Lagi Males

Januari 29, 2008 at 12:04 pm (iseng ga penting)

Kok akhir-akhir ini gw jadi males posting yak?? Padhal weekend kemaren gw baru piknik keluarga ke Rancabali*, Bandung yang pemandangannya keren banget. Sempet berendam di pemandian aer panas pula.

Nonton Perempuan Punya Cerita, 1408 dan Otomatis Romantis minggu sebelumnya juga gak menggelitik gw buat nulis sekedar review. Yang jelas Perempuan Punya Cerita bagus, 1408 tu horor yang nyerang secara psikologis (bukan hantu-hantu bermakeup nggilani kayak horor indonesia), dan Otomatis Romantis biasa banget. Cuma bikin gw semakin mengakui kalo Tora Sudiro emang ganteng, dan kostum yang dipake Marsha Timothy disitu bagus-bagus.

Gw juga gak tertarik buat nulis tentang dukacita atas meninggalnya pak Harto. Lha wong gw termasuk yang menyayangkan kenapa beliau meninggal sebelum mendapat keadilan atas apa saja yang dilakukan di masa pemerintahannya.

Lah ini kok posting?? Yah tapi kan postingan gak niat gini.

*Buat yang belum tau Rancabali itu dimana, letaknya ada di Kabupaten Bandung. Dari Soreang, naek ke Ciwidey, masi naek lagi baru sampe Rancabali. Disana terdapat perkebunan teh PTPN entah berapa, pemandian aer panas alami, juga kawah putih yang gw gak sempet datengin karena para budhe lebi tertarik buat belanja.

Permalink & Komentar

Tentang Kost

Januari 25, 2008 at 2:41 pm (just a thought, ngoceh, pengalaman)

Apa kesamaan antara tempat kost ama pasangan?? Mungkin sekilas seperti gak ada kaitannya. Tapi beberapa waktu terakhir gw baru nyadar kalo keduanya punya banyak kesamaan.

Beberapa hari ini gw berangkat dan pulang kantor dengan mengambil rute yang lebi panjang dari biasanya. Sengaja gw mili lewat jalan-jalan perumahan kalo perlu menyisiri setiap lajur gang yang bisa gw lewati sambil menuju tempat gw naek metromini sambil ngeliat apakah ada plang bertuliskan “Terima Kost Putri” di depan rumah-rumah yang gw lewati itu. Kalo ada, dan rumah itu terlihat berpenghuni, maka gw akan mencoba masuk dan bertanya tentang kost yang ditawarkan. Kalo itu rumah terlihat sepi, dan terdapat nomor telefon contact person pada plang tersebut, maka gw simpan nomor itu di hape untuk kemudian gw hubungi dan menanyakan pertanyaan serupa.

Pertanyaan yang gw ajuin standar, sampe setengah apal karena selalu mengulangnya setiap kali gw menemukan rumah yang bisa gw jadiin tersangka macem:

  •  Ada berapa kamar yang disewakan?
  • Berapa kamar yang kosong?
  • Kostnya khusus putri atau campur? (karena kadang gw juga mencoba ke rumah yang cuma bertuliskan “Terima Kost”, jadi gak jelas peruntukannya buat siapa)
  • Berapa harganya? (wajib ini mah!!)
  • Fasilitasnya apa saja? (kadang cukup diliat saja langsung wujud kamarnya sih)
  • Apakah harga tersebut sudah termasuk biaya listrik atau tidak?
  • Apabila membawa peralatan elektronik apakah dikenakan tambahan biaya atau tidak?
  • Apakah harga tersebut sudah termasuk cuci/setrika atau tidak?
  • Kalo kamar mandi ada di luar kamar, maka perlu tanya berapa jumlah kamar mandi untuk berapa kamar? Dan apakah penghuni lain beraktifitas (kerja/kuliah) pada siang atau malam hari? Hal ini penting buat menghindari antrian mandi yang panjang yang dapat mengakibatkan kita harus memilih terlambat sampai di tempat kerja atau memotong jam tidur yang berharga.
  • Bagaimana dengan aturan penerimaan tamu?
  • Apakah ada jam malam?
  • Apakah kita diberi akses terhadap pintu depan (pegang kunci sendiri) atau tidak?

Tiga pertanyaan terakhir biasanya baru keluar kalo kita benar-benar berminat terhadap kamar yang ditawarkan. Kalo emang gak tertarik ya ngapain juga tanya detil gitu. Pertanyaan lain juga bisa ditambahkan tergantung situasi yang ada.

Beberapa rumah kost juga memberikan peraturan-peraturan tertentu, seperti ada salah satu rumah kost yang gw datengin menerapkan biaya jaminan kunci dan furniture yang akan dikembalikan ketika kita keluar dari kost itu dengan meninggalkan furniture serta kunci dalam kondisi utuh seperti semula. Ada juga yang mengharuskan biaya sewa satu bulan dibayar langsung lunas pada hari pertama menempati kost tersebut. Dan tidak semua anak kost terkesan mengenaskan seperti digambarkan lagu “Nasib Anak Kost”nya Padhyangan Project, karena hal itu tentu sulit terbayang pada kost yang fasilitas dan harga sewanya mendekati harga sewa apartemen.

Kaitannya dengan pertanyaan awal gw tadi, gw jadi ngerti kalo nyari kost itu ternyata kurang lebih ya kayak kalo kita nyari pasangan. Liat tampilan luar rumah itu dulu, kita sreg ato tidak, available ato tidak, baru kemudian mencari tau detil-detilnya apakah sesuai dengan kriteria yang kita pasang. Faktor X-pun jadi penentu. Ada satu rumah yang kurang lebihnya sesuai dengan kriteria, tapi ketika kita masuk dan melihat kamar kost yang disewakan, somehow ada perasaan gak enak. Gak nemu aja chemistry-nya. Tapi ada juga kamar yang di beberapa hal gak sesuai kriteria, tapi ada perasaan aman ketika membayangkan kita tinggal di situ. Kok jadi kayak perburuan soulmate gitu aja ya?? Apa mungkin karena sama-sama jadi tempat kita bersimbiosis yak??

Ngomong apa sih gw?? Entah.. gw juga bingung.

Oh ya.. Gw belum jadi pindah kost. Sempet ngasi DP tapi tus gw batalin karena kalo gw itung-itung jatuhnya tetep lebi murah kos gw yang sekarang. Toh aernya uda ngalir lagi.

Jadi inget status yang dipasang Pulung di YMnya pagi ini. Sebuah pepatah, ato pantun, ato apalah berbahasa jawa yang cukup mendeskripsikan:

“sandal teklek nyemplung nang kalen, timbang golek luwung balen”

Permalink & Komentar

Cari Kost Putri Butuh Cepat

Januari 21, 2008 at 8:21 am (Attention!!)

Gw lagi binun. Rumah kost yang gw tempati uda ga memungkinkan lagi. Dan sudah tiba waktunya buat gw cari tempat bertengger baru.

Sebenernya gw males angkat-angkat pindahan, apalagi gw uda di situ sejak pertama kali menyandang gelar anak kost di ibukota ini. Kamar yang gw tempati pun waktu itu masi baru, gw-lah penghuni pertamanya. Tapi rupanya gw gak bisa lagi bertahan dengan kondisi pengap, minim cahaya matahari yang diperparah dengan sudah tiga hari ini pompa aer mati. Praktis tiga hari ini juga gw harus ngungsi demi tetes air yang sangat berharga itu.

So i’m starting today.

Gw cari kost putri di daerah Jakarta Selatan yang gak jauh dari Blok M ( = gak jauh dari kantor gw). Gak perlu yang berAC ato pake garasi (emang juga mobil siapa yang mo gw parkir), yang penting aman, nyaman, bersih dan harganya terjangkau, sekitar 500ribuan aja deh, kalo bisa kurang, itu lebi gw suka hehehe…

Dan gw butuh cepet. Gw ga bisa ngungsi terus-terusan gini. Bikin gw jadi stress.

Ada yang bisa bantu??

Permalink & Komentar

Kecewa Aremania

Januari 17, 2008 at 2:58 pm (Friends, just a thought, ngoceh)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Melihat pertandingan Arema-Persiwa tadi malam (atas kebaikan hati salah satu televisi swasta yang menyiarkan, tentunya) gw jadi kecewa pada Aremania.

Bukan cuma sekali, tapi DUA kali (should we call them “oknum”?) suporter masuk, dan menyerang wasit. Korban pertama adalah asisten wasit yang sampe tepar tus diusung keluar lapangan, dan membuat pertandingan sempat dihentikan sekitar sepuluh menit. Yang kedua?? Bukan cuma berhenti sepuluh menit, tapi stadion Brawijaya dan Stasiun Kota Kediri turut menjadi korban, bahkan puluhan rumah warga rusak karena amukan mereka.

Oalaaahh…

Lima tahun tinggal di Malang, berteman dengan para Aremania (salah satunya anggota Aremania Korwil Sukun yang berbaik hati nemenin gw pas liburan akhir tahun kemaren itu) membuat gw bersimpati pada kelompok suporter yang katanya paling kompak, sportif dan cinta damai itu. Tapi sekarang??

Well.. mungkin wasit berpihak, dan gw bisa ngerti kalo TIGA gol dianulir itu bikin nyesek.
Tapi gak seharusnya jadi pembenaran untuk tindak anarkis kan??

Meski demikian, menurut gw pribadi, sanksi cekal tiga tahun yang dijatuhkan pada Arema berlebihan dan tidak adil. Mengingat dua tim yang suporternya sempet bikin kerusuhan nyatanya sampe sekarang bisa melenggang dengan tralalala bersama para suporternya. Jangan berat sebelah dong, Komdis…

*gambar minjem dari sini

Permalink & Komentar

Have Fun at Dufan

Januari 16, 2008 at 3:09 pm (Friends, pengalaman)

 Peringatan: Postingan kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah ajang narsis, sekaligus memperkenalkan wujud asli temen-temen gw pada dunia. Kalo ternyata ada yang kenal wajah-wajah ini, berarti dunia memang sempit. Kalo gak, ya makanya ini gw kenalin  :D

Liburan kemaren, gw dan beberapa temen sesama perantau yang kebetulan gak mudik karena jaraknya terlalu deket dengan libur taun baru yang lalu (yang berarti kadar kangen orang rumah belum menumpuk, sama dengan kalo kita nongol lagi di rumah cuma bakal dapet lirikan sekilas dan sapaan “ngapain pulang lagi??”), memutuskan untuk tidak bermuram durja di kost sendirian dan memilih jalan-jalan ke Dufan.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Ini formasi awal ketika kita baru dateng. Urut dari kiri: Revi, Aji, Erin, Emyou (alias gw tuh kan gw sama sekali gak anonim apalagi mesin), Wita dan Dibyo. Yang moto namanya Bhima, tapi gak penting lah buat dimuat di sini, karena pada dasarnya gw cuma lagi pengen narsis ajah.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Ngantri tiket di tengah teriknya matahari di hari Sabtu. Yang pake jilbab itu Wita, bule yang keliatan rambutnya aja itu Jorg, sementara yang cuma keliatan jidatnya itu Revi. Cewe bertas putih namanya Valent (Baru menyusul bersama Jorg, pacar Jerman-nya). Sementara cowok di belakang Dibyo (yang pake jaket buat gantinya kerudung) itu yang namanya Bhima.

Pada kunjungan ke Dufan kali ini akhirnya gw bisa juga mewujudkan keinginan terpendam gw, yang selama ini selalu gw singkirkan dengan berbagai alasan macem: “gengsi dong”, “malu ah, kayak anak kecil ajah”, dll yaitu…. FOTO BERSAMA BADUT ANCOL huahahahhaaha….

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Kami mengawali petualangan hari itu dengan maen alap-alap. Sekedar pemanasan sebelum permainan-permainan pemacu adrenalin yang menanti di depan mata. Dan ternyata permainan yang disebut juga jet coaster itu gak cuma sekali, tapi TIGA kali putaran. Putaran pertama, oke deh.. masi tereak-tereak. Putaran kedua, well..uda mulai apal dimana perut berasa, dan dimana cuma bisa senyum aja. Putaran ketiga, bosen asli. Mungkin emang permainan macem gitu pasnya satu putaran ajah, biar gregetnya berasa.

Abis maen alap-alap, rombongan terpecah. Wita, Valent dan Jorg maen Bianglala, sementara sisanya milih maen Kora-kora. Berhubung Kora-kora maennya lebi cepet dari Bianglala, maka sambil nunggu, kami maen Bom Bom Car yang entah apa nama Dufannya (Wahana-wahana di Dufan kan sering aneh-aneh tuh namanya)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Apa?? Kayak anak kecil?? Biarin!! Namanya juga pengen kok  :D

Setelah ngumpul sejenak, lagi-lagi rombongan berpisah. Kali ini karena ada yang pengen maen Tornado, sementara yang laen lebi mili ngadem dan ngapalin lagu di Istana Boneka. Tak lama, rombongan Istana Boneka pun bergabung buat nonton yang lagi maen Tornado. Rupanya cuma dua di antara para pria itu yang punya nyali dan kekuatan perut buat naek wahana terbaru Dufan ini. Itupun tanpa mengesampingkan jiwa narsis mereka. Buktinya, biar lagi ngalamin siksa dunia, tetep aja sempet nengok kamera.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Yang laen?? Jadi penggembira dengan nonton mereka, dan foto-foto tentunya.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Misi berikutnya, Arung Jeram!!

Gw, Erin dan Wita bahkan rela antri lagi buat maen untuk kedua kalinya. Hasilnya?? Basahhh!!!!

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Penting: Dalam kondisi pakaian basah macem gitu, sangat tidak bijaksana apabila anda mengikuti apa yang kami lakukan, yaitu memilih memasuki wahana yang berada dalam ruangan berAC seperti Perang Bintang dan Meteor Attack. Masuk Angin!! Makanya kami kemudian menjemur diri di Bianglala (lagi, bagi Wita) Oya, Valent dan Jorg memisahkan diri di sini. Mereka langsung pulang karena Valent sudah tidak tahan dengan pakaian basahnya. Daripada mala jadi sakit.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Selaen badut ancol, gw juga nyempetin foto bareng badut seleb laennya, yaitu Badut Chiki. Ups.. ngiklan yak?? Gapapa deh.. anggep aja ngamal (dari mana??)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Wahana terakhir yang kami naiki adalah Merry Go Round (yang lagi-lagi entah apa nama Dufannya). Tentu saja para pria itu merasa gengsi untuk turut serta, jadinya mereka cuma memandang, sementara kami bersuka ria hehehe…

Free Image Hosting at allyoucanupload.com Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Capek seharian maen, hari pun diakhiri dengan menikmati senja di pantai Ancol. Emang si, ga seindah Kuta ataupun Losari. Tapi setidaknya lumayan lah, bisa ngeliat laut di Jakarta. Sayangnya (atau untungnya??), kamera mahalnya Aji ngambek, pundung, gak mau diajak foto-fotoan disana. Jadi gw akhiri aja postingan narsis gw kali ini dengan ucapan:

“I had a great time. Makasyi teman-teman… :)

Permalink & Komentar

I’m Free!!!

Januari 14, 2008 at 4:30 pm (ngoceh, pake ati)

Yippeeeeeeee!!!!!!!!

Gw uda bebas dari akismet.
Senangnyaaaa…..!!!!
Tralalalalalalalala…….

Terima kasih semua yang uda membantu proses pembebasan gw :)

Matur Nuwun. Suwun. Hatur Nuhun. Arigato. Grazie. Gracias. Syukron. Xie Xie. Danke. Merci. Thank u… muach!!

Permalink & Komentar

Efek Akismet

Januari 9, 2008 at 3:08 pm (iseng ga penting, ngoceh)

Gara-gara kena sandung akismet, gw kok mala jadi produktif gini yak?? Abisnya bingung, mo ngapain lagi. Ngomen ke blog-blog laen juga lama-lama jadi bete sendiri, coz harus menunggu sang pemilik blog bermurah hati menengok kantong spam, dan membebaskan komen gw. Akhirnya ya gini. Posting, posting dan posting lagi.

Setidaknya abis ini liburan. Gw gak punya agenda kemana-mana. Mo istirahat aja di kost. Mungkin maraton nonton dvd, baca buku, ato sekedar tidur untuk kecantikan. Moga aja selesai liburan akismet sudah melepaskan jeratnya.

Permalink & Komentar

Musholla di Mall (Yang Gw Tau)

Januari 9, 2008 at 2:55 pm (just a thought, pengalaman, review)

Menindaklanjuti tulisannya Chika di sini, gw jadi pengen nambahin sebatas yang gw tau.

Mulai dari yang lokasinya paling deket dari tempat beredar gw dulu (kost n kantor). Oya, gw tulis berdasar pengetahuan gw, jadi yang ada ya cuma tentang bagian PUTRI dari musholla. Gw kurang tau gimana kondisi bagian putra-nya.

Pasaraya Grande punya kalo gak salah tiga musholla. Di lantai dua, tiga dan empat (dua lantai terakhir berdasar pengumuman pemberitahuan di sono waktu sholat maghrib). Tapi yang biasa gw kunjungi yang di lantai dua, karena nyarinya gampang. Di bagian sepatu-sepatu perempuan (satu lantai ama pakaian anak-anak dan pakaian casual perempuan), cari counter Marie Claire, tus jalan aja ke arah belakangnya, ngelewatin salon entah apa di sebelah kiri, dan semacem counter serba limaribu-sepuluhribu di kanan, notog sampe pintu ke arah tempat parkir. Musholla ada di sebelah kanan. Terpisah antara tempat untuk lelaki dan perempuan. Kecil sih, kran wudlunya juga cuma dua, tanpa toilet. Dan kayaknya musholla yang ini dimaksudkan buat karyawan. Gw lebi suka kesini karena masi ada udara segarnya, gak kayak yang gw perna coba di lantai empat yang lebi luas tapi cukup pengap.

Musholla Blok M Plaza ada di parkiran lantai 5 (bener-bener di tempat parkir loh). Tempatnya cukup luas, tapi tempat wudhu yang ada terbatas. Apalagi waktu sholat maghrib pas bulan puasa, bisa-bisa antrian wudhunya ngalahin antrian tiket mudik (hiperbolis sih :D ). Dua kran dan satu toilet untuk sebuah musholla dengan daya tampung kurang lebih empat puluh orang yang diperluas hingga dapat memuat sekitar enam puluh orang tentu bukan perbandingan yang nyaman. Yang unik dari musholla di sini adalah, disediakannya bakiak (sendal kayu) untuk berwudhu, yang kalopun kalian nggak menggunakannya, ketika alas kaki dilepas untuk memasuki area sholat, maka akan spontan diambil oleh petugas untuk dimasukkan ke tempat penitipan. Jadinya mending langsung dititipin aja deh, toh ujung-ujungnya juga musti bayar penitipan kok hehehe…

Musholla Plaza Senayan tergolong nyaman. Cukup luas, ber-AC, dilengkapi dengan dua toilet dan jumlah kran yang cukup. Ada tempat rias, penitipan alas kaki dan tas, juga kursi buat memakai sepatu. Lumayan sering ke sini karena tergolong pas dan kebetulan gw lumayan sering ke PS (jadi seperti muter-muter deh). Lokasinya di P2, dari lantai dua cari pintu tengah, tus ke arah tempat parkir ngelewatin satpam. Buat cowo di sebelah kiri, cewe di sebelah kanan.

Seperti halnya mungkin setiap orang akan sepakat, executive musholla-nya Senayan City emang yang paling top. Tempatnya luas, dengan tempat wudhu yang banyak, jadi ga perlu antri. Tersedia al-Qur’an dan mukena yang bersih (gak kayak di beberapa musholla yang laen yang mukena untuk umumnya seperti belum perna dicuci sejak pertama kali ditaruh situ). Nyaman banget n bikin betah deh. Uda gitu lokasinya juga manusiawi, ada di Lower Ground, selantai dengan Burger King, The Food Hall, J.Co, Breadtalk dan berbagai restaurant, tepatnya di belakang Restaurant Sing-Sing (cmiiw). Salut buat manajemen SenCi yang sudah menyediakan kenyamanan beribadah buat pelanggannya (Kalo gak salah, di lantai atas juga ada gereja kan??)
Ada satu lagi musholla di Senayan City, tapi yang buat karyawan. Posisinya di lantai atas, dari lantai yang ada Fitness Firstnya itu keluar aja ke arah tempat parkir. Tapi gw saranin si mending di executive mushollanya ajah. Jauh lebi mantabh!!

Mushollanya Pondok Indah Mall ada di salah satu ujung (Urutnya atm centre yang di lantai dasar). Luasnya bervariasi, yang menurut gw paling nyaman sih yang di lantai dua. Yang lantai tiga lebi sempit, dicampur pula buat putra n putri. Gak ada patokan baku juga buat tempat wudhunya. Cukup nyaman lah, dan salutnya ada di hampir setiap lantai (kecuali lantai dasar, kan dipake buat atm centre). Jadi waktu puasa kemaren, gw tinggal menyusuri dari lantai ke lantai buat nyari musholla yang gak terlalu penuh pas sholat maghrib (pastinya yang menjauhi lantai tempat food court berada). Tapi itu yang di PIM2, Gw belum perna eksplor musholla PIM1.

Plaza Semanggi juga termasuk yang sering gw kunjungi. Mushollanya cukup lumayan andai aja ke sananya bukan pas lagi masa rame. Karena dengan ukuran musholla yang tidak begitu luas, dan langit-langit yang rendah, kalo kebanyakan orang, bisa-bisa hawa di luar lebi sejuk daripada di dalem musholla ber-AC ituh. Posisinya ada di lantai lima. Dari bioskop, lurus aja tus kekanan, ke arah tempat parkir (lagi-lagi ngelewatin satpam), musholla ada di sebelah kanan.
Ada juga yang di lantai LG, di tengah parkiran, tapi sangat gak gw sarankan. Uda panas, pengap, kran wudhunya cuma satu pula. Mending antri di lantai lima aja deh.

Tus mana lagi yak… sempet juga di Kalibata Mall. Tapi gak tega ceritanya. Uda kecil, nyempil, sumpek, bahkan kalo disuru napak tilas gw juga uda lupa dimana lokasi tepatnya.

Sebenernya pengen bahas musholla di beberapa hotel juga sih. Secara, sebagai pekerja kadang harus terlibat seminar ato workshop ato rapat entah apa yang berlokasi di hotel. Tapi kalo gw tulis disini sekalian jadi kepanjangan. So, laen waktu aja deh… (kalo gw inget n mood tentunya :D )

Permalink & Komentar

Sedih…

Januari 8, 2008 at 4:19 am (ngoceh, pake ati)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Rupanya gw terjerat akismet.

Baru tau setelah dapet laporan dari tukangkopi. Dari situ baru gw ngeh, itulah kenapa akhir-akhir ini tiap kali gw coba kasi komentar ke blog laen ga bisa langsung nongol.

Dan bukan cuma gw. Coz blog iniiniini, dan ini juga rupanya mengalami nasib serupa. Setidaknya gw masi bisa komentar di blog gw sendiri, gak kayak pemilik blog ini.

Matt… Dibenerin dong akismetnya plisss….

Gw serasa jadi tahanan rumah, yang cuma bisa maen dengan bebas di blog gw sendiri. Jadi serasa kehadiran gw di blogosphere mengganggu keamanan dan ketertiban sampe mo silaturrahmi aja uda diusir duluan ke tempat sampah. Padhal perasaan gw ga perna spamming ato bikin postingan yang memberikan cukup alasan buat seseorang nge-mark as spam blog gw. Kalopun ternyata ada yang jadi tersinggung ato ga berkenan karenanya, gw minta maaf, dan minta kemurahan hatinya buat nge-despam gw. Biar gw bisa dengan leluasa berkelana blogwalking dan meninggalkan jejak lagi. Gw janji deh gw bakal sering ngecek kantong spam gw, buat ngebebasin komentar tak berdosa yang kepleset masuk situ.

Please… Set me free…. :(

*pinjem gambar dari sini

Permalink & Komentar

Tiga Hari, Tiga Film

Januari 7, 2008 at 7:41 am (film)

Free Image Hosting at allyoucanupload.com Free Image Hosting at allyoucanupload.com Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Weekend kemaren, berturut-turut tiga hari gw nonton mulu. Hari inipun ada tawaran dari temen buat nonton lagi, yang dengan terpaksa gw tolak, karena gw gak mau jadi bangkrut ketika akhir bulan tiba.

Jumat, gw nonton sendiri “the Warlords” di Plaza Senayan. Sebuah film yang dibintangi oleh Jet Li, Andy Lau dan Takeshi Kaneshiro. Bercerita tentang tiga pria, Jenderal Pang Qing Yun, Zhao Er Hu dan Jiang Wu Yang (nama ketiganya gw lupa-lupa inget, cmiiw) yang mengikat sumpah darah menjadi saudara dalam suasana perang audara pada masa pemerintahan dinasti Qing. Ketiganya bahu-membahu merebut kota-kota penting di tengah intrik politik kerajaan namun kemudian tersandung cinta segitiga yang menjadi ujian persaudaraan ketiganya.

Seperti pendapat beberapa orang yang merekomendasikan film ini ke gw, ini film emang layak ditonton. Kita bisa belajar tentang brotherhood, taktik dan permainan politik, serta skala prioritas dalam situasi perang. Seru deh. Belum lagi akting ketiganya emang TOP abis. Jadi gak cuma liat action-nya ajah, tapi juga ikut larut dalam cerita yang disajiin.

Sabtu gw ngejar film dari Brazil yang gw gak kebagian tiket pas Jiffest kemaren dan kebetulan lagi diputer di Blitz.  Bertiga bareng mbak Indah dan Aji, sempet kena listrik mati pas lagi di dalam lift menuju lantai lhapan tempat Blitz berada yang membuat kita harus naek pake tangga, manual. Daripada parno keabisan oksigen di lift yang penuh sesak, mumpung lift lagi kebuka, mending keluar n pake tangga ajah. But its all worth it.

Judulnya ”The Year My Parents Went On Vacation”. Menceritakan tentang Mauro yang dititipkan orangtuanya ke apartemen kakeknya karena mereka harus “berlibur”. Di-drop  di depan apartemen, Mauro menunggu cukup lama di depan pintu hanya untuk kemudian menemukan bahwa kakeknya baru saja meninggal dunia. Mauro kemudian ditampung Shlomo, seorang Yahudi yang tinggal di samping apartemen kakeknya. Disana, Mauro menemukan teman-teman baru dan dengan bersemangat menanti datangnya Piala Dunia 1970 untuk mendukung tim nasionalnya. Alasan lain, adalah karena orangtuanya berjanji akan datang menjemputnya pada saat Piala Dunia. Yang tidak Mauro ketahui adalah, mereka sebenarnya tidak sedang benar-benar berlibur. Orang tua Mauro harus bersembunyi karena pertentangan idiologi dengan pemerintah yang berkuasa.

Sedangkan Minggunya gw nonton ”The Golden Compass” bareng Dod di PIM. Studionya penuh banget sampe gw harus rela tengeng di leher gara-gara hampir dua jam nonton dengan posisi kepala miring dan agak mendongak. Gw dapet tempat duduk baris kedua dari depan, agak pojok pula. Uda gitu baris terdepan pun terisi. Mungkin gw salah pilih hari aja yak nontonnya.

Diangkat dari novel yang berjudul Northern Lights (yang juga dikenal dengan judul The Golden Compass) karangan Phillip Pullman, film ini membawa kita ke sebuah petualangan bersama seorang anak perempuan bernama Lyra Belacqua. Lyra mendapatkan sebuah alethiometer, sebuah alat pengukur kebenaran yang tinggal satu-satunya, dan dia diwanti-wanti agar jangan sampai alat tersebut jatuh ke tangan orang lain. Ternyata alat tersebut menjadi incaran berbagai pihak, yang membuat Lyra harus melarikan diri dari Mrs.Coultier, bertemu dengan orang-orang Gipsi, bahkan kemudian bersahabat dengan seekor Beruang Es bernama Iorek Byrnisson.

Cerita selengkapnya kalo gw kasi tau disini tar jadi gak seru lagi deh. Buat yang uda baca novelnya, Dod bilang (karena gw belum baca, dan dia uda) setiap peristiwa penting di buku berhasil divisualisasikan di film ini, hanya saja timeline-nya yang agak diotak-atik. Kalo menurut gw, sebagai orang yang langsung nonton film tanpa baca bukunya terlebih dahulu si ini film baik-baik saja. Kalopun ada yang janggal karena perubahan timeline dari yang di buku itu adalah kalo kita memperhatikan peta yang ada, dan mengamati dimana posisi Bolvangar, dan dimana Svalbard berada, kemudian mencocokkannya dengan rute yang dilalui Lyra. Lepas dari itu sih, nggak masalah hehehe…

*gambar nyolong dari sini dan sini

Permalink & Komentar

« Tulisan sebelumnya