Author Archives: emyou

Drama Mudik Lebaran

Hari terakhir ngantor sebelum libur lebaran, ketika teman-teman sudah mulai menuju airport ataupun stasiun kereta api, saya masih santai. Saya toh baru akan pulang mudik besok pagi (26/07). Tinggal atur waktu agar setelah sholat subuh tidak tidur lagi dan segera menuju bandara. Jadi malam ini saya masih bisa packing dengan santai, memastikan pakaian-pakaian kotor yang menumpuk sepeninggal teteh tukang cuci kosan ikut masuk koper biar bisa dikenakan di rumah saat liburan. Jadi sepulang dari kantor, saya masih sempat tidur sejenak sebelum mulai memikirkan mau makan apa untuk buka puasa.

Terbangun sekitar jam lima sore, saya mulai mengecek tiket penerbangan besok. Saking lamanya itu tiket tersimpan sejak saya beli tidak saya cek-cek lagi. Hanya sekilas ingatan kalau saya pulang hari Sabtu pagi, tanggal 26 Juli.

Betapa kaget ketika saya mendapati bagian tiket yang distabilo kuning menunjukkan keberangkatan hari ini, 25 Juli, jam 19.40. Malam ini. Dan saya tinggal punya waktu kurang dari dua setengah jam untuk terbang. Belum dipotong span waktu check in bandara karena saya belum sempat web maupun city check in sebelumnya, berarti saya harus berangkat….. SEKARANG JUGA!!

“Ok, tenang Ulfah. Jadi apa yang paling wajib dibawa?” Tanya saya pada diri sendiri sambil berusaha tetap waras. Dengan waktu sesempit itu, saya cuma sempat berganti pakaian yg telah ada di gantungan, dan menggendong kembali ransel yang saya bawa ke kantor hari itu. Yang penting tiket, dompet, handphone telah terbawa. Soal di rumah nanti lebaran pakai baju apa, sudahlah seadanya di lemari rumah saja.

Saya berangkat setengah berlari sambil terus berdoa semoga ga sampai ketinggalan pesawat. Semoga masih bisa check in. Semoga lalu lintas ke arah bandara lancar. Semoga.. Semoga.. Semoga…
Sampai pinggir jalan, sudah banyak berjejer calon penumpang taxi. Sedangkan taxi yang melintas selalu telah terisi. Change of plan. Ojek! Setidaknya sampai titik yang lebih memudahkan saya untuk mendapatkan taxi.

Setelah dengan terpaksa menyetujui harga kurang ajar yg diajukan tukang ojek, saya diantar ke area depan Ratu Plaza, tempat saya mendapatkan taxi sebagai angkutan berikutnya. Meski demikian, bukan berarti saya sudah bisa bernafas lega. Sopir taxi yang mengemudi sudah cukup tua sehingga berapa kalipun saya bilang “tolong lebih cepat ya pak, saya buru-buru”, tetap saja dia mengemudi dalam kecepatan yang bikin saya geregetan. Belum lagi beberapa kali salah ambil jalur yang lebih macet, atau terjebak kemacetan tidak perlu yg dikarenakan para pengguna jalan melambat untuk menonton kecelakaan yg terjadi di lajur arah sebaliknya.

Selama itu pula saya masih terus berdoa. “Ya Allah, tolong.. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir..”.

Pukul 18.10 taxi baru memasuki gerbang tol cengkareng. Saya mulai menyimpan gadget ke dalam tas, agar tak lagi mengkhawatirkan waktu masih nutut untuk check in atau tidak. Yang penting saya secepatnya berlari masuk, melewati antrian pintu pemeriksaan, serta antrian check in tentunya.

Ketika sampai di depan counter check in, saya masih deg-degan menyerahkan tiket dan id card. “Please masih bisa masuk please…” ucap saya dalam hati. “Mbak Ulfah sudah tidak bisa memilih tempat duduk ya mbak ya” ujar mas penjaga counter. “Iya mas, nggak papa” jawab saya. Dalam hati, duduk di manapun ga masalah mas, yang penting saya bisa kebawa ini pesawat sampai Semarang. Daripada saya nangis-nangis ga bisa mudik lebaran, atau keluar duit lebih banyak buat beli tiket lagi. Itu juga kalo masih ada.

2014725182325

Dan sekarang, ketika panggilan boarding dikumandangkan, saya bisa tersenyum lebar.

Saya pulang.

Selamat libur lebaran, teman-temaaaan…


H-1

“Besok kita libur nggak sih mbak?” tanya ibu ruangan sebelah di rest room kantor pagi tadi.
“Belum ada pengumuman tuh, bu.. Saya mah tetep berangkat seperti biasa saja” jawab saya.
“Iya ya.. anak saya itu, nyuruh saya nggak masuk. Takut kerusuhan katanya. Dia malah sudah siap-siap ambil cuti buat besok dan lusa. Ya kuatir kerusuhan itu” ujarnya.
“Saya masih percaya orang Indonesia baik-baik kok bu. Insya Allah aman” saya tersenyum berusaha meyakinkan.
“Tapi kan masih ada satu di atas yang belum legowo itu. Ngeri saya”
“Ya cuma satu itu yang belum legowo, bu. Orang Indonesia-nya saya percaya lebih suka damai. Duluan ya bu..” saya pamit meninggalkan rest room.

Sebetulnya kalau soal khawatir, siapa sih yang nggak? Tapi saya ingin optimis, bahwa semua akan baik-baik saja. Saya masih percaya sisi baik manusia, yang pada dasarnya lebih cinta damai daripada ribut-rusuh yang malah menyusahkan semua.
Jadi kalaupun besok libur ya, lebih baik stay di rumah. Mager. Itung-itung kesempatan istirahat. Kalau tidak, ya tetap berangkat kerja seperti biasa.

10450598_318406111668861_844793183474083448_n

*gambar dipinjem dari newsfeed fesbuknya mba Dewi dan simbok Venus


Maleficent: Berusaha Memahami Sisi Lain Cerita Dongeng

“Filmnya Angelina Jolie yang Maleficient bagus gak sih?”, tanya seorang teman.

“It’s Maleficent. And it’s a MUST WATCH!” jawab saya.

Bukan hanya satu-dua teman, sayapun pada awalnya sempat siwer membaca judul dan mengiranya “maleficient”. Mungkin karena lebih akrab di kuping dengan memisahkannya jadi “mal efficient”, tapi Maleficent adalah nama perempuan yang di dongeng-dongeng Disney sebelumnya sering dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. Beberapa bahkan menyebutnya “Nenek Sihir Jahat”. Tokoh antagonis yang evilest evil lah pokoknya.

Sebenernya saya nonton film ini sudah beberapa minggu lalu. Saat ini juga sudah turun dari layar bioskop. Tapi untuk ditonton di dvd (ataupun donlotan) pun film ini masih sangat bisa untuk dinikmati.

Dikisahkan, Maleficent, seorang peri perempuan kecil penjaga hutan Moors, menjalin persahabatan dengan Stefan, anak manusia yang tersesat di hutan. Seiring waktu, persahabatan keduanya menumbuhkan perasaan yang berbeda di hati Maleficent. Hingga suatu hari Stefan pergi,  Maleficent tetap menanti sambil melakukan tugasnya menjaga Moors.

Suatu ketika raja yang berkuasa bermaksud menginvasi Moors, dan dikalahkan oleh Maleficent dan pasukannya. Merasa dipermalukan, raja pun mengumumkan barangsiapa yang dapat membunuh Maleficent berhak untuk menikahi putrinya, dan menjadi pewaris tahta kerajaan. Stefan tergiur dengan tawaran itu. Kembalilah dia ke hutan Moors, dan dengan mudah meraih kembali kepercayaan Maleficent yang tak sadar, bahwa Stefan hanya memperalatnya untuk meraih kedudukan di kerajaan. Dari situ baru kisah Putri Aurora seperti yang biasa kita dengar dimulai.

maleficent-wings

Jika kita biasa mendengar kisah Putri Aurora dari sudut pandang kerajaan, kali ini kita disuguhi cerita dari sisi “Nenek Sihir” yang dikenal sebagai musuh utama. Dengan cara ini, kita jadi mendapatkan gambaran yang lebih luas dan lengkap. Betapa dunia tidak se-hitam putih cerita yang biasa dijejalkan cerita sinetron atau dongeng pada umumnya. Bahwa ada yang namanya hukum sebab akibat, dan siapapun bisa berubah. Mengajak kita melihat sosok secara utuh melalui tindakannya, bukan sekadar citra yang dilekatkan padanya.

Jadi, Pemilu 9 Juli nanti milih siapa?

 

Eh?

 

 

*pinjem gambar dari sini

 


Ruby Sparks: Ketika Imajinasi Menjadi Nyata

Pernahkah kalian memiliki bayangan mengenai sosok idaman? Calvin (Jonathan Dano), seorang penulis muda, memiliki gambaran perempuan sempurna dalam tokoh buku terbarunya. Hingga suatu hari dia mendapati sosok tersebut mewujud nyata di hadapannya. Segala yang ditulis Calvin mengenai Ruby (Zoe Kazan) serta merta terjadi. Bukan hanya wujud fisik, pekerjaan, sifat, dan selera humor Ruby, bahkan bahasa yang digunakan pun dapat Calvin tentukan sesuka hatinya. Yang harus dia lakukan tinggal menuliskan dalam draft bukunya. Lalu apa dengan demikian Calvin memperoleh kisah cinta ideal yang diharapkan?

Belum tentu ;)

Skenario film ini ditulis sendiri oleh Zoe Kazan, sang pemeran utama wanita. Film ini saya tonton dalam penerbangan kembali dari Medan dan membawa saya tercenung. Semakin kagum akan Sang Sutradara Agung Penguasa Semesta. Dan betapa manusia sungguh tak luput dari alpa dan tak ada puasnya.


Tentang Soundtrack Penyelamat Tugas Akhir

Seharian ini sambil bekerja, saya mendengarkan kembali dua album awal Josh Groban. Judulnya “Josh Groban” (2001) dan “Closer” (2003). Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa saya mengerjakan skripsi. Dua album inilah yang ketika itu menjadi teman setia saya dalam proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Thanx to Tina, temen sekos pada masa itu yang memperkenalkan Josh Groban ke dunia saya.

Selain suara dan lagu-lagunya yang memanjakan telinga, saya sangat terbantu dengan penggunaan berbagai bahasa dalam dua album itu. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk turut sing along ketika mendengar lagu yang bisa ikut saya nyanyikan. Apalagi kalau saya memahami arti lirik lagu itu, yang ada justru saya akan larut dalam kisah yang dibawakan. Sejauh ini bahasa asing yang saya pahami baru bahasa inggris. Padahal di album-album itu juga terdapat lagu-lagu yang berbahasa italia dan spanyol. Jadilah pada lagu-lagu ini hanya telinga yang saya fungsikan, sedangkan segmen otak divisi bahasa dan kata-kata terhubung pada skripsi. Kebayang kalo saya bisa ikut sing along semua, bisa-bisa skripsi saya nggak kelar-kelar.

Demikian pula ketika mengerjakan thesis. Ketika itu demam K-Pop sedang melanda, sehingga sangat mudah menemukan lagu-lagu yang catchy di telinga meski saya tak juga mengetahui maknanya. Memang sengaja tidak mencari tahu juga, biar lagu-lagu itu hanya selintas lewat sebagai musik pengiring saja. Tapi nggak spesifik juga ketika itu lagu siapa saja.

Selain tugas akhir, tentu masih banyak lagi musik-musik yang menjadi soundtrack berbagai kisah lain. Tapi lain kali saja saya cerita. Kalau kamu gimana? Lagu apa yang menjadi soundtrack kisahmu yang mana?

 

*postingan ini dibuat setelah mendapati ucapan Happy Anniversary dari WordPress atas tujuh tahun saya ngeblog di sini. Dan masih akan berlanjut lagi. :)


Suddenly

It feels like something’s missing.
Maybe it’s you.
Maybe it’s me, myself.

Or simply just hormonal thingie..


Nostalgia Doa

Ada sebuah tradisi yang berlaku di sekolah swasta islam tempat saya menuntut ilmu. Di kelas, sambil menunggu guru datang, biasanya para murid bersama-sama mendendangkan syi’ir ini. Waktu itu saya asal ikut “menyanyi” begitu saja. Sekadar bagian dari ritual. Baru tadi ketika salah seorang senior membahasnya di newsfeed facebook, saya menyadari bahwa syi’ir ini merupakan do’a sebelum belajar yang sangat indah sekali.

D o a  S e b e l u m  B e l a j a r 

 

سَأَلْتُكَ رَبِّ صِحَّةَ القَلْبِ وَالجَسَدْ * وَعَـافِيَةَ الأَبْدَانِ وَ الأَهْلِ وَ الوَلَدْ

وَطُوْلَ الحَياَةِ فِي كَمَالِ اسْـتِقَامَةٍ * وَحِفْظًا مِنَ الإِعْجَابِ وَ الكِبْرِ وَحَسَدْ

وَ رِزْقاً حَلاَلاً وَاسِعاً غَـيْرَ نَاقِصٍ * يَكُوْنُ لَناَ عَوْناَ عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ

وَعِـلْمًا مُبَارَكاً بِهِ أَفْهَمُ الكُتُبْ * وَ رُؤْياً سَدِيْدًا يَنْفَعُ الأَهْلَ وَ الوَلَدْ

وَ أَمْناً مِنَ البَلاَءِ وَ الهَوْلِ وَ الفِتَنْ * ِلأَوَطَانِنَا وَ عِصْمَةً مِنْ ذَوِي الحَسَدْ

وَحُسْنَ أَدَاءِ لِحُقُوْقِ جَمِيْعِهَا * عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَ تَرْضَاهُ يَا صَمَدْ

وَ أَكْثِرْ لَنَا تَوَابِعَ الحَقِّ وَ الهُدَى * مِنَ الأَقْرِباَءِ وَ البَعِيْدِيْنَ وَ الأَبْعَدْ

بِفَضْلِكَ يَا رَحْمَنُ ياَ مُحْسِنَ الوَرَى * بِجَاهِ النَّبِي المُصْطَفَى خَيْرِ مَنْ سَجَدْ

عَلَيْهِ صَـلاَةُ اللهِ ثُمَّ سـَلاَمُهُ * وَ الآلِ وَ الأَصْحَابِ وَ مَنْ لِلْعُلَى قَصَدْ

 

Sa-altuka Rabbi shihhatal qalbi wal jasad * wa ‘afiyatal abdani wal ahli wal walad

wa thulal hayati fi kamalis-tiqamati * wa hifzhan minal i’jabi wal-kibri wal-hasad

wa rizqan halalan wasi’an ghaira naqishin * yakunu lanaa ‘aunan ‘ala manhajir-rasyad

wa ’ilman mubarakan bihi afhamul kutub * wa ru’yan sadidan yanfa’ul ahla wal walad

wa amnan minal bala-i wal-hauli wal-fitan *  Li-awthanina wa ‘ishmatan min dzawil hasad

wa husna ada-i li-huquuqi jamii’iha *  ‘ala ma tuhibbuhu wa tardhahu Ya Shamad

wa aktsir lana tawwabi’al-haqqi wal huda * minal aqriba-i wal-ba’idina wal-ab’ad

bifadhlika Ya Rahmanu Ya Muhsinal Wara * bijahin nabiyyil mushthafa khairi man sajad

‘alaihi shalatullaah tsumma salamuhu * wal ali wal ash-haabi wa man lil’ula qashad

 

Kepada-Mu wahai Tuhanku aku memohon: kesehatan lahir dan batin, serta kesentosaan diri, anak dan keluarga..

dan panjang umur dalam keistiqamahan yang sempurna serta terjaga dari sifat ujub, sombong dan dengki..

dan rizqi yang halal, lapang tanpa kurang, yang menjadi penolong kami dalam (menempuh) jalan petunjuk-Mu..

dan ilmu yang berkah yang dengannya akan kupahami kitab-kitab, serta pengetahuan yang berguna bagi anak dan keluarga..

dan kesentosaan negeri kami dari bala’, marabahaya dan fitnah dari para pendengki

dan kemampuan menunaikan hak dengan sebaik-baiknya, di atas (jalan) yang Kau sukai dan Kau ridhai

Perbanyaklah (kemauan dan kemampuan) bagi kami untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk yang berasal dari kerabat, baik yang dekat maupun jauh.

(Aku bertawasul) dengan keutamaan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi kebaikan pada makhluk-Nya, serta dengan (kemuliaan) nabi pilihan yaitu sebaik-baik orang yang bersujud (pada-Mu).

Semoga kasih sayang dan kesejahteraan dari Allah senantiasa tercurah bagi beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga orang-orang yang mengharapkan keutamaan.

 

Entahlah apakah tradisi ini masih dilangsungkan. Semoga demikian. Dan saya turut mengaminkan.


Disiplin Lalu Lintas di Sabang yang Menakjubkan

Masih bercerita tentang liburan lalu di Pulau Weh, tempat kota Sabang berada, satu hal saya temukan cukup menakjubkan. Not in a good way, tapi secara harfiah benar-benar membuat saya takjub. Hal itu terkait disiplin lalu lintas di sana.

Selama di Sabang, saya dan teman-teman memang sengaja menyewa kendaraan untuk alat transportasi. Karena baru memesan pada waktu yang sudah mepet dan sedang peak season, jadilah kami hanya mendapatkan mobil saja tanpa sopir. Untunglah ada yang bisa nyetir (dadah-dadah ke Alyak) jadi kami manfaatkan kesempatan ini buat bertualang beneran lengkap dengan sesi nyasar dan berputar-putar setiap kali beperjalanan baik berangkat maupun pulang ke penginapan (mengangguk takzim kepada eRJe yang kemampuan spatial recognition-nya baru dipercaya pada hari terakhir kita di sana).

Pengalaman road trip di sana membuat kami terbengong-bengong dan ketawa miris melihat tingkah laku berlalu lintasnya. Baaaaanyak banget pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Lampu kendaraan juga tidak menyala, bahkan ketika malam dengan kondisi minim penerangan jalan. Lebih ajaibnya, mungkin karena traffic yang tidak padat, pengendara motor di sana bisa sewaktu-waktu berbelok atau putar arah begitu saja tanpa peringatan apapun sebelumnya. Bahkan kami yang sudah terbiasa melihat kelakuan bajaj di ibukotapun takjub melihatnya.

Lebih hebat lagi melihat bagaimana mereka bisa parkir di badan jalan. Trus ditinggal begitu saja. Kadang dengan kunci masih menempel. Iya sih, pulau Weh tak seberapa padat, pasti repot dan ketahuan kalau ada yang berniat jahat mau mencuri. Tapi hambok ya minggir dikit. Beri kesempatan pengguna jalan lain untuk lewat dengan nyaman di jalan yang cuma satu atau dua lajur. Tidak hanya motor, hal ini juga berlaku buat parkir mobil. Salah satunya, saking amazed-nya berhasil difoto oleh Wenny.

Image

parkir ajaib

See? Pengemudi mobil hitam ini dengan tanpa dosa membiarkan separuh bodi mobilnya melintang di jalan. Ajaib lah pokoknya..

Jika “beruntung” perjalanan kalian juga akan semakin berkesan dengan adanya “anak nongkrong” yang nyegat di tengah jalan.

Image

“preman” penguasa perempatan jalan

Mau merasakan sendiri sensasi ketakjuban yang kami alami? Yuk main ke Sabang!

 

*photos courtesy of Alyak and Wenny


Sabang: Indahnya Ujung Barat Indonesia

Jika anda bertemu saya beberapa tahun lalu dan bertanya tempat mana di Indonesia yang terindah menurut saya? Niscaya saya akan menjawab: Pulau Sempu! Kemudian tanpa anda mintapun, saya akan bercerita panjang lebar mengenai keindahan laguna bak setting lokasi film The Beach yang akan membayar segala payah yang anda tempuh untuk mencapainya. Tapi jika pertanyaan yang sama anda sampaikan sekarang, maka saya pasti menjawab: Sabang!

Kota yang terletak di ujung barat Indonesia ini sungguh spot yang tak boleh dilewatkan. Anda cuma butuh waktu kurang lebih 45 menit menyeberang dengan kapal ekspres (atau 2 jam jika menggunakan kapal fery lambat) dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Kapal ekspres hanya memuat penumpang, karenanya jika anda ingin membawa serta mobil dari Banda Aceh maka kapal fery lambat yang menjadi pilihan. Sayangnya jika menggunakan kapal lambat sambil membawa kendaraan, go show bukan pilihan. Mobil yang akan diangkut sudah harus didaftarkan dan mengantre sejak malam sebelum hari keberangkatan. Untuk pejalan biasa yang bukan sedang road trip, demi kemudahan dan kenyamanan perjalanan, saya menyarankan anda menggunakan rental mobil yang terpisah untuk di Banda Aceh dan Sabang. Memangnya harus sewa mobil? Gak harus sih.. bisa juga sewa motor. Yang jelas angkutan umum di sana belum sebanyak dan reliable seperti di kota-kota besar, so ngangkot is definitely not an option.

Begitu kapal mendarat di Pelabuhan Balohan, Sabang, anda akan disambut dengan air laut bening yang tak akan anda temui di pelabuhan-pelabuhan pulau Jawa. Itu baru di pelabuhan. Bisa bayangkan bening indahnya pantai yang biasa digunakan sebagai lokasi wisatanya? Memang belum semua yang pantai yang saya kunjungi, tapi sepertinya setiap spot selalu indah dan memanggil saya untuk datang lagi dan lagi.

Here are some sneak peeks..

Image

Pantai Sumur Tiga dilihat dari balkon Freddie’s Bungalow tempat kami menginap

Image

masih Pantai Sumur Tiga dari tangga akses umum

Image

Pantai Iboih (sayangnya foto ini diambil ketika sedang hujan, pada kondisi cerah jauh lebih indah)

Pantai Iboih biasanya digunakan sebagai titik penyeberangan menuju Pulau Rubiah. Dari Iboih kita bisa menyewa perahu seharga dua ratus ribu rupiah untuk menyeberang ke sana. Pulau Rubiah merupakan salah satu spot snorkeling terindah yang pernah saya kunjungi. Anda bisa menyewa satu set peralatan snorkeling yang terdiri dari fin, safety jacket, serta goggle standar seharga empat puluh ribu rupiah. Persewaan tersedia baik di Iboih maupun di Pulau Rubiah.

Tak jauh dari Iboih, masih serangkai perjalanan dari kota menuju titik 0 kilometer yang menjadi landmark Sabang, terdapat pula Pantai Gapang yang jauh lebih tenang meski tak kalah indah. Jika ingin menikmati suasana pantai yang berbeda, bisa juga mengunjungi Pantai Anoi Itam yang seperti namanya, memiliki hamparan pasir berwarna hitam.

Bukan hanya pada lokasi wisata, sepanjang perjalanan di Sabang saya tak henti berdecak kagum dengan keindahan pemandangan yang terhampar. Laut, bukit, sungai, danau, setiap landscape begitu menakjubkan hingga tak jarang rasanya seperti sedang berada di belahan dunia lain.

Image

Pemandangan dari Puncak Bukit Geurutee

Image

Pemandangan ini bahkan saya ambil dari salah satu warung pinggir jalan. Amazing, isn’t it?

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan lewatkan untuk mengunjungi ujung terbarat negeri kepulauan tercinta ini.

Image

Ceria di Titik 0 Kilometer Indonesia

 

 

*foto-foto koleksi pribadi, erje dan nevanov

 

 

 


Terbelah antara The Raid 2 dan Killers

Sempat walk out pada film Rumah Dara dan melewatkan The Raid yang menghebohkan dunia, rasa penasaran sukses membuat saya menonton sekuelnya , The Raid 2: Berandal. Kalau Killers aja saya berani nonton, yang satu ini pasti juga bisa dong.. Meski demikian, tetap saja saya tak punya cukup keberanian untuk menontonnya sendirian. Jadilah saya mengompori dua laki-laki untuk menemani saya nonton film ini. Hasilnya, saya sama sekali tidak menyesal. It was totally awesome! Well.. penilaian dari saya mungkin tak bisa disematkan pada keseluruhan film, mengingat setiap adegan sadis (yang berceceran hampir sepanjang film) saya ikuti dengan menutupi pandangan ke layar menggunakan kedua telapak tangan atau bungkus Pocky. Still.. it was Awesome!

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun

tiga orang ganteng jejer-jejer belum termasuk Iko Uwais dan si Jepun (pinjem gambar dari sini)

Gimana nggak kalo wajah-wajah ganteng berjejer memanjakan mata. Arifin Putra, Oka Antara, Iko Uwais.. gimana saya milihnya coba? Belum lagi si mas jepun ganteng yang jadi psikopat di Killers ituh.. nongolnya cuma sebentar sih di sini, tapi tetep aja bikin mata berbinar-binar.

Di beberapa bagian film memang saya merasa seperti deja vu dengan film Killers. Terlebih dengan keterlibatan aktor-aktor yang sama: Oka Antara, Tio Pakusadewo, Epi Kusnandar, dan Jepun Ganteng Yang Sampai Sekarang Saya Belum Apal Namanya. Trus setting tempat Eka kabur ama Yudha di area gedung-gedung itu tempat yang sama kayak adegan finalnya Killers bukan siy? Mungkin cuma perasaan saya saja.

Selain itu, saya sangat excited dengan setting-setting familiar yang digunakan. Meski sutradaranya bilang filmnya bersetting Jakarta di dimensi imajinasinya dia, tetep aja syutingnya di Jakarta kan? Jadilah saya heboh sendiri berusaha mengenali itu kawasan mana. Terminal Blok M, Blok M Square, Kemayoran, SCBD, Melawai, mana lagi ya?

Trus saya juga sempat amazed dengan kehadiran Marsha Timothy di The Raid 2. Perasaan itu berubah menjadi tertohok ketika mengetahui bahwa di situ Marsha Timothy adalah istrinya Prakoso. APPAAAAAH??!! Dunia sungguh tidak adil! Kalo perempuan secantik elegan Marsha Timothy suaminya kayak Prakoso, njuk apa kabar impian saya terhadap Ario Bayu? Makin jauh aja deh huhuhuhuhu…… Untunglah itu cuma di film. Toh di dunia senyatanyanya Marsha Timothy bersanding dengan orang yang setara kegantengannya juga. Masih ada harapan buat saya.

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng

si Uco berdarah-darah aja masih ganteng (nyomot gambar dari sini)

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Bagus. Banget. Sadis sih.. tapi bagus (dan si Uco ganteng banget). Meski personally, saya masih lebih suka Killers yang bukan cuma memainkan cerita berdarah-darah tapi juga ada unsur psikologisnya. Akting pemainnya pun jauh lebih mantap di Killers. Ya iyalah.. di The Raid kan lebih penting berantem daripada menggali akting. Harusnya saya bikin postingan waktu abis nonton Killers ya? Tar deh kalo abis nonton lagi.. Tapi mana mungkin saya tega nonton lagi? Jadi sudahlah digabung saja begini.

oh iya.. ini si Jepun Ganteng Yang Saya Belum Apal Namanya Ituh.

jepun ganteng

ganteng kan? (pinjem gambar dari sini)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.