Author Archives: emyou

Me and Mbak Leighton Meester

Baru sekali-kalinya nih saya bikin kumpulan foto make up transformation gegara ada kuis di lapak sebelah. Cukup tricky juga mikir mo memiripkan diri dengan artis siapa mengingat kostum dan lokasi sedang tidak memungkinkan buat ngaku-ngaku Angelina Jolie di Maleficent. Jadilah saya gugling saja artis siapa yang kebetulan ada fotonya sedang berkacamata, berambut cokelat (seperti warna jilbab yang sedang saya kenakan), dan mengenakan outfit simple sehingga saya tak perlu belanja ekstra.

Kebetulan nemu foto mbak cantik Leighton Meester yang lagi pake kacamata dan jaket hitam ini. Kalo cuma jaket hitam kan memang saya tinggal di kantor buat persiapan kalau ac ruangan sedang bersemangat.

Setelah beberapa kali jepret (tentunya dengan nyuekin lalu lalang orang kantor yang memandang saya dengan dahi berkernyit), akhirnya… VOILAAAAAA!!

Mirip kaaaaaan?

Mirip kaaaaaan?


Interstellar: A Must Watch Movie of the Year

Tahun 2014 belum juga habis dan saya sudah berani mentahbiskan Interstellar sebagai salah satu film terbaik yang dirilis tahun ini. And yes, YOU – MUST – WATCH – IT. Akan lebih sempurna lagi kalau ditonton dalam versi 4dx atau IMAX.

Iya sih, saya pernah mual ketika nonton 4dx. Tapi ketika mendengar ada yang menyebut bahwa Interstellar merupakan gabungan dari Inception dan Gravity, saya pun bersikukuh untuk menonton ini film setidaknya di IMAX, syukur-syukur 4dx. Pengalaman saya nonton Gravity di studio biasa bikin nyesel karena kebayang efek itu film pasti bisa lebih dahsyat kalau saya tonton di 4dx.

Benar saja, adegan-adegan di luar angkasa sungguh sangat luar biasa efeknya. Apalagi ketika adegan melayang terapung-apung pada zero gravity. Bisa berasa seakan kita ada di sana juga. Oh terima kasih, teknologi!

Sayangnya saya salah perhitungan tentang kapasitas kandung kemih sendiri, sehingga goncangan-goncangan tersebut sempat memperparah sensasi kebelet pipis di tengah film. Alhasil, saya harus dengan amat sangat terpaksa berlari (literally) ke toilet beberapa menit di tengah film juga ketika kembali ke studio lagi, saking gak rela kehilangan jalan cerita. Makanya kalau mau nonton film ini saya sarankan jangan terlalu banyak minum sebelum dan selama nonton, juga ngetap dulu ke toilet sebelum film mulai deh daripada kebelet di tengah film.

(pinjem gambar dari sini)

(pinjem gambar dari sini)

Meski demikian, durasi yang tiga jam itu sama sekali tidak akan membosankan. Sepanjang film selalu saja ada kejutan, emosi dan ketegangan yang disuguhkan Nolan bersaudara ke hadapan yang tak jarang membuat saya berlinang air mata atau bengong dengan mulut menganga saking terpesonanya. Ketika film selesaipun, saya masih duduk terpana. Berusaha mencerna segala yang baru saja saya serap, and it was MIND BLOWING!

Great job, Mr. Nolan!


“Diet”

06.30 “aku nggak mau sarapan nasi ah.. aku mau diet. kalo makan nasi tuh nanti pasti craving, laper mulu”
06.35 *cicip dua sendok nasi dari piring suami*
06.40 “aku sarapan muesli ama yoghurt aja deh biar sehat”
09.00 *turun ke kantin beli beli secangkir kopi hitam, sebutir onde-onde dan donat salut gula*
09.30 *ikut ke ruang sebelah makan sepiring spaghetti dari yang lagi ulang tahun*

Diet? Apa itu diet?


Tiga Hari Nonton Film Dalam Negeri

“Aku tuh males nonton film Indonesia. Abisnya ga bermutu! Isinya cuma horor esek-esek doang”, ujar seorang teman ketika saya ajak nonton film Indonesia yang sedang tayang. Tentu saja langsung saya tukas “Siapa bilang? Itu kan tergantung yang lu tonton film apaan”. Masih banyak loh film Indonesia bagus yang sama sekali bukan genre horor esek-esek (yang mungkin cuma itu yang dilihatnya)

Tiga hari kemarin saya berkesempatan nonton film-film Indonesia bagus yang bikin makin bangga dengan para pembuat film dalam negeri. Tema yang ditampilkan beragam. Dan yang pasti bisa membawa saya dalam rangkaian cerita yang disajikan.

1. Garuda 19

Bersama rekan-rekan blogger Kopdar Jakarta, saya mendapatkan undangan dari mbak Swastika Nohara, sang penulis naskah, untuk menghadiri premier film yang baru akan tayang serentak 9 Oktober 2014 mendatang.

Kopdar Jakarta sebelum masuk studio buat nonton Garuda 19 (photo courtesy of tikabanget)

Foto dulu bareng Kopdar Jakarta sebelum masuk studio buat nonton Garuda 19 (photo courtesy of tikabanget)

Jika kita sempat turut dalam sorak-sorai bangga terhadap perjuangan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia U-19, film ini mengajak kita menengok proses di baliknya. Bagaimana perjalanan mereka hingga menjadi tim yang solid dan membawa harum nama bangsa. Bukan cuma perjalanan bocah-bocah luar biasa itu dari berbagai pelosok Indonesia, tapi juga bagaimana coach Indra Sjafrie dan para official menggembleng mereka dengan berbagai keterbatasan yang ada. Hiiiiih… jadi makin gemes sama PSSI. Pengen ta sentil satu-satu pake raket nyamuk itu orang-orang yang cuma rebutan kursi tanpa mikir gimana kaderisasi atlet untuk berprestasi.

Sebelum nonton pun, melalui akun twitter dan blog mbak Tika selama proses syuting, kami sudah mendapat sedikit bocoran bahwa film ini akan membawa kita keliling Indonesia. Dan benar saja, setting film yang terpampang mulai dari Alor, Konawe, Buton, hingga Jogja, begitu indah dan menggelitik untuk menggendong ransel menjelajahinya. Yang jelas ini film bikin saya makin cinta ama Timnas Garuda Muda. Apalagi melihat kegigihan tekad Yabes yang lari 15 kilometer untuk pulang dari lapangan sepakbola, saya jadi berasa cemen sekali kalau jarak tak sampai dua kilometer ke kantor saja naik bajaj. Tapi kan.. Tapi.. Tapiiii… Lari di Alor ga pakai resiko kesenggol bajaj atau paru-paru jebol karena polusi, coba di Jakarta.. (iya ini ahlesyan saya saja).

2. Negeri Tanpa Telinga

Jika film sebelumnya mengangkat cerita dunia olahraga, film yang ini lebih menyoroti dunia politik dalam negeri. Penonton yang sudah biasa mengikuti berita politik beberapa waktu terakhir pasti bisa ikut geli melihat berbagai sindiran dan plesetan kasus dan tokoh-tokoh yang ada di film ini. Lola Amaria dengan cerdas menyentil perilaku politikus yang bikin ketawa miris saking lucunya sampe pengen nyekek.

Tokoh-tokoh dengan berbagai latar belakang di film ini secara “kebetulan” terhubung oleh seorang tukang pijit urut. Sebuah profesi yang mungkin banyak dipandang remeh, tapi justru membuka kesempatan terhadap jaringan informasi classified melalui percakapan-percakapan yang tanpa sengaja didengar selagi bekerja. Pengetahuan yang tak disangkanya, malah jadi mengancam keselamatan diri dan keluarganya.

Kalau saya tidak keliru, film ini sempat turun dari bioskop. Untung saja, ketika browsing film kemarin hari itu, saya melihat judul film ini terpampang lagi di layar. Penontonnya memang tak seramai Annabelle (yang demi apapun tidak akan saya tonton, terima kasih), tapi saya merasa beruntung bisa menikmati film cerdas ini di layar lebar. Semoga Lola Amaria dan para sineas nasional tak jera membuat film yang sarat muatan kritik sosial dan membukakan mata, bukan hanya dongeng hiburan belaka.

Eh kira-kira kalau temen-temen “Partai Amal Syurga” diajak nobar film ini pasti seru kali ya?

3. Tabula Rasa

Film ini mengisahkan Hans, pemuda asal Serui, Papua, yang berangkat ke Jakarta atas tawaran sebuah klub sepakbola. Dengan optimisme tinggi dan semangat menyongsong masa depan gemilang, Hans diantar ibu pengasuh dan adik-adik Panti. Apa daya, kejamnya ibukota menelan segala seri dan semangat Hans, mencampakkannya tanpa harapan hingga berniat mengakhiri hidup, terjun dari jembatan di atas jalur KRL. Untunglah dia ditemukan Mak, pemilik rumah makan padang “Takana Juo” yang jatuh iba dan bermaksud menolongnya. Hans bahkan diajari resep-resep masakan padang andalan Mak hingga menjadi juru masak rumah makan tersebut. Bayangpun, rumah makan Padang dengan koki orang Papua! Sungguh sangat Indonesia.

Saya nonton film ini dengan penuh antisipasi. Berbagai tips di media sosial menyarankan untuk tidak menonton ini dalam kondisi perut kosong. Dan nyata benarlah adanya, nonton dengan perut kenyang saja masih cukup bikin menelan air ludah oleh warna-warni indah sajian masakan minang yang begitu menggiurkan. Jadilah seperti para penonton Tabula Rasa lainnya, dari bioskop saya langsung menuju Sari Ratu, rumah makan padang yang masih satu gedung dengan bioskop tempat saya nonton. Meski sesungguhnya, saya justru lebih ingin meramaikan rumah makan padang rumahan seperti punya Mak. Menu yang saya pilihpun seperti biasa, gulai otak. Lain kali saja cicip gulai kepala ikan dan rendang tacabiak seperti bikinan Mak.

Tuh kan.. jadi laper. Ke Sederhana, Sari Indah atau Pagi Sore kita?


Idul Adha Kali Ini

“Tahun ini lu qurban kambing atau sapi?”
“Bukan keduanya”
“Unta? Jangan bilang lu nyulik dari kebun binatang!”
“Lebih besar dari itu”
“Hah?? Dinosaurus? Yang bener aja lu hahahahaha…”

 

 

 

 

“Egoku”


Larut Bahagia di Konser Radja Sephia

Saya sudah menggemari lagu-lagu Sheila On 7 sejak cah-cah Jogja itu mengeluarkan album pertama mereka. Lagu “Dan” langsung mencuri perhatian kuping dan jiwa remaja saya disusul dengan lagu-lagu lain di album yang sama. Sealbum apal ngelotok semua seuwo-uwonya.

Begitu pula di album-album berikutnya. Kayaknya cuma lagu-lagu di album Berlayar saja yang saya kurang “kenal”. Kalau album “Anugerah Terindah Dari Sheila On 7″, terus terang saya tidak mau membeli karena ga rela lagu-lagu legendaris Sheila On 7 di-abuse sedemikian rupa oleh versi cover-nya. Justru saking cintanya saya sama lagu-lagu mereka.

Meski demikian, saya baru pertama kali menonton konser mereka ketika kuliah di Malang. Saya masih ingat, waktu itu mereka konser di Stadion Gajayana dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah. It was the last concert I attended with Dod, my bestfriend, before graduated and left Malang. Makanya ketika denger kabar kalau Sheila On 7 mau bikin konser di Jakarta, saya sudah menetapkan hati. SAYA. HARUS. NONTON. Udah kangen banget buat larut dalam penampilan live mereka yang terakhir saya lihat di Soundrenaline 2012 di BSD bareng Okky, Erje, Zeta dan Mizan.

Baru beberapa hari sebelum hari konser saya tahu kalau di konser itu bukan hanya Sheila On 7 yang bakal perform. Di konser yang bertajuk Radja Sephia itu juga bakal ada penampilan /rif! Even better. Saya juga suka /rif dan sangat menikmati performance mereka ketika tampil di Dome UMM, lagi-lagi ketika saya masih kuliah di Malang. Berasa paket combo beli satu gratis satu hohohohoho….

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

Foto seadanya selama konser. Saking menikmatinya, jadi ga sempet banyak ambil foto yang layak.

And it was awesome! Sama sekali ga rugi nontonnya karena saya bisa sungguh larut dalam suasana nyaris sepanjang konser. Bukan cuma ikut sing along sambil berdiri joget jejingkrakan, saya bahkan sampai berlinang air mata saking terlarutnya. Mohon maaf buat mas-mas bangku depan yang beberapa kali kesenggol dengkul dan tangan saya saking hebohnya menikmati konser. Kalau bangku belakang mah paling sepet aja liat saya berdiri lunjak-lunjak mulu. Lah daripada liat yang mesra peluk-peluk ga mau lepas kayak pasangan depan saya di awal konser, kan mending jingkrak-jingkrak enjoying the music hahahaha… Apalagi pas banget saya nontonnya bareng Eka (yang sama serunya menikmati suasana) dan Adrian (yang sempet ketiduran dan kemudian memilih keluar makan bwahahaha..).

Setting panggung yang dibikin kotak melingkar memungkinkan performer buat menyapa semua penonton di sisi panggung manapun mereka berada itu konsep yang keren banget dan pasti bakal banyak dicontek konser musik berikutnya. Waktu pelaksanaan konser yg tepat jadwal, bahkan sebelum jam delapan personel /rif sudah naik panggung, juga sangat-sangat patut diapresiasi. Sayangnya pas menyanyikan lagu Indonesia Raya sempet ada trouble dan salah lirik yang terpampang di video pengiring (harusnya “Bangunlah BADANnya”, bukan “Bangunlah raganya”), tapi over all… Saya puas dengan keseluruhan konser ini. Meski Istora tidak sepenuh perkiraan saya sebelumnya (mungkin karena kurang promosi), secara pribadi, saya sangat menikmati pengalaman konser kali ini.

Me and Eka before the concert *photo courtesy of Eka

Me and Eka before the concert
*photo courtesy of Eka

Terima kasih pada penyelenggara dan kru yang memungkinkan pelaksanaan dan lancarnya konser ini, dan tentunya para performer, /rif dan Sheila On 7. You rock, guys!! \o/


Silent Words

Ada yang pernah bilang, setiap kata itu memiliki energi yang akan sampai pada siapa ditujukannya. Lalu apa kabar yang pada berantem ikut berasa di-nomensen? Apa berarti energi yang dikirimkan nyasar salah tujuan? Atau malah begitu berlimpah ruah hingga luber muncrat nyiprati yang tak dituju sekalipun?

Tapi somehow, saya percaya. Kata itu akan tetap mengantar energi yang sama pada yang ditujunya. Apalagi bagi mereka yang berbicara dengan bahasa yang sama.

Ah.. Mau bilang “hey.. I miss you” saja susahnya..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.