan ikut goyang di lagu “Gerimis” yang jadi lagu penutup. Cuma lagu “Someday” yang saya gak keturutan. Dan jangan bilang siapa-siapa kalo saya sempet menyeka air mata ketika lagu “Semoga” dilantunkan. Duh lagu itu ya memang… Beberapa kali hafalan lagu saya gak sesuai dengan Katon, mungkin karena faktor umur dan saking banyaknya lagu dengan rangkaian lirik puitis dan vocab yang sering tak biasa, jadi om Katon ada lupa dikit-dikit liriknya. But hey.. itu toh lagunya dia sendiri. Suka-suka dia lah mo gimana nyanyiinnya hahahaha…

Tapi dari sekian banyak lagu, justru lagu ini yang terus terngiang di pikiran saya hingga sekarang pun. Entah kenapa.

*kemudian pandangan menerawang*


P!ATD is Back!

Di antara guyuran artis dan band luar negeri yang datang ke Indonesia, hanya satu band yang saya tonton konsernya secara langsung: Panic! At The Disco. It was at Istora Senayan, tahun 2008 lalu. Saya memang sudah ngincer buat nonton konser mereka sejak pertama kali jatuh cinta dengan lagu-lagu di album “A Fever You Can’t Sweat Out”, yang diikuti dengan “Pretty. Odd.”. Suka aja merasa tertantang untuk “menaklukkan” kata-kata belibet di lagu-lagu album pertama dengan tema yang agak-agak nakal aneh tak biasa. Album keduanya lebih ringan, easy listening, tapi tetep enak di kuping. Setelah itu saya agak lost of track mereka ngapain aja. Baru beberapa hari lalu saya dengar P!ATD mengeluarkan single baru yang berjudul This Is Gospel dan sejak saya menonton videonya di youtube entah sudah berapa kali saya replay. Sepertinya album baru mereka akan menjanjikan.

“IF YOU LOVE ME LET ME GOOOOOOOOO”

*ikut tereak bareng Brendon Urie*

*dikeplak mas Brendon karena suara sember saya merusak lagu*

*keplak sayang*

aih..


Mengolah Rasa di Aula Simfonia Jakarta

“Mau nonton orkestra nggak?” tanya neng Buds di tengah obrolan pasca sesi curcol berbalut latihan olah vokal. Orkestra beneran? Musik klasik? Kayak di Nodame Cantabile? Tanpa berpikir limabelas kalipun saya berseru “Mauuuuu!!”. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, di Jakarta rupanya ada konser musik klasik yang digelar setiap bulan di Aula Simfonia Jakarta. Dengan bantuan Juliarta yang sudah biasa menonton sebelumnya, kami memesan tiket kelas tengahan yang cukup nyaman tapi dengan harga yang masih terjangkau. Range harga tiket pertunjukan di Aula Simfonia Jakarta sangat beragam. Mulai dari Rp.50.000 (untuk siswa) hingga Rp.1.000.000. Setelah tiket terpesan, kami tinggal datang pada hari H disarankan satu jam sebelum pertunjukan telah tiba di lokasi.

Pukul setengah lima kami sampai di Aula Simfonia. Tinggal menuju loket untuk mengambil tiket dengan menunjukkan bukti transfer pembayaran. Jika sebelum berangkat saya sempat bingung harus pakai baju apa  karena di dresscode disebutkan “long dress atau batik” dan disarankan untuk berdandan resmi seperti hendak menghadiri resepsi, yang saya temukan di aula ruang tunggu sangat beragam. Banyak penonton yang tampil resmi sesuai dresscode (pria: mengenakan suit atau batik, dan wanita ber-longdress atau batik juga), tapi tak sedikit pula yang berdandan lebih casual seperti layaknya pergi ke mall. Meski tentunya yang ini tidak saya sarankan. Aturan berpakaian kan dibuat untuk menghormati acaranya juga.

aula simfonia jakarta

first timer to Aula Simfonia Jakarta

Pukul lima sore, penonton dipersilakan masuk ke concert hall yang sumpah bagus banget! Berasa lagi di eropa padahal saya belum pernah ke sana). Di tengah jalur menuju tempat duduk, kami dibekali booklet acara yang membuat penikmat pemula seperti saya merasa tidak terlalu tersesat dalam pertunjukan. Kemudian pertunjukan dimulai dengan pengantar dari Dr.Stephen Tong dan permainan piano Gloria Teo yang membuat saya terkesima. For whatever’s sake she’s only 18 and so talented as if she blends into the music she played. Setelahnya, saya hanyut. Amazed. Speechless.

Di tengah durasi dua jam, tersedia break 15 menit yang saya gunakan bergegas ke musholla yang berada di basement. Rupanya bukan hanya saya dan neng Buds yang bermaksud serupa. Kamipun sholat maghrib berjama’ah dengan beberapa orang yang saya kenali sebagai pemain orkestra. Keren! 15 menit yang singkat namun cukup untuk kami kembali ke concert hall dan menikmati sesi kedua tanpa terlambat dan kembali tenggelam dalam alunan musik indah hingga saatnya kami berdiri dari tempat duduk untuk memberikan standing ovation pada para musisi di akhir acara.

CAM00537

The girls, after the concert.

Beberapa catatan saya kalau lain kali mau nonton orkestra lagi:

  1. Dress accordingly. Nggak perlu heboh banget, tapi juga jangan terlalu santai lah.. Dandan ala kondangan saya rasa sudah cukup pantas dan tidak mengganggu pemandangan.
  2. Hadir minimal setengah jam sebelum pertunjukan dimulai. Jeda waktu ini dapat dimanfaatkan untuk ke toilet, makan makanan ringan atau minum secukupnya. Karena begitu kita masuk di concert hall, jangan harap untuk keluar masuk ruangan atau ngemil popcorn macam di bioskop. Ini juga terkait jeda 15 menit di tengah acara yang hanya cukup untuk satu aktifitas. Bagi muslim yang menjalankan sholat maghrib, sudah tentu waktu habis untuk sholat saja. Maka keperluan ke toilet harus dilaksanakan sebelum acara.
  3. Duduk tenang. Akustik gedung sudah dirancang untuk memantulkan suara dengan sempurna. Setiap dehem, krusek-krusek, apalagi obrolan akan sangat mengganggu konsentrasi pemain dan penonton lain. Just sit back, relax, and enjoy the music.
  4. Tepuk tangan hanya dilakukan setiap selesai satu lagu. Standing ovation dilakukan di akhir konser. Remember, this is classical music, not rock concert.

Bulan depan nonton lagi yuk..


Lost In Translation

Siang ini Rolin, radio komunitas favorit saya, memutarkan lagu Please Forgive Me-nya Bryan Adams. Ingatan sayapun melayang pada kejadian sekian tahun lalu ketika saya masih eSeMPe. Mbak asisten yang bekerja di rumah masih muda, cantik, gaya, dan banyak pacarnya. Mungkin usianya hanya sekitar lima tahun di atas saya. Ketika itu saya sedang mulai mendapatkan pelajaran bahasa inggris di sekolah, dan sedikit-sedikit membiasakan telinga dengan lagu-lagu berbahasa inggris. Mbak asisten yang tak terbiasa dengan bahasa inggris, suatu ketika menanyakan pada saya.

mbak asisten : Dek, ai ken stop loving yu ki artinya apa?

saya : “ai” itu “saya”. “ken” itu “bisa”. “stop” itu “berhenti”. “loving” itu “mencintai”. “yu” itu “kamu”. berarti “ai ken stop loving yu” itu “aku bisa berhenti mencintai kamu” gitu, mbak..

Tentu saja jawaban saya berdasarkan asumsi pembicaraan lisan semata. Wajah mbak asisten pun terlihat murung. Ternyata kalimat itu sampai padanya melalui salah satu pacar yang paling disukainya. Beberapa waktu kemudian, mbak asisten curhat kalau dia sudah putus dengan pacarnya itu.

Sekian tahun berlalu, ketika si mbak asisten telah pulang kampung dan digantikan oleh mbak asisten lainnya, saya baru ngeh lirik lagu ini.

“..Please forgive me, I know not what I do
Please forgive me, I can’t stop loving you..”

Lha.. jangan-jangan, yang dimaksud pacarnya mbak asisten waktu itu bukan “can”, tapi “can’t”. Tapi berhubung si mbak asisten mengucapkannya secara lisan dengan logat medok Wonosobo-an kental, dan pengetahuan bahasa inggris saya masih begitu cetek sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan, mereka jadi putus gara-gara salah paham.

Haduh maaf ya, mbak.. Di manapun dirimu sekarang berada. Semoga selalu bahagia sejahtera dan berlimpah cinta.


Steal Back Mine

Found this music video in a friend’s facebook news feed. And I smiled. Yes I can steal back mine. That’s what matters, right?

Continue reading


2011 (+January) in a playlist

Sudah sangat terlambatkah untuk menulis tentang kaleidoskop tahun lalu? Biarin! Baru pengennya sekarang kok. Wekk… :p

Seorang bijak di kopdar jakarta pernah berkata:

ada curcol di setiap #nowplaying.

Saya tak akan menyangkal. Justru sepertinya daftar lagu pilihan yang diputar atau dinyanyikan pada setiap karaoke itu cukup relevan untuk bercerita tentang apa yang terjadi, dialami, dan dirasakan pada masa itu. Dan sepanjang 2011, lagu-lagu ini yang menemani saya terhitung mulai april*. Cerita yang ada di baliknya, biar saya simpan sendiri saja. :) Continue reading


22

Saya menemukan lagu ini dalam album It’s Not Me, It’s You. Namun baru bener-bener ngeh liriknya ketika iseng berkaraoke menyanyikannya bersama Mbak Indah. Sayapun tertegun. Tertohok. Oh damn!! Rasanya sungguh mak jlebb!!

Di album yang sama juga gw temukan lagu I Could Say, yang liriknya menyebutkan

I could say that I’ll always be here for you,
But that would be a lie and quite a pointless thing to do,
I could says that I’ll always have feelings for you
but i’ve got a life ahead of me, I’m only 22..

Yang bikin gw bertanya-tanya adalah: ada apa dengan dua puluh dua?? Mengapa Lily Allen seperti menganggap angka tersebut begitu istimewa??


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.